Jari Patah

10 Oktober 2009

Cerpen: Agus Fahri Husein
Republika
Minggu, 25 November 2007


Dari mana harus memulai ceritanya? Barangkali lebih mudah memulainya dari orang itu saja. Orang yang di saku celananya cuma ada Rp 20.000. Orang miskin. Soal kemiskinannya itu sebabnya kebanyakan karena kesalahannya sendiri, karena kebodohan dan kemalasan. Orang tidak bisa menyalahkan orang lain karena kemiskinannya, atau mengatakan "sudah takdir Tuhan". dalam hal ini Tuhan tidak bisa dipersalahkan sama sekali, sebab Tuhan hanya memberi kepada mereka yang berusaha.

Dan, orang itu, yang tubuhnya pendek, kulitnya hitam, dan rambutnya keriting kecil-kecil, sudah jelas kebodohannya, tetapi dia bukan orang malas dalam bekerja dan lagi terkenal jujur. Baiklah dipahami, Tuhan memberi berdasar kecerdikan orang juga. Orang itu bodoh, sebab jika tidak bodoh tentu dia tidak akan jadi helper setiap bergabung dalam proyek. Tiap kontraktor yang mengenalnya, jika butuh helper yang mau jadi bola, rela ditendang kesana kemari, dialah orangnya.

Helper adalah posisi terendah dalam grup kerja. Tugasnya melayani teknisi, atau pekerjaan apa saja sepanjang tidak membutuhkan skill, dan sering harus ikhlas menampung caci-maki, atau gurauan yang tidak semestinya. Dan orang itu, karena kebodohannya, tidak mampu memperlajari ketrampilan-ketrampilan, seperti misalnya mengelas atau memasang batu-bata.

Anak orang inilah yang jarinya patah, dan yang kemudian membuat saya marah dan berkata tidak senonoh kepada dokter dan para perawat di UGD. Saya secara kebetulan bertemu orang itu, ketika anak bungsu saya sedang dirawat di ruang VIP RSUD. Anak saya masih kecil, dan wabah DB itu sedang terjadi di mana-mana. Meskipun anak saya gemuk, kena juga.

Kegemukan anak saya merepotkan para perawat, sebab mereka kesulitan menemukan urat darah, untuk memasukkan jarum infus. Setelah tangan kanan dicoba dan gagal, kemudian pindah ke tangan kiri. Anak saya tidak menangis, tetapi marah-marah. Para perawat dibentak-bentak: Dibilang sakit ya sakit! Sudah!

Tetapi anak itu tidak bisa melawan, tubuhnya sudah lemas. Setelah berjuang beberapa lama akhirnya perawat itu berhasil juga. Anak itu masih marah-marah, bahkan setelah dia dibaringkan di kamarnya di ruang VIP -- ada AC, kulkas, televisi, meja tamu, dan kamar mandi -- dengan jendela dan pintu keluar menghadap tempat parkir mobil.

Dari jendela itulah saya melihat dia, yang jari anaknya patah, berjalan mondar-mandir di halaman UGD, sebentar masuk, sebentar keluar. Dari ambang pintu saya teriaki dia. Setelah tengok kanan-kiri, dia melihat saya di ambang pintu, kemudian setengah berlari, ''Aduh Pak! Bersyukur sekali Bapak ada di sini. Saya telepon ke rumah, tidak diangkat, ke HP, juga tidak diangkat.... Aduh, maaf, Pak. Siapa yang sakit, Pak?''

Untunglah dia lekas menyadari, sebab kurang ajar sekali jika dia merasa bersyukur karena bertemu saya di rumah sakit, meskipun dia belum tahu anak saya kena DB. Sudah pasti tidak ada yang mengangkat telepon, di rumah tidak ada orang, dan HP saya entah di mana, tidak sempat saya pikirkan.

Setelah dokter tetangga memeriksa anak saya, termometer di ketiak menunjuk angka 39, sambil membasahi kepala anak itu dengan handuk basah sampai ke lehernya. ''Langsung dibawa ke UGD ya, Pak!'' Perkataan seperti itu, yang diulang lagi ketika dia menulis surat rujukan, pastilah membuat setiap orang yang punya anak jadi gugup, dan istri saya panik.

Orang ke rumah sakit tentu saja dengan membawa masalah, juga orang itu, dengan kegugupannya yang tidak dibuat-buat, menceritakan anaknya yang jarinya patah. Sekarang masih tergeletak di UGD, ditunggu ibunya, dan belum ditangani, karena, seperti dikatakannya dengan setengah menangis, dia tidak punya kartu asuransi, tidak ada rujukan dari Puskesmas, dan di kantong celananya cuma ada Rp 20.000.

''Mohon maaf, saya terpaksa merepotkan Bapak. Tolonglah saya, katakan kepada dokter, sudilah Bapak menjadi penjamin saya.'' Kalau tidak saya cegah, tentulah dia sudah mencium lutut saya. Dengan cara itu dia membawa saya kembali ke UGD.

Anak itu, yang jari telunjuk kirinya patah, tergeletak tak tersentuh, di sudut ruangan, merintih-rintih hampir tak bersuara memegangi jarinya yang patah. Ibunya mengipasinya dengan selembar koran sambil membujuknya. Di samping anak itu tergeletak botol minuman yang tinggal separoh isinya.

Anak itu jatuh dari sepeda, menabrak kucing. Sepeda dan kucing tidak apa-apa, dan karena upayanya untuk menyangga badannya yang terjatuh, jarinya terlipat ke belakang dan patah. Tidak keluar darah, tetapi melihat bengkak dan birunya, kemungkinan terjadi pendarahan di dalam.

Siapapun yang pernah patah jarinya, tentulah bisa membayangkan bagaimana sakitnya. Dan, dia anak laki-laki. Jari tangan sangat penting untuk bekerja. Dan nanti, jika akan beristri, apa jadinya jika jari telunjuk tangan kirinya terpaksa diamputasi karena terlambat ditangani? Perempuan tidak suka punya suami yang jari telunjuk kirinya diamputasi.

Saya pandangi sekeliling. Tidak ada pasien lain. Dokter dan para perawat tengah asyik mengobrol sendiri-sendiri. Dan, dokter itu, perempuan muda dan cantik, yang tadi saya kagumi karena keramahannya, mengatakan tidak ada kartu, tidak ada rujukan, dan orang itu tidak punya uang, kecuali Rp 20.000 di saku celananya, dan sekarang sudah sore.

Mejanya saya gebrak sekerasnya. Dia terdiam dan pucat, juga para perawat yang tengah mengobrol. Lalu tanpa tertahan lagi keluar kata-kata tidak senonoh itu dari mulut saya. Saya katakan bahwa semua ini, biaya perawatan jari patah anak orang miskin, jangan dikira gratis! Semua dibiayai APBD, dan jumlahnya mencapai sembilan miliar per tahun! Soal kartu atau yang lainnya itu bisalah diurus nanti! Jangan sampai ada anak mati tak terawat karena orang tuanya tak punya kartu. Cobalah pikirkan, jika anakmu jarinya patah dan di sakumu tak lebih Rp 20.000. Rawat!

Sudah cukup saya kira. Tanpa mengeluarkan suara, mereka jadi cekatan sekali menangani anak itu. Tak sampai seperempat jam, jari anak itu sudah diganjal kayu dan digips. Dokter ramah kembali, setengahnya karena takut.

Karena cuma ada Rp 20.000 di saku celananya, orang itu saya beri Rp 300.000 supaya dia bisa beli obat dan ongkos pulang. Saya bisa memberinya lebih banyak, tetapi tidak saya lakukan, karena saya tidak suka berlebihan, dan nanti tidak baik bagi dia. Saya tidak mau dia merasa hutang budi. Rp 300.000 sudah cukup, mungkin masih ada sisanya sedikit. Dan, seperti tadi, orang itu hendak mencium lutut saya, tetapi saya cegah. Saya tidak suka lutut saya dicium.

Saya segera kembali ke Si Gendut yang terkena DB. Karena hujan, saya tidak bisa lewat halaman, saya harus lewat lorong dalam, yang dijaga satpam. Pintu itu ditutup, karena bukan jam bezoek. Ada beberapa orang yang hendak masuk ditolak, dan beberapa lagi, yang punya kartu tunggu, harus membukai barang bawaannya. Sebab, seperti dikatakan satpam, banyak yang cuma membawa sampah.

''Bapak mau ke mana?'' Begitu garang nada suaranya, tetapi berubah seketika setelah mendengar kata "VIP" dari mulut saya. ''Silahkan, Pak. Silahkan.''

Dibukanya pintu untuk saya. Si Gendut beruntung punya orang tua seperti saya. Meskipun tidak kaya sekali, namun mampu membayar rawat-inap di kamar VIP. Dia harusnya tidak boleh marah hanya karena ditusuk lengannya, meskipun, ya memang sakit juga.***

Cilegon, Mei 2007

Jantung Batu

08 Oktober 2009

Cerpen: Azwar

Suara Pembaruan
Minggu, 26 Agustus 2007


Senja rebah ke tepian, sudah lebih dua putaran jarum jam. Tapi sisa-sisa gerah udara kota masih saja berbekas di malam itu. Tempat kos sederhana itu terasa semakin panas bagi Sutan. Sudah sejam lebih dia bermenung dan sesekali mondar mandir di depan ruangan yang hanya dibatasi triplek. Triplek tipis yang tidak bisa meredam suara-suara yang terjadi dalam ruangan di dalamnya. Ada erangan dan rintihan perempuan kesakitan, sakitnya terasa di jatung Sutan. Berkali-kali, beratus kali, beribu kali. Sakit.

Dalam pikiran Sutan berterbangan wajah ibu yang melahirkan, menyusui, dan bersusah payah mempertahankan hidupnya. Ibu yang dengan air mata menimang-nimang di larut malam saat tangisannya datang tanpa kenal waktu. Siang, petang, dan malam perempuan itu menderita karenanya. Kini, seorang perempuan juga sedang menghabiskan penderitaan untuk hidup dan dia menumpang hidup dari derita perempuan itu.

"Betapa terkutuknya aku." Batinnya pedih. Dalam galau yang semakin tidak menentu itu seorang laki-laki paruh baya keluar sambil merapikan celananya. Dia menyeka keringat di wajah, merapikan kemeja, lalu menyambar tas di atas meja tua di pojok ruangan sederhana itu.

"Tugas kuliah untuk besok tidak usah dibuat, aku kasih nilai A untuk mata kuliah Budi Perkerti kalian."

Sutan tidak menjawab, dia tidak melihat wajah lelaki itu, bukan karena tidak berani, tapi benci karena laki-laki itu memanfaatkan kemiskinannya. "Anjing," makinya dalam hati.

Sambil tersenyum puas yang nakal, laki-laki itu pergi. Dia pergi meninggalkan luka yang menganga di hati Sutan. Setelah laki-laki itu hilang di telan kelam malam, Sutan menyibakkan tirai pintu. Di atas tilam lusuh seorang perempuan terbaring lelah, menyamping menghadap dinding yang dilapisi kertas koran. Rambutnya tergerai basah karena keringat, tubuhnya mengkilat entah karena keringat atau bekas dijilat. Di samping perempuan itu berserakan lima lembar uang dua puluh ribuan. Sutan mendekati perempuan itu, sunyi waktu itu pecah oleh derit ranjang yang didudukinya. Setelah itu kembali sepi, hanya tangan Sutan bergerak menaikkan kain jawa hingga menutupi tubuh perempuan yang terbaring itu. Waktu itu dia tidak kuasa untuk menahan tangannya agar tidak membelai bahu gadis itu.

"Sutan...aku lelah."

Sutan menarik tangannya, memang dia tidak bermaksud untuk mengulang menyakiti perempuan itu. Dia berharap dengan belaiannya perempuan itu tahu kalau dia merasakan kepedihan yang sama, duka yang sama.

"Alia...aku belikan makan malam untukmu."

Tak ada jawaban, hanya sunyi menari-nari. Perempuan itu masih memunggungi Sutan, dia raba-raba di sekitar tempat tidurnya hingga menemukan selembar uang. Lalu di remasnya dan diberikannya pada Sutan. Tangan Sutan bergetar menerimanya, dengan perasaan tidak menentu dia pergi keluar ruangan. Setelah Sutan pergi, perempuan itu mencuri-curi pandang melihat punggung Sutan. Sejujurnya dia tahu kalau laki-laki itu menahan sebak air mata yang berlinangan di matanya.

"Sutan...jangan lupa belikan dua lembar kertas folio."

Sutan berhenti, tanpa menoleh dia berkata pelan.

"Kata Pak Gun kita tidak usah mengerjakan tugas, nilai akhir sudah ada."

Sebenarnya Alia tidak percaya dengan janji dosen itu, tapi dia tidak ingin bersuara lagi. Badannya terasa remuk, sementara perih seperti diiris-iris pisau masih membekas di tubuhnya. Dia lelah. Dia sakit. Dia menangis.

Dalam butir-bitir air matanya ada kehidupan lama yang juga sakit dalam kenangan. Panas desa, tanah retak, dan terik matahari. Sementara itu suara martil berdering-dering hinggap di batu. Dari kejauhan sebuah truk merangkak berjuang mendekati onggokan batu yang dikumpulkan Alia. Melihat kedatangan truk itu, dia berhenti memecah batu. Menyeka keringat dengan handuk lusuh yang tergantung di lehernya, lalu menyingkir ke sebuah warung beberapa meter dari tempatnya mengumpulkan batu.

Sopir truk itu menyusul ke warung setelah memarkir truk tepat di sisi tumpukan batu yang dikumpulkan Alia.

"Berapa sekarang ?"

"Seratus lima puluh, harga batu murah, orang lebih suka menggunakan batu sungai untuk membuat pondasi rumah, sementara pabrik dolomit sudah kelebihan batu gunung."

Alia pasrah mendengar penuturan sopir truk itu. Ia mengambil sebuah botol aqua lalu duduk di balai-balai warung itu. Sopir truk menghampiri Alia, lalu mengeluarkan empat lembar uang lima puluh ribu.

"Untukmu..."

Alia menerima uang penjualan batu, lalu matanya menatap jijik pada sopir truk itu yang mengipas-ngipaskan uang lima puluh ribu. Saat Ina -pelayan penjaga warung- meletakkan kopi panas untuk sopir truk itu, lak-laki itu menangkap pinggang Ina dari belakang, menyelipkan uang lima puluh ribu ke balik dada Ina, lalu mereka tertawa ke ruang belakang tempat istirahat sopir truk sambil menunggu muatan.

Alia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Memang jarang perempuan yang kuat memecah batu, makanya Ina memilih menjual tubuhnya dari pada harus susah-susah memecah batu. Tidak lama, bak belakang truk sudah penuh diisi dengan batu. Laki-laki buruh angkat yang mengisi truk menutup ombeng belakang, lalu berjalan ke warung untuk mengambil upah angkatnya.

"Sutan..., ini upah angkatmu."

Alia menyerahkan selembar uang lima ribu rupiah, lalu berjalan meninggalkan satu-satunya warung di ladang batu itu.

"Woi...Alia..., hutangmu !"

"Besok aku bayar, ndak ada uang kecil."

Alia berlalu, tidak menghiraukan teriakan Bu Ami pemilik warung. Sutan menyusul, diambilnya perkakas kerja yang ditenteng Alia.

"Biar aku yang bawa."

Alia menyerahkan perkakas kerjanya pada Sutan, mereka beriringan berjalan pulang.

"Nanti aku pinjam bukumu."

"Nanti malam aku antar ke rumahmu."

"Terimakasih."

"Sutan...jadi kau kuliah."

"Entahlah, aku lihat dulu."

"Apa kamu betah seumur hidup menjadi tukang batu ?"

Senja turun di jalanan berbatu yang penuh debu. Alia dan Sutan beriringan pulang ke rumah tidak jauh dari ladang penggalian batu. Dua remaja SMU itu berpisah di simpang jalan yang memisahkan rumah mereka.

Kenangan itu adalah apa yang terjadi tiga tahun lalu, saat mereka masih di kampung ketika masih sekolah di SMU. Di desa, sekolah tidak serumit di kota, makanya Sutan dan Alia bisa menjual satu truk batu yang dikumpulkan di ladang batu milik kaumnya selama seminggu. Sementara Sutan yang tidak punya ladang batu, memilih untuk menjadi buruh tukang angkat. Dengan kerja seperti itulah mereka bisa mengumpulkan uang untuk bekal mendaftar di perguruan tinggi.

Di kota ternyata tidak seperti yang mereka duga. Suatu malam, Alia minta ditemani oleh Sutan untuk pergi ke rumah dosen mengurus nilainya. Dengan berjalan kaki sejauh 5 km mereka pergi ke rumah Pak Gun.

"Mengapa tidak diselesaikan di kampus saja ?"

Alia menghentikan langkahnya, ditatapnya mata Sutan, dalam.

"Bukankah sudah aku katakan, kalau Pak Gun itu tidak punya cukup waktu untuk menyelesaikannya di kampus."

Alia mulai tidak bisa mengontrol emosinya, lelah berjalan mungkin menguras kesabarannya.

"Kalau kau keberatan menemaniku, biarlah aku sendiri yang pergi."

Setelah berkata seperti itu, Alia kembali berjalan. Kata-kata itu bagi Sutan bukannya membebaskan, tetapi menyeret langkahnya mengikuti Alia.

"Aku hanya mengkhawatirkanmu, bagaimana kalau..."

Sutan tidak melanjutkan kata-katanya, Alia tidak menjawab kata-kata Sutan. Dalam hati dia sudah bertekad untuk menghadapi segala apa yang terjadi. Tak lama membisu di jalanan, akhirnya mereka sampai ke alamat rumah yang diberikan Pak Gun. Dari luar rumah kelihatan sepi, ragu-ragu Alia mengetuk pintu.

"Siapa ?"

Dari dalam terdengar suara berat Pak Gun.

"Saya Pak, Alia."

Setelah itu, terdengar langkah terburu-buru membukakan pintu, dari balik pintu Pak Gun tersenyum lebar menyambut tamunya. Saat Alia dan Sutan melangkah memasuki rumah itu, kesan sepi yang terasa ternyata benar-benar sepi, di rumah itu tidak ada siapa-siapa kecuali dua ekor kucing dan seekor burung hantu yang bertengger pada gantungan di pojok ruangan. Pak Gun mempersilahkan tamu-tamunya duduk di kursi tamu. Setelah berbasa-basi Alia mengutarakan maksud kedatangannya.

"Pak...saya mengurus nilai BL Pengantar Etika."

Dosen itu tersenyum, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, meletakkan di bibir hitamnya, sambil menyulut dengan api.

"Nilaimu sudah tidak bisa tertolong, kalaupun akan diberi nilai, paling D atau E."

Alia menatap wajah Pak Gun dengan pandangan memelas, Sutan yang duduk di sampingnya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mempermainkan kukunya.

"Pak saya datang ke sini minta pertolongan Bapak."

Alia masih memelas, lalu Sutan menambahkan.

"Apa tidak bisa diselamatkan nilainya Pak ?"

Dosen itu seperti di atas angin, dia hembuskan asap rokok dari mulutnya.

"Bisa saja."

Pak Gun berdiri, kemudian memberi isyarat pada Alia untuk mengikutinya. Sementara Sutan disuruhnya untuk tetap menunggu di ruang tamu. Walau ragu, Alia mengiringi langkah Pak Gun. Dalam pikirannya mungkin Pak Gun akan memperlihatkan nilai-nilai ujiannya. Sutan pun berpikir seperti itu, makanya dia biarkan Alia ke ruang kerja Pak Gun. Prasangka buruk mulai berlintasan dalam pikiran Sutan setelah cukup lama Alia berada dalam ruang kerja Pak Gun. Semakin lama, semakin menjadi dugaan yang tidak dapat di bayangkan Sutan.

Beberapa waktu kemudian ternyata benar, Alia keluar sambil menangis tertahan. Dia berlari, meninggalkan rumah Pak Gun. Saat Gun keluar sambil merapikan pakaiannya Sutan memandang jijik pada dosennya itu. Tapi hanya sebatas pandangan, setelah itu dia menyusul Alia. Malam itu temannya telah menyerahkan sesuatu yang berharga pada dirinya untuk menebus nilai kuliahnya.

Sejak saat itu Alia telah memilih jalan terburuk dari hidupnya. Dia telan kepahitan, dia relakan untuk menjual tubuhnya, sementara Sutan sendiri yang menjadi germonya.

u

Saat Sutan kembali membeli nasi, tiba-tiba dibekangnya menyusul Pak Un. Pegawai TU di kampusnya. Sutan sudah tahu maksud kedatangan Pak Un, bukankah sekarang bulan baru, tentu tadi siang dia sudah gajian.

"Sutan...bisa ?"

"Dia lelah, barusan ada tamu."

"Alah... kau kira aku tidak akan bayar lagi ? Ini kau ambil."

Pegawai TU itu memasukan tiga lembar uang lima puluh ribu ke kantong baju Sutan, lalu tanpa dapat dicegah, dia menerobos masuk ke dalam ruangan tempat Alia sedang terbaring lelah. Sutan tidak jadi makan, dia letakkan dua bungkus nasi itu di atas meja di sudut ruangan. Dia mondar-mandir di ruangan sempit yang terasa semakin sempit itu. Hatinya semakin tidak menentu, menjalani hidup yang tidak dipilihnya itu.

Setengah jam berlalu, pegawai TU itu keluar dari kamar. Laki-laki itu menyeringai puas seperti binatang. Sutan tidak berani masuk ke dalam kamar. Dia masih menata hatinya saat itu. Cukup lama Sutan duduk di luar sambil menyesali nasib. Saat dia lihat dua bungkus nasi di atas meja, baru dia sadar bahwa Alia pasti sudah kelaparan, makanya dia buru-buru masuk ke dalam kamar membawa nasi. Sementara di dalam kamar Alia hanya mengenakan handuk selesai mandi, dia sangat lelah dan saat itu keinginannya hanya tidur. Sutan meletakkan dua bungkus nasi begitu saja di lantai. Dia tidak jadi makan, dia juga tidak merasakan bagaimana kepedihan yang diderita Alia, bahkan ketika dia menindih perempuan itu beberapa waktu kemudian, dia juga tidak tahu kalau jantung wanita itu sudah mengeras seperti batu.***

Padang, Februari 2007

Jalan-jalan Minggu

07 Oktober 2009

Cerpen: Pidi Baiq

Pikiran Rakyat

Sabtu, 04 Agustus 2007

Sudah enam bulan ini saya sudah tidak pernah lagi jogging pagi. Hari ini juga tidak karena hari ini juga saya harus pergi. Bukan harus. Tapi ingin. Naik motor, bawa anak dan istri.
Setiap Minggu kami biasanya begitu. Bukan biasa. Lebih tepatnya kadang-kadang. Pergi ke Metro di daerah Kompleks Margahayu Raya. Ada pasar kaget di sana. Pengunjungnya banyak. Pedagangnya juga banyak, pada saling teriak. Ada suara Jawa, ada suara Sunda, Batak, dan suara-suara lainnya, yang sulit didentifikasi karena sudah tercampur oleh bahasa daerah lain, daerah tempat di mana ia kemudian menetap dan menikah. Punya anak. Punya KTP.
**
Di Metro, saya parkir motor di tempat yang sama orang lain juga parkir di sana. Juru parkir kasih saya kartu warna biru yang terbuat dari bahan semacam mika. Juru parkir memegang kartu warna merah dengan nomor yang sama yang diberikan kepada saya. Nomor 32.
"Oh", kataku.
"Boleh minta nomor yang lain gak, A?"
"Boleh", jawabnya, "Nomor berapa, Kang?"
"Nomor cantik laa...."
"Nah ini," si juru parkir kasih saya kartu dengan nomor 73.
"Ini nomor cantik gitu?"
"Nomor cantik, Kang!"
"Nanti itu ya, A," kataku kepadanya, "Agama akan terbagi ke dalam 73 golongan. Hanya satu golongan yang benar, yang diterima di sisi Allah."
"Kang, bentar ya," kata si juru parkir sambil pergi menghampiri motor lain yang masuk parkir.
**
Sungguh, saya masih tetap di atas motor ketika saya lihat si juru parkir kembali menghampiri saya.
"Nomor 73 aja, Kang?" tanyanya.
"Tadi orang itu nomor berapa?" tanyaku.
"Aduh, gak inget, Kang."
"Padahal saya pengen nomor yang tadi dikasih ke orang itu lho, A."
"Nomor berapa gitu?" dia bertanya.
"Nomor 34, kan?"
"Iya kali."
"Ya udah, ada nomor lain, A?"
"Yang ini?" Dia menunjukkan kartu nomor 45.
"Ya gak apa-apalah"
"Kang, bentar ya!" katanya kepadaku sambil lalu menghampiri motor yang mau keluar dari tempat parkir. Tidak lama kemudian dia kembali lagi menemui saya.
"Ya udahlah, A, nomor 45 aja," kataku, "Kebetulan ini kan Agustus. Macam untuk merayakan kemerdekaan, aku ambil kartunya. Mas, Mas, bentaaaar aja. Sebenarnya ada pengaruhnya enggak sih, nomor parkir itu?" tanyaku.
Turun dari motor.
"Buat bukti ngambil motor, Kang!”
"Aduh, gak ngerti, A," kataku sambil memasang standar motor.
"Yah pentinglah, A."
"Yang saya maksud itu nomornya," saya berdiri di dekat motor. Memainkan kunci motor.
"Duh, Kang. Nomor mah bisa bebas."
"Terus kenapa tadi saya harus pilih-pilih?" tanyaku.
"Kan si Akang yang minta. Tadi minta nomor cantik."
"Ya udah, gak usah dibahaslah ya, A. Makasih ya, A."
"Sama-sama. Bentar, kang." Lari pergi mengatur tempat buat motor yang baru masuk.
**
Eh, anak istriku sudah jauh jalan rupanya. Saya cari-cari dengan melempar pandang ke banyak arah. Saya hampiri seorang bapak yang pakai seragam hansip. Dia lagi ngopi sambil duduk di trotoar jalan. Sudah tua. Sudah nyaris kakek-kakek.
"Pak, lihat Rosi sama Timur gak?"
"Rosi siapa ya?" tanyanya.
"Istri sama anak saya, Pak, masak gak kenal," jawabku.
"Enggak, Den. Ke mana gitu?"
"Tadi bareng saya sih, tapi pas saya selesai bersin dia sudah enggak ada. Ke mana ya?" tanyaku seperti kepada diri saya sendiri. Saya lemparkan pandangan ke arah jauh.
"Masa? Istrinya bawa HP gak?"
"Enggak ada nomornya, Pak".
"Euh, atuh."
"Menurut Bapak mungkin enggak ya dia selingkuh?" tanyaku.
"Si Aden mah, paling-paling belanja atuh, Den," katanya.
"Harusnya dia bilang dulu, Pak, izin dulu sama saya sebagai suaminya kalau mau pergi," kataku. Si Bapak Hansip sedikit bergeser karena saya duduk di sebelahnya.
"Biar nanti kalau di rumah saya pukulin dia," ancamku pada diri sendiri, "Biar kapoklah, Pak!"
"Ah, Si Aden mah," katanya.
"Bapak pernah nyiksa istri gak?" tanyaku.
"Enggak pernah lah, Den! Kopi, Den?" mengangkat gelas kopinya.
"Udah tahu atuh, Bapak," jawabku. Si Bapak meminum kopinya.
"Pak, si Bapak pasti sangat baik sama istri ya, Pak?"
"Iya. Cari ke sana atuh, Den," anjurnya.
"Si Bapak, ngusir ya?"
"Bukan, maksudnya cari ke sana, mungkin belum jauh."
"Temenin yuk, Pak."
"Lagi jaga, Den," katanya.
"Menjaga siapa?" tanyaku.
"Ya, keamanan gitu," jawabnya.
"Ya udah. Saya cari dulu ya, Pak."
"Silakan. Silakan. Silakan!"
"Eh nama Bapak boleh saya catat, Pak?"
"Buat apa?" tanyanya.
"Buat kenang-kenangan aja. Biar inget kita pernah ngobrol," kataku.
"Lah, gak usahlah."
"Biarin, Pak. Siapa namanya, Pak?"
"Endi!"
"Oh. Endi. Pak Endi. Mangga, Pak!"
"Mangga. Mangga. Silakan, Den"
"Pak, bilang sama pak lurahnya, nulis HANSIP itu harusnya. HANSIF, pake F," kataku sambil beranjak dari duduk.
"Ah, gak tahu bapak mah".
"Mangga, Pak!"
"Mangga."
"Bukan permisi, Bapaaaak. Itu. Yang lagi bapak makan itu? Mangga ya?" saya menunjuk kue bungkus dekat gelas kopinya.
"Oh, bukan. Bandros, Den!"
"Mangga, Pak?"
"Bandros!"
"Bukan. Saya pergi dulu, Pak!"
"Ooh. Mangga. Mangga. Mangga!"
"Tadi katanya Bandros! Si Bapak mah gimana sih," kataku sambil lalu pergi,"Assalamualaikum."
"Alaikumsalam."
**
"Ayah!" terdengar suara anakku teriak memanggil. Rupanya dia sedang dengan ibunya, sudah lagi duduk di sebuah Pujasera.
"Ke mana sih?" tanya istriku.
"Anu. Tadi tukang parkir nanya-nanya segala. Bikin lama aja. Minta tips cara membangun keluarga sakinah, sama bagaimana caranya bisa mendapatkan istri yang cantik. Cerewet banget, sampe nanya istrinya mendominasi enggak, menyetujui praktik poligami enggak. Kalau pulang malam-malam istrinya marah gak. Udah umrah belum? Banyaklah."
"Ngapaiiin? Ada-ada aja!" katanya.
"Gak tahu. Ya biarin aja lah. Udah pada pesen belum?"
"Belum. Dari tadi nunggu si ayah lama banget."
Lalu kami memesan makanan sendiri-sendiri sesuai selera masing diri.
"Bu, kalau mau belanja nunggu biar agak siang aja. Biar lowong dulu. Masih banyak orang sekarang.”
"Iya. Sekarang masih berdesakan," katanya.
"Di samping itu, kalau jumlah permintaan lebih banyak harga akan otomatis tinggi. Kalau sebaliknya, harga akan relatif murah!"
"Jam sebelasan lah", tawarnya.
"Sip!"
**
Di tengah kami menikmati makanan, ada seorang pengemis menghampiri. Dia berupa bapak-bapak. Saya rasa dia masih muda dan kuat. Pake topi yang dibiarkan menyembunyikan wajahnya. Saya kasih dia uang seribu. Lalu dia mendoakan saya agar diberi tambahan rezeki.

"Pak," kataku selagi dia mau pergi, "Harusnya Bapak juga mendoakan diri bapak dong. Biar dapat tambahan rizki. Biar kaya. Biar enggak usah minta-minta."
"Iya, Den," sahutnya sambil ngeloyor pergi.
"Tahu gak, Bu," kata saya pada istri, "Pengemis adalah salah satu penyebab si Karma dalam cerita komik Si Soleh dan Si Karma, masuk neraka. Coba kalau pengemis enggak datang meminta uang ke si Karma, mungkin dia tidak akan berdosa karena mengusir pengemis," kataku.
"Ya, pengemis juga kan sudah menyebabkan si Soleh masuk surga karena memberi uang sama pengemis," timpalnya sambil pergi ke toilet.
**
Telepon selulerku berbunyi. Dari Syamsudin, temanku, alumnus Kimia ITB, dia tanya mau dijual enggak rumah saya yang di Padalarang.
"Buat kamu aja, Syam," jawabku.
"Ngawur, luh," katanya.
"Eh serius," jawabku, "Kayak yang gak tahu gua kaya lu."

"Ye. Bener mau dijual gak? Kalau mau dijual, ada yang mau beli."
"Nanti aja diobrolin di kantorlah, saya lagi sama cewek nih."
"Wuih. Main cewek luh?"
"Freelaaaance!!", kataku, "Yang tetap kan istri."
"He he. Ya sudah ya."
"Eh, Syam... Syam!"
"Apa?"
"Tahu yang jualan kuda nil di mana ya?”
"Hah? Di mana? Buat apa kuda nil? Ngaco, Lu!"
"Ya udah nanti sekalian diobrolin di kantor ya?"
"Iya lah."
"Serius, Syam, obrolin soal kuda nil juga ya?"
"Iya lah."
"Nuhun, Syam." Klik.
"Siapa, Ayah?" tanya anakku.
"Teman ayah. Om Syam. Nanya rumah kita mau dijual enggak."
"Bukan, Ayah, yang mau beli kuda nil siapa?”
"Oooh. Ayah becanda."
"Yah, ada gitu yang jual kuda nil?"
"Ada mungkin."
"Beli, Yah."
"Susah, di mana?"
"Di Lembang ada gak, Yah?"
"Paling juga di Mesir. Mana si ibu?"

***

Bandung Juni 2007

Sonnet 116

04 September 2009

William Shakespeare

Let me not to the marriage of true minds
Admit impediments; love is not love
Which alters when it alteration finds,
Or bends with the remover to remove:
O, no, it is an ever-fixèd mark,
That looks on tempests and is never shaken;
It is the star to every wand'ring bark,
Whose worth's unknown, although his heighth be taken.
Love's not Time's fool, though rosy lips and cheeks
Within his bending sickle's compass come;
Love alters not with his brief hours and weeks,
But bears it out even to the edge of doom.
If this be error and upon me proved,
I never writ, nor no man ever loved.

Kami Bongkar Rumah Kami

02 September 2009

KAMI turunkan genteng sepanjang siang yang terik setelah jendela,
pintu, beserta jeruji-jeruji kami lepaskan dari tembok rumah yang
dibangun kakek-nenek kami 90 tahun yang lalu. Kami memutuskan untuk
membongkar rumah warisan itu dan menggantinya dengan yang baru. Kami
akan mengubahnya dengan gaya "spanyol" yang lagi mewabah di daerah
kami. Rumah dengan satu pintu di bagian depan, kaca hitam tanpa kerai
kaca di sebelah kiri, dan dinding sebelah kanan akan dilekatkan
keramik mengilat dengan bagian atasnya terdapat angin-angin dari kaca
hitam. Di serambi akan kami pancangkan dua tiang dari beton berhias
ukiran khas Jepara dan lantainya tentu dengan keramik mengilat. Rumah
itu tidak membesar tetapi memanjang ke belakang dengan satu kamar
utama di samping ruang tamu dan dua kamar tidur bersebelahan dengan
ruang peristirahatan keluarga. Kami bayangkan tersedia satu televisi
berukuran 21 inci dan satu perangkat lengkap elektronik untuk
mendengarkan musik. Di bagian belakang akan dibangun sebuah dapur
model terbaru dengan lemari kayu terpasang menempel di tembok dan di
bagian bawah lemari itu dipasang plester tertutup keramik seukuran
telapak tangan berwarna putih. Sementara di samping dapur, tepat di
kanannya, akan dipisahkan oleh tembok sebagai sebuah ruangan garasi.
Di sebelahnya akan ada sebuah kamar mandi dengan lantai keramik
berukuran kecil berwarna biru dan satu bola lampu berkekuatan 70 watt.
Dan kami akan mengecat tembok bersemen tersebut dengan cat putih
buatan pabrik dan bukan dari kapur. Menutupinya dengan genteng bercat
merah yang kalau tertimpa cahaya matahari akan memantulkan
kilatan-kilatan yang menyilaukan. Mungkin rumah kami ini nantinya
menyerupai makhluk baru dan siapa pun yang pernah datang ke rumah kami
pasti akan tercengang dan apabila memasukinya akan merasakan seperti
berada di sebuah pesawat luar angkasa dengan antena televisi menjulang
ke atas seakan ingin menusuk langit.

Kami tiga bersaudara telah sepakat mengganti rumah itu bukan semata
mengikuti gaya terakhir bentuk rumah di daerah kami, tetapi kami
sengaja untuk menghilangkan segala peninggalan kakek-nenek kami.
Jauh-jauh hari telah kami undang penebang bergergaji mesin untuk
memangkas sepuluh batang pohon kelapa yang barangkali usianya lebih
tua dari kami. Popon-pohon itu tinggi sekitar 75 meter dan kala
tertiup angin akan meliuk-liuk seakan memanggil cerita-cerita yang
kami dengar dari bapak-ibu kami, saudara-saudara ibu kami, dan
tetangga-tetangga kami. Dan kami juga melihat album foto keluarga
tentang rumah itu kala tahun 1967. Kami selalu merasa tidak pernah
berada di tahun 2006 ketika mengingat dan membuka album keluarga itu.
Ada bayangan hitam yang selalu membuat kami ingin membakar rumah
beserta tanah sekitar satu hektar itu. Membakarnya dan menggantikannya
dengan sebuah gedung bertingkat 70 lantai. Tapi itu mustahil. Kami
hanya biasa menggantinya dengan rumah bergaya "spanyol" dan memangkas
semua pohon kelapa di halaman dan menggantikannya dengan sebuah taman
dan di situ berdiri sepuluh pohon cemara. Pohon dengan daun-daun
bergerigi dan lancip yang akan mengingatkan kami bahwa kami hidup pada
tahun 2006 dan bukan berada di tahun 1967.

Memang kakek-nenek kami tidak langsung membangun rumah yang sedang
kami bongkar ini dengan tembok seperti yang terlihat sekarang, tetapi
bertahap. Pertama kalinya dibangun dengan menjejakkan kayu yang
ditebang dari hutan entah di mana dan menutupinya dengan anyaman
bambu, memberinya daun pintu dari kayu jati dan jendela dengan terali
dari kayu yang dipasak dan diatapi genteng yang dibeli dari tetangga
desa. Setiap pasak dari kayu yang dijejakkan, diberi landasan batu
kali yang diambil dari Sungai Ewuh di sebelah timur rumah. Pertama
kali membangun rumah itu sekitar tahun 1930-an sebelum Jepang masuk
dengan senjata berbayonet dan merampok padi-padi dan memaksa
orang-orang makan dari ubi kayu dan sayur hati pohon pisang. Kami
tidak tahu bagaimana rasa makanan seperti itu. Tapi menurut bapak kala
itu makanan seperti itu nikmat sekali.

Tahap kedua rumah itu dibangun pada tahun 1957. Ibu pernah bercerita
pemugaran rumah tersebut atas usul kakek kami sebelum dua tahun
kemudian meninggal yang menurut ibu terserang sesak nafas. Rumah itu
dibedah bagian tengahnya dan menguatkan pondasi dari batu kali dengan
beton campuran pasir sungai, pasir batu merah, dan kapur putih. Lantas
di atasnya batu-bata disusun membujur dan bukan melintang sebagaimana
tembok sekarang. Tembok rumah kakek-nenek kami tersebut tebal dan
tampak sangat kuat. Daun pintu dan jendelanya terbuat dari kayu jati
yang sudah sangat tua dan ketebalannya 5 cm. Sementara bagian depan
dibiarkan tetap berdinding anyaman bambu dan bagian dinding depannya
tersusun dari bilahan-bilahan kayu jati. Rumah nenek kami tidak
membujur ke belakang melainkan berbentuk serupa huruf L dengan bagian
bangunan depan sebagai kakinya.

Rumah itu besar dan, sebagaimana terlihat sekarang, satu-satunya yang
terbesar di antara rumah-rumah yang ada. Rumah tembok dengan warna
putih dari batu kapur yang setiap tahunnya selalu dikapur, tepatnya
hari raya lebaran. Setiap dikapur mendadak rumah itu tampak bangun
dari tidur panjangnya, berganti dengan pakaian baru, dan siap
menyambut siapa saja. Seolah hanya pada hari raya rumah kami
bergembira dan menghadapi apa pun dengan kesukaan ria tersendiri yang
tidak akan ditemukan kecuali pada hari raya itu. Kadang di depannya
akan dipasang daun kelapa yang masih muda berjuntaian seolah tangan
yang melambai-lambai kepada setiap orang yang lewat. Mungkin berkata,
"Hei kemarilah. Aku bahagia kau datang. Aku sedang tidak ada masalah
hari ini."

Demikian juga penghuninya. Pada hari raya itu semuanya, kami beserta
bapak ibu kami, adalah manusia baru. Kami saling melihat di antara
kami seolah kami adalah orang baru dan tidak teringat apa yang terjadi
kemarin, kemarin, dan kemarinnya. Kami memakai baju baru meskipun
tidak yang terbagus yang dijual di daerah kami. Sandal baru. Celana
baru. Dan makanan-makanan baru berwarna-warni. Sering kami, ketika
tidak hari raya, selalu berharap setiap bangun dari tidur adalah
makanan yang baru tersedia, tersenyum-senyum, dan tidak bertemu
orang-orang terkutuk yang selalu datang dengan wajah muram dan seolah
hendak memakan kami seketika itu juga.

Ya, sewaktu kami berusia sekitar dua belas tahun rumah kami sering
didatangi orang-orang yang meneror kami sekalipun mereka adalah
keluarga dari ibu. Sebab mereka datang dengan begitu saja dan meminta
pada ibu apa saja dan harus tersedia pada hari itu. Jika tidak, ibu
kami akan dibentak-bentak dan jika tidak diberi juga apa yang diminta
ibu kami akan digampar seolah ibu kami bukan manusia. Kami tak tahu
apa yang dibenak orang itu. Orang itu biasa kami sebut Pak Min jika
kami dengan terpaksa bertemu dengannya di depan rumah atau di jalan
sebagai tanda hormat di mata orang-orang yang ada di sekitar kami:
bahwa kami masih menghormati saudara ibu. Atau, sebenarnya ketakutan
akan digampar juga?

Sebelum nenek kami meninggal, nenek kamilah yang menjadi sasaran.
Kerap kali nenek dibentak-bentak oleh Pak Min dan entah karena takut
terus-menerus dibentak anak laki-lakinya atau karena alasan lain nenek
biasanya mengambil uang simpanannya atau perhiasannya dan begitu saja
mengulurkannya pada si anak. Setelah itu, si anak, tanpa satu kata
pun, beranjak dari tempatnya duduk dan langsung berjalan menuju sepeda
di halaman dan mengayuhnya entah ke mana. Nenek kami lihat hanya
menghela nafas dan berusaha tersenyum pada kami seraya mengajak kami
ke luar rumah membersihkan rumput-rumput yang mulai tumbuh di seantero
halaman depan. Nenek selama membersihkan rumput-rumput tak satu kali
pun bersuara dan hanya tangannya yang cekatan dan kuat mencerabut
cengkeraman akar-akar rumput di tanah halaman rumah. Kemudian
mengumpulkannya di sebelah barat rumah dan membakarnya bersama-sama
dengan daun pisang dan rambutan yang sudah mengering. Di mata kami
selama pembakaran rumput nenek sangat khidmat seolah nenek sedang
membakar kemarahannya sendiri atas perilaku anak lelakinya.

Tapi di dalam hati kami tidak menyebutnya Pak Min tetapi sang
Pembelih. Sang Pembelih karena ia algojo orang-orang di daerah kami
ketika prahara 1965. Menurut saudara Ibu, pada suatu malam sang
Pembelih itu didatangi beberapa orang yang menggunakan penutup kepala
hitam dan hanya dua biji matanya yang tampak serta sekujur badannya
tertutup oleh pakaian hitam. Tak tahu bagaimana jalan pikirannya, sang
Pembelih itu dengan senang hati ikut mereka. Sang Pembelih itu turun
dari rumah dan berjalan di kegelapan malam dan menuju ke jalan menuju
ke utara. Ibunya, nenek kami, menangis sewaktu sang Pembelih itu ikut
sekalipun nenek kami telah berusaha mencegahnya. Ia tergulung-gulung
di lantai disaksikan keempat anak perempuannya yang masih kecil-kecil
menggigil di sudut rumah. Kakek kami saat itu telah mati dan nenek
kami menjadi bulan-bulanan anak-anak lelakinya, terutama sang
Pembelih.

Begitulah dalam bulan-bulan di paruh kedua tahun 1960-an sang Pembelih
merajalela. Banyak orang yang dibunuh oleh sang Pembelih. Nenek kami
mendengar kabar perilaku anaknya hanya tercenung dan sulit sekali
diajak bicara. Nenek kami menjadi jarang di rumah dan suka sekali ke
luar rumah malam-malam entah ke mana. Kadang dua hari tidak pulang dan
pulang dengan baju lusuh dan bau tak sedap menguap dari badannya.
Setiap ibu kami atau saudara perempuan lainnya mengatakan kebutuhan
dapur telah habis, nenek akan diam atau berteriak, "Kalau ingin makan
cari sendiri, kalau tidak mati saja sekalian!" Maka, ibu kami yang
masih kecil bersama ketiga saudara perempuannya mencari kebutuhan
dapur dengan cara pergi ke pinggiran Sungai Ewuh untuk mencari cabai
dan sayur-sayuran yang tumbuh dengan sendirinya sebab sawah telah
terbengkelai. Kalau tidak mencukupi sebab seharian tidak mendapatkan
apa yang mereka butuhkan, biasanya mereka meminta kepada
tetangga-tetangga sebelah. Sementara kedua saudaranya laki-laki
semakin jarang pulang dan jika pulang hanya sekejap dan itu pun akan
membawa barang-barang untuk digadai atau dijual semenjak nenek kami
sulit sekali diajak bicara dengan enak tanpa ledakan-ledakan amarah.
Ibu kami akhirnya putus dari sekolah menengah pertama karena sepeda
yang dipakainya untuk mencapai sekolah selama dua jam perjalanan
dibawa kabur dan tidak pernah kembali. Ibu kami hanya bisa menangis.

Ya, Ibu hanya bisa menangis. Menangis sebagaimana ia dipukul oleh sang
Pembelih itu. Kami hanya diam dan diam-diam semenjak kami masih kecil
hati kami mengeras kepada sang Pembelih itu. Sang Pembelih yang memang
tak lagi menyembelih tetapi sang Pembelih itu tidak tahan ketika
sangat lama tidak mendengarkan suara-saura sayatan sebagaimana ia
dengar terus-menerus pada prahara 1965-an. Suara sayatan akibat
parangnya itu telah meresap ke sanubarinya dan tertanam dalam dan
bahkan berumah di sana. Setiap kali suara sayatan yang setiap malam
terdengar di tahun-tahun paruh kedua tahun 1960-an itu berkelebat di
tahun 1980-an maka sang Pembelih itu kelimpungan. Ia akan membanting
apa pun sampai suara-suara itu meredam sayatan yang menggejolak dalam
sanubarinya. Kalau membanting tidak cukup meredam suara sayatan itu,
ia akan datang menemui istri atau anak-anaknya, dan kalau tidak ada
maka ia akan ke tempat saudaranya, terutama saudara perempuannya. Dan
sang Pembelih itu akan suka sekali mendengar suara saudaranya
mengerang kesakitan.

Ah, dada kami seperti hendak memecah. Tapi Ibu kami mengatakan pada
kami untuk tidak melakukan apa pun pada sang Pembelih itu atas semua
yang telah dilakukannya kepadanya. Ibu mengatakan bahwa kami harus
memberhentikan serangkaian dendam itu dan mengakhirinya, syukur kalau
bisa memotongnya. Kami tak tahu apa yang sesungguhnya berada di dalam
benak Ibu kami ketika Ibu kami mengatakan pada kami ketika ia membujur
di ruang tengah rumah dengan wajah memandang jauh ke atas. Senja baru
menyemburat ke langit. Burung-burung terbang di angkasa. Daun-daun
pohon kelapa tampak kekuningan di pucuk-pucuknya. Nafas Ibu tersengal
sebentar kemudian diam selamanya.

Pada saat itu Ibu adalah orang terakhir yang hidup di antara
saudara-saudaranya yang lain. Ibu tidak memberikan apa-apa kepada kami
kecuali harapannya kepada kami untuk hidup berdamai. Ya, kami bisa
memaafkan kepada keluarga sang Pembelih yang membuat Ibu kami tersiksa
sepanjang hidupnya. Kami hanya tak tahan apabila kenangan rumah itu
menguat dan mulai mengganggu mimpi-mimpi kami lalu merambat di antara
pikiran-pikiran kami seperti percikan api di musim kemarau. Kami bukan
takut pada bayangan-bayangan itu, tetapi kami takut kami tidak bisa
mengendalikan tindakan kami ketika dalam kami muncul bayangan sang
Pembelih. Mungkin kami diam atau mungkin kami mengambil apa pun dan
mengayunkannya kepada siapa pun yang berada di dekat kami.

Kami tak mau bayangan-bayangan itu muncul lagi dan kami telah sepakat
di antara saudara kami untuk membongkar rumah kami yang usianya hampir
seratus tahun itu dan menggantinya dengan rumah baru bergaya
"spanyol". Kami tak tahu apa yang terjadi pada pikiran-pikiran kami
setelah rumah baru tersebut selesai dibangun. Mungkin kami akan
kehilangan semua masa lampau kami sebab semua perangkat rumah baru
kami nanti tak satupun berasal dari warisan kakek-nenek kami dan
bapak-Ibu kami. Kami akan membeli semua peralatan rumah dan menatanya
dengan cara terbaru sehingga akan terbentuk suasana yang tak pernah
kami rasakan sebelumnya dan tak pernah orang pikirkan. Kami akan
berada di sebuah situs baru dan kami akan membuat masa lampau-masa
lampau yang baru lagi.***

2006

Sonnet 46

31 Agustus 2009

William Shakespeare

Mine eye and heart are at a mortal war,
How to divide the conquest of thy sight;
Mine eye my heart thy picture's sight would bar,
My heart mine eye the freedom of that right.
My heart doth plead that thou in him dost lie,
A closet never pierc'd with crystal eyes
But the defendant doth that plea deny,
And says in him thy fair appearance lies.
To side this title is impannelled
A quest of thoughts, all tenants to the heart;
And by their verdict is determined
The clear eye's moiety, and the dear heart's part:
As thus; mine eye's due is thy outward part,
And my heart's right, thy inward love of heart.

Tanah Merah

28 Agustus 2009

Ketika ia bersandar pada pagar kapal yang akan membawanya pergi dari
Tanah Merah, seluruh peristiwa yang telah dialaminya hampir setahun
sebelumnya bagai berputar kembali di pelupuk matanya. Hidupnya sendiri
adalah rangkaian petualangan demi petualangan yang tak berkesudahan.
Semula ia adalah seorang pahlawan untuk negerinya, negeri Belanda yang
telah menguasai bumi Hindia Belanda selama ratusan tahun. Semua orang
yang tahu atau pernah mendengar tentang peristiwa Banten yang
menggegerkan itu sudah barang tentu telah mendengar keharuman namanya.
Oleh tindakan kepahlawanan itu Pemerintah Hindia Belanda telah
menganugerahkan sebuah bintang kehormatan kepadanya. Orang-orang
mengelu-elukannya. Ia mendapatkan undangan pesta dari para pejabat
militer Batavia dan orang-orang yang ingin mendengarkan kisah
pertempuran yang telah ia alami, bunyi letusan senapan dan jerit
mengerikan ketika tubuh meregang nyawa. Sungguh, memabukkan.
Beberapa bulan setelah ia berhasil menumpas pemberontakan kaum merah
di Banten, Pemerintah Batavia menunjuknya sebagai komandan ekspedisi
yang pertama-tama untuk masuk ke Digul dan mempersiapkan kamp
pembuangan bagi kaum interniran yang telah memenuhi penjara-penjara di
Jawa dan Sumatera.
"Apakah Gubernur Jenderal sudah gila? Digul adalah daerah terpencil,
hutan-hutan lebat yang belum dijamah kecuali oleh penduduk rimba
setempat dan para petualang Tionghoa. Aku mendengar dari orang-orang
yang melakukan ekspedisi ke sana untuk mencari emas bahwa Digul adalah
belantara yang dipenuhi para pengayau. Bagaimana kaum interniran bisa
hidup di sana?" tanyanya kepada Letnan Drejer, opsir yang juga
mendapatkan perintah untuk menemaninya masuk belantara Digul.
"Tampaknya tuan Gubernur Jenderal de Graeff ingin meniru bangsa Rusia.
Bukankah di Rusia terdapat pembuangan yang terkenal di seluruh dunia?
Siapa tak mengenal Siberia, neraka bagi siapa pun warga Rusia yang
berontak atau menjadi bajingan!" ujar Letnan Drejer sambil tersenyum
kecut.
"Kita bukan bangsa Rusia dan Siberia lain dengan Digul, Letnan. Digul
hutan lebat. Apa yang bisa diharapkan dari daerah seterpencil itu?
Kalau kita membuka hutannya, masalah mengerikan lain telah menunggu:
malaria! Bukankah itu sama saja dengan mengirimkan kaum interniran itu
ke lembah kematian?"
"Saya tak takut dengan malaria, Kapten. Tapi tinggal di hutan lebat
semacam Digul sama saja dengan menyerahkan kepala kita kepada para
pengayau atau para kanibal hitam di sana. Itulah yang saya takutkan,"
ujar Letnan Drejer dengan kepala bergidik.
"Hehm, benar. Dan kita, kaum terhormat yang baru saja mendapatkan
bintang kehormatan dari tindakan militer, harus mengotorkan tangan
dengan tindakan memalukan. Sungguh keterlaluan orang-orang Batavia!"
"Yang lebih mengherankan, bukankah Gubernur Jenderal de Graeff itu
terkenal berbudi baik, Kapten? Bagaimana ia bisa membuat
keputusan-keputusan yang mengerikan seperti membuka kamp pembuangan?"
ujar Letnan Drejer tak mengerti.
"Apalah artinya seorang gubernur jenderal berbudi baik bila sistemnya
telah diracuni oleh para pejabat berhati kotor? Merekalah yang tak
ingin kedudukannya terancam dengan ulah para pemberontak yang ingin
menjatuhkan kekuasaan. Dan, untuk menangkal ancaman tersebut, tindakan
kotor pun buat mereka tak apa-apa dan tak ada salahnya dilakukan."
Letnan Drejer mengangkat bahu. Dipandangnya punggung Kapten Becking
yang jangkung itu. Rasa hormatnya yang tinggi tak pernah lenyap
terhadap lelaki ksatria yang beranjak tua ini. Di luar dinas
militernya, opsir berambut putih itu sungguh terpelajar. Satu minggu
sebelumnya Kapten Becking telah meminta bawahannya untuk mencari
segala pengetahuan yang ada hubungannya dengan Digul dan bumi hitam di
ujung timur Hindia itu. Sementara para prajurit dan opsir bawahannya
membual dan membayangkan petualangan di tanah mereka yang akan mereka
lakukan, ia justru tenggelam dengan buku-buku dan tumpukan laporan
tentang Digul dan wilayah New Guinea secara umum. Ia gemar sekali
membicarakan suku-suku pedalaman yang tinggal di hutan belantara itu
dan di sepanjang Sungai Digul, kebaikan-kebaikan mereka dan kesukaan
mereka dalam mengayau. Tak jarang ia mengingatkan Letnan Drejer akan
kebuasan alam tempat baru itu dan berujar ia akan menundukkannya
secepat mungkin.
Satu minggu sebelum bulan Januari 1927 berakhir kapalnya yang membawa
120 serdadu dan 60 kuli paksa dengan kaki dirantai memasuki Sungai
Digul dan membuang sauhnya pada jarak ratusan kilometer dari pantai.
Hujan tipis tak menghalanginya untuk keluar dari kapal, memandang ke
arah hutan lebat maha luas dan tampak buas dalam bayangannya. Dari
tabir tipis gerimis ia masih bisa menangkap keluasan hijau yang
terbentang di depan matanya, daerah sunyi yang oleh Gubernur Jenderal
de Graeff telah dipilih sebagai kamp pembuangan kaum interniran merah
yang memberontak itu. Tubuhnya yang jangkung dan rambutnya yang
memutih bergoyang-goyang oleh kapal dan angin yang bertiup cukup
keras. Ia menggelengkan kepala dan menarik napas dalam-dalam.
"Di sinikah tahanan politik itu disembunyikan dari masyarakatnya,
ataukah justru dikuburkan untuk selama-lamanya?"
Lama ia berdiri di pagar kapal, mengamati hutan belantara dan
buaya-buaya yang berjemur dengan moncong terkatup di pinggir sungai.
Ia membayangkan suku-suku pedalaman yang nanti akan terganggu oleh
pekerjaan barunya. Sayang ia tak bisa mundur lagi. Dengan seluruh
perasaan bersalah mengeram di dalam dadanya, ia menekan hasrat
kemanusiaannya yang terus menggemakan pertanyaan demi pertanyaan. Ia
menggenggam bintang kehormatan yang tersemat di dadanya dengan
perasaan terhina dan masuk kembali ke kapal menemui Letnan Drejer dan
segenap prajurit bawahannya.
Setelah berunding beberapa saat, mereka menurunkan seluruh keperluan
pembukaan hutan dan perbekalan hidup mereka untuk masa tiga bulan.
Kecuali pakaian dan perlengkapan anak buahnya, terdapat alat-alat
duduk dan tidur, barang pecah belah, alat pertanian dan persediaan
benih, lalu kaleng minyak tanah yang isinya tidak lain bahan-bahan
makanan. Para kuli paksa dan sebagian besar serdadu membuka hutan
dengan model setengah lingkaran terlebih dahulu sebagai tempat untuk
mendirikan kemah dan tenda mereka. Sementara sebagian kecil serdadu
menjaga bahan persediaan makanan dan segala barang perlengkapan yang
telah diturunkan dari kapal.
Ketika kegelapan menyelimuti mereka, di tengah-tengah tenda dan kemah
baru diletakkan lampu stormking. Kapten Backing dan seluruh
pengikutnya bersiap-siap dengan serbuan pertama-tama manusia hutan
Digul. Pada tengah malam, ketika keletihan telah merayapi tubuh
mereka, tiba-tiba terdengar jeritan panjang yang datang dari berbagai
jurusan sekalipun tak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan
dirinya di bawah penerangan lampu. Beberapa kuli paksa gemetaran dan
membaca doa keras-keras, mengira suara-suara jeritan dari balik hutan
sebagai kemarahan hantu-hantu hutan yang pepohonannya telah mereka
babat. Namun, Kapten Becking dan sebagian besar serdadu yang dibawanya
yakin itu adalah suara-suara para penghuni hutan yang telah
menyaksikan aktivitas mereka sejak pagi. Setelah ditunggu-tunggu dan
mereka tak juga muncul atau menyerang, seluruh serdadu dan kuli paksa
menarik napas lega.
"Aku yakin mereka tidak buas, sebab kalau mereka buas sudah sejak
semalam mereka akan menyerang kita," ujar Kapten Becking keesokan
harinya.
"Aku harap juga demikian. Kalau mereka buas, pekerjaan kita bakalan
lebih payah lagi," letnan Drejer menimpali dengan kecut.
"Benar. Bagaimanapun tugas berat ini harus cepat selesai, paling tidak
sebelum satu bulan. Di samping tenda-tenda, kita harus mempersiapkan
dua gudang untuk menyimpan seluruh barang-barang yang telah kita bawa,
sebuah rumah sakit, satu stasiun radio dan sebuah kantor pos. Itu
belum termasuk menyiapkan lahan-lahan permukiman bagi kaum interniran
dan lahan pertanian mereka kelak."
"Kantor pos? Sungguh aneh, di sebuah hutan belantara seperti Digul
bagaimana mungkin ada kantor pos? Sungguh konyol gagasan orang-orang
Batavia itu," ujar Letnan Drejer mengejek.
"Sekarang mungkin kita tak membutuhkannya. Namun, nanti, ketika
seluruh kaum interniran itu diangkut ke sini, mereka akan
membutuhkannya. Apakah mereka akan dibiarkan betul-betul merana tanpa
berkirim kabar pada saudaranya di tempat lain. Mereka orang beradab
dan harus tetap berhubungan dengan peradaban."
"Mereka dibuang di sini saja bukan tindakan beradab, Kapten. Jadi
sia-sia saja mereka mencari hubungan dengan orang-orang beradab."
"Itulah yang sebenarnya melukai kehormatanku, Letnan. Aku lebih
terhormat meregang nyawa dalam sebuah pertempuran daripada membuat
tempat penyiksaan semacam ini. Tapi kita mengabdi kepada Gubernur
Jenderal, bukan kepada nurani kita," ujar Kapten Becking sambil
menguap. Tak lama kemudian ia jatuh tertidur.
Begitu terang tanah telah sempurna, mereka kembali bekerja membabat
hutan dan mempersiapkan tanah lapang untuk keperluan tempat tinggal
dan segala bangunan yang akan diperlukan nanti. Serdadu yang berjaga
dan ingin melepas kejenuhan menyusuri sungai dan berburu buaya.
Pada hari kelima, ketika mereka tengah siap memulai pekerjaan setelah
istirahat tengah hari, mereka dikagetkan oleh suara jeritan seperti
empat malam sebelumnya. Dari berbagai arah, dengan hanya berpakaian
bulu burung cenderawasih dan membawa sebuah pepaya di tangan,
manusia-manusia hitam bertubuh atletis itu menampakkan diri di hadapan
para serdadu dan kuli paksa, mencoba menarik perhatian mereka lalu
mendekat selangkah demi selangkah dengan sangat hati-hati. Kapten
Becking, yang telah melakukan studi lama tentang daerah sekitar hutan
ini beserta kebiasaan para penduduknya mendekati mereka dengan dada
berdebar-debar. Busur, panah dan lembing mereka siap bergerak. Namun,
buah pepaya yang ada di tangan para manusia hitam itu yang membuat
Kapten Becking yakin mereka tak akan membuat keonaran.
Dengan tangan gemetar ia mengeluarkan tembakau dari saku celanya dan
dengan bahasa isyarat dari tangan dan wajahnya ia mengajak mereka
menukar tembakau terebut dengan pepaya yang mereka bawa. Begitu mereka
menerima tembakau dan Kapten Becking menerima pepaya, orang-orang
hitam itu bersorak melegakan seluruh pendatang baru itu. Kapten
Becking meminta kepada Letnan Drejer untuk mengambilkan sekantong
garam dan barang-barang perhiasan kecil yang ada di gudang. Ketika
benda-benda itu diberikan kepada pemimpin penghuni hutan, mereka
membalasnya dengan memberikan bulu burung cenderawasih, burung-burung
yang cantik, dan binatang-binatang buruan yang berhasil mereka tangkap
dengan sumpit. Namun, yang paling membuat geli para pendatang baru itu
adalah sikap para penghuni hutan itu kepada gramofon yang mereka bawa.
Benda yang piringan hitamnya sedang berputar itu diangkat, diselidiki,
dan dilihat-lihat dari segala sudut dengan penuh keheranan.
"Mungkin mereka heran bagaimana suara manusia bisa muncul dari
gramofon itu, Kapten," kata anak buahnya sambil tersenyum dan tertawa
terpingkal-pingkal.
"Tentu. Mereka mencari bagaimana benda sekecil itu menyembunyikan
manusia," kata Letnan Drejer sambil tersenyum lebar.
Setelah beberapa minggu segala persiapan awal penyambutan kedatangan
para internitan yang pertama-tama di bekas hutan Digul itu selesai,
secara bergelombang datanglah kaum merah yang telah gagal memberontak
itu, dipisahkan dari bangsanya sendiri dan dikubur di tengah belantara
untuk selamanya. Pada pendatang baru ia memperkenalkannya sebagai
Tanah Merah.
Siapa sangka jika pekerjaan meletihkan dan memalukan itu kemudian
memaksanya berhenti dari dinas militer? Semuanya berawal ketika ia
mengizinkan seorang wartawan berkebangsaan Denmark masuk ke kamp
interniran dan melihat dari dekat segala hasil kerjanya. Kabarnya,
wartawan itu mengambil gambar para interniran selama di dalam kapal
dari Surabaya hingga sampai di Digul. Komandan kapal yang tak ingin
dosa-dosa para pejabat Batavia diketahui secara luas oleh seluruh
dunia merampas kamera dan menghancurkan foto-foto yang telah dibuatnya
selama di kapal. Alangkah murkanya ia ketika Kapten Becking justru
mengizinkan wartawan itu masuk ke kamp pembuangan.
Ia juga tahu para pejabat Belanda di Merauke tak menyukai
keberhasilannya membangun kamp pembuangan itu. Mereka membuat rencana
busuk untuk menyingkirkanya. Suatu kali Letnan Drejer memberitahu
bahwa Opsir Mon Joulah yang mengatur semua itu. "Ia sangat gila
kekuasaan, Kapten," ujar Letnan Drejer muak.
Foto dari wartawan Denmark itu rupanya telah melukai kehormatan para
pejabat Batavia. Mereka makin menyudutkannya atas tindakan ceroboh
memasukkan wartawan ke kamp pembuangan sehingga kabar tentang kamp
pembuangan itu meluas ke seluruh dunia. Saat itulah ia memutuskan
untuk mengirimkan kawat ke Batavia dan mengundurkan diri dari dinas
militer!
Tak akan terlupakan hari keberangkatannya meninggalkan Digul. Ia
berdiri di pagar kapal api, bukan lagi memandang hutan yang hijau
sunyi, namun permukiman yang dibangunnya belum setahun yang lalu
sembari merenungkan nasibnya. Hujan tipis membasahi baju dan rambutnya
yang putih. ***

Sokawangi, Oktober 07

Sonnet 73

26 Agustus 2009

William Shakespeare

That time of year thou mayst in me behold
When yellow leaves, or none, or few, do hang
Upon those boughs which shake against the cold,
Bare ruin'd choirs, where late the sweet birds sang.
In me thou see'st the twilight of such day
As after sunset fadeth in the west;
Which by and by black night doth take away,
Death's second self, that seals up all in rest.
In me thou see'st the glowing of such fire,
That on the ashes of his youth doth lie,
As the death-bed, whereon it must expire,
Consum'd with that which it was nourish'd by.
This thou perceiv'st, which makes thy love more strong,
To love that well, which thou must leave ere long.

Sepatu Tuhan

25 Agustus 2009

Seorang sersan muda sedang mencegah tersangka merebut tas kecil dari
meja ketika Letnan Sardi masuk. Wibawa yang bergelantungan di pundak
Sang Letnan menghentikan keriuhan kecil di ruang interogasi tanpa
sedikit pun tenaga tersia-sia. Si Sersan melepaskan genggamannya,
membiarkan tersangka merebut dan memeluk tas itu erat-erat. Keadaan
terkendali.
Letnan Sardi duduk dengan tenang dan menatap tajam ke depan. Sepotong
masa lalunya kini menggumpal di seberang meja, duduk di kursi sebagai
tubuh rikuh si tersangka. Sardi ingat.
Tersangka itu sahabatnya. Dulu. Sahabat sekaligus, diam-diam, seteru.
Dalam setiap permainan, mereka biasa saling bahu-membahu. Orang-orang
mengenal keduanya sebagai ujung tombak kembar PS. Gunung Terang. Ujung
tombak kembar yang tajam.
Sersan itu melaporkan keadaan. Mengeluhkan, lebih tepatnya. Tersangka
tak mau bicara. Segala cara sepertinya percuma. Sardi menatap penuh
selidik pernyataan anak buahnya, mencari maksud di balik pernyataan
"segala cara".
Ditatap seperti itu, Si Sersan merasa jengah. Ia beranikan diri minta
pamit. Sardi hanya bertanya, "ke mana?" untuk menyatakan sikapnya.
Intonasi pertanyaan itu terang artinya bagi Si Sersan. Permohonannya
ditolak.
"Pelajari caraku menyelesaikan kasus ini."
Sersan mematung tak jauh dari pinggir meja, menyembunyikan sikap
meremehkan yang memenuhi lambungnya. Sersan itu percaya, perbedaan
keduanya sebagai polisi hanya soal di mana pangkat tersemat. Lengan
dan pundak bagaimanapun hanya dipisahkan ketiak, tak perlulah bersikap
congkak.
Letnan Sardi bukan tak dapat merasakan sikap meremehkan ini,
sebagaimana seluruh bawahannya menyimpan sikap serupa. Pagi itu, ia
tak peduli, memilih tenggelam di berkas catatan di depannya.
Asan. Laki-laki. Menikah. Wiraswasta. 29 tahun. 32, ralat Sardi
diam-diam. 3 tahun itu diambil untuk sebuah pertandingan tarkam
sekota, 13 tahun yang lalu. Waktu itu, setiap peserta harus berumur
kurang dari 18. Ia tahu, sebab 3 tahun itu juga diambil darinya.
Sardi melihat ke arah cermin di sisi ruangan, ke arah bayangannya
sendiri, sebelum kembali ke Asan. Mungkin usia bekerja dua kali lebih
kejam pada Asan, ia tampak ringkih dan kering.
Kebanyakan orang tentu heran bagaimana orang seringkih ini bisa
mempunyai kekuatan untuk melakukan kekejian. Asan diduga keras adalah
pelaku pembunuhan Raman Jereng, bandar judi besar kota ini. Tangan
kecilnya telah menghantamkan batu ke tengkuk Raman, menyiramkan
bensin, lalu membakar korbannya. Visum percaya bahwa korban belum
tewas ketika api menyala.
Sardi menoleh ke arah Sersan, bertanya apa isi tas tersangka.
"Sepatu bola, Pak."
Sardi menatap Sersan lekat-lekat. Sersan sempat mengira atasannya
terheran-heran, sebagaimana dirinya tadi. Tapi mengapa Letnan Sardi
tersenyum? Apakah akademi mengajarkan untuk menutupi perasaan heran
dengan tersenyum?
Sardi ingat sepatu itu.
13 tahun yang lalu, sebelum kenal tentara, Raman Jereng cuma bandar
kelas kampung. Ia masih mengotori tangannya untuk menggosok-gosok
pemilu kades atau pertandingan sepak bola.
Sore itu, seusai pertandingan pertama kompetisi tarkam sekota, Raman
datang membawa dua pasang sepatu. Sepatu pertama, yang kemudian
dipakai Sardi, sebenarnya cukup baik. Kulitnya nomor satu, jahitannya
kuat, tiga garis putih membuatnya tampak gagah. Sepatu Kaisar
Bekenbewer, kata Raman.
"Sepatu ini bikin Jerman juara 74," kata Raman. "Lu mau?" Sardi muda
mengangguk. Nantinya, keputusan ini ia sesali seumur hidup.
Raman Jereng selalu punya cerita untuk apa saja. Termasuk untuk
sepatu-sepatunya. Sepatu kedua, yang dihadiahkannya pada Asan, punya
cerita lebih seru.
"Pernah dengar tangan Tuhan?"
Raman menyodorkan sepatu kedua ke tangan Asan. Kulitnya sama nomor
satu, jahitannya sama kuat. Bedanya, sepatu itu bergambar macan
kumbang sedang menerkam. "Sedang terbang," ralat Raman. Ceritanya
belum selesai, masih akan lebih seru.
Raman mengulangi pertanyaan yang sebenarnya tak perlu. "Pernah dengar
tangan Tuhan?" Asan berbinar-binar, tak sadar mulutnya menganga. Sardi
mengangguk berkali-kali.
"Itu sepatunya."
Asan memandangi sepatu itu tak percaya. Sepatu yang biasa dipakainya
adalah sepatu sobek pinjaman Sardi. Salah satu sepatu terburuk dari
koleksi anak sulung juragan kopi itu. Kini ia punya sepatunya sendiri.
Tak tanggung-tanggung, sepatu Tuhan.
Sardi mengulangi kalimat yang ia dengar dari bapaknya. Komentar
mengenai betapa musyriknya julukan Tangan Tuhan. "Hensbol itu tangan
Setan." Sardi bicara sendiri. Asan sibuk menatapi sepatu, Raman sibuk
menatapi Asan.
Sepanjang kompetisi tarkam sekota, sepasang ujung tombak kembar Gunung
Terang mengamuk, demi membentang cita-cita tinggi-tinggi. 7 gol untuk
sepatu Kaisar, 13 untuk sepatu Tuhan. Begitu pun, Asan sebenarnya
cukup membuat satu gol saja. Satu yang mengatasi gabungan seluruh gol
di kompetisi ini.
Di perempat final, Gunung Terang tidak mengendurkan serangan sekalipun
sudah memimpin 1-0. Dalam satu skema serangan, posisi para pemain
tiba-tiba meniru skema gol kedua Argentina di gawang Inggris, sebulan
sebelumnya.
Dari tengah, Asan lepas sendirian. Dua rekan termasuk Sardi mengikuti
dari sayap. Asan terus menggempur. Satu pemain terlewati, lalu satunya
lagi. Pemain ketiga mengira cukup dengan bermain posisi, tapi malah
kalah lari. Pemain keempat memapasi, mengincar kaki, tapi Asan
meliukkan tubuhnya dengan ajaib. Pemain keempat ini bermaksud meniru
meliuk tapi malah kehilangan keseimbangan, terpelanting. Pemain kelima
menghadang dengan emosi tinggi, sudah terkalahkan jauh sebelum
berhadapan dengan Asan. Di depan kiper, Asan, dengan macan di
sepatunya yang entah menerkam atau terbang, menyontekkan bola ke sudut
kiri. Diego Asando Maradona, 2-0, legenda kampung kami.
Setahun setelah gol itu, Sardi mengutuk diri. 7 gol dan 5 umpan
matang, tak seorang pun akan ingat. Bagaimana mungkin? Orang-orang
cuma ingat bahwa di partai semifinal, Gunung Terang dihajar Tunas
Harapan 3-0. Kalau saja Asan main di partai semifinal, ceritanya pasti
lain. Kalau saja di malam sebelumnya tak ada pengendara motor krosboi
melintas, kalau saja bukan Asan yang tersuruk di kolam Haji Sanusi.
Sardi tak mungkin bisa memaafkan kekalahan ini. Pencari bakat dari dua
tim galatama, memasang wajah bosan di partai semifinal, mencoret
sepasang nama tombak kembar Gunung Terang dari catatan mereka. Suatu
keputusan buruk yang mengakibatkan Indonesia gagal juara dunia.
Mengubur cita-cita, Sardi mendaftar akademi polisi. Begitu pun, ini
gagal mengubur sepotong curiga. Curiga ini terlalu meyakinkan.
Di sore sehabis gol istimewa Asan diciptakan, Raman datang, khusus
mencari Asan. Keduanya bercakap di pojokan, sembunyi-sembunyi. Dalam
percakapan itu, wajah Asan cepat berubah dari senang menjadi tegang,
lalu cemas dan ketakutan.
Malam harinya, jendela kamar Sardi diketuk dari luar. Itu ketukan
Asan. Sebentar kemudian mereka mengendap melintasi malam menuju rumah
Raman Jereng. Di akhir perjalanan pulang, alasan Asan mengembalikan
sepatu Tuhan tak juga terang. Sepanjang jalan Asan tak bersuara.
Sekali-kalinya ia bicara, hanyalah ketika mereka berpisah. Itu pun
semakin tak menerangkan apa-apa.
"Aku tak punya sepatu lagi."
Sardi berjanji meminjamkan salah satu sepatunya.
"Yang biasanya saja."
Sardi mengangguk.
Sepatu itu tak jadi dipinjamkan, sebab besok malamnya Asan ditabrak
lari. Penanganan rumah sakit yang buruk menghentikan karier sepak
bolanya. Persahabatan kedua ujung tombak itu juga turut surut. Asan
selalu menghindar.
Tak lama sesudah sembuh dan menerima takdir kakinya pincang, Asan
bekerja untuk Raman. Lebih tepat, Raman datang menawarkan pekerjaan.
Setelah itu, 13 tahun jalan bergegas, tentara mengubah Raman menjadi
bandar kaya, tapi tentu tidak jongos-jongosnya.
Asan menikah, sebentar. Istrinya kabur dengan seorang penyanyi
dangdut, bukan dari Asan yang sudah mengecewakan sejak minggu pertama,
tapi dari seorang anak laki-laki hiperaktif hasil pernikahan mereka.
Anak laki-laki itu kini seusia putra Sardi. Keduanya kini sudah
tergila-gila bermain bola.
13 tahun, pikir Letnan Sardi. Kenapa terlalu lama?
Seperti 13 tahun terakhir, kini pun Asan menghindarinya. Ia menunduk.
Mereka berdua duduk berhadapan, namun tak akan ada seorang pun yang
mampu mengendus gelagat lembut bahwa keduanya saling mengenal. Apalagi
mengendus bahwa keduanya sempat berpapasan dalam kesempatan yang lain,
sebelum ini. Seminggu lalu, di pinggir suatu lapangan sepak bola,
menonton pertandingan dua kelompok bocah, keduanya duduk berdekatan.
Tidak, tidak seorang pun bisa menduga. Tak seorang pun akan
mengetahui, sebab bahkan Sardi dan Asan telah berjanji untuk melupakan
perjumpaan ini.
Kesempatan, cetus Sardi dalam hati, menjawab pertanyaannya sendiri.
Itulah alasannya. Setiap dendam butuh waktu. Tentu, tak salah lagi.
Sardi telah bergumul dengan para kriminal, ia paham watak dasar
mereka. Keliru jika memandang mereka sekadar mengandalkan urat nekat.
Kriminal tertangguh adalah mereka yang paling bisa menciptakan
kesempatan. Bukan, bukan sekadar kesempatan untuk melakukan kejahatan.
Paling penting adalah kesempatan untuk merancangnya. Raman Jereng
sadar benar tentang ini.
Bandar judi itu cukup licik untuk merawat Asan, terutama karena ia
tahu pada gilirannya kejahatannya akan terungkap. Raman bersiasat,
jika akhirnya Asan mendapati bahwa kecelakaan di kolam Haji Sanusi
terjadi atas perintahnya, pengawasan ketat akan mencegah Asan membalas
dendam. Berada dalam kendali berarti mempersempit kesempatan Asan
merancang apa pun bagi diri sendiri. Sempit kesempatan sempit pula
keberanian. Itulah resepnya.
Resep yang baik, pikir Letnan Sardi, tapi belum tentu manjur.
Bagaimana jika ada orang lain, peristiwa lain, yang memungkinkan suatu
kesempatan tercipta. Raman Jereng bisa saja terus mengawasi Asan, tapi
ia tidak bisa mengawasi semua hal. Ia tidak bisa memasukkan semua
orang ke dalam kantongnya. Ia bisa berusaha, tapi luas kantong ada
batasnya.
Sardi membayangkan wajah Raman ketika terkejut mendapati api menjalar
di atas kulitnya. Apakah ia mempunyai kesempatan berteriak?
Asan duduk dengan kepala terus menunduk. Apakah sahabat kecilnya itu
sempat ragu? Apa kini ia menyesal? Ia tampak resah. Ya, seharusnya ia
menyesal. Penyesalanlah yang membedakan antara dirinya dan kriminal
semacam Raman. Yang membedakan kita dengan dia, kata Sardi diam-diam.
Menjalankan kesempatan bisa berarti berkhianat pada hati kecil.
Hati kecil, ia tahu banyak tentang hal ini. Usaha kopi bapaknya tidak
begitu baik ketika ia didaftarkan ke akademi polisi. Padahal, harga
sogok menyogok begitu tinggi. Semenjak itu, hidupnya tergadai. Mungkin
bahkan sejak sebelumnya. Sejak sepatu Kaisar diterimanya. Raman Jereng
tak merasa cukup dengan bekingan tentara, ia ciptakan pula kesempatan
antara dirinya dan seorang calon polisi muda dari Gunung Terang.
Raman Jereng dan seluruh kesempatan-kesempatan yang diciptakannya,
semua pantas mati. Sardi tak bisa membayangkan berapa banyak orang
terselamatkan, berapa banyak kesempatan kejahatan terbungkam.
Sardi tersenyum, menyimpulkan. Tak ada akhir yang paling tepat bagi
seorang penjahat selain mati di tangan senjatanya sendiri. Dua buah
senjata yang memakan tuannya sendiri. Adapun jika orang lain menyangka
satu, itu tak lain karena kebanyakan orang cenderung lebih mengingat
siapa yang bikin gol. Sardi telah berdamai dengan dirinya sendiri. Tak
ada buruknya memberi umpan matang. Lagipula Kaisar memang dikalahkan
Tuhan di Meksiko 86.
Letnan Sardi bersiap mengenyahkan kasus ini dari hadapannya. Ia
menoleh ke arah sersan, bertanya "Sudah paham?"
Sersan menggeleng, terheran-heran. Apa yang bisa dipahaminya,
dipelajarinya? Sejak tadi Letnan Sardi hanya membaca.
"Itulah yang membuat kau sersan dan aku letnan. Motif, buruh yang
tertindas, majikan yang kejam, buruh balas dendam. Sederhana. Bukan
pembunuhan berencana. Laki-laki ini terlalu pengecut untuk itu."
"Bensinnya, Pak?"
"Baca lagi arsipnya."
"Sepatunya?"
"Ini bukan cerita detektif. Kecuali kalau kau menganggapnya begitu."
Sersan menggeleng, lemah.
Letnan Sardi, menenteng tas kecil, berjalan santai ke arah tempat
parkir mobilnya. Di dalam mobil, dua orang bocah tersenyum riang
menyambutnya. Bocah laki-laki yang duduk di depan, ini putranya. 7-8
tahun lagi ia akan merajalela dengan sepatu Kaisar. Bocah yang duduk
di belakang, anggota baru keluarganya, masih sering terselip lidah
memanggilnya dengan sebutan Oom, bukannya Ayah.
"Ini dari bapakmu." Putra angkatnya menerima tas itu dengan canggung,
tak berani membukanya.
"Apa isinya?" Sergah putranya sendiri, penasaran.
"Pernah dengar tangan Tuhan?"
Keduanya menggeleng.
Sepanjang jalan, Letnan Sardi bercerita tentang Piala Dunia 86. Satu
gol terkenal Maradona adalah gabungan dari sedikit kerja kepalanya dan
sedikit kerja tangan Tuhan, tapi itu belum seberapa. Di perempat
final, Asan, sahabatnya, melewati lima pemain sebelum menundukkan
Peter Shilton. Di semifinal mereka dikalahkan PS. Tunas Harapan 3-0.
Tak apa. Setiap cita-cita berhak mendapatkan kesempatan kedua,
sebagaimana Indonesia berhak juara dunia.
"Gol kedua itu, ini sepatunya." ***

Sepekan di Jakarta

23 Agustus 2009

AJAKAN Aris agar aku ikut dia ke Jakarta sulit kutolak. Sebab, dia
adalah teman mainku waktu kecil yang kini kuanggap sudah sukses. Lagi
pula sudah lama aku ingin melihat-lihat suasana Jakarta. Selama ini
aku hanya bisa membayangkan betapa indahnya suasana Jakarta, terutama
di malam hari. "Kamu bisa menikmati suasana Jakarta selama sepekan.
Jangan khawatir soal makan dan ongkos keluyuran selama di Jakarta,
juga ongkos untuk pulang. Semuanya menjadi tanggung jawabku," janji
Aris.

Aku dan Aris tiba di Jakarta ketika pagi masih berkabut. Perjalanan
sepanjang malam membuat kami kelelahan dan ingin segera istirahat,
tidur. Maka, Aris langsung menyuruhku masuk ke kamar tamu di rumahnya,
dan dia pun langsung masuk ke kamar tidur utama. Istrinya belum
bangun.

Meski aku lelah dan mengantuk, ternyata mataku sulit kupejamkan
setelah aku berbaring di atas ranjang di dalam kamar tamu itu.

Ternyata Aris memang sudah kaya. Ru-mahnya besar berlantai dua. Di
garasi ada dua buah mobil mewah. Pasti ke mana-mana istrinya selalu
membawa mobil sendiri.

Sampai menjelang siang, aku baru bisa memejamkan mata, karena rasa
kantukku tidak bisa kutahan lagi. Menjelang sore, aku baru bangun dan
langsung mandi, kemudian keluar kamar, duduk di beranda sambil membaca
koran. Mataku langsung terbelalak, karena koran yang kubaca ternyata
memuat cerpenku yang berjudul 'Koruptor'. Cerpenku itu mengisahkan
seorang pejabat tinggi yang sering melakukan korupsi sehingga hidupnya
sangat mewah, bahkan sopir pribadinya punya rumah megah dan mobil
mewah serta deposito berlimpah. Ya, kisah dalam cerpenku memang
diilhami oleh nasib Aris.

Baru saja aku asyik membaca cerpenku di koran itu, Aris dan istrinya
tiba-tiba mendekatiku. Dengan tersipu segera kuletakkan koran itu di
meja.

"Kata istriku, cerpenmu yang dimuat koran itu sangat realistis.
Kisahnya mirip dengan kisah hidup majikanku dan hidup kami," ujar Aris
sambil tersenyum melirik istrinya.

"Benar, Mas Amir. Cerpen Mas Amir sangat realistis," komentar
istrinya. "Pasti ide cerpen itu dari Mas Aris, kan?"

Aku hanya tersipu-sipu. Sebab, ide cerpen berjudul 'Koruptor' itu
memang dari kisah hidup Aris yang diceritakan setahun lalu ketika dia
mudik ke Jawa.

"Ayolah kita jalan-jalan berdua. Sekalian makan malam," ajak Aris,
setelah menikmati makan siang bersama.

"Pulangnya jangan terlalu malam, Mas," pesan istrinya, ketika Aris dan
aku sudah berada di dalam mobil.

"Aku pasti akan pulang sebelum jam satu! Tapi kalau Mas Amir,
terserah, mau nginap di hotel atau semalaman menikmati kopi di kafe,"
ujar Aris sambil mengemudikan mobilnya.

Pada malam itu, tempat yang dipilih Aris untuk kunikmati adalah
diskotek yang cukup ramai.

Beberapa gadis cantik dengan busana mini yang ada di diskotek itu
langsung memeluk Aris dan menatapku dengan tersenyum manis.

"Coba kamu temani sobatku ini minum kopi. Jangan terlalu agresif, ya?"
perintah Aris kepada seorang gadis cantik berbusana mini yang sedang
memeluknya.

Aku hanya tersenyum dengan menahan gugup ketika gadis cantik itu
menggandengku untuk duduk di kursi panjang yang terletak di pojok
ruangan yang temaram.

"Baru kali ini Mas kemari?" tanya gadis cantik itu sambil merapatkan
duduknya di sampingku.

"Ya," jawabku dengan menahan gugup yang terasa kian menggigilkan
tubuhku. Tangan gadis cantik yang lembut itu mulai melingkar di
leherku dan memanaskan darahku.

"Mas nanti tidur di mana? Di hotel? Kutemani, ya?" tanya gadis cantik
itu sambil meraba dadaku.

"Tadi Mas Aris sudah kirim SMS, agar aku menemanimu semalam suntuk,
Mas. Kata Mas Aris, Mas sudah terbiasa begadangan semalam suntuk,
kan?"

Napasku agak kacau. Aku berusaha untuk tetap santai. Kunikmati aroma
parfum gadis cantik itu yang begitu harum. Kunikmati rabaan lembut
jari-jari tangannya di dadaku. Lama-lama aku bisa mengatasi
kegugupanku. Bahkan, aku mulai digoda oleh keinginan-keinginan khas
bujangan.

"Sebaiknya kita segera mencari kamar hotel, Mas. Kata Mas Aris, semua
biayanya sudah dibereskan," ujar gadis cantik itu lagi sambil bangkit
dan menarik lenganku untuk segera meninggalkan diskotek itu.

Aku menurut saja diajak gadis cantik itu ke kamar hotel di dekat diskotek itu.

Kubayangkan Aris juga sudah bersenang-senang dengan gadis cantik di
sebuah kamar lain, atau sudah pulang ke rumah dan bercinta dengan
istrinya.

Sebagai bujangan tua, aku sangat mudah ditaklukkan oleh gadis cantik
itu di kamar hotel. Ini adalah pengalamanku yang pertama menikmati
lekuk-lekuk tubuh perempuan yang selama ini hanya bisa kubayangkan
dengan beronani. Aku benar-benar merasa tolol di depan gadis cantik
itu, yang begitu bergairah membimbingku mengenali tahap-tahap
romantisme.

***

PADA malam kedua, Aris mengajakku menikmati suasana kafe. Sama seperti
malam sebelumnya, aku langsung ditemani oleh gadis cantik, sementara
Aris tiba-tiba menghilang entah ke mana.

Pada malam ketiga, Aris mengajakku menemui seorang pejabat, rekan
majikannya, di sebuah restoran.

Dari pembicarannya dengan pejabat itu, aku mengerti betapa Aris
ternyata juga menjadi germo. Ya, aku sulit mengatakannya bukan sebagai
germo, setelah dengan jelas dia memperlihatkan selembar foto gadis
berjilbab yang bisa diajak tidur di hotel dengan imbalan lima juta
rupiah. Pejabat itu nampak gembira, dan langsung menyatakan bersedia
membayar lima juta rupiah. Lalu Aris segera mengirimkan SMS. Sebentar
kemudian, seorang gadis berjilbab muncul di restoran itu dengan
malu-malu.

"Tolong temani Bapak ini sampai pagi," perintah Aris kepada gadis
berjilbab itu, sebelum kemudian mengajakku pulang. Di tengah
perjalanan pulang, aku mencoba mempersoalkan gadis berjilbab itu.

"Jangan heran. Banyak gadis nakal yang berjilbab. Banyak pejabat yang
sangat bangga bisa melucuti jilbab, sebelum menikmati tubuh molek yang
sebelumnya terbungkus jilbab," ujar Aris.

Pada malam keempat, aku diajak Aris menemui seorang pengusaha di
sebuah apartemen megah. Dari pembicaraannya dengan pengusaha itu, aku
bisa mengerti betapa Aris ternyata juga pemasok kayu jati yang
diperolehnya dari kawasan hutan di Jawa Tengah. Kayu jati itu akan
diselundupkan ke luar negeri. Aku pun terbayang sekian ratus hektar
hutan di Jawa Tengah yang kini nyaris gundul akbat penebangan liar
yang merajalela.

Pada malam kelima, Aris mengajakku ke sebuah hotel berbintang lima,
untuk menemui seorang konglomerat.

Dari pembicaraannya dengan konglomerat itu, aku bisa mengerti betapa
Aris ternyata juga pengimpor gadis-gadis bule dengan kedok pariwisata.
Gadis-gadis bule itu masuk ke Indonesia sebagai turis, tapi selama di
Indonesia menjual tubuhnya kepada pria-pria kaya yang berani
membayarnya dengan mata uang dolar.

Setelah satu pekan di Jakarta, aku pulang untuk menulis lagi. Tapi
rasanya aku sangat sulit mengembangkan imajinasiku, setelah aku
menikmati berbagai hiburan di Jakarta.

Kini, aku benar-benar telah kehilangan daya khayalku, daya
kontemplasiku dan daya kreatifku sebagai seorang sastrawan. Mungkinkah
aku telah mengalami gegar mental? ***

*) Kota Wali, 2007

Kalung Tasbih dari Mekkah

20 Agustus 2009

Aku hanya bisa menangis menyesali kutukanku yang ternyata dikabulkan
Tuhan.... Suamiku mengalami gegar otak berat, kakinya patah, dan
tulang belakangnya remuk.
Sepulang naik haji, ayah memberiku kalung tasbih yang katanya
dibelinya di Makkah dan pernah dibawanya memasuki Masjid Nabawi dan di
depan Makam Rasulullah SAW ayah berdoa semoga aku menjadi perempuan
salehah yang bahagia di dunia dan akherat.
''Setiap habis shalat, gunakan kalung tasbih ini untuk berdzikir,''
pesan ayah ketika menyerahkan kalung tasbih yang kini selalu
menemaniku ke mana pun aku berada. Aku pun selalu menggunakan kalung
tasbih itu untuk menghitung kalimat-kalimat thoyibah yang kubaca
sehabis shalat.
Dan, setelah aku menikah, kalung tasbih itu tiba-tiba hilang.
Seingatku, sebelum hilang, kalung tasbih itu kuletakkan di dekat
bantal ketika aku hendak tidur dengan suamiku. Tapi, suamiku mengaku
tak tahu menahu ketika aku mencari-cari kalung tasbih yang raib itu.
''Mungkin kamu lupa menyimpannya. Suatu ketika pasti ketemu lagi,''
ujar suamiku ketika aku menunjukkan perasaan resah atas raibnya kalung
tasbih itu.
''Sebaiknya kamu membeli lagi kalung tasbih yang lebih besar, biar
tidak mudah hilang,'' lanjut suamiku.
Aku tetap saja merasa resah atas hilangnya kalung tasbih dari Makkah
itu. Setelah aku membeli kalung tasbih dan menggunakannya untuk
berdzikir, rasanya aku selalu teringat kalung tasbih yang telah hilang
itu, sehingga dzikirku tidak pernah bisa khusyuk. Aku merasa bersalah
kepada ayah yang kini telah almarhum. Aku merasa telah gagal
mempertahankan kalung tasbih dari Makkah itu sebagai milikku.
''Apa sih istimewanya kalung tasbih yang hilang itu, sehingga kamu
tampak selalu murung dan gelisah?'' tanya suamiku setelah satu pekan
aku selalu murung dan resah sejak kehilangan kalung tasbih dari Makkah
itu.
''Kalung tasbih itu bukan tasbih sembarangan, Mas. Almarhum ayah yang
dulu membelinya di Makkah, dan pernah dibawanya masuk ke Masjid Nabawi
dan digunakan untuk berdzikir di depan makam Rasulullah SAW,''
tuturku.
Suamiku tersenyum. ''Kalau begitu justru kamu harus bersyukur atas
hilangnya kalung tasbih itu.''
Aku terpana menatap tajam-tajam wajah suamiku. Tiba-tiba aku curiga,
suamiku mungkin sengaja membuang atau menyembunyikan kalung tasbih
itu.
''Mungkin jika kalung tasbih itu tidak hilang, suatu ketika bisa
menjadi berhala yang kamu puja-puja. Maka bersyukurlah karena kalung
tasbih itu hilang.'' Suamiku bicara dengan tersenyum-senyum.
''Maaf, Mas. Benarkah Mas mencuri kalung tasbih itu agar aku tidak
bisa menggunakannya lagi untuk berdzikir?'' tanyaku.
Rasanya aku pantas mencurigai suamiku karena justru tampak senang
dengan hilangnya kalung tasbih itu.
''Memangnya aku berbakat menjadi pencuri?'' Suamiku balik bertanya
dengan wajah tetap berhias senyuman.
''Kalau Mas tidak mencurinya, semoga yang mencurinya celaka!'' Aku
mengutuk dengan kesal.
Suamiku terperanjat. ''Kamu telah mengutuk seseorang yang telah
mengambil kalung tasbihmu. Waduh, kamu telah berbuat kejam. Bagaimana
jika kutukanmu dikabulkan Tuhan?''
''Ah, sudahlah, aku sudah terlanjur mengutuk, Mas. Yang penting bukan
kamu yang mencurinya.''
''Bagaimana jika seumpama aku yang mencurinya?''
''Jadi, benar bukan Mas yang mencuri kalung tasbih itu?''
Suamiku mengangguk dengan tersenyum.
Aku mendengus panjang, karena dadaku mendadak terasa sesak. Aku
khawatir jika kutukanku dikabulkan Tuhan. Dan, sejauh yang kuketahui,
kutukan tidak bisa dicabut jika sudah terlanjur diucapkan.
Lalu, aku berdoa semoga kutukanku tidak dikabulkan Tuhan. Aku tidak
ingin melihat suamiku celaka, meskipun telah mencuri kalung tasbih
dari Makkah yang kuanggap sangat istimewa itu.
Sepekan kemudian, sepulang kantor, suamiku mengalami tabrakan hebat.
Suamiku dirawat di ruang ICU. Mobilnya rusak berat. Dan aku hanya bisa
menangis menyesali kutukanku yang ternyata dikabulkan Tuhan meskipun
aku sudah berusaha untuk mencabutnya dengan doa-doa.
Ketika aku membesuk suamiku di rumah sakit, aku minta maaf. Tapi
suamiku diam saja.
Kini, suamiku mengalami gegar otak berat, kedua kakinya patah, dan
tulang belakangnya remuk. Menurut dokter, kecil kemungkinan suamiku
bisa pulih seperti sebelum mengalami kecelakaan.
Setelah tiga bulan dirawat di rumah sakit tapi suamiku belum juga
pulih, aku kemudian membawanya pulang. Aku ingin merawatnya di rumah.
Sungguh berat merawat suami yang lumpuh dan tidak bisa bicara lagi.
Sepanjang waktu suamiku terbaring lemas di tempat tidur. Semua hajat
hidupnya aku yang mengurus. Untungnya, suamiku segera dipensiun dan
mendapat uang pensiunan sebesar 60 gaji terakhirnya. Dengan uang
pensiunan itu kami berdua bisa hidup.
Suatu siang, aku membersihkan gudang. Semua barang rongsokan yang
menumpuk di gudang kukeluarkan untuk kubuang ke tempat sampah.
Ketika aku sedang menyapu lantai gudang, mataku menatap seuntai kalung
tasbih dari Makkah itu. Segera aku membersihkan kalung tasbih itu.
Lalu kuperlihatkan kepada suamiku.
Mata suamiku langsung berkaca-kaca ketika menatap kalung tasbih itu.
Bibirnya bergerak-gerak tapi tidak mengeluarkan suara apa pun.
Sepertinya suamiku menangis di dalam hati.
Iba aku melihat suamiku menangis. Pasti suamiku sangat menyesal telah
menyembunyikan kalung tasbih itu di gudang dan kemudian aku
mengutuknya dan ternyata kutukanku dikabulkan Tuhan.
Dan, meskipun kalung tasbih itu sudah kutemukan lagi, aku tidak mau
menggunakannya untuk berdzikir. Aku teringat ucapan suamiku. Betapa
kalung tasbih itu bisa menjadi berhala, dan karena itu sebaiknya
dibuang saja.
Lalu aku membuang kalung tasbih dari Makkah itu ke tong sampah, bukan
karena aku khawatir menjadikannya sebagai berhala, melainkan karena
aku memang sudah tidak membutuhkannya lagi. Aku telah terbiasa
berdzikir tanpa kalung tasbih.
Sekarang, bagiku, berdzikir tidak perlu dihitung lagi, karena aku
tidak menjualnya kepada Tuhan!***
Sastradipati, 2006

Sonnet 141

William Shakespeare

In faith I do not love thee with mine eyes,
For they in thee a thousand errors note;
But 'tis my heart that loves what they despise,
Who, in despite of view, is pleased to dote.
Nor are mine ears with thy tongue's tune delighted;
Nor tender feeling, to base touches prone,
Nor taste, nor smell, desire to be invited
To any sensual feast with thee alone:
But my five wits nor my five senses can
Dissuade one foolish heart from serving thee,
Who leaves unsway'd the likeness of a man,
Thy proud heart's slave and vassal wretch to be:
Only my plague thus far I count my gain,
That she that makes me sin awards me pain.

Jalan Soeprapto

25 Juli 2009

Jawa Pos
Minggu, 17 Februari 2008

Cerpen: Yetti A KA

TURUN di Simpang Lima lepaslah pandang ke arah patung kuda. Beberapa waktu lalu -aku lupa tepatnya kapan, segalanya cepat berubah, tiba-tiba aku sudah berada di tempat asing dengan segala sesuatu serba baru- bukan patung kuda itu yang berdiri di sana, melainkan patung perahu indah yang mampu membawaku ke dunia khayali; pelayaran ke pulau-pulau rempah di tengah lautan luas pada masa dulu, embusan angin menerobos batas-batas, membuat asin laut menguar di desa-desa nelayan pinggir pantai. Kenapa kukatakan demikian, karena aku memang sangat suka apa pun tentang laut, terutama perahu-perahu nelayan yang mengembangkan layar melawan cuaca buruk dan ombak besar pada waktu tertentu. Eksotis. Dan kau malah mengajakku bertemu di Simpang Lima, sebab hanya tempat itu yang paling kau inginkan setelah aku menolak tawaranmu bertemu di hotel tempat kau menginap. Celakanya lagi, aku sudah berkata, "Baiklah, tunggu aku." Kau mengancam, "Awas kalau terlambat. Aku bisa menghukummu, Nona." Aku tidak tahu apa aku benar-benar menginginkan pertemuan itu, bahkan ketika aku sudah menunggumu, berdiri di pinggir jalan menghadap patung kuda yang tidak terlalu kusukai itu. Aku merasa biasa-biasa saja, seakan kedatanganmu bukan lagi sesuatu yang bisa mengaduk-adukku. Terlebih, sebelum ini kita sudah membuat sejumlah janji pertemuan di kota lain. Hubungan pertemanan yang hangat, begitu kita beralasan tentang pertemuan demi pertemuan itu. Seorang diri di tepi jalan, dekat traffic light, aku menjelma sebutir buah jatuh yang diabaikan orang-orang. Aku hanya bisa menciptakan keasyikan sendiri dengan menerka-nerka berapa nomor sepatu orang yang lewat di depanku atau menguping sebuah rahasia tidak terduga tentang penyelewengan dana sebuah kantor pemerintah dari dalam mobil berkaca gelap. Tapi sayang, seorang pengamen justru mendekat ke arahku, minta permisi menyanyikan sebuah lagu sendu era 80-an. Mataku terasa sedikit tegang sebelum lagu itu benar-benar berakhir. Kemudian pengamen itu bertanya, bagaimana kalau satu lagu lagi. Aku tertawa. Pengamen itu pergi setelah ia menyanyikan sejumlah lagu lama. Aku kembali sendiri, dan aku lebih suka begini. Tanpa siapa-siapa. Aku bisa menyaksikan banyak hal. Seperti di ujung sana, tepat di depan lampu merah dari arah Jalan Soeprapto, aku melihat kerumunan anak-anak tibatiba pecah seperti bunga durian gugur ditiup angin. Berserakan. Pertunjukan itu dimulai -drama yang seharusnya bisa menganggu perasaan siapa saja bila kebetulan lewat di sana. Dari manakah mereka datang. Aku tahu pasti, tempat ini hanya kota kecil yang dulu begitu lugu dan memiliki harga diri. Nyeri sekali, rasanya, bila sekarang mendapati mata bening kanak-kanak yang lucu berhamburan di jalanan. Anak-anak itu dengan mudahnya berbohong; memasang mata sedih, memelas-melas, bahkan terkadang setengah memaksa. Siapa yang merebut dunia bermain mereka. Dunia bau kencur atau seumur jagung itu. Aku ingin sekali memikirkannya lebih serius sekali waktu. Ya suatu pagi, barangkali, ketika aku bangun tidur dan menyeruput segelas jus belimbing sambil menunggu embun benar-benar luruh dari dedaunan. Saat-saat di mana hatiku sedikit ringan. Sedikit lepas. Bukankah kita perlu berada dalam situasi yang tepat untuk berpikir tentang sesuatu, sekecil atau sesederhana apa pun itu. Tiga puluh menit aku menunggu, kau baru muncul. "Apa aku membuat Nona menunggu lama," kau terlihat santai. Pipiku sudah merah terbakar. Aku tidak bisa lagi tersenyum. Hatiku terasa keras. Kita jalan berdiam-diam, dari Simpang Lima hingga Jalan Soeprapto tanpa tahu tujuan kita sesungguhnya. "Kita cari makan yang enak," suaramu terdengar lebih tenang, jernih dan terkendali. Tidak sepertiku, lebih sering meledak-ledak, terutama dalam keadaan marah atau terpojok. Kau pernah bilang, begitulah kebanyakan perempuan, suka bermain hati. Kalimat yang sama sekali tidak aku sukai karena seolah di balik kata-kata itu kau mau berkata, laki-laki tentu tidak demikian, mereka lebih rasional, lebih cerdas karena itu mereka ditakdirkan berdiri di depan. Aku menahan sesuatu di dada. Bukan waktu yang tepat untuk berdebat soal lelaki dan perempuan. Bukan tempat yang tepat. "Hei," kau memecah ketegangan di kepalaku. "Bagaimana kalau minum teh’di rumah saja," tawarku nyaris kehilangan semangat. Aku sengaja bersikap begitu agar kau menyadari kalau aku mulai tidak menyukai situasi. "Tidak. Tidak. Itu bukan ide yang bagus. Kau tidak boleh berpikir apa pun mengenai rumah karena kita tidak akan pulang sebelum menghabiskan waktu di bawah langit kelabu ini. Ingat, seminggu lalu aku sudah minta sedikit waktu padamu dan kita sudah sepakat saat kita membuat janji pertemuan di kota kecilmu ini. Aku sama sekali tidak berharap kau mengkhianatinya." Aku tersenyum malas,’berdecak kecil. Kukira, kota tempat aku tinggal tidak menempatkan urusan makanan di tempat yang paling penting, sebagaimana kota-kota lain. Teman-temanku bilang, itu karena tradisi orang-orang di sini yang lebih senang makan di rumah ketimbang di luaran. Bisnis makanan akhirnya tidak begitu ramai. Untuk itu jika suatu hari menginjakkan kaki di kotaku, jangan tanyakan tempat makan yang enak. Aku tidak akan pernah tahu ke mana membawamu, selain ke rumahku. Aku bisa menyuguhkan segelas teh aroma melati dan satu toples kacang tojin sebelum hidangan makan malam di meja makan, tentunya. Tapi kau telah menolaknya sebelum aku berpikir apa aku harus mengganti menu kacang tojin itu dengan yang lain atau mengganti teh aroma melati dengan aroma asam manis kopi Sumatera. Kau tertawa sangat lebar, "Kenapa kelihatan bingung." "Entahlah," ujarku ringan. Tawamu tertahan. "Aku tahu kau sedang berpikir ingin mengacaukan pertemuan ini, dan kau tengah memainkan perasaanmu." Kembali kita saling diam. Kaki kita bergerak lambat menyusuri Jalan Soeprapto yang tidak terlalu ramai; beberapa remaja berseragam sekolah tertawa ceria, penjual CD bajakan di pinggir jalan tengah termenung dan sesekali berusaha tersenyum pada orang-orang berwajah dingin yang kebetulan lewat. Berada di Jalan Soeprapto, mengingatkanku pula pada beberapa kawan. Andom dengan bukubuku tergelar di lantai dingin depan sebuah toko manisan (barangkali milik Cina), masihkah dia memasang tulisan "menerima buku bekas". Juga Bagus dengan macam-macam kerajinan dari kulit kayu. Lalu sedang melukis apakah Safrin dan Topik sore ini, ketika udara mulai terasa panas dan awanawan bergerak lambat di langit sana. Acank, apa kabar. Mungkin saja ia tengah mengaransemen sebuah lagu baru atau menulis puisi pendek. Sudah lama aku tidak bertemu mereka. Beberapa bulan ini aku lebih sering keluar kota, mengikuti seminar atau acara. Alasan lain, bisa jadi karena aku mulai ngeri berada di Jalan Soeprapto, apalagi harus melewati Simpang Lima, tempat puluhan mata kanak-kanak dibiarkan berhamburan. Bergulir begitu saja. "Tunggu sebentar, aku belikan kau es krim." Kau berhenti dan singgah di salah satu restoran siap saji yang sedang sepi pengunjung. Beberapa menit kemudian kau keluar dengan dua mangkuk kecil es krim rasa vanilla yang disiram coklat di atasnya. Kesukaanku. "Kau gila," kataku,"’kita jarang sekali menemukan seseorang makan es krim sambil berjalan di sepanjang Jalan Soeprapto, apalagi ia seorang perempuan, dan berumur hampir tiga puluh tujuh tahun." "Kalau lelaki?" "Kadang lelaki bisa makan di mana saja. Mana ada orang yang begitu peduli. Lelaki bebas peraturan." "Lelaki yang malang, hahaha...." Kita tertawa begitu ekspresif. Hatiku lumer sebagaimana es krim mulai menetes di jejari tanganku. Sudah lama aku tidak begini terbuka, telah bertahun-tahun ini. Tepatnya sejak aku menolak seseorang yang mencuri seluruh diriku, dari ujung rambut sampai ujung kaki, karena satu alasan: aku benci sebuah pernikahan, sementara dia menganggap sudah waktunya untuk menikah atau akan terlambat. Perpisahan yang membuatku demikian biru. Beberapa hari aku hanya bisa berada di tempat tidur. Membuka kembali beberapa surat lama dan merobeknya kecilkecil jika ternyata aku tidak menyukai beberapa kata di dalamnya. Kami memutuskan duduk di depan toko sepatu, dekat sekelompok anak muda menjual macam-macam souvenir. "Kenapa kau ingin kita bertemu di kota kecil ini," aku bertanya pelan. "Kau terlalu terburu-buru," sindirmu. Kembali kami tertawa, tidak peduli menjadi tontonan orang-orang. "Waktu bergerak cepat, bukan. Sebentar lagi malam datang," kataku. "Aku ingin kita ditawan malam tepat di Jalan Soeprapto ini, tempat sepuluh tahun lalu kau menolakku. Dulu aku terluka jika mengingat peristiwa itu, tapi sekarang aku sudah bisa tertawa." Aku menangkap segaris sembilu keluar dari tubuhmu, dan matanya mengarah tajam ke dadaku. Jangan. Jangan. Itu sudah berlalu. Telah diredam waktu. Aku merintih. Aku mengeluh. Aku cair bersama sisa es krim dalam mangkuk kecil. Aku ingin jadi es krim. Manis. Harum. Lezat. Terutama karena es krim disukai anak-anak. Aku mau anak-anak. Pipi montok, aroma bedak, minyak telon dan tangis keras malam hari. Tapi aku tidak bisa menikah. Aku takut tidak cocok. Aku ngeri membayangkan perpisahan. Agamaku melarang perceraian kecuali kematian. Lelaki itu meniup udara kosong. Aku menyandarkan tubuh yang mulai terasa berat pada tiang bercat putih kusam. Sampai hari gelap, aku dan dia belum beranjak. Kami hanya diam serupa patung perahu di Simpang Lima. Aku tinggalkan dia. Aku berlayar naik perahu itu. Pelayaran yang hening dan sepi. Hingga dia menarikku kembali dan berbisik, ayo kita pulang! Dan aku tahu, itu artinya aku dan dia sudah berakhir. Sepuluh tahun, dulu. Sudah berlalu. Jauh. Kini ia kembali tumpah dan berceceran di Jalan Soeprapto. Betapa aku ingat sekali detailnya, betapa aku ingat warna muram hari malam. Burung-burung walet berterbangan di atas ruko di Jalan Soeprapto. Suara mereka riuh, membuat tubuhku meremang. Suara yang membuatku tidak pernah nyaman mendengarnya. Entah ada apa. Jalan Soeprapto akan makin tua. Orang-orang pergi. Kau pergi. Lantas aku menjadi perempuan yang menumpuk ketakutan-ketakutan di atas kedua kaki. Lalu masihkah mata kanak-kanak akan berhamburan di Simpang Lima, dan tidak pernah tahu jalan pulang, seperti aku yang tidak pernah bisa pulang pada lelaki. "Kau tahu besok barangkali matahari benar-benar lupa untuk kembali hingga kita terkurung dalam malam selama-lamanya," kau berbisik. Aku tidak mungkin bisa, kataku untuk kesekian kali. Aku harus keluar dari Jalan Soeprapto, melangkahkan lagi kedua kakiku yang makin berat ke tempat-tempat terjauh. *** Bkl-Pdg, 07-08