Augustin Sibarani: Seorang yang Melukis Potret

30 Mei 2009

Esai: Eka Kurniawan
Dipublikasikan di majalah Pantau edisi 4
Februari 2002.

Lukisan karya Augustin Sibarani

Ia melukis siapa saja, dari Soeharto sampai Osama bin Laden, dengan
pendekatan realis maupun karikatural. Dia seorang karikaturis yang disebut -
Benedict ROG Anderson, ahli Indonesia asal Universitas Cornell, Amerika,
sebagai yang terbesar di negeri ini. Beberapa bulan lalu, satu hari di bulan
April 2001, Augustin Sibarani tampak penuh semangat bicara kepada siapa saja
tentang rencana penerbitan buku karikaturnya yang pertama, setelah
bertahun-tahun tak mempublikasikan buku. Waktu itu dia bahkan membawa
beberapa lembar coretannya, dibuat dengan kombinasi *drawing pen* dan cat
air.

Satu di antaranya bergambar empat politisi kelas atas Indonesia: Megawati
Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid, Akbar Tanjung, dan Amin Rais tengah
mengelilingi meja bermain kartu. Ia mencorat-coret permukaan karikaturnya
dengan *tip-ex*, terutama menghapus bagian-bagian teks yang terasa terlampau
verbal, sebab media sekarang tak menyukai gaya semacam itu.

Karikatur tersebut naik cetak di majalah 'Pantau' dan
beredar, bagaikan kembalinya si anak hilang. Republika, sebuah harian
nasional, bahkan mereproduksi karikatur itu di halaman satu dan membuatnya
jengkel sebab merasa tak dimintai izin. Dia memutuskan menggugat koran
tersebut ke pengadilan.

Ketika buku karikaturnya terbit atas kerja sama Institut Studi Arus
Informasi, Garba Budaya, dan PT Media Lintas Inti Nusantara, ia sungguh
senang hati, dan pada pertemuan kedua kami, ia bahkan tak bisa
menyembunyikan bayangannya sendiri bahwa buku tersebut akan menembus cetakan
kedua. "Akan ada penambahan karikatur, mungkin yang baru atau karikatur lama
yang telah dikirim Ben dari Amerika namun tak jadi dimuat," katanya.

Saya sedikit membuyarkan impiannya dengan mengatakan bahwa bukunya sangat
tebal dan mahal, Rp 65 ribu, sehingga ia meralat ucapannya sendiri, "Ya,
mungkin diterbitkan dalam buku yang baru."
***

TAHUN 1965 seolah merupakan akhir baginya, ketika suratkabar 'Bintang
Timu' berhenti terbit menyusul tumbangnya Orde Lama, padahal di
sanalah ia
mempublikasikan karikaturnya secara rutin sejak 1957. Ia sempat ditahan
selama lima hari. Tak hanya bayang-bayang kemiskinan yang menghantuinya, ia
terutama kehilangan media untuk menyebarkan coretannya, tempat kemarahan dan
lelucon berbaur dengannya.

Ia mulai menggambar ilustrasi untuk brosur-brosur tak penting, yang akan
dibuang orang secepat mereka membacanya. Dengan cara itu ia menjalani
hidupnya, menghidupi keluarga, dan menyekolahkan anak-anaknya. Tentu ada
waktu-waktu ketika membuat ilustrasi brosur tak memadai untuk apa pun, tapi
ia punya cara ampuh mengatasi kesulitan semacam ini. Istrinya, Saribar L.
Tobing, penganut Kristen yang baik dan Sibarani tak hanya bisa membuat
karikatur namun juga lukisan potret di atas kanvas. Itu ada hubungannya.
Istrinya rajin pergi ke gereja dan Sibarani sering membuat lukisan potret
untuk para jemaat teman-teman istrinya.

Kebanyakan ia melukis potret keluarga-keluarga mereka yang sudah mati,
semacam menjual kenangan masa lalu, mengolahnya dari foto-foto usang.
Menggabungkan foto kakek dan nenek yang terpisah seolah mereka duduk
berdampingan begitu erat. Orang-orang pun suka dan membayarnya.

Namun, tak selamanya ada orang yang memintanya melukis potret, sementara
kehidupan terus berjalan dan kebutuhan finansial terus merongrong. Maka ia
akan melukis satu-satunya laki-laki yang memiliki hubungan dengan semua
jemaat gereja itu: Yesus.

Ia tahu dengan pasti, orang-orang saleh tak akan mengabaikannya begitu
melihat lukisan si laki-laki yang tampak menderita di atas kanvas tersebut.
Ia lupa berapa banyak potret Yesus yang pernah dilukisnya.

Sesungguhnya Sibarani memulai karier sebagai pelukis potret belaka, pada
umur delapan tahun ketika ia menggambar wajah guru-guru sekolahnya dengan
modal pas foto mereka.

Dari segala potret yang pernah dilukisnya, potret Sisingamangaraja XII
mungkin potret paling fantastis yang pernah ia buat. Ia menggambarnya
bertahun-tahun lalu, sebab orang-orang Batak ingin punya pahlawan nasional
mereka sendiri, sebagaimana orang Aceh punya Tjoet Njak Dhien dan Teuku
Umar, orang Jawa punya Diponegoro, atau orang Maluku punya Kapiten Patimura.
Orang Batak mengusulkan pada Presiden Soekarno agar mengesahkan
Sisingamangaraja sebagai pahlawan nasional.

Seorang pahlawan harus ada potretnya, paling tidak, untuk bisa dipandang
anak-anak sekolah dan dipajang di kantor-kantor pemerintah, serta membuatnya
tampak tak mengada-ada.

Masalahnya, Sisingamangaraja telah meninggal jauh di awal abad XX, dan tak
meninggalkan sehelai foto pun.

Sibarani mulai bekerja bagaikan artis di biro kriminal kantor polisi yang
tengah mereka-reka wajah buronan tak dikenal. Ia beruntung masih bisa
bertemu keturunan sang pahlawan, juga teman-temannya, seperti ayah penyair
Sitor Situmorang, yang mengenal baik laki-laki yang akan dilukisnya itu.
Sibarani tak hanya ingin mengenal Sisingamangaraja sebagai sosok laki-laki
yang bisa dilukis di atas kanvas, tapi juga ingin mengenalnya bagaikan
pernah hidup bersama dirinya.

Berdasarkan cerita-cerita keluarga dan para sahabat, ia mulai melukis potret
Sisingamangaraja dengan cat minyak di atas kanvas. Ia memperlihatkan lukisan
tersebut pada keluarga sang pahlawan, dan mereka berseru, "Ya, memang
demikian wajahnya, tapi matanya sedikit berbeda."

Kerja keras terakhirnya melukis bagian mata, mengubahnya di sana-sini
sehingga cat menebal di sekelilingnya. Ya, inilah pahlawan yang tak pernah
ia lihat, bahkan potretnya sekali pun, kini hidup kembali di atas kanvasnya.
Akhirnya lukisan tersebut diantar ke Istana Merdeka. Soekarno mengesahkan
Sisingamangaraja sebagai pahlawan nasional. Itu sebelum Orde Lama jatuh.

Ini cerita setelah Orde Baru muncul: lukisan Sisingamangaraja itu
dipergunakan pemerintah untuk uang kertas rupiah. Ia bangga, tapi jengkel,
sebab Bank Indonesia tak pernah menyebut namanya sebagai pelukis sang
pahlawan, atau paling tidak minta izin mempergunakan lukisan tersebut.
Kemarahannya tak terbendung, maka ia menuntut Bank Indonesia ke pengadilan.
Laki-laki itu tengah mencoba menghadapi kekuasaan pemerintah menghabiskan
semua urusan dengan pengadilan selama delapan tahun, dan seluruhnya sia-sia
kecuali menghasilkan setumpuk berkas berita acara.

Kisah paling mengharukan, atau konyol, mengenai lukisan tersebut terjadi
ketika ia mengetahui lukisan Sisingamangaraja tak ada lagi di Istana
Merdeka, sudah berpindah ke tangan pribadi. Ia memburu lukisan itu ke
mana-mana, hanya ingin mengetahui nasibnya, seperti ada pertalian batin di
antara mereka. Suatu hari ia mendengar cerita bahwa lukisan itu berhantu,
hidup jika malam datang. Ia penasaran dan berjuang keras menemukannya
kembali.

Ketika menemukannya, semuanya telah berubah dan menyedihkan. Debu tebal
menempel di permukaan kanvas, dengan pigura baru yang tak beres
pemasangannya. Ada bekas jalur-jalur air hujan di jejak debu, membuat
lukisan jadi berantakan. Hanya bagian mata yang bercat tebal itulah yang
terlindung dari debu dan air hujan. Jika malam datang, mata tersebut
memandang tajam dan benarlah, ia bagaikan hidup kembali. Sibarani tak tahu
apakah ia harus menangis karena sedih, atau menertawakan kekonyolan orang
yang tak mengerti lukisan.
***

LANTAS, kapan, dan bagaimanakah laki-laki ini kemudian menggambar karikatur?
Ini cerita ketika ia berumur 25 tahun. Pada suatu hari ia dikunjungi seorang
temannya, Anwar Isnudikarta, seorang aktivis Partai Sosialis Indonesia, yang
mampir sejenak dalam kunjungan untuk menghadiri sidang parlemen Indonesia.
Tamu itu mengajaknya ke pertemuan, dan semuanya terjadi di aula Hotel Des
Indes. Sementara pidato-pidato berlangsung membosankan, ia membunuh waktu
dengan mencorat-coret, menggambar sketsa sebagaimana sering ia lakukan di
bangku sekolah.

Seorang wartawan, bernama Del Bassa Pulungan dari koran 'Merdeka',
menantangnya membuat karikatur yang bagus. Ia pun membuat karikatur Mr.
Mohammad Yamin, salah seorang politisi di parlemen, yang tengah berpidato,
dan ketika pulang, ia membuat gambar orang yang sama tengah memukul Sultan
Abdul Hamid, seorang tokoh federal dari Republik Indonesia Serikat, dengan
gaya kocak. Itu tak hanya membuat karikaturnya muncul di halaman depan *
Merdeka*, namun juga membuatnya semakin lebur ke dunia karikatur.

Ketika itu ia juga bekerja sebagai pegawai pertanian di Departemen
Kemakmuran, sebab ia lulusan Sekolah Pertanian Bogor yang pada zaman Belanda
disebut Middelbare Landbouw School. Ia digaji Rp 300 per bulan, dengan
fasilitas antar jemput dan kemungkinan naik pangkat sebab ia veteran perang.
Namun, dunia karikatur sungguh-sungguh menggodanya dan ia memutuskan jadi
karikaturis lepas untuk banyak suratkabar seperti 'Kader', 'Gelanggang
Masyarakat', dan 'Pewarta Djakarta'. Penghasilannya jadi tak tentu, kadang
lebih banyak dari uang yang biasa diperolehnya, kadang harus ke sana-kemari
berjalan kaki dengan perut keroncongan.

Itu seolah menebus keinginan lamanya untuk menjadi pelukis. Keinginan lama
yang tak tergapai sebab ibunya yang bernama Martha Hasibuan, yang kawin
dengan Jozua Sibarani dan melahirkannya pada tanggal 25 Agustus 1925,
membesarkannya seorang diri sejak ayahnya meninggal kala ia berumur lima
tahun. Ibu ini tak menginginkannya masuk sekolah formal seni lukis. Padahal
ibunyalah yang telah mengalirkan darah seni itu, sebab selain seorang
penginjil untuk para ibu di kota Pematangsiantar, ia juga pandai menyanyi,
mendongeng, mahir menyulam, dan melukis motif ulos.
***

AWAL 1953, Sibarani menerbitkan tiga buku kartun untuk anak-anak, "Si Kasmin
Pergi ke Kota", "Musik si Beber", dan "Rumah si Bolang". Buku ini
diterbitkan oleh sepasang suami istri sahabatnya, Alex Sutantio dan Lily,
putri mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Ia membuat gambar-gambar
binatang ala Walt Disney, dicetak berwarna di
Belanda, dibayar putus seharga Rp 22 ribu. Cukup untuk membuatnya kaya
mendadak.

Tak lama setelah itu, ia berkenalan dengan seorang Belanda pemilik toko buku
dan sekaligus penerbitan yang kemudian ia biasa panggil sebagai "Tuan
Gotfried" saja. Tuan Gotfried mengagumi ketiga bukunya, sebab laku dibeli
anak-anak gedongan, dan menawarinya menerbitkan buku baru, dengan konsep
yang berbeda agar tak tampak mencaplok ide orang. Buku kumpulan gambar
lelucon berikutnya, yang ia kumpulkan dari majalah 'Aneka', terbit dengan
judul "Senyum, Kasih, Senyum".

Tapi sepanjang kekuasaan Orde Baru, betapa sulitnya menerbitkan kembali
karikatur, yang ringan sekalipun. Terutama karena ia dicurigai sebagai satu
dari orang-orang kiri. Dua puluh tahun berlalu sampai ia memperoleh
kesempatan tampil bersama karikaturnya. Ketika itu G.M. Sudarta dari harian
'Kompas' mengunjunginya bersama Arwah Setiawan dari Lembaga Humor Indonesia.
Ia memperoleh undangan untuk ikut serta dalam pameran besar karikatur di
Ancol, Jakarta, dan karikatur-karikatur pun segera disiapkan. Kesempatan itu
lenyap saat Harmoko, yang waktu itu menteri penerangan, mengetahui
keikutsertaannya. Harmoko, yang pernah jadi kartunis 'Merdeka', mengancam
tak akan membuka pameran jika Sibarani ikut.

Itu pula yang mendorongnya membuat pameran tunggal. G.M. Sudarta menyumbang
Rp 100 ribu. Tanpa acara pembukaan dan tanpa undangan. Sudarta menulis
ulasannya di 'Kompas', sedangkan Mochtar Lubis, editor legendaris harian
Indonesia Raya, datang memuji-mujinya sebagaimana dulu ia memuji buku "Senyum,
Kasih, Senyum", tak peduli betapa tak sukanya Sibarani terhadap garis
politiknya.

Sibarani harus menunggu tumbangnya kekuasaan Orde Baru untuk bermimpi
menerbitkan buku karikatur kembali. Ia menyelundupkan fotokopi
karikatur-karikaturnya ke tangan mahasiswa. Pada 1998 sejumlah media Prancis
menerbitkan karikatur-karikaturnya, seperti "Le Monde Diplomatique", "
Humanite", dan "La Lettrede". Karikaturnya kemudian berkeliaran di internet,
terbang ke Amerika Serikat, dan dimuat di jurnal Indonesia terbitan
Universitas Cornell.

Fenomenanya mungkin bisa disejajarkan dengan Pramoedya Ananta
Toer,
seorang sastrawan terkuat Indonesia, yang berhasil muncul kembali ke dunia
sastra Indonsia melalui novel-novel barunya. Sibarani berharap bisa berhasil
pula saat kembali ke dunia karikatur Indonesia. Tapi paling tidak satu
keinginannya sudah gagal. Semula ia ingin memberi judul kumpulan
karikaturnya dengan "Karikaturku", tapi si editor lebih suka menjualnya
dengan judul "Karikatur dan Politik".

Namun ia tetap orang yang dulu itu, penuh semangat dan teguh pada garisnya.
Ia menunjukkan potret Osama bin Laden dan George Bush Jr. dalam gaya
karikatural kepada saya beberapa bulan lalu, bagaikan memperlihatkan
kesetiaan seorang karikaturis tua yang menantang roda zaman.

Sang Pemulung

28 Mei 2009

Cerpen Salamet Wahedi
Dimuat di Suara Pembaruan

Mengenangnya, apalagi menceritakannya kepada kalian, sosoknya begitu
membebani pikiranku. Bagaimana tidak? Sosoknya begitu kontroversial.
Kata-katanya *ceplas-ceplos*. Tetapi penuh tekanan dan hikmah. Tingkah
lakunya, setali tiga uang dengan ucapannya. Pakaiannya, *ala kadarnya*.
Compang-camping seperti gelandangan lazimnya. Pekerjaannya hanya memunguti
kaleng, botol, atau gelas air minum bekas.

Entah bagaimana aku mesti menceritakan kepada kalian. Sebagai pemungut
sampah, ia tampak rapi dan bersih. Sebagai gelandangan, ia memiliki rasa dan
karsa. Dianggap penjahat pun, ia jauh dari sosok kriminal. Entah siapa dia
sebenarnya?

"Aku hanya seorang pemulung. Pemulung kaleng bekas. Botol dan gelas air
minum bekas. Juga pemulung kata-kata bekas. Peristiwa demi peristiwa yang
membekas," ujarnya pada suatu pagi. Ia datang kepadaku saat aku *celingukan*.
Kemudian dituturkannya sepotong hikayat tentang seorang kakek yang hidup
dengan satu istri dan empat anak. Penghasilannya hanya didapat dari upah
penjualan *lencak kaju*1 yang dipasarkannya. Satu *lencak kaju*, memberinya
Rp 7,500.

"Kakek yang menyita perhatianku," lanjutnya. Ia bercerita penuh intonasi dan
penghayatan. Matanya selalu menerawang jauh, hingga pada detik yang penuh
inspirasi.

"Suatu hari", lanjutnya. "Aku berkesempatan bertemu dengannya. Wajahnya
lusuh, tapi tidak menampakkan aura yang lumpuh. Tuturnya lembut. Kilat
matanya penuh imajinasi. Sesekali, ia tersenyum. Apalagi, ketika mendengar
berita huru-hara, senyumnya semakin menampakkan kematangan. Senyum yang
mengembang dari mental kokoh," ia terus bercerita.

Di sela-sela ceritanya, ia menegaskan makna dan hikmah setiap kejadian
'penting'. Ceritanya mengingatkan aku akan nenek. Nenek yang selalu
berdongeng menjelang tidur. Dongeng yang selalu diterjemahkan: buah apa yang
bisa kita petik?

Dan seperti kebiasaannya, ia selalu mengakhiri ceritanya dengan sebait
ucapan filosofis. "Aku tidak makan sama manusia. Aku makan kepada Tuhanku,"
tegas kakek itu, ujarnya dengan tatapan sayu. Sunggingan senyumnya seperti
hendak menusuk dada pendengarnya.

*Ah*, mungkin ia pendongeng? Tapi aku selalu dihinggapi keraguan, kegamangan
setiap menebak dirinya. Namanya pun, aku selalu sangsi: Kron, Danto, Cobik,
Centong, dan sederet nama lainnya. Aku selalu ditertawakan setiap kali
memanggilnya.

"*Ah* apalah arti sebuah nama? Mengenang Shakespeare terlalu lapuk,"
selorohnya. "Sebagai doa, ia terlalu singkat"

"Lalu?"

Ia tertawa. Tawa yang membangkitkan gairah. Aku mengenangnya karena tawanya
yang berteknik ini.

*

Kali pertama aku menemukan namanya di sebuah halaman koran: Kron!
Puisi-puisinya begitu rancak. Puisi yang lahir dari kejernihan. Puisi yang
tidak menyita kening berkerut. Puisi yang bersahaja.

Kali pertama aku bertemu dengannya, juga mengesankan bahwa ia seorang
penyair. Mungkin juga sastrawan. Tapi setelah pertemuan kedua kalinya,
kesanku berbeda lagi. Petuah-petuahnya, bahkan ide-ide yang ditungkannya
dalam cerita-ceritanya, menandaskan keyakinanku akan sosoknya yang lain:
kiai atau dai, atau pemangku adat!

"Pesan apa Mang?" suara Bu Dango membuatku tergeragap. Aku angkat mukaku.
Dan kulihat sumringah Bu Dango secerah pagi.

"Sudah baca cerpen tentang aku?" suara Bu Dango menampakkan kebanggaan.
Binar matanya memancar bahagia. "*Warung Tepi Kali*, judulnya".

"Kron itu pemuda yang hebat, Mang," sejenak Bu Dango duduk di dekatku.
Tangan ringkihnya meletakkan kopi susu pesananku.Suatu sore, ia datang
padaku. Ia utarakan niatnya untuk berbagi cerita denganku. Aku pun
bercerita. Bu Dango menerawang jauh. Kata-katanya seperti tetesan hujan.
Begitu ritmis. Meski sesekali laksana hempasan ombak menghantam karang.
Tidak karuan. Kata-kata yang terus berletusan dari bibir keriputnya. Legam
dan berkerut.

Aku akui, cerita Kron tentang Bu Dango sungguh menggugah. Kehidupan orang
cilik. Seorang penjaga warung. Pendapatan rata-rata Rp 20.000 per hari.
Tanggungan keluarga lima orang. Disuguhkan lewat narasi yang runtut. Bahkan,
bumbu kesewenang-wenangan penguasa kepada orang cilik seperti Bu Dango,
semisal penggusuran warung Bu Dango yang sudah ketiga kalinya, menyegarkan
kilasan ingatan kita akan realita yang biasa direkam siaran televisi. Siaran
bernuansa berita dan tragedi. Masih berdasar pengakuan Bu Dango, juga
sedikit pendapatku, Kron kadang-kadang seperti para pengarang 'kiri'. Di
sini pun, aku curiga: jangan-jangan Kron penganut paham komunis! Kalau *ya*,
apakah ia salah? Apakah ia tidak boleh mengeluarkan pendapatnya tentang
diorama hidup yang suram dan penuh intrik para bandit ini?!

"Meski omongannya terasa beraroma kiri, Kron juga salat," tepis Bu Dango
buru-buru. Lalu lanjutnya, "Kron memiliki kepekaan yang tidak dimiliki orang
sembarangan. Tidak hanya aku yang diangkatnya dalam cerita-ceritanya. Kasus
Bu Wiwit, tetangga sebelah ibu, selesai, berkat tulisan Kron. Ia tidak
pandang bulu membantu orang. Ketulusannya dalam membantu orang seperti kami,
telah terbukti. Waktu ia mendampingi Bu Aslan," sejenak Bu Dango menggantung
ceritanya.

"Cerita apa *ya*?" Pak Kandeng nampang di ambang pintu. Ia memesan kopi *
item* dan sebatang rokok. "Cerita tentang Kron, *toh*?" Pak Kandeng mengelap
keringat yang menetas di dahinya. "Kron tidak hanya peka. Ia begitu halus
dan tulus menerjemahkan fragmen hidup. Ia cerdas dan tangkas menanggapi.
Pendapat-pendapatnya tidak asal."

"Enggak makan Pak?" Suara Bu Dango dari dapur memotong kata-kata Pak
Kandeng. Pak Kandeng tersenyum kecil. Lalu, ia memutuskan tidak makan. Lalu
melanjutkan kenangnya akan sosok Kron. "Tafsir Al-Qur'annya juga fasih. Ia
mampu menangkap dan menerangkan isinya amat detailnya. Amat terangnya bagi
kami yang tidak tahu-menahu apa-apa," tawa Pak Kandeng berderai renyah.

*Ah* Kron! Perpisahan dengannya, tidak mengurangi akan kehadiran sosoknya.
Ia tetaplah sosok yang kontroversial sekaligus menyisakan fenomena
kekaguman. Lima hari tidak bertemu dengannya, ternyata referensi tentangnya
begitu berlimpah ruah. Referensi yang membuatku semakin ragu dan gamang
untuk menebak dan menceritakannya secara pasti: siapa Kron sebenarnya?

*

Aku tidak bisa menceritakannya secara pasti. Belum bisa! Keraguan dan
kegamanganku semakin bertumpuk. Pencarianku akan siapa sebenarnya dirinya,
hanya menambah kabur pemahamanku. Tetapi hal yang perlu kalian ingat,
berdasar simpulanku: Kron orang penuh misteri! Di mataku dan di mata
orang-orang sepertiku:Bu Aslan, Bu Dango, Pak Kandeng, dan Bu Wiwit, Kron
sosok yang gagah, berani. Ia tak hanya pahlawan. Bahkan, kami diam- diam
memimpikannya bak seorang nabi: penuh pencerahan dan totalitas kepekaan
sosialnya. Sebaliknya, di mata orang-orang yang jadi lawan kami: penguasa,
pemilik modal, Kron adalah ular yang menyimpan bisa, yang sewaktu-waktu akan
mematikan mangsanya, lawannya: lawan kami!

Seperti pagi ini, kejanggalan diri Kron terpampang di tengah kota. Di tengah
alun-alun. Ia telah membuat penguasa kota marah. Ia digantung di tengah
alun-alun.

Tubuhnya compang-camping. Ceceran darah mengering di sekujur pakaiannya.
Tapi, bukan aroma amis yang menyeruak sampai jarak lima puluh meter. Seperti
dipenuhi semerbak bunga setaman hidungku, saat aku mendekat. Tubuh Kron
begitu tirus. Ringkihnya lirih. Suaranya pelan. Sangat pelan. Dan di
sekelilingnya, orang-orang tersedu. Mata mereka sembab. Orang yang berbaju
putih. Di bawah kelabu langit, gerombolan mereka menguar cahaya. Tubuh Kron
menjelma mercusuar di tengah mereka. Tubuh yang tergantung di tiang berlumur
darah. Sungguh parade magis!

"Dosa apakah yang kau perbuat kawan?" bisikku di telinganya yang menggema.
Telinga yang seolah sarang lebah. Suara-suara yang bertahan di gendang
pendengarnya, suara-suara yang begitu akrab. Begitu dekat.

"Dosaku hanya pemulung kawan," senyumnya bangga. Kedua tapuk matanya pun
mengisyaratkan perjalanan panjang.

*Ya*, perjalanan panjang. Sejak saat itu, sejak Kron melempar senyum pada
kelabu langit, kelam malam. Sejak Kron menghembuskan napasnya di tiang
gantungan, kami pun paham akan posisi kami: "para pemulung!" ***

*Lidahwetan, Maret 2009*

Lencak kaju: dipan kayu/ tempat tidur yang terbuat dari kayu.

Tak Sampai Bersampan ke Kampung Kusta

27 Mei 2009

Cerpen Marhalim Zaini
Dimuat di Riau Pos 05/17/2009



Kongkam berkali-kali mengusap tempias rinyai hujan di wajahnya. Berkali-kali ia mendongak. Sungguh tak ia duga, langit di atas laut kecil Selat Air Hitam ini tiba-tiba berubah legam, disusul angin yang mengibaskan gerimis. Padahal saat bertolak dari Selat Panjang lima belas menit lalu, matahari tampak tegak segak. Kendati pun kini perahu pompong yang ia tumpangi berjoget teregok-egok kian limbung diayun ombak, Kongkam sebetulnya taklah risau sangat. Tak serisau saat ia melewati laut besar Selat Melaka dari Tanjung Balai Karimun tiga hari lalu, saat angin musim Utara mengayun-hempaskan perahunya bagai sabut kelapa. Lagi pula, ia bukan budak kecik yang baru belajar bersampan, yang harus takut gelombang, takut mati tenggelam. Sebab bertahun sudah, ia pulang-balik dari Selat Panjang ke Bokor, lalu ke Kampung Kusta, bertahan hidup dengan menjual ayak dan ikan. Maka mati tenggelam, baginya hanyalah satu pilihan lain saja untuk tidak mati sebagai penderita kusta.

“Itu, pokok angin1, sebelah sana!” Pekik Abo, lelaki si pemilik pompong yang mencangkung dekat mesin, menunjuk ke arah Barat Laut.

Kongkam mengangguk. Tersenyum payau. Ia tahu, akan ada badai di laut besar, menghalau para nelayan kembali ke tepian. Tapi bukan di laut kecil ini. Meski tak jarang, sisa angin ribut berbelok juga ke sini, membuat sampan-sampan para penjaring dan pemancing ikan ikut terbalik digoyang gelombang. Itu bukan luar biasa. Tak satu-dua kali pula Kongkam pun pernah mengalaminya. Habis semua barang dagangannya tumpah ke laut. Tapi itu dulu. Dua tahun lampau. Semasa ia masih jadi orang terbuang di pulau pengasingan, di Kampung Kusta. Sewaktu ia menjadi orang terakhir yang berhasil sembuh dan bangkit dari kematian, setelah lebih dari separuh hidupnya didera penyakit kusta. Ya, orang terakhir. Sebab Kongkam tak tahu lagi bagaimana kabar lima orang penderita kusta yang tersisa. Dua tahun lalu, ketika usianya telah menginjak 46 tahun, Kongkam memilih untuk diam-diam pergi meninggalkan mereka.

Sungguh bukan pilihan yang mudah, jika hari ini Kongkam hendak kembali datang ke Kampung Kusta. Paling tidak, ia harus siap dituding sebagai pengkhianat. Sebagaimana Tang Heng, juga Lim Hong, dua pendahulunya yang telah sembuh, juga diam-diam pergi dan tak kembali. Padahal, di pundak mereka yang sembuh, harapan bertahan hidup bagi yang sakit disandarkan. Tugasnya yang utama, membawa dagangan menyeberang ke Selat Panjang. Hasilnya, kembali membawa belanja keperluan sehari-hari dan obat-obatan. Saat itu, Kongkam dapat merasakan bagaimana sakit hatinya ditinggal pergi ketika yang tersisa hanyalah yang tak berdaya. Meski di pulau kecil ini, di sepanjang waktu, yang pergi dan tak kembali hampir jadi peristiwa yang pasti. Ada dua pilihan, pergi dan tak kembali karena telah sembuh, atau pergi dan tak kembali karena dijemput maut.

Tapi, kenapa pula Kongkam justru membuat pilihan yang lain: pergi dan lalu hendak kembali?

“Aman kita, Wak! ‘Dah masuk muara.”

Abo macam tak sabar membakar puntung kretek yang sejak tadi terjepit di mulutnya, tak dapat-dapat menyala tersebab api dimainkan angin.

Sorot mata Kongkam mengikuti ujung pompong yang terangguk-angguk pelan, mulai masuk ke mulut muara sungai. Menyibak belantara hutan bakau, sesemak lebat kusut masai, bagai menyibak tirai kelambu beludru buruk yang terbiar. Memang ada yang berubah, pikirnya. Sunyi yang kian berbiak. Beranak-pinak. Entah karena telah dua tahun tak ke sini, atau karena memang pulau ini benar-benar telah dihuni oleh ribuan mambang-jembalang yang tumbuh tersemai dari tiap pori tubuh-tubuh yang mati. Ya, selama puluhan tahun, sejak perang di zaman Jepang bergolak di Tebing Tinggi, ratusan orang kusta telah mati tertanam di tanah gambut pulau ini. Mereka “dibuang” oleh keluarga karena aib. Mereka diasingkan di pulau asing, untuk kemudian menunggu atau menerima datangnya kematian dengan cara yang sangat perlahan tapi pasti—menghabisi seinci demi seinci ruas nyawa di sekujur anggota tubuh mereka. Awalnya, karena merasa masih berbelas kasih, mereka “disembunyikan” di loteng-loteng rumah. Tapi alangkah, melantung juga bau si bangkai, anyir luka tubuh menyebar teluh di mulut orang-orang. Mulut labu, kata orang, ada penyumbatnya, tapi mulut orang tak dapat dicari penyumbatnya. Tak pandai kita menangkisnya. Tak pandai kita berlama-lama menanggung malu. Memicingkan mata, mengempiskan perut pada segala yang tiba. Maka, pulau kecil di seberang Desa Bokor itu, hendaknya segala gunjing dan umpat dapat dilarung-hanyutkan.

Tapi yang sedang merisaukan pikiran Kongkam kini adalah lima yang tersisa dari ratusan orang itu: Limhong, A Kiong, Atho, A Heng, dan Amoy. Lima orang yang selama belasan tahun bertahan hidup bersama. Apa kabar mereka? Kongkam menelan ludah.

“Aku ‘dah lama tak ke sini, Wak.” Suara Abo terdengar datar dan pelan.

“Sejak bila?” Sambut Kongkam.

“Tak lama setelah Wak pergi.”

“Tapi, kenapa? ‘Dah muak jadi tukang antar-jemput ke Kampung Kusta?”

“Ehmm, mana boleh muak, Wak! Antar-jemput siapa pun aku tak muak, asal ada duitnya. Kalau tak, ‘nak makan apa anak bini...”

“Terus?” Kongkam merasa aneh.

“Ya, karena memang tak ada lagi orang yang ‘nak diantar-jemput.”

“Maksud dikau?”

“Ya, siapa lagi. Wak yang sembuh terakhir kan?”

“Si Mantri? Dokter dari yayasan warga Tionghoa? Tak ada dia mau tengok?”

“Sejak Wak masih di sini, mereka juga ‘dah jarang datang kan?”

“Terus, dagangan? Makan-minum orang ‘tu, macam mana?”

Abo geleng-geleng kepala.

Kongkam menelan ludah lagi. Lalu meludah. Puih!

“Tapi, apa sebab Wak datang lagi ke sini?” Abo tiba-tiba menyela.

Kongkam sejenak diam, lalu menjawab, “Entahlah….”
***

Sebetulnya, Kongkam tak punya rencana secepat itu untuk meninggalkan Kampung Kusta. Setidaknya, di pagi yang cerah itu, ia masih melakukan pekerjaan rutinnya menyiapkan barang dagangan: menyusun belasan ayak dalam satu goni plastik, dan beberapa kilo ikan basah dalam sebuah bakul. Amoy, perempuan yang telah kehilangan satu kakinya itu, seperti biasa, ikut sibuk berkemas. Paling tidak, dengan dibantu tongkat kayu mahang yang dibuatkan Kongkam, secangkir kopi panas sempat juga dituang Amoy dari didih air yang terjerang dalam cerek hitam di atas tungku dapur. Amoy, bukanlah bini Kongkam. Bukan pula saudaranya. Amoy adalah orang lain, sebagaimana empat yang lain. Tersebab nasib buruklah yang membuat mereka seperti satu keluarga. Ayak-ayak itu, merekalah yang memproduksinya. Kongkam, satu-satunya yang berhasil sembuh, bertugas menebang, membelah, meraut, dan menyediakan sejumlah peralatan. Sementara yang lain membantu menganyam dan pekerjaan ringan lain dengan segala keterbatasan. Belum lagi, boleh dikata tiap matahari belum sempat terang tanah lagi, Kongkam telah pun bersampan ke sungai menjaring dan memancing ikan, bergolek gelantanglah ia sendirian di sungai. Sementara Limhong, tak lagi punya jari-jari tangan dan kaki. A Kiong, tak pula memiliki kedua kakinya, tapi masih memiliki tangan. Atho dan A Heng, lebih parah, sudahlah tak berkaki dan tak bertangan, kusta telah pula membutakan mata mereka.

Dengan kondisi semacam ini, dapat satu-dua biji ayak saja dalam sehari, sudah tentu sangat membuat mereka berbahagia. Satu ayak dijual seharga 28 ribu rupiah. Dapat tujuh ayak saja dalam sepekan, ditambah dengan ikan lomek, ikan sembilang, ikan gonjeng, ikan duri dari hasil tangkapan jaring rawai dapat laku terjual agak lima kilo, dapatlah membuat mereka bertahan selama sepekan. Terutama untuk makan. Obat, tak lagi jadi prioritas. Sebab, obat yang selama ini mereka konsumsi cuma untuk menyenang-nyenangkan hati saja, menumbuhkan harapan-harapan palsu saja. Betapa tidak, obat-obat yang dibeli di apotik-apotik itu, tak pernah memberi jaminan kesembuhan. Nyatanya, sakit mereka tak sembuh-sembuh, malah bertambah teruk. Dulu pernah ada obat yang didatangkan dari Itali, katanya. Dibawa oleh orang yayasan. Sebiji tablet berwarna merah yang dimakan seminggu sekali, tanpa disuntik. Tapi tak sampai dua bulan, senyaplah sudah. Mahal agaknya. Terus, ada juga si Pak Mantri puskesmas dari Selat Panjang yang memang ditugaskan ke sini seminggu sekali, tak sampai tiga bulan, tak nampak lagi batang hidungnya. Entah takut tertular, entah karena tak tahan pulang-balik nyeberang nyuntik orang terbuang yang tak tanggung bau busuknya, entah karena menganggap sia-sia saja mengobati orang yang sudah tak berumur panjang. Jadi, pengobatan yang selalu tak tuntas dan terkesan tak serius ini, tentu tak dapat berharap banyak untuk penyembuhan total. Ada pilihan alternatif lain memang, semisal pengobatan tradisional Cina, Shen Chou, atau yang banyak orang menyebutnya Singsei, yang secara kultur, sesugguhnya sangat dekat dengan kehidupan orang-orang penderita kusta yang kebanyakan orang Tionghoa. Tapi, itulah, adanya cukup jauh di Kabupaten Bengkalis sana, dengan harga yang tak tanggung mahal pula. Sebab katanya.obat ramuannya didatangkan langsung dari Tiongkok.
Lalu, kenapa Kongkam dan beberapa yang lain ada juga yang sembuh? Agaknya semangat hidup adalah obat yang paling mujarab. Selepas itu, boleh jadi adalah keajaiban dari Tuhan.

“Jangan lupa beli belacan, Kongkam!”

Pekik parau suara Atho dari tengah pintu rumah panggung itu terdengar lamat di telinga Kongkam. Telah cukup jauh ia berjalan memikul barang dagangan menuju tepi sungai. Tapi si Amoy, yang kerap menguntit dari belakang setiap kali Kongkam mau berangkat, masih mendengar jelas permintaan Atho, lelaki paling tua di antara mereka, sekaligus yang paling lama menghuni Kampung Kusta. Amoy setengah berlari tertingkut-tingkut agak kepayahan mengejar Kongkam. Tapi masih demikian jelas sosok tubuh Kongkam berjalan di celah-celah akar bakau yang banyak menjalari jalan setapak bersemak. Perempuan berumur tiga puluh tahun itu, sesekali berteriak memanggil Kongkam. Kongkam sejenak berhenti, tapi tak menoleh, lalu kembali berjalan perlahan. Ia sangat tahu itu suara Amoy. Perempuan yang sempat berterus terang menyatakan jatuh hati padanya. Sebab tubuh bisa saja kian rapuh menuju luluh, tapi benih cinta mungkin tak serta-merta dapat dibunuh. Bagai semak, ia pun berbiak. Meski memang belum sempat beranak-pinak, karena Kongkam memilih untuk berdiam, meski tak tergerak hatinya untuk mengatakan tidak. Munafik kalau ia tak tertarik, sebab Amoy gadis cantik. Sejak berumur dua puluh tahun ia di sini. Jelas masih perawan asli, karena belum berlaki. Tapi kenapa Amoy harus jatuh hati pada Kongkam, yang terpaut umur cukup jauh? Banyak sebab bisa diurai: karena Kongkam lebih muda dari tiga laki-laki lain, Kongkam lebih segak karena tubuhnya yang jangkung, ditambah Kongkam kini telah pun pulih dari kusta meski tetap menyimpan bekas luka luar dan bekas luka dalam, dan boleh dideretkan sebab-sebab lain. Tapi, wahai, apakah orang jatuh hati harus ada sebab?

Sebaliknya, kalau enggan mengatakan tidak, kenapa Kongkam tak langsung mengatakan ya? Banyak soal. Kongkam adalah laki orang. Meski sejak ia terbuang ke Kampung Kusta, bininya tak pernah berkunjung. Tiga tahun berkahwin belum juga punya anak. Selain itu, agaknya soal agama. Kongkam satu-satunya orang Melayu. Orang Islam. Amoy, Konghucu. Atau, pentingkah cinta, perkawinan, atau entah apalah namanya di saat hidup telah demikian dinanti oleh kematian? Meski kadang, di lain pihak, bagaimana pula tak tumbuh benih itu, jika tiap hari seperiuk-sebelanga, seatap-selantai, setepian-sekubangan pula, kata orang. Memang ada beberapa unit rumah panggung dari kayu, beratap daun rumbia, berukuran sepetak ruang kamar sederhana, berdiri di sekitar pulau yang berukuran 2-3 kilometer ini. Tapi tak semua dapat dihuni. Selain sudah banyak yang lapuk dan senget hampir tumbang, juga tak mungkin hidup berjauhan dengan kondisi serupa itu. Jadilah mereka berlima lebih sering hidup satu atap, meski di saat-saat tertentu Amoy—sebagai perempuan—kerap juga menempati rumah lain yang terdekat.
“Bang, Wak Atho pesan, jangan lupa beli….”

“Belacan?” Sela Kongkam.

Amoy tersenyum. Sudah tak heran, hampir tiap kali Kongkam berangkat Atho pasti memesan belacan. Sebetulnya tak cuma belacan yang orang tua ini suka. Ada satu lagi: cencalok. Keduanya sama-sama buat penyedap makan. Belacan biasanya dicampur dengan sambal mentah lada kutu. Lauk ikan asin. Cencalok, yang dibuat dari udang pepai atau udang geragau, tambah nasi dua tiga kepal, garam diaduk rata, lalu masukkan dalam botol, tutup rapat-rapat, dan diperam selama tiga hari. Mantapnya, dimakan campur dengan lada kutu, jeruk nipis, bawang putih dan bawang merah, diaduk-aduk, alahmak….mertua lewat pun tak nampak, kata orang.

Mereka berdua sekarang berdiri dekat pelantar kecil yang rumpang, di tepi sungai, di ujung sebuah hulu. Kongkam menurunkan barang dagangan dari pundaknya. Di tengok-tengok, pompong Abo belum terdengar bunyi mesinnya. Kalau pun air dangkal, dan pompong tersakat di tengah hulu, mesin masih tetap bisa terdengar. Dan jalan keluarnya, berkayuhlah Kongkam naik sampan dari pelantaran ini menuju pompong. Tak jarang pula, Amoy ikut mengantar Kongkam dengan bersampan bersama.

“Belum sampai nampaknya si Abo, Bang.” Amoy duduk di tepi pelantar.

“Ya. Kejap lagi sampailah ‘tu.” Kongkam ikut duduk tak jauh dari Amoy.

Tak banyak percakapan, selain hening. Sampai tak lama kemudian terdengar bunyi pompong Abo masuk ke hulu sungai. Rupanya air pasang sudah mulai naik. Kongkam tak perlu lagi bersampan. Di ujung pertemuan itu, Amoy seolah merasa sedang melepas sesuatu yang teramat berat seraya berbisik, “Abang pulang ke sini lagi kan?”

Dan rupanya perasaan Amoy benar, bahwa itulah pertemuan terakhir mereka. Kongkam tak kunjung kembali. Kongkam bertemu sahabat lamanya di pasar Selat Panjang. Bercakap-cakap tentang nasib kini, riwayat masa lalu, dan rencana masa depan. Kongkam tergiur ketika sahabatnya yang sukses itu menawarkan rencana-rencana. Tak ada alasan kuat untuk tak menerimanya, ketika hidup telah demikian lama tersia, terlantar, terbiar, gelap dalam selubung misteri waktu. Ihwal rasa kemanusiaan, yang kemudian tarik-menarik dalam dirinya, bukankah juga selubung gelap misteri yang kerap tak dapat ia maknai ujung-pangkalnya?
Tapi kenapa setelah dua tahun, Kongkam hendak kembali?
***

“Alahmak! Sakat nampaknya pompong kita, Wak!”

Tubuh Abo dan Kongkam tersentak ketika tiba-tiba pompong berhenti mendadak. Hulu sungai rupanya kian menyempit, dan kian mendangkal. Padahal dulu, dua tahun lalu, di sekitar sini pompong masih bisa lewat.

“Macam mana ‘ni, Wak? Sampan tak ada nampak pulak.”

Kongkam terdiam. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Masih cukup jauh jarak yang mesti ditempuh untuk sampai ke pelantaran. Terlintas juga dalam pikiran Kongkam untuk nekat berjalan kaki mengarungi sungai yang dangkal itu. Tapi, itu tak mungkin. Selain berlumpur, penuh rawa-rawa, yang sulit untuk diarungi, ia juga belum berani menanggung resiko harus mati diterkam buaya, yang memang sesekali menampakkan diri.

“Macam mana, Wak? Rasa-rasanya tak mungkin kita menunggu air pasang naik. Lagi pun belum tentu pulak air pasang dapat mengangkut pompong ‘ni.”
Kongkam masih terdiam. Dia tengah berpikir keras. Tapi semua serba buntu. Kongkam menelan ludah. Memasukkan tangan dalam saku celana. Menggenggam sebuah kotak kecil berwarna merah jambu, berisi selingkar cincin belah bambu. Kongkam menarik nafas panjang. Menatap tajam jauh ke hulu sungai. Menyusuri kelokan-kelokan masa lalu bagai menyusuri kelokan-kelokan sungai. Dalam hati ia berbisik, “Abang mungkin tak pernah pulang ke sini lagi, Amoy….”***

-------------
Catatan:
1 Mendung tebal, sebuah tanda akan terjadi angin ribut

I Would Live in Your Love

26 Mei 2009

Sara Teasdale

I would live in your love as the sea-grasses live in the sea,
Borne up by each wave as it passes, drawn down by each wave that
recedes;

I would empty my soul of the dreams that have gathered in me,
I would beat with your heart as it beats, I would follow your soul
as it leads.

Annie Laurie

25 Mei 2009

William Douglas

Maxwelton's hills are bonnie
Where early falls the dew
And 'twas there that Annie Laurie
Gived me her promise true.
Gived me her promise true
Which ne'er forgot shall be
And for bonnie Annie Laurie
I'd lay me down and die.

Her brow is like the snow drift,
Her throat is like the swan,
Her face, it is the fairest
That e'er the sun shone on.
That e'er the sun shone on
And dark blue are her eyes
And for bonnie Annie Laurie
I'd lay me down and die.

Like dew on the daisy lyin'
Is the fall of her fairy feet
And like winds in summer sighing
Her voice is low and sweet.
Her voice is low and sweet
And she's all the world to me
And for bonnie Annie Laurie
I'd lay me down and die.