Jalan Soeprapto

25 Juli 2009

Jawa Pos
Minggu, 17 Februari 2008

Cerpen: Yetti A KA

TURUN di Simpang Lima lepaslah pandang ke arah patung kuda. Beberapa waktu lalu -aku lupa tepatnya kapan, segalanya cepat berubah, tiba-tiba aku sudah berada di tempat asing dengan segala sesuatu serba baru- bukan patung kuda itu yang berdiri di sana, melainkan patung perahu indah yang mampu membawaku ke dunia khayali; pelayaran ke pulau-pulau rempah di tengah lautan luas pada masa dulu, embusan angin menerobos batas-batas, membuat asin laut menguar di desa-desa nelayan pinggir pantai. Kenapa kukatakan demikian, karena aku memang sangat suka apa pun tentang laut, terutama perahu-perahu nelayan yang mengembangkan layar melawan cuaca buruk dan ombak besar pada waktu tertentu. Eksotis. Dan kau malah mengajakku bertemu di Simpang Lima, sebab hanya tempat itu yang paling kau inginkan setelah aku menolak tawaranmu bertemu di hotel tempat kau menginap. Celakanya lagi, aku sudah berkata, "Baiklah, tunggu aku." Kau mengancam, "Awas kalau terlambat. Aku bisa menghukummu, Nona." Aku tidak tahu apa aku benar-benar menginginkan pertemuan itu, bahkan ketika aku sudah menunggumu, berdiri di pinggir jalan menghadap patung kuda yang tidak terlalu kusukai itu. Aku merasa biasa-biasa saja, seakan kedatanganmu bukan lagi sesuatu yang bisa mengaduk-adukku. Terlebih, sebelum ini kita sudah membuat sejumlah janji pertemuan di kota lain. Hubungan pertemanan yang hangat, begitu kita beralasan tentang pertemuan demi pertemuan itu. Seorang diri di tepi jalan, dekat traffic light, aku menjelma sebutir buah jatuh yang diabaikan orang-orang. Aku hanya bisa menciptakan keasyikan sendiri dengan menerka-nerka berapa nomor sepatu orang yang lewat di depanku atau menguping sebuah rahasia tidak terduga tentang penyelewengan dana sebuah kantor pemerintah dari dalam mobil berkaca gelap. Tapi sayang, seorang pengamen justru mendekat ke arahku, minta permisi menyanyikan sebuah lagu sendu era 80-an. Mataku terasa sedikit tegang sebelum lagu itu benar-benar berakhir. Kemudian pengamen itu bertanya, bagaimana kalau satu lagu lagi. Aku tertawa. Pengamen itu pergi setelah ia menyanyikan sejumlah lagu lama. Aku kembali sendiri, dan aku lebih suka begini. Tanpa siapa-siapa. Aku bisa menyaksikan banyak hal. Seperti di ujung sana, tepat di depan lampu merah dari arah Jalan Soeprapto, aku melihat kerumunan anak-anak tibatiba pecah seperti bunga durian gugur ditiup angin. Berserakan. Pertunjukan itu dimulai -drama yang seharusnya bisa menganggu perasaan siapa saja bila kebetulan lewat di sana. Dari manakah mereka datang. Aku tahu pasti, tempat ini hanya kota kecil yang dulu begitu lugu dan memiliki harga diri. Nyeri sekali, rasanya, bila sekarang mendapati mata bening kanak-kanak yang lucu berhamburan di jalanan. Anak-anak itu dengan mudahnya berbohong; memasang mata sedih, memelas-melas, bahkan terkadang setengah memaksa. Siapa yang merebut dunia bermain mereka. Dunia bau kencur atau seumur jagung itu. Aku ingin sekali memikirkannya lebih serius sekali waktu. Ya suatu pagi, barangkali, ketika aku bangun tidur dan menyeruput segelas jus belimbing sambil menunggu embun benar-benar luruh dari dedaunan. Saat-saat di mana hatiku sedikit ringan. Sedikit lepas. Bukankah kita perlu berada dalam situasi yang tepat untuk berpikir tentang sesuatu, sekecil atau sesederhana apa pun itu. Tiga puluh menit aku menunggu, kau baru muncul. "Apa aku membuat Nona menunggu lama," kau terlihat santai. Pipiku sudah merah terbakar. Aku tidak bisa lagi tersenyum. Hatiku terasa keras. Kita jalan berdiam-diam, dari Simpang Lima hingga Jalan Soeprapto tanpa tahu tujuan kita sesungguhnya. "Kita cari makan yang enak," suaramu terdengar lebih tenang, jernih dan terkendali. Tidak sepertiku, lebih sering meledak-ledak, terutama dalam keadaan marah atau terpojok. Kau pernah bilang, begitulah kebanyakan perempuan, suka bermain hati. Kalimat yang sama sekali tidak aku sukai karena seolah di balik kata-kata itu kau mau berkata, laki-laki tentu tidak demikian, mereka lebih rasional, lebih cerdas karena itu mereka ditakdirkan berdiri di depan. Aku menahan sesuatu di dada. Bukan waktu yang tepat untuk berdebat soal lelaki dan perempuan. Bukan tempat yang tepat. "Hei," kau memecah ketegangan di kepalaku. "Bagaimana kalau minum teh’di rumah saja," tawarku nyaris kehilangan semangat. Aku sengaja bersikap begitu agar kau menyadari kalau aku mulai tidak menyukai situasi. "Tidak. Tidak. Itu bukan ide yang bagus. Kau tidak boleh berpikir apa pun mengenai rumah karena kita tidak akan pulang sebelum menghabiskan waktu di bawah langit kelabu ini. Ingat, seminggu lalu aku sudah minta sedikit waktu padamu dan kita sudah sepakat saat kita membuat janji pertemuan di kota kecilmu ini. Aku sama sekali tidak berharap kau mengkhianatinya." Aku tersenyum malas,’berdecak kecil. Kukira, kota tempat aku tinggal tidak menempatkan urusan makanan di tempat yang paling penting, sebagaimana kota-kota lain. Teman-temanku bilang, itu karena tradisi orang-orang di sini yang lebih senang makan di rumah ketimbang di luaran. Bisnis makanan akhirnya tidak begitu ramai. Untuk itu jika suatu hari menginjakkan kaki di kotaku, jangan tanyakan tempat makan yang enak. Aku tidak akan pernah tahu ke mana membawamu, selain ke rumahku. Aku bisa menyuguhkan segelas teh aroma melati dan satu toples kacang tojin sebelum hidangan makan malam di meja makan, tentunya. Tapi kau telah menolaknya sebelum aku berpikir apa aku harus mengganti menu kacang tojin itu dengan yang lain atau mengganti teh aroma melati dengan aroma asam manis kopi Sumatera. Kau tertawa sangat lebar, "Kenapa kelihatan bingung." "Entahlah," ujarku ringan. Tawamu tertahan. "Aku tahu kau sedang berpikir ingin mengacaukan pertemuan ini, dan kau tengah memainkan perasaanmu." Kembali kita saling diam. Kaki kita bergerak lambat menyusuri Jalan Soeprapto yang tidak terlalu ramai; beberapa remaja berseragam sekolah tertawa ceria, penjual CD bajakan di pinggir jalan tengah termenung dan sesekali berusaha tersenyum pada orang-orang berwajah dingin yang kebetulan lewat. Berada di Jalan Soeprapto, mengingatkanku pula pada beberapa kawan. Andom dengan bukubuku tergelar di lantai dingin depan sebuah toko manisan (barangkali milik Cina), masihkah dia memasang tulisan "menerima buku bekas". Juga Bagus dengan macam-macam kerajinan dari kulit kayu. Lalu sedang melukis apakah Safrin dan Topik sore ini, ketika udara mulai terasa panas dan awanawan bergerak lambat di langit sana. Acank, apa kabar. Mungkin saja ia tengah mengaransemen sebuah lagu baru atau menulis puisi pendek. Sudah lama aku tidak bertemu mereka. Beberapa bulan ini aku lebih sering keluar kota, mengikuti seminar atau acara. Alasan lain, bisa jadi karena aku mulai ngeri berada di Jalan Soeprapto, apalagi harus melewati Simpang Lima, tempat puluhan mata kanak-kanak dibiarkan berhamburan. Bergulir begitu saja. "Tunggu sebentar, aku belikan kau es krim." Kau berhenti dan singgah di salah satu restoran siap saji yang sedang sepi pengunjung. Beberapa menit kemudian kau keluar dengan dua mangkuk kecil es krim rasa vanilla yang disiram coklat di atasnya. Kesukaanku. "Kau gila," kataku,"’kita jarang sekali menemukan seseorang makan es krim sambil berjalan di sepanjang Jalan Soeprapto, apalagi ia seorang perempuan, dan berumur hampir tiga puluh tujuh tahun." "Kalau lelaki?" "Kadang lelaki bisa makan di mana saja. Mana ada orang yang begitu peduli. Lelaki bebas peraturan." "Lelaki yang malang, hahaha...." Kita tertawa begitu ekspresif. Hatiku lumer sebagaimana es krim mulai menetes di jejari tanganku. Sudah lama aku tidak begini terbuka, telah bertahun-tahun ini. Tepatnya sejak aku menolak seseorang yang mencuri seluruh diriku, dari ujung rambut sampai ujung kaki, karena satu alasan: aku benci sebuah pernikahan, sementara dia menganggap sudah waktunya untuk menikah atau akan terlambat. Perpisahan yang membuatku demikian biru. Beberapa hari aku hanya bisa berada di tempat tidur. Membuka kembali beberapa surat lama dan merobeknya kecilkecil jika ternyata aku tidak menyukai beberapa kata di dalamnya. Kami memutuskan duduk di depan toko sepatu, dekat sekelompok anak muda menjual macam-macam souvenir. "Kenapa kau ingin kita bertemu di kota kecil ini," aku bertanya pelan. "Kau terlalu terburu-buru," sindirmu. Kembali kami tertawa, tidak peduli menjadi tontonan orang-orang. "Waktu bergerak cepat, bukan. Sebentar lagi malam datang," kataku. "Aku ingin kita ditawan malam tepat di Jalan Soeprapto ini, tempat sepuluh tahun lalu kau menolakku. Dulu aku terluka jika mengingat peristiwa itu, tapi sekarang aku sudah bisa tertawa." Aku menangkap segaris sembilu keluar dari tubuhmu, dan matanya mengarah tajam ke dadaku. Jangan. Jangan. Itu sudah berlalu. Telah diredam waktu. Aku merintih. Aku mengeluh. Aku cair bersama sisa es krim dalam mangkuk kecil. Aku ingin jadi es krim. Manis. Harum. Lezat. Terutama karena es krim disukai anak-anak. Aku mau anak-anak. Pipi montok, aroma bedak, minyak telon dan tangis keras malam hari. Tapi aku tidak bisa menikah. Aku takut tidak cocok. Aku ngeri membayangkan perpisahan. Agamaku melarang perceraian kecuali kematian. Lelaki itu meniup udara kosong. Aku menyandarkan tubuh yang mulai terasa berat pada tiang bercat putih kusam. Sampai hari gelap, aku dan dia belum beranjak. Kami hanya diam serupa patung perahu di Simpang Lima. Aku tinggalkan dia. Aku berlayar naik perahu itu. Pelayaran yang hening dan sepi. Hingga dia menarikku kembali dan berbisik, ayo kita pulang! Dan aku tahu, itu artinya aku dan dia sudah berakhir. Sepuluh tahun, dulu. Sudah berlalu. Jauh. Kini ia kembali tumpah dan berceceran di Jalan Soeprapto. Betapa aku ingat sekali detailnya, betapa aku ingat warna muram hari malam. Burung-burung walet berterbangan di atas ruko di Jalan Soeprapto. Suara mereka riuh, membuat tubuhku meremang. Suara yang membuatku tidak pernah nyaman mendengarnya. Entah ada apa. Jalan Soeprapto akan makin tua. Orang-orang pergi. Kau pergi. Lantas aku menjadi perempuan yang menumpuk ketakutan-ketakutan di atas kedua kaki. Lalu masihkah mata kanak-kanak akan berhamburan di Simpang Lima, dan tidak pernah tahu jalan pulang, seperti aku yang tidak pernah bisa pulang pada lelaki. "Kau tahu besok barangkali matahari benar-benar lupa untuk kembali hingga kita terkurung dalam malam selama-lamanya," kau berbisik. Aku tidak mungkin bisa, kataku untuk kesekian kali. Aku harus keluar dari Jalan Soeprapto, melangkahkan lagi kedua kakiku yang makin berat ke tempat-tempat terjauh. *** Bkl-Pdg, 07-08

Sonnet 29

22 Juli 2009

William Shakespeare (1564–1616)

When, in disgrace with fortune and men's eyes,
I all alone beweep my outcast state,
And trouble deaf heaven with my bootless cries,
And look upon myself, and curse my fate,
Wishing me like to one more rich in hope,
Featured like him, like him with friends possessed,
Desiring this man's art and that man's scope,
With what I most enjoy contented least;
Yet in these thoughts myself almost despising,
Haply I think on thee—and then my state,
Like to the lark at break of day arising
From sullen earth, sings hymns at heaven's gate;
For thy sweet love rememb'red such wealth brings
That then I scorn to change my state with kings.

A Moment to Remember

Alexander Pushkin

A magic moment I remember:
I raised my eyes and you were there.
A fleeting vision, the quintessence
Of all that's beautiful and rare.

I pray to mute despair and anguish
To vain pursuits the world esteems,
Long did I near your soothing accents,
Long did your features haunt my dreams.

Time passed- A rebel storm-blast scattered
The reveries that once were mine
And I forgot your soothing accents,
Your features gracefully divine.

In dark days of enforced retirement
I gazed upon grey skies above
With no ideals to inspire me,
No one to cry for, live for, love.

Then came a moment of renaissance,
I looked up- you again are there,
A fleeting vision, the quintessence
Of all that`s beautiful and rare.

Sonnet 153

18 Juli 2009

William Shakespeare

Cupid laid by his brand and fell asleep:
A maid of Dian's this advantage found,
And his love-kindling fire did quickly steep
In a cold valley-fountain of that ground;
Which borrow'd from this holy fire of Love,
A dateless lively heat, still to endure,
And grew a seeting bath, which yet men prove
Against strange maladies a sovereign cure.
But at my mistress' eye Love's brand new-fired,
The boy for trial needs would touch my breast;
I, sick withal, the help of bath desired,
And thither hied, a sad distemper'd guest,
But found no cure, the bath for my help lies
Where Cupid got new fire; my mistress' eyes.

Sesal Ini Abadi

16 Juli 2009

Cerpen Ayu Febriasari
Mahasiswa FKIP Biologi Universitas Jambi 2008

Tepat hatiku ditikamnya,perkataan–perkataan itu sudah akrab denganku,namun tetap saja aku tak rela menerima semuanya. Rabbi,,,,,, sudah berapa kali luka ini kurasakan, sudah berapa banyak air mata kuhabiskan,sudah berapa lama aku menyesalkan. Sedikit pun aku tak pernah rela menjadi aku. Aku tak pernah ingin menjadi aku. Aku tak pernah bersedia menjadi aku. Aku Pilu….

* * *


Tetes embun pagi berhasil mengguyur tidurku,berhasil memisahkan aku dari mimpi indah… mimpi yang tak pernah berhasil menjadi kenyataan.

“Sudah bangun , Nak?”,Tanya Ibuku.tangannya aktif mengerjakan sulaman

“Ehm..”. Sahut ku acuh. Ibu menghentikan pekerjaannya,berjalan mendekati kursi tempat aku duduk,meletakan sulaman bunganya dan memegang pundakku.Hangat…

“Mina, aku ibumu,kesedihanmu adalah rapuhnya aliran darahku,keperihanmu ialah luluh lantahnya jiwaku,dan setetes air matamu ialah satu sungai dari mata air kasih ku padamu.
Kau Putriku,,,”, kata ibu lirih ,mata ibu seperti kacamata ,bukan ..bukan kacamata,tepatnya aku dapat melihat matanya berkaca-kaca.

“Ibu,Tuhan tidak adil padaku, tidak ada yang adil padaku,aku sudah lelah,menjalani perihnya hidup,kenapa kau melahirkan aku ke dunia, Ibu,kenapa kau bersedia meminjamkan rahimmu tempat bersemayamnya jiwaku,jika nantinya penderitaan yang kurasakan”. Tak sanggup lagi ku bendung air mataku ,ku ucapakan sumuanya

“Demi Tuhan Mina,jangan pernah berkata seperti itu,perkataanmu menambah sakitnya sesalku,”

“Kenapa???,Ibu ingin lari dari kenyataan, jikalau sumber penderitaanku adalah ibu,lihat aku Bu, tidakkah ibu melihat betapa menyedihkannya keadaanku,Lihat tanganku Bu,seharusnya aku memiliki dua tangan,tapi aku cuma punya satu,itupun tidak hanya sesuai ukuran,Lihat kakiku,bukankah seharusnya mereka berdua memliki bentuk dan ukuran yang sama,tapi salah satu diantaranya hanya berupa daging timbul yang menjijikan!!!,lihat mataku,kenapa dari pertama aku hanya dapat melihat sesuatu hanya dari satu mataku,dan kepalaku bukankah seharusnya dia di penuhi dengan berjuta-juta rambut.Kemana mereka semua Bu,Kemana perginya mereka semua???”Jeritku, aku sudah tidak sanggup lagi membendung perasaan dukaku, Aku tau Ibu terluka,pasti dia terluka

“Maafkan Ibu ,Mina,, maafkan Ibu,,, seandainya saja….”.


Seandainya saja dulu dia tidak mencoba menggugurkan kandungannya,seandainya saja sejak awal ia sudah ikhlas meminjamkan rahimnya untuk jiwaku,Seandainya saja dahulu ia sudah siap menerima kehadiranku,,,Rabbi
Dulu,Ibu adalah seorang wanita penjaja kehormatan,yang bersedia menukarkan mahkotanya dengan uang, seorang penjaja yang dimanapun dia memijakan kakinya akan selalu rendah dipandang semua mata,aku mengetahui semua itu dari nenekku sendiri. Ibu ku pun dulu seorang pendurhaka,prilakunya yang awut-awutan berhasil mempercepat proses kematian Ayahnya.Seluruh keluarganya menjahuinya, tidak sedikit dari keluarganya yang tidak mengakuinya lagi,menganggapnya sudah mati,bahkan Ibunya sendiri yang merupakan nenekku,belum mampu merestui hidupnya,sampai detik ini. Profesi Ibu,akhirnya menbuahkan hasil,yakni diriku,tapi Ibu tidak dapat menerima semuanya,dia melakukan berbagai cara untuk melenyapkan aku,tanpa mendengarkan terlebih dahulu tangisanku dan melihat tawaku. Tapi semua usahanya gagal,atas izin Tuhan aku dapat lahir ke dunia ini,tapi dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Aku ketahui semuanya dari sepupu Ibu,Tante Ira,yang kelihatannya juga sangat membeci Ibu. Walaupun Cuma Dia Satu-satunya Keluarga Ibu yang masih mau mengunjungi Ibu dan aku
Aku cacat… Mungkin Tuhan menghukum Ibu, tapi mengapa aku yang menanggung semua dosanya,aku lah yang menderita atas semua perbuatan Ibu.

“Ibu jahat,,kenapa ibu melimpahkan semua dosa ibu kepadaku,seharusnya ibulah yang menderita, bukan aku” aku berteriak-teriak menyudutkan Ibu,Ibuku sendiri

“Mina,andai Tuhan dapat mengganti posisi mu ke posisi Ibu,bukanlah suatu masalah memahami penderitaanmu bagiku Nak,senyummu jauh lebih berharga daripada nyawaku sendiri,lebih berharga dari hidupku,Mina,,,,” Ibu mengentikan sebentar perkataannya,aku tau dia menahan sesak nafasnya Aku tahunya ulu hatinya sakit,terluka


“Mina, satu-satunya yang membuat aku bertahan di dunia ini hanya dirimu, memang semuanya salahku,,,maafkan Ibu Mina,,Ibu Menyanyangimu” setelah berkata itu Ibu beranjak pergi keluar rumah,aku tak peduli Ia hendak kemana,yang aku rasakan hanya perasaan benci yang sangat dalam padanya. Aku membecinya..
Aku Punya sejuta alasan untuk membecinya.karena Ia ,aku tak bisa punya masa depan ,karena ia aku tak bisa menikmati Indahnya hidup layaknya gadis remaja lainnya,karena Ia pula semua teman-teman ku memandang ku hanya dengan sebelah mata.,Teman-temanku punya panggilan khusus untukku,”Manusia Alien”. Tentu saja mana ada manusia bumi yang keadaannya memilukan seperti keaadaanku.

Aku pantas Membencinya….


* * *





Lembayung sedang menatap senja,,
Langit kemerahan,,Suara adzan Maghrib berkumandang,,aku tau malam akan membius siang tadi, menjadi sangat pekat.Ibu belum pulang,aku tidak tau dia dimana,tepatnya lagi aku tidak mau tau,tanpa ibu aku masih bisa menggunakan kursi rodaku untuk merangkak,dan tanpa Ibu aku masih dapat mempergunakan sisa tubuhku untuk mengambil apa yang aku inginkan. Jelas saja ,aku sudah terbiasa melakukannya.

“Mina, Ibu membawakan sesuatu untukmu”… Lepas Ibu yang baru saja datang,lewat pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu,dengan senyum,senyum kepuasan

“Oh ya,apa yang Ibu bawa?? Apa Ibu membawa sepasang kaki untuk aku berjalan,atau apakah ibu membawa tangan untuk aku gunakan,atau kah Ibu membawa salah satu mataku untuk aku melihat,apa yang ibu bawa??” sahut ku ketus. Masih penuh dengan kebencian. Tapi Ibu tersenyum,

“Bukan,Ibu membawa sesuatu yang lebih penting daripada yang kau ucapkan tadi, Ini,,,” Ibu melambaikan dua lembar kain putih kepadaku,Aku Mengerti… Mukena.


“Ini Jauh Lebih penting dari apa yang kau sebutkan tadi,dengan kain ini kau dapat melihat seberapa berharganya dirimu ,kau tidak hanya dapat berjalan di muka bumi ini,tapi kau pasti bisa terbang di Syurga Allah,kau tidak hanya memiliki tangan ,tapi Rabbi akan memberikan sepasang sayap kepadamu,kau tidak hanya dapat melihat bahkan satu matamu itu akan menjadi pengganti sinar Matahari,nanti. Pakailah Nak,,, pakailah Jubah Suci ini untuk menghadap Rabb mu pakailah untuk meminta kebahagian mu ,kebahagian yang nyata,Nantinya,,,” Tegas Ibu.kata-kata Ibu sempat membuat pikiran ku terlena walaupun hanya sebentar.


“Tidak ada Jubah yang suci dari tangan yang kotor” Sahutku ,

“Mina,begitu banyakkah benci mu kepadaku???,Tanya Ibu, dadanya kelihatan sesak.

“Iya ,Begitu Bu’” ketus ku padanya

Kami tak berbicara apa lagi, suara mobil jelas seperti berpakir di depan halaman, Ibu menghentikan tangisnya dan berjalan membuka pintu. Tampak Olehku seorang wanita tua memakai kerudung hijau muda,Rautnya sangat jelas di mata satuku, aku mengenalnya, Dia Nenekku
Tentu saja aku tau .walaupun cacat tapi aku tidak gila. Aku masih ingat terakhir Nenek mengunjungi Aku dan Ibuku 2 tahun yang lalu

Nenek,lansung memelukku dan mengusap licin kepalaku,tanpa mengindahkan Ibu

“Apa kabar,Mina??,kata nenek ramah

“Baik , Nek” sahutku tanpa ekspresi,dalam hati aku senang juga Nenek masih perhatian padaku

“Isah,aku kan membawa putrimu kerumahku,aku ingin beberapa hari ini bersamanya,sebelum aku berangkat ke tanah suci” kata nenek tanpa sedikitpun memandang wajah Ibu,tapi suaranya lebih rendah seperti suara penuh keparauan
Ibu tidak dapat,berkata apa-apa. Dia seperti tidak punya hak untuk menolak permintaan nenek. Aku dapat meraba dengan jelas rona muka Ibu,dia pasti sedih,aku tau dia menyayangiku,tapi apa boleh buat.aku membencinya.

Sampai aku berada di dalam mobil Ibu,,masih diam seribu bahasa,apa karena Ia tidak sanggup menatap mata Nenek atau Karena Dia begitu menyayangi ku sehingga tak rela berpisah denganku walau hanya untuk beberapa hari.aku lekat-lekat menatap mata Ibu,entah kenapa hari Ini begitu berbeda kulihat, Lebih dalam…………
Entahlah,,,aku tak peduli



* * *

Rumah Nenek,sangat jauh dari Rumah Ibuku,kami sampai ke rumah nenek lewat tengah malam, Sopir nenek membantuku untuk turun dari mobil dan menggendongku duduk diatas sofa,aku memang merepotkan banyak orang.
Aku kira nenek akan menyuruh untuk segera Istirahat, tapi…


“Nenek tau kau pasti sangat lelah,Mina. Tapi nenek tidak sanggup lagi menahan semuanya,nenek ingin memohon padamu”.kata nenek melukiskan lipatan di dahi ku,kau tidak tau pa maksudnya,,, Aku Diam…,nenek melanjutkan perkataannya

“Mina,tidak ada satu pun Ibu,di dunia ini yang tidak mengasihi anaknya, seperti itupulalah rasa kasihku kepada Isah,Ibumu. Berapa pun besar dosanya,tidak ada yang dapat mengingkari bahwa nafas yang ada di dalam paru-paru Ibumu adalah darahku, aku mencintainya Mina,seberapa besarpun luka yang Dia goreskan di hatiku, aku tetap mencintainya, seperti aliran mata air syurga,sebegitulah putihnya sayangku padanya,”

Nenek Mengentikan bicaranya,melepaskan air matanya,dan berkata lagi sampai terisak.

“Jangan pernah kau mengukur,rasa cintamu kepada Ibumu sendiri,karena masa lalunya. Dia sangat mencintaimu seperti aku mencintainya,Aku tau sudah berapa banyak penderitaan yang dialami oleh Ibumu,dari waktu dia mengandungmu,hingga sekarang dan….” Aku memotong pembicaraan nenek

“Dan bagaiman cara dia untuk menngugurkan aku,??” sahutku emosi,

“Demi Tuhan Mina,Ibumu memang tidak menghendaki kehamilan itu,tapi sedikitpun dia tidak pernah mencoba untuk melenyapkan kau dari bumi ini,semua yang kau dengar tentang kejelekan Ibumu,dari Ira,tidak benar. Suamiku lah yang bersikeras untuk menggugurkan kandungan Ibumu,suamiku lah yang tidak menghendaki kelahiranmu,suamiku lah yang menyebabkan kecacatanmu,suamiku juga yang mengusir Ibumu ketika ia tetap mempertahankan nyawamu di dunia ini.Ibumu memang pernah berbuat salah,kesalahan terbesarnya yang membuat seluruh keluarga ini,membencinya adalah karena Ibumu tetap bersikeras mempertahankan kehidupanmu di dunia ini. Kesalahan itulah yang membuat suamiku meninggal.”

“Mina,Ibumu tidak pernah memberitahu siapa ayah dari janin yang Ia kandung kepada kami,tanpa alasan yang jelas,itu juga penyebab kenapa aku dulu begitu membencinya,bagiku dulu ia seperti pelacur jalanan,tapi itu dulu Mina ,sebelum aku mengetahui jika Ibumu,hamil bukan karena Ia menjajakan kehormatannya tapi karena kehormatannya telah dirampas ,Mina,Kehormatan Ibumu,dirampas oleh suami Diah,kakak Ibumu,aku pun,baru mengetahuinya beberapa minggu ini,Dian dan Suaminya telah kuusir dari rumahku beberapa hari yang lalu,karena mereka berdua telah menyembunyikan semua kenyataanya dariku.” Nenek terisak

Segenap hatiku luluh lantah,Rabbi,,, Ibuku…..

“Ibumu melawan semua getirnya dunia sendirian.dia dihina,dicaci,di jauhi,bahkan dikucilkan oleh semua orang ,dia membangun semua kehidupannya dengan air mata.Banyak sudah penderitaan nya ,Mina. Penderitaanya untuk memilikimu,Penderitaannya untuk menikmati senyumanmu, Penderitaannya untuk mendengarkan tawamu,penderitaan nya untuk mendekap tubuhmu, dia mencintaimu Mina ,Wanita Suci itu mencintaimu.Kau beruntung memilikinya..kau tau maksudnya tidak memberi tahu kami tentang siapa yang telah menanam benih di rahimnya,adalah untuk terus melindungi kebahagiaan Dian,kakaknya.
Kasihan dia,,,”


Aku merasakan sesak nafasku,dadaku tersiram sejuk dengan hujan perkataan nenek,aku ingin memeluk Ibu…..

“Nenek,Dosaku begitu banyak padanya,aku ingin memeluknya” kataku penuh permohonan


“Aku tau bagimana perasaanmu,Mina, dosaku pun begitu besar padanya,bahkan aku sendiri tidak sanggup menatap wajahnya,wajah putriku sendiri,karena terlampau banyak aku membuatnya menderita,” Nenek memelukku,perkataan nenek yang hanya 1 jam ini mampu merobokan Tembok kebencianku yang sudah terbangun beberapa tahun lamanya,entah sejak kapan aku ingin sekarang sedang berada si rumah dan memeluk Ibu,dengan sisa tangan ku,melihatnya dengan sisa mataku,aku ingin bersama Ibu…
Ibu,,,,



Malam itu juga aku meminta Nenek,mengantar kan aku kembali kerumah,aku ingin bersama Ibu,aku ingin bersama Ibu,aku ingin bersama Ibu,,, Sekarang dan selamanya


* * *


Aku sampai di rumah sudah ketika pagi hari,aku masuk kerumah dengan bantuan nenek,aku tak berkata apa-apa,aku hanya ingin melihat dan memeluknya dan untuk mengatakan betapa pula aku juga sangat mencintainya.
Nenek mendorong kursi rodaku menuju kekamar Ibu,aku melihat Ibu masih tertidur pulas,aku menatap nenek,meminta izin untuk membangunkan Ibu,nenek mengangguk,tanda setuju.

Tak sanggup Aku menahan air mataku,air mata durhakaku,air mata dosaku kepada seorang wanita yang mempertaruhkan seluruh hidupnya demi aku,seorang wanita tiap malam selalu mendo’akan kebahagiaanku, seorang wanita yang tiap harinya,selalu aku benci.yang selalu aku tikam tulang rusuknya,yang selalu kuludahi mukanya dengan perkataan –perkataan jahanam ku. Ku menyesal Ibu,,Aku tidak adil padamu,,, Aku minta maaf Ibu,,,,,

Maaf,,,,,

Tetapi,jantungku seperti terhenti menyaksikannya,Ibu ku terbaring kaku di atas tempat tidur, tidak kurasakan hawa hangat mengaliri tubuhnya,,aku menjerit….

Ibuku telah pergi,,,,
Membawa semuanya,,,
Ibuku pergi masih dengan pisau yang kutancapkan di hatinya tanpa aku sempat menarik kembali pisau itu.
Ibuku Pergi dan meninggalkan dosa di hidupku
Ibuku pergi tanpa merasakan dulu pelukanku..
Ibuku pergi tanpa mendengar kata maafku


Rabb,, mafkan aku,,

Di samping jasad Ibu,nenek mengambil sebuah kain sulaman bunga,hatiku semakin terenyuk membaca tulisan nya ada nama “MINA”,yang dilapisi oleh darah Ibu,,,

Ibu,,, pergi meninggalkan ku pada pagi ini,hari dimana aku ingin mengecup jantungnya,kata maafku terembus sia-sia bersama aliran nafasnya.
Sesalku dalam untuk dirasakan
Sesalku tajam untuk dihunuskan
Sesalku terlalu mati untuk dihidupkan
Terlalu hitam untuk diputihkan
Terlalu besar untuk ku kecilkan

Jantungku benar tepat di tikam
Dosaku besar,,


SESAL INI ABADI


Jambi,14 Desember 2007

Sonnet 55

15 Juli 2009

William Shakespeare (1564–1616)

Not marble, nor the gilded monuments
Of princes, shall outlive this powerful rhyme;
But you shall shine more bright in these contènts
Than unswept stone, besmeared with sluttish time.
When wasteful war shall statues overturn,
And broils root out the work of masonry,
Nor Mars his sword nor war's quick fire shall burn
The living record of your memory.
'Gainst death and all-oblivious enmity
Shall you pace forth; your praise shall still find room
Even in the eyes of all posterity
That wear this world out to the ending doom.
So, till the judgment that yourself arise,
You live in this, and dwell in lovers' eyes.

Give All to Love

14 Juli 2009

Ralph Waldo Emerson

Give all to love;
Obey thy heart;
Friends, kindred, days,
Estate, good-fame,
Plans, credit, and the Muse,—
Nothing refuse.

'Tis a brave master;
Let it have scope:
Follow it utterly,
Hope beyond hope:
High and more high
It dives into noon,
With wing unspent,
Untold intent;
But it is a God,
Knows its own path
And the outlets of the sky.

It was never for the mean;
It requireth courage stout.
Souls above doubt,
Valor unbending,
It will reward,—
They shall return
More than they were,
And ever ascending.

Leave all for love;
Yet, hear me, yet,
One word more thy heart behoved,
One pulse more of firm endeavor,—
Keep thee to-day,
To-morrow, forever,
Free as an Arab
Of thy beloved.

Cling with life to the maid;
But when the surprise,
First vague shadow of surmise
Flits across her bosom young,
Of a joy apart from thee,
Free be she, fancy-free;
Nor thou detain her vesture's hem,
Nor the palest rose she flung
From her summer diadem.

Though thou loved her as thyself,
As a self of purer clay,
Though her parting dims the day,
Stealing grace from all alive;
Heartily know,
When half-gods go,
The gods survive.

The Caterpillar

10 Juli 2009

Anna Laetitia Barbauld (1743 – 1825)

No, helpless thing, I cannot harm thee now;
Depart in peace, thy little life is safe,
For I have scanned thy form with curious eye,
Noted the silver line that streaks thy back,
The azure and the orange that divide
Thy velvet sides; thee, houseless wanderer,
My garment has enfolded, and my arm
Felt the light pressure of thy hairy feet;
Thou hast curled round my finger; from its tip,
Precipitous descent! with stretched out neck,
Bending thy head in airy vacancy,
This way and that, inquiring, thou hast seemed
To ask protection; now, I cannot kill thee.
Yet I have sworn perdition to thy race,
And recent from the slaughter am I come
Of tribes and embryo nations: I have sought
With sharpened eye and persecuting zeal,
Where, folded in their silken webs they lay
Thriving and happy; swept them from the tree
And crushed whole families beneath my foot;
Or, sudden, poured on their devoted heads
The vials of destruction.--This I've done
Nor felt the touch of pity: but when thou,--
A single wretch, escaped the general doom,
Making me feel and clearly recognise
Thine individual existence, life,
And fellowship of sense with all that breathes,--
Present'st thyself before me, I relent,
And cannot hurt thy weakness.--So the storm
Of horrid war, o'erwhelming cities, fields,
And peaceful villages, rolls dreadful on:
The victor shouts triumphant; he enjoys
The roar of cannon and the clang of arms,
And urges, by no soft relentings stopped,
The work of death and carnage. Yet should one,
A single sufferer from the field escaped,
Panting and pale, and bleeding at his feet,
Lift his imploring eyes,-- the hero weeps;
He is grown human, and capricious Pity,
Which would not stir for thousands, melts for one
With sympathy spontaneous:-- 'Tis not Virtue,
Yet 'tis the weakness of a virtuous mind.

Air yang Menakutkan

Cerpen Alimuddin Silakan
Dimuat di Suara Pembaruan 07/05/2009

Mengapa tak saja angin pantai yang membunuh? Mengapa tiada juga petir
kesepian yang menarik lembaran-lembaran nyawa?

Mengapa musti air yang menjadi makhluk Malaikat Maut Izrail?

Aku sukai air. Air seumpama bayi bidadari yang tengah mengikat mimpi
di jendela-jendela langit. Berkulit mengesankan. Miliki harum kasturi
menghanyutkan.

Aku sukai air. Kemudian air mencurah dari atap-atap langit. Melalui
atap-atap rumbia berenang-renang di tanah daratan. Bernyanyi-nyanyi di
tanah sawah bersama bocah-bocah petani.

***

Aku idam sekali rumah kayu yang punyai pilar-pilar gagah.
Dinding-dinding rumah penuh dengan tulisan kaligrafi mengesankan.
Rumah itu rumah idaman untuk orang-orang yang tergila-gila akan
kenangan pahlawan bangsa.

Memasak di rumah dapur1. dua jendela--hanya cukup untuk mengisi
setengah badan di sisi barat dan sisi timur. Jendela-jendela itu akan
beri sinar matahari untuk rumah. Menyimpan dan mengambil padi di
lumbung padi.

Anak-anak akan riuh bermain kelereng di bawah rumah. Sebagian
mempermainkan jingki penumbuk padi yang sebenarnya tidak boleh
dimain-mainkan. Sebagian berputar-putar di pilar-pilar kokoh rumah.
Sisanya mungkin akan bergelayut di cabang-cabang delima demi dapati
buah yang masak.

Rumoh Aceh. Rumah manyang (tinggi) Aceh. Begitulah namanya.

Tapi di mana kini?

Petang kemarin, Sakdiah datang ke rumah bantuan kami yang gersang.
Segersang wajah mukaku. Matahari masih merdeka--meski petang. Sinarnya
menyengat sebab tiada badan pohon menghalau cahaya itu agar kembali ke
awan langit.

Tangan kiri Sakdiah menjinjing rantang yang mengeluarkan harum.

Berbinar sakdiah berkata,"Kuah pliek2 ini aku bikin sendiri. Tidak
pedas biar kamu suka, Fauziah."

Ia amati garis mukaku yang tidak bersemengat.

Mengapa masih hidup dengan kenangan buruk Fauziah?

Sakdiah, baru empat tahun, mengapa telah lupakan kenangan?

Ia menggulung-gulungku Sakdiah--Kamu juga kan? Aku dibawa ke samudera
lepas. Ia mengkaramkan Mak, abi dan Dek Nong. Ia menyeret rumah
manyang idaman kita.

"Ah, Fauziah.."

Hingga kapanpun aku tak tahu harus menjawab apa. Mengapa masih hidup
dengan kenangan buruk, Fauziah?

Lupakan kenangan buruk fauziah. Empat tahun bukan waktu yang pelan
untuk melupakan.

Sakdiah. Sakdiah. Ini saja yang kau ulang-ulang.

"Laki-laki pendamping hidup akan buat kau lupakan kenangan buruk, fauziah!"

Sakdiah pulang.

Laki-laki pendamping hidup? Seperti Mala yang berbahagia?

Hujan. Air dari langit mencurah. Mengapa aku tak sadar? Melengking aku
memanggil masyik (nenek).

Masyik berjalan lahan-perlahan seolah tidak tengah mengalami hal parah
di luar. "Hujan adalah anugerah Fauziah. Air hujan akan menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan."

"Hujan ini raya masyik," aku berlari ke muka jendela. Aku menunjuk
biji-biji hujan yang seperti terpeleset dari badan langit.

Hujan akan semakin raya masyik. Hujan ini akan lahirkan samudera. Lalu
ombak besar akan datang. Menggulung-gulung kita.

Danau mataku telah banyak memenjarakan bintang.

Suara bahagia anak-anak lahir di jalanan. Anak-anak itu girang kejar-mengejar.

"Lihat mereka yang tergila-gila dengan hujan fauziah. Hujan-hujan ini
tidak akan menggulung kita. Hujan ini adalah rahmat."

"Suruh anak-anak itu pulang masyik! Sebentar lagi hujan ini akan
memanggil gelombang besar.."

"Oiii.. Pulang cepat!!"

"Po (Ya) Allah rabbi, kapan derita ini aka

Aku sukai hujan. Dulu. Aku sukai laut. Dulu. Aku jatuh cinta dengan
air sumur. Dulu. Aku tergila dengan jernihnya air sungai. Dulu.
Diam-diam aku juga masih simpan ingin untuk mencebur badan ke kali?
Dulu.

Dulu. Sebelum gelombang besar itu datang dan membuat karam.

***

Yang kau butuh cuma laki-laki pendamping hidup untuk lupakan kenangan
buruk, fauziah.

Terkenang-kenang aku dengan ucapan Sakdiah.

Aku bergumam, laki-laki? Siapa dia gerangan?

Suara masyik merdu mengaji. Hujan petang telah pergi. Tapi sepertinya
akan datang lagi--yang membuatku berjaga. Sebab angin begitu
hilir-mudik di sekitar rumah kami.

Aku tidak boleh lengah. Air tak boleh kalahkan aku lagi!

Tapi malam larut telah kalahkan kekuatan mataku. Dan malam itu hujan
kembali mencurah. Lebih deras dari hujan petang.

***

Dengan Manan, pria tampan itu, diam-diam aku simpan suka. Tak pernah
berani aku sebarkan. Bahkan untuk Manan yang kusukai itu. Dulu.
Sebelum gelombang besar itu datang dan membuat karam.

Ketika pagi ini, angin begitu sejuk menerpa badan, hati siapa yang
tidak terkejut ketika temukan yang mengetuk-ngetuk pintu adalah Manan.

Aku merasa mukaku telah merah padam seketika.

Masyik tergopoh menyuruh Manan masuk. Aku temani Manan duduk di ruang
depan sementara masyik akan membuat kopi. Diam begitu diam menguasai
setiap jarak kami.

"Saya baru pulang dari kota semalam masyik,"

Baru ketika masyik telah menghidangkan kopi untuk Manan, diam itu
telah pergi. Meski aku hanya menjadi pendengar yang budiman. Ketika
masyik kembali harus pergi, diam kembali menjadi pembicaraan kami.

Kata Sakdiah muka wajahku tak terlalu layu lagi.

"Manan memegang tanganku Sakdiah,"

Wajah Sakdiah diliputi kaget. Kemudian ujarnya pelan,"betulkan kataku,
laki-laki pendampiang akan buat kau lupakan kenangan buruk."

Telunjuk sakdiah mengarah ke jalanan. Manan tersenyum di atas sepeda motornya.

Ia membawaku jalan-jalan dengan sepeda motornya. Entahlah, atau ini
hanya sekedar perasaan sesaat, laki-laki pendamping akan buatku
lupakan segala kenangan buruk.

Di antara deru sepeda motor Manan berkata,"aku ingin menikahimu Fauziah…"

Terpaksa kupeluk pinggang Manan agar tubuhku tak terjerambab.

***

Petang ini aneh, Manan mengikat mataku dengan kain hitam berukuran
kecil. Katanya, ia akan bawa aku ke suatu tempat

Manan mengunjungiku setiap petang. Dengan kunjungan itu,
petang-petangku menjadi bunga yang jatuh cinta dengan sang kumbang.

Kurasa betul kini, manna telah buatku lupa akan segala kenangan buruk.
Kurasa kini, aku bisa lagi mencintai air hujan seperti dulu.

Tapi hujan sama sekali tak lagi tercurah.

Kemudian sepeda motor mulai menderu. Aku tidak tahu menahu ke mana
akan dibawa Manan. Sudah kucoba membuka mata, tapi hanya gelap saja
yang kudapati dibalik kain hitam itu.

Lama perjalanan gelap itu. Lama sekali sampai hatiku begitu tidak
sabar ingin tahu. sampai Manan menghentikan laju sepeda motornya.
Telingaku menangkap bunyi-bunyi yang menghempas-hempas. Di mana ini?
Angin pun begitu kuat menampar-nampar. Di mana ini?

Manan membuka kain hitam yang menyiksa penglihatanku.

Kurasa mata laut lepas itu akan menerkamku! Kurasa nyawaku tengah
ditarik si Malaikat Maut.

Ia menggulung-gulungku. Menghantam kepalaku. Menganyutkan aku hingga
timbul-tenggelam. Aku dibawa ke samudera lepas. Ia mengkaramkan Mak,
abi dan Dek Nong. Ia menyeret rumah manyang idaman.

"Fauziaahhh…." .***

An Evening Song

06 Juli 2009

Sidney Lanier 

Look off, dear Love, across the sallow sands, 
And mark yon meeting of the sun and sea, 
How long they kiss in sight of all the lands. 
Ah! longer, longer, we. 
Now in the sea's red vintage melts the sun, 
As Egypt's pearl dissolved in rosy wine, 
And Cleopatra night drinks all. 'Tis done, 
Love, lay thine hand in mine. 
Come forth, sweet stars, and comfort heaven's heart; 
Glimmer, ye waves, round else unlighted sands. 
O night! divorce our sun and sky apart 
Never our lips, our hands.

Dear, I to thee this diamond commend

Sir John Harrington 

Dear, I to thee this diamond commend, 
In which a model of thyself I send. 
How just unto thy joints this circlet sitteth, 
So just thy face and shape my fancy fitteth. 
The touch will try this ring of purest gold, 
My touch tries thee, as pure though softer mold. 
That metal precious is, the stone is true, 
As true, and then how much more precious you. 
The gem is clear, and hath nor needs no foil, 
Thy face, nay more, thy fame is free from soil. 
You'll deem this dear, because from me you have it, 
I deem your faith more dear, because you gave it. 
This pointed diamond cuts glass and steel, 
Your love's like force in my firm heart I feel. 
     But this, as all things else, time wastes with wearing, 
     Where you my jewels multiply with bearing.

At Last

02 Juli 2009

Elizabeth Akers Allen

At last, when all the summer shine
That warmed life's early hours is past,
Your loving fingers seek for mine
And hold them close—at last—at last!
Not oft the robin comes to build
Its nest upon the leafless bough
By autumn robbed, by winter chilled,—
But you, dear heart, you love me now.

Though there are shadows on my brow
And furrows on my cheek, in truth,—
The marks where Time's remorseless plough
Broke up the blooming sward of Youth,—
Though fled is every girlish grace
Might win or hold a lover's vow,
Despite my sad and faded face,
And darkened heart, you love me now!

I count no more my wasted tears;
They left no echo of their fall;
I mourn no more my lonesome years;
This blessed hour atones for all.
I fear not all that Time or Fate
May bring to burden heart or brow,—
Strong in the love that came so late,
Our souls shall keep it always now!

A Pretty Woman

Robert Browning

That fawn-skin-dappled hair of hers,
And the blue eye
Dear and dewy,
And that infantine fresh air of hers!

To think men cannot take you, Sweet,
And enfold you,
Ay, and hold you,
And so keep you what they make you, Sweet!

You like us for a glance, you know---
For a word's sake
Or a sword's sake,
All's the same, whate'er the chance, you know.

And in turn we make you ours, we say---
You and youth too,
Eyes and mouth too,
All the face composed of flowers, we say.

All's our own, to make the most of, Sweet---
Sing and say for,
Watch and pray for,
Keep a secret or go boast of, Sweet!

But for loving, why, you would not, Sweet,
Though we prayed you,
Paid you, brayed you
in a mortar---for you could not, Sweet!

So, we leave the sweet face fondly there:
Be its beauty
Its sole duty!
Let all hope of grace beyond, lie there!

And while the face lies quiet there,
Who shall wonder
That I ponder
A conclusion? I will try it there.

As---why must one, for the love foregone,
Scout mere liking?
Thunder-striking
Earth---the heaven, we looked above for, gone!

Why, with beauty, needs there money be,
Love with liking?
Crush the fly-king
In his gauze, because no honey-bee?

May not liking be so simple-sweet,
If love grew there
'Twould undo there
All that breaks the cheek to dimples sweet?

Is the creature too imperfect,
Would you mend it
And so end it?
Since not all addition perfects aye!

Or is it of its kind, perhaps,
Just perfection---
Whence, rejection
Of a grace not to its mind, perhaps?

Shall we burn up, tread that face at once
Into tinder,
And so hinder
Sparks from kindling all the place at once?

Or else kiss away one's soul on her?
Your love-fancies!
---A sick man sees
Truer, when his hot eyes roll on her!

Thus the craftsman thinks to grace the rose---
Plucks a mould-flower
For his gold flower,
Uses fine things that efface the rose:

Rosy rubies make its cup more rose,
Precious metals
Ape the petals,---
Last, some old king locks it up, morose!

Then how grace a rose? I know a way!
Leave it, rather.
Must you gather?
Smell, kiss, wear it---at last, throw away!