Sonnet 46

31 Agustus 2009

William Shakespeare

Mine eye and heart are at a mortal war,
How to divide the conquest of thy sight;
Mine eye my heart thy picture's sight would bar,
My heart mine eye the freedom of that right.
My heart doth plead that thou in him dost lie,
A closet never pierc'd with crystal eyes
But the defendant doth that plea deny,
And says in him thy fair appearance lies.
To side this title is impannelled
A quest of thoughts, all tenants to the heart;
And by their verdict is determined
The clear eye's moiety, and the dear heart's part:
As thus; mine eye's due is thy outward part,
And my heart's right, thy inward love of heart.

Tanah Merah

28 Agustus 2009

Ketika ia bersandar pada pagar kapal yang akan membawanya pergi dari
Tanah Merah, seluruh peristiwa yang telah dialaminya hampir setahun
sebelumnya bagai berputar kembali di pelupuk matanya. Hidupnya sendiri
adalah rangkaian petualangan demi petualangan yang tak berkesudahan.
Semula ia adalah seorang pahlawan untuk negerinya, negeri Belanda yang
telah menguasai bumi Hindia Belanda selama ratusan tahun. Semua orang
yang tahu atau pernah mendengar tentang peristiwa Banten yang
menggegerkan itu sudah barang tentu telah mendengar keharuman namanya.
Oleh tindakan kepahlawanan itu Pemerintah Hindia Belanda telah
menganugerahkan sebuah bintang kehormatan kepadanya. Orang-orang
mengelu-elukannya. Ia mendapatkan undangan pesta dari para pejabat
militer Batavia dan orang-orang yang ingin mendengarkan kisah
pertempuran yang telah ia alami, bunyi letusan senapan dan jerit
mengerikan ketika tubuh meregang nyawa. Sungguh, memabukkan.
Beberapa bulan setelah ia berhasil menumpas pemberontakan kaum merah
di Banten, Pemerintah Batavia menunjuknya sebagai komandan ekspedisi
yang pertama-tama untuk masuk ke Digul dan mempersiapkan kamp
pembuangan bagi kaum interniran yang telah memenuhi penjara-penjara di
Jawa dan Sumatera.
"Apakah Gubernur Jenderal sudah gila? Digul adalah daerah terpencil,
hutan-hutan lebat yang belum dijamah kecuali oleh penduduk rimba
setempat dan para petualang Tionghoa. Aku mendengar dari orang-orang
yang melakukan ekspedisi ke sana untuk mencari emas bahwa Digul adalah
belantara yang dipenuhi para pengayau. Bagaimana kaum interniran bisa
hidup di sana?" tanyanya kepada Letnan Drejer, opsir yang juga
mendapatkan perintah untuk menemaninya masuk belantara Digul.
"Tampaknya tuan Gubernur Jenderal de Graeff ingin meniru bangsa Rusia.
Bukankah di Rusia terdapat pembuangan yang terkenal di seluruh dunia?
Siapa tak mengenal Siberia, neraka bagi siapa pun warga Rusia yang
berontak atau menjadi bajingan!" ujar Letnan Drejer sambil tersenyum
kecut.
"Kita bukan bangsa Rusia dan Siberia lain dengan Digul, Letnan. Digul
hutan lebat. Apa yang bisa diharapkan dari daerah seterpencil itu?
Kalau kita membuka hutannya, masalah mengerikan lain telah menunggu:
malaria! Bukankah itu sama saja dengan mengirimkan kaum interniran itu
ke lembah kematian?"
"Saya tak takut dengan malaria, Kapten. Tapi tinggal di hutan lebat
semacam Digul sama saja dengan menyerahkan kepala kita kepada para
pengayau atau para kanibal hitam di sana. Itulah yang saya takutkan,"
ujar Letnan Drejer dengan kepala bergidik.
"Hehm, benar. Dan kita, kaum terhormat yang baru saja mendapatkan
bintang kehormatan dari tindakan militer, harus mengotorkan tangan
dengan tindakan memalukan. Sungguh keterlaluan orang-orang Batavia!"
"Yang lebih mengherankan, bukankah Gubernur Jenderal de Graeff itu
terkenal berbudi baik, Kapten? Bagaimana ia bisa membuat
keputusan-keputusan yang mengerikan seperti membuka kamp pembuangan?"
ujar Letnan Drejer tak mengerti.
"Apalah artinya seorang gubernur jenderal berbudi baik bila sistemnya
telah diracuni oleh para pejabat berhati kotor? Merekalah yang tak
ingin kedudukannya terancam dengan ulah para pemberontak yang ingin
menjatuhkan kekuasaan. Dan, untuk menangkal ancaman tersebut, tindakan
kotor pun buat mereka tak apa-apa dan tak ada salahnya dilakukan."
Letnan Drejer mengangkat bahu. Dipandangnya punggung Kapten Becking
yang jangkung itu. Rasa hormatnya yang tinggi tak pernah lenyap
terhadap lelaki ksatria yang beranjak tua ini. Di luar dinas
militernya, opsir berambut putih itu sungguh terpelajar. Satu minggu
sebelumnya Kapten Becking telah meminta bawahannya untuk mencari
segala pengetahuan yang ada hubungannya dengan Digul dan bumi hitam di
ujung timur Hindia itu. Sementara para prajurit dan opsir bawahannya
membual dan membayangkan petualangan di tanah mereka yang akan mereka
lakukan, ia justru tenggelam dengan buku-buku dan tumpukan laporan
tentang Digul dan wilayah New Guinea secara umum. Ia gemar sekali
membicarakan suku-suku pedalaman yang tinggal di hutan belantara itu
dan di sepanjang Sungai Digul, kebaikan-kebaikan mereka dan kesukaan
mereka dalam mengayau. Tak jarang ia mengingatkan Letnan Drejer akan
kebuasan alam tempat baru itu dan berujar ia akan menundukkannya
secepat mungkin.
Satu minggu sebelum bulan Januari 1927 berakhir kapalnya yang membawa
120 serdadu dan 60 kuli paksa dengan kaki dirantai memasuki Sungai
Digul dan membuang sauhnya pada jarak ratusan kilometer dari pantai.
Hujan tipis tak menghalanginya untuk keluar dari kapal, memandang ke
arah hutan lebat maha luas dan tampak buas dalam bayangannya. Dari
tabir tipis gerimis ia masih bisa menangkap keluasan hijau yang
terbentang di depan matanya, daerah sunyi yang oleh Gubernur Jenderal
de Graeff telah dipilih sebagai kamp pembuangan kaum interniran merah
yang memberontak itu. Tubuhnya yang jangkung dan rambutnya yang
memutih bergoyang-goyang oleh kapal dan angin yang bertiup cukup
keras. Ia menggelengkan kepala dan menarik napas dalam-dalam.
"Di sinikah tahanan politik itu disembunyikan dari masyarakatnya,
ataukah justru dikuburkan untuk selama-lamanya?"
Lama ia berdiri di pagar kapal, mengamati hutan belantara dan
buaya-buaya yang berjemur dengan moncong terkatup di pinggir sungai.
Ia membayangkan suku-suku pedalaman yang nanti akan terganggu oleh
pekerjaan barunya. Sayang ia tak bisa mundur lagi. Dengan seluruh
perasaan bersalah mengeram di dalam dadanya, ia menekan hasrat
kemanusiaannya yang terus menggemakan pertanyaan demi pertanyaan. Ia
menggenggam bintang kehormatan yang tersemat di dadanya dengan
perasaan terhina dan masuk kembali ke kapal menemui Letnan Drejer dan
segenap prajurit bawahannya.
Setelah berunding beberapa saat, mereka menurunkan seluruh keperluan
pembukaan hutan dan perbekalan hidup mereka untuk masa tiga bulan.
Kecuali pakaian dan perlengkapan anak buahnya, terdapat alat-alat
duduk dan tidur, barang pecah belah, alat pertanian dan persediaan
benih, lalu kaleng minyak tanah yang isinya tidak lain bahan-bahan
makanan. Para kuli paksa dan sebagian besar serdadu membuka hutan
dengan model setengah lingkaran terlebih dahulu sebagai tempat untuk
mendirikan kemah dan tenda mereka. Sementara sebagian kecil serdadu
menjaga bahan persediaan makanan dan segala barang perlengkapan yang
telah diturunkan dari kapal.
Ketika kegelapan menyelimuti mereka, di tengah-tengah tenda dan kemah
baru diletakkan lampu stormking. Kapten Backing dan seluruh
pengikutnya bersiap-siap dengan serbuan pertama-tama manusia hutan
Digul. Pada tengah malam, ketika keletihan telah merayapi tubuh
mereka, tiba-tiba terdengar jeritan panjang yang datang dari berbagai
jurusan sekalipun tak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan
dirinya di bawah penerangan lampu. Beberapa kuli paksa gemetaran dan
membaca doa keras-keras, mengira suara-suara jeritan dari balik hutan
sebagai kemarahan hantu-hantu hutan yang pepohonannya telah mereka
babat. Namun, Kapten Becking dan sebagian besar serdadu yang dibawanya
yakin itu adalah suara-suara para penghuni hutan yang telah
menyaksikan aktivitas mereka sejak pagi. Setelah ditunggu-tunggu dan
mereka tak juga muncul atau menyerang, seluruh serdadu dan kuli paksa
menarik napas lega.
"Aku yakin mereka tidak buas, sebab kalau mereka buas sudah sejak
semalam mereka akan menyerang kita," ujar Kapten Becking keesokan
harinya.
"Aku harap juga demikian. Kalau mereka buas, pekerjaan kita bakalan
lebih payah lagi," letnan Drejer menimpali dengan kecut.
"Benar. Bagaimanapun tugas berat ini harus cepat selesai, paling tidak
sebelum satu bulan. Di samping tenda-tenda, kita harus mempersiapkan
dua gudang untuk menyimpan seluruh barang-barang yang telah kita bawa,
sebuah rumah sakit, satu stasiun radio dan sebuah kantor pos. Itu
belum termasuk menyiapkan lahan-lahan permukiman bagi kaum interniran
dan lahan pertanian mereka kelak."
"Kantor pos? Sungguh aneh, di sebuah hutan belantara seperti Digul
bagaimana mungkin ada kantor pos? Sungguh konyol gagasan orang-orang
Batavia itu," ujar Letnan Drejer mengejek.
"Sekarang mungkin kita tak membutuhkannya. Namun, nanti, ketika
seluruh kaum interniran itu diangkut ke sini, mereka akan
membutuhkannya. Apakah mereka akan dibiarkan betul-betul merana tanpa
berkirim kabar pada saudaranya di tempat lain. Mereka orang beradab
dan harus tetap berhubungan dengan peradaban."
"Mereka dibuang di sini saja bukan tindakan beradab, Kapten. Jadi
sia-sia saja mereka mencari hubungan dengan orang-orang beradab."
"Itulah yang sebenarnya melukai kehormatanku, Letnan. Aku lebih
terhormat meregang nyawa dalam sebuah pertempuran daripada membuat
tempat penyiksaan semacam ini. Tapi kita mengabdi kepada Gubernur
Jenderal, bukan kepada nurani kita," ujar Kapten Becking sambil
menguap. Tak lama kemudian ia jatuh tertidur.
Begitu terang tanah telah sempurna, mereka kembali bekerja membabat
hutan dan mempersiapkan tanah lapang untuk keperluan tempat tinggal
dan segala bangunan yang akan diperlukan nanti. Serdadu yang berjaga
dan ingin melepas kejenuhan menyusuri sungai dan berburu buaya.
Pada hari kelima, ketika mereka tengah siap memulai pekerjaan setelah
istirahat tengah hari, mereka dikagetkan oleh suara jeritan seperti
empat malam sebelumnya. Dari berbagai arah, dengan hanya berpakaian
bulu burung cenderawasih dan membawa sebuah pepaya di tangan,
manusia-manusia hitam bertubuh atletis itu menampakkan diri di hadapan
para serdadu dan kuli paksa, mencoba menarik perhatian mereka lalu
mendekat selangkah demi selangkah dengan sangat hati-hati. Kapten
Becking, yang telah melakukan studi lama tentang daerah sekitar hutan
ini beserta kebiasaan para penduduknya mendekati mereka dengan dada
berdebar-debar. Busur, panah dan lembing mereka siap bergerak. Namun,
buah pepaya yang ada di tangan para manusia hitam itu yang membuat
Kapten Becking yakin mereka tak akan membuat keonaran.
Dengan tangan gemetar ia mengeluarkan tembakau dari saku celanya dan
dengan bahasa isyarat dari tangan dan wajahnya ia mengajak mereka
menukar tembakau terebut dengan pepaya yang mereka bawa. Begitu mereka
menerima tembakau dan Kapten Becking menerima pepaya, orang-orang
hitam itu bersorak melegakan seluruh pendatang baru itu. Kapten
Becking meminta kepada Letnan Drejer untuk mengambilkan sekantong
garam dan barang-barang perhiasan kecil yang ada di gudang. Ketika
benda-benda itu diberikan kepada pemimpin penghuni hutan, mereka
membalasnya dengan memberikan bulu burung cenderawasih, burung-burung
yang cantik, dan binatang-binatang buruan yang berhasil mereka tangkap
dengan sumpit. Namun, yang paling membuat geli para pendatang baru itu
adalah sikap para penghuni hutan itu kepada gramofon yang mereka bawa.
Benda yang piringan hitamnya sedang berputar itu diangkat, diselidiki,
dan dilihat-lihat dari segala sudut dengan penuh keheranan.
"Mungkin mereka heran bagaimana suara manusia bisa muncul dari
gramofon itu, Kapten," kata anak buahnya sambil tersenyum dan tertawa
terpingkal-pingkal.
"Tentu. Mereka mencari bagaimana benda sekecil itu menyembunyikan
manusia," kata Letnan Drejer sambil tersenyum lebar.
Setelah beberapa minggu segala persiapan awal penyambutan kedatangan
para internitan yang pertama-tama di bekas hutan Digul itu selesai,
secara bergelombang datanglah kaum merah yang telah gagal memberontak
itu, dipisahkan dari bangsanya sendiri dan dikubur di tengah belantara
untuk selamanya. Pada pendatang baru ia memperkenalkannya sebagai
Tanah Merah.
Siapa sangka jika pekerjaan meletihkan dan memalukan itu kemudian
memaksanya berhenti dari dinas militer? Semuanya berawal ketika ia
mengizinkan seorang wartawan berkebangsaan Denmark masuk ke kamp
interniran dan melihat dari dekat segala hasil kerjanya. Kabarnya,
wartawan itu mengambil gambar para interniran selama di dalam kapal
dari Surabaya hingga sampai di Digul. Komandan kapal yang tak ingin
dosa-dosa para pejabat Batavia diketahui secara luas oleh seluruh
dunia merampas kamera dan menghancurkan foto-foto yang telah dibuatnya
selama di kapal. Alangkah murkanya ia ketika Kapten Becking justru
mengizinkan wartawan itu masuk ke kamp pembuangan.
Ia juga tahu para pejabat Belanda di Merauke tak menyukai
keberhasilannya membangun kamp pembuangan itu. Mereka membuat rencana
busuk untuk menyingkirkanya. Suatu kali Letnan Drejer memberitahu
bahwa Opsir Mon Joulah yang mengatur semua itu. "Ia sangat gila
kekuasaan, Kapten," ujar Letnan Drejer muak.
Foto dari wartawan Denmark itu rupanya telah melukai kehormatan para
pejabat Batavia. Mereka makin menyudutkannya atas tindakan ceroboh
memasukkan wartawan ke kamp pembuangan sehingga kabar tentang kamp
pembuangan itu meluas ke seluruh dunia. Saat itulah ia memutuskan
untuk mengirimkan kawat ke Batavia dan mengundurkan diri dari dinas
militer!
Tak akan terlupakan hari keberangkatannya meninggalkan Digul. Ia
berdiri di pagar kapal api, bukan lagi memandang hutan yang hijau
sunyi, namun permukiman yang dibangunnya belum setahun yang lalu
sembari merenungkan nasibnya. Hujan tipis membasahi baju dan rambutnya
yang putih. ***

Sokawangi, Oktober 07

Sonnet 73

26 Agustus 2009

William Shakespeare

That time of year thou mayst in me behold
When yellow leaves, or none, or few, do hang
Upon those boughs which shake against the cold,
Bare ruin'd choirs, where late the sweet birds sang.
In me thou see'st the twilight of such day
As after sunset fadeth in the west;
Which by and by black night doth take away,
Death's second self, that seals up all in rest.
In me thou see'st the glowing of such fire,
That on the ashes of his youth doth lie,
As the death-bed, whereon it must expire,
Consum'd with that which it was nourish'd by.
This thou perceiv'st, which makes thy love more strong,
To love that well, which thou must leave ere long.

Sepatu Tuhan

25 Agustus 2009

Seorang sersan muda sedang mencegah tersangka merebut tas kecil dari
meja ketika Letnan Sardi masuk. Wibawa yang bergelantungan di pundak
Sang Letnan menghentikan keriuhan kecil di ruang interogasi tanpa
sedikit pun tenaga tersia-sia. Si Sersan melepaskan genggamannya,
membiarkan tersangka merebut dan memeluk tas itu erat-erat. Keadaan
terkendali.
Letnan Sardi duduk dengan tenang dan menatap tajam ke depan. Sepotong
masa lalunya kini menggumpal di seberang meja, duduk di kursi sebagai
tubuh rikuh si tersangka. Sardi ingat.
Tersangka itu sahabatnya. Dulu. Sahabat sekaligus, diam-diam, seteru.
Dalam setiap permainan, mereka biasa saling bahu-membahu. Orang-orang
mengenal keduanya sebagai ujung tombak kembar PS. Gunung Terang. Ujung
tombak kembar yang tajam.
Sersan itu melaporkan keadaan. Mengeluhkan, lebih tepatnya. Tersangka
tak mau bicara. Segala cara sepertinya percuma. Sardi menatap penuh
selidik pernyataan anak buahnya, mencari maksud di balik pernyataan
"segala cara".
Ditatap seperti itu, Si Sersan merasa jengah. Ia beranikan diri minta
pamit. Sardi hanya bertanya, "ke mana?" untuk menyatakan sikapnya.
Intonasi pertanyaan itu terang artinya bagi Si Sersan. Permohonannya
ditolak.
"Pelajari caraku menyelesaikan kasus ini."
Sersan mematung tak jauh dari pinggir meja, menyembunyikan sikap
meremehkan yang memenuhi lambungnya. Sersan itu percaya, perbedaan
keduanya sebagai polisi hanya soal di mana pangkat tersemat. Lengan
dan pundak bagaimanapun hanya dipisahkan ketiak, tak perlulah bersikap
congkak.
Letnan Sardi bukan tak dapat merasakan sikap meremehkan ini,
sebagaimana seluruh bawahannya menyimpan sikap serupa. Pagi itu, ia
tak peduli, memilih tenggelam di berkas catatan di depannya.
Asan. Laki-laki. Menikah. Wiraswasta. 29 tahun. 32, ralat Sardi
diam-diam. 3 tahun itu diambil untuk sebuah pertandingan tarkam
sekota, 13 tahun yang lalu. Waktu itu, setiap peserta harus berumur
kurang dari 18. Ia tahu, sebab 3 tahun itu juga diambil darinya.
Sardi melihat ke arah cermin di sisi ruangan, ke arah bayangannya
sendiri, sebelum kembali ke Asan. Mungkin usia bekerja dua kali lebih
kejam pada Asan, ia tampak ringkih dan kering.
Kebanyakan orang tentu heran bagaimana orang seringkih ini bisa
mempunyai kekuatan untuk melakukan kekejian. Asan diduga keras adalah
pelaku pembunuhan Raman Jereng, bandar judi besar kota ini. Tangan
kecilnya telah menghantamkan batu ke tengkuk Raman, menyiramkan
bensin, lalu membakar korbannya. Visum percaya bahwa korban belum
tewas ketika api menyala.
Sardi menoleh ke arah Sersan, bertanya apa isi tas tersangka.
"Sepatu bola, Pak."
Sardi menatap Sersan lekat-lekat. Sersan sempat mengira atasannya
terheran-heran, sebagaimana dirinya tadi. Tapi mengapa Letnan Sardi
tersenyum? Apakah akademi mengajarkan untuk menutupi perasaan heran
dengan tersenyum?
Sardi ingat sepatu itu.
13 tahun yang lalu, sebelum kenal tentara, Raman Jereng cuma bandar
kelas kampung. Ia masih mengotori tangannya untuk menggosok-gosok
pemilu kades atau pertandingan sepak bola.
Sore itu, seusai pertandingan pertama kompetisi tarkam sekota, Raman
datang membawa dua pasang sepatu. Sepatu pertama, yang kemudian
dipakai Sardi, sebenarnya cukup baik. Kulitnya nomor satu, jahitannya
kuat, tiga garis putih membuatnya tampak gagah. Sepatu Kaisar
Bekenbewer, kata Raman.
"Sepatu ini bikin Jerman juara 74," kata Raman. "Lu mau?" Sardi muda
mengangguk. Nantinya, keputusan ini ia sesali seumur hidup.
Raman Jereng selalu punya cerita untuk apa saja. Termasuk untuk
sepatu-sepatunya. Sepatu kedua, yang dihadiahkannya pada Asan, punya
cerita lebih seru.
"Pernah dengar tangan Tuhan?"
Raman menyodorkan sepatu kedua ke tangan Asan. Kulitnya sama nomor
satu, jahitannya sama kuat. Bedanya, sepatu itu bergambar macan
kumbang sedang menerkam. "Sedang terbang," ralat Raman. Ceritanya
belum selesai, masih akan lebih seru.
Raman mengulangi pertanyaan yang sebenarnya tak perlu. "Pernah dengar
tangan Tuhan?" Asan berbinar-binar, tak sadar mulutnya menganga. Sardi
mengangguk berkali-kali.
"Itu sepatunya."
Asan memandangi sepatu itu tak percaya. Sepatu yang biasa dipakainya
adalah sepatu sobek pinjaman Sardi. Salah satu sepatu terburuk dari
koleksi anak sulung juragan kopi itu. Kini ia punya sepatunya sendiri.
Tak tanggung-tanggung, sepatu Tuhan.
Sardi mengulangi kalimat yang ia dengar dari bapaknya. Komentar
mengenai betapa musyriknya julukan Tangan Tuhan. "Hensbol itu tangan
Setan." Sardi bicara sendiri. Asan sibuk menatapi sepatu, Raman sibuk
menatapi Asan.
Sepanjang kompetisi tarkam sekota, sepasang ujung tombak kembar Gunung
Terang mengamuk, demi membentang cita-cita tinggi-tinggi. 7 gol untuk
sepatu Kaisar, 13 untuk sepatu Tuhan. Begitu pun, Asan sebenarnya
cukup membuat satu gol saja. Satu yang mengatasi gabungan seluruh gol
di kompetisi ini.
Di perempat final, Gunung Terang tidak mengendurkan serangan sekalipun
sudah memimpin 1-0. Dalam satu skema serangan, posisi para pemain
tiba-tiba meniru skema gol kedua Argentina di gawang Inggris, sebulan
sebelumnya.
Dari tengah, Asan lepas sendirian. Dua rekan termasuk Sardi mengikuti
dari sayap. Asan terus menggempur. Satu pemain terlewati, lalu satunya
lagi. Pemain ketiga mengira cukup dengan bermain posisi, tapi malah
kalah lari. Pemain keempat memapasi, mengincar kaki, tapi Asan
meliukkan tubuhnya dengan ajaib. Pemain keempat ini bermaksud meniru
meliuk tapi malah kehilangan keseimbangan, terpelanting. Pemain kelima
menghadang dengan emosi tinggi, sudah terkalahkan jauh sebelum
berhadapan dengan Asan. Di depan kiper, Asan, dengan macan di
sepatunya yang entah menerkam atau terbang, menyontekkan bola ke sudut
kiri. Diego Asando Maradona, 2-0, legenda kampung kami.
Setahun setelah gol itu, Sardi mengutuk diri. 7 gol dan 5 umpan
matang, tak seorang pun akan ingat. Bagaimana mungkin? Orang-orang
cuma ingat bahwa di partai semifinal, Gunung Terang dihajar Tunas
Harapan 3-0. Kalau saja Asan main di partai semifinal, ceritanya pasti
lain. Kalau saja di malam sebelumnya tak ada pengendara motor krosboi
melintas, kalau saja bukan Asan yang tersuruk di kolam Haji Sanusi.
Sardi tak mungkin bisa memaafkan kekalahan ini. Pencari bakat dari dua
tim galatama, memasang wajah bosan di partai semifinal, mencoret
sepasang nama tombak kembar Gunung Terang dari catatan mereka. Suatu
keputusan buruk yang mengakibatkan Indonesia gagal juara dunia.
Mengubur cita-cita, Sardi mendaftar akademi polisi. Begitu pun, ini
gagal mengubur sepotong curiga. Curiga ini terlalu meyakinkan.
Di sore sehabis gol istimewa Asan diciptakan, Raman datang, khusus
mencari Asan. Keduanya bercakap di pojokan, sembunyi-sembunyi. Dalam
percakapan itu, wajah Asan cepat berubah dari senang menjadi tegang,
lalu cemas dan ketakutan.
Malam harinya, jendela kamar Sardi diketuk dari luar. Itu ketukan
Asan. Sebentar kemudian mereka mengendap melintasi malam menuju rumah
Raman Jereng. Di akhir perjalanan pulang, alasan Asan mengembalikan
sepatu Tuhan tak juga terang. Sepanjang jalan Asan tak bersuara.
Sekali-kalinya ia bicara, hanyalah ketika mereka berpisah. Itu pun
semakin tak menerangkan apa-apa.
"Aku tak punya sepatu lagi."
Sardi berjanji meminjamkan salah satu sepatunya.
"Yang biasanya saja."
Sardi mengangguk.
Sepatu itu tak jadi dipinjamkan, sebab besok malamnya Asan ditabrak
lari. Penanganan rumah sakit yang buruk menghentikan karier sepak
bolanya. Persahabatan kedua ujung tombak itu juga turut surut. Asan
selalu menghindar.
Tak lama sesudah sembuh dan menerima takdir kakinya pincang, Asan
bekerja untuk Raman. Lebih tepat, Raman datang menawarkan pekerjaan.
Setelah itu, 13 tahun jalan bergegas, tentara mengubah Raman menjadi
bandar kaya, tapi tentu tidak jongos-jongosnya.
Asan menikah, sebentar. Istrinya kabur dengan seorang penyanyi
dangdut, bukan dari Asan yang sudah mengecewakan sejak minggu pertama,
tapi dari seorang anak laki-laki hiperaktif hasil pernikahan mereka.
Anak laki-laki itu kini seusia putra Sardi. Keduanya kini sudah
tergila-gila bermain bola.
13 tahun, pikir Letnan Sardi. Kenapa terlalu lama?
Seperti 13 tahun terakhir, kini pun Asan menghindarinya. Ia menunduk.
Mereka berdua duduk berhadapan, namun tak akan ada seorang pun yang
mampu mengendus gelagat lembut bahwa keduanya saling mengenal. Apalagi
mengendus bahwa keduanya sempat berpapasan dalam kesempatan yang lain,
sebelum ini. Seminggu lalu, di pinggir suatu lapangan sepak bola,
menonton pertandingan dua kelompok bocah, keduanya duduk berdekatan.
Tidak, tidak seorang pun bisa menduga. Tak seorang pun akan
mengetahui, sebab bahkan Sardi dan Asan telah berjanji untuk melupakan
perjumpaan ini.
Kesempatan, cetus Sardi dalam hati, menjawab pertanyaannya sendiri.
Itulah alasannya. Setiap dendam butuh waktu. Tentu, tak salah lagi.
Sardi telah bergumul dengan para kriminal, ia paham watak dasar
mereka. Keliru jika memandang mereka sekadar mengandalkan urat nekat.
Kriminal tertangguh adalah mereka yang paling bisa menciptakan
kesempatan. Bukan, bukan sekadar kesempatan untuk melakukan kejahatan.
Paling penting adalah kesempatan untuk merancangnya. Raman Jereng
sadar benar tentang ini.
Bandar judi itu cukup licik untuk merawat Asan, terutama karena ia
tahu pada gilirannya kejahatannya akan terungkap. Raman bersiasat,
jika akhirnya Asan mendapati bahwa kecelakaan di kolam Haji Sanusi
terjadi atas perintahnya, pengawasan ketat akan mencegah Asan membalas
dendam. Berada dalam kendali berarti mempersempit kesempatan Asan
merancang apa pun bagi diri sendiri. Sempit kesempatan sempit pula
keberanian. Itulah resepnya.
Resep yang baik, pikir Letnan Sardi, tapi belum tentu manjur.
Bagaimana jika ada orang lain, peristiwa lain, yang memungkinkan suatu
kesempatan tercipta. Raman Jereng bisa saja terus mengawasi Asan, tapi
ia tidak bisa mengawasi semua hal. Ia tidak bisa memasukkan semua
orang ke dalam kantongnya. Ia bisa berusaha, tapi luas kantong ada
batasnya.
Sardi membayangkan wajah Raman ketika terkejut mendapati api menjalar
di atas kulitnya. Apakah ia mempunyai kesempatan berteriak?
Asan duduk dengan kepala terus menunduk. Apakah sahabat kecilnya itu
sempat ragu? Apa kini ia menyesal? Ia tampak resah. Ya, seharusnya ia
menyesal. Penyesalanlah yang membedakan antara dirinya dan kriminal
semacam Raman. Yang membedakan kita dengan dia, kata Sardi diam-diam.
Menjalankan kesempatan bisa berarti berkhianat pada hati kecil.
Hati kecil, ia tahu banyak tentang hal ini. Usaha kopi bapaknya tidak
begitu baik ketika ia didaftarkan ke akademi polisi. Padahal, harga
sogok menyogok begitu tinggi. Semenjak itu, hidupnya tergadai. Mungkin
bahkan sejak sebelumnya. Sejak sepatu Kaisar diterimanya. Raman Jereng
tak merasa cukup dengan bekingan tentara, ia ciptakan pula kesempatan
antara dirinya dan seorang calon polisi muda dari Gunung Terang.
Raman Jereng dan seluruh kesempatan-kesempatan yang diciptakannya,
semua pantas mati. Sardi tak bisa membayangkan berapa banyak orang
terselamatkan, berapa banyak kesempatan kejahatan terbungkam.
Sardi tersenyum, menyimpulkan. Tak ada akhir yang paling tepat bagi
seorang penjahat selain mati di tangan senjatanya sendiri. Dua buah
senjata yang memakan tuannya sendiri. Adapun jika orang lain menyangka
satu, itu tak lain karena kebanyakan orang cenderung lebih mengingat
siapa yang bikin gol. Sardi telah berdamai dengan dirinya sendiri. Tak
ada buruknya memberi umpan matang. Lagipula Kaisar memang dikalahkan
Tuhan di Meksiko 86.
Letnan Sardi bersiap mengenyahkan kasus ini dari hadapannya. Ia
menoleh ke arah sersan, bertanya "Sudah paham?"
Sersan menggeleng, terheran-heran. Apa yang bisa dipahaminya,
dipelajarinya? Sejak tadi Letnan Sardi hanya membaca.
"Itulah yang membuat kau sersan dan aku letnan. Motif, buruh yang
tertindas, majikan yang kejam, buruh balas dendam. Sederhana. Bukan
pembunuhan berencana. Laki-laki ini terlalu pengecut untuk itu."
"Bensinnya, Pak?"
"Baca lagi arsipnya."
"Sepatunya?"
"Ini bukan cerita detektif. Kecuali kalau kau menganggapnya begitu."
Sersan menggeleng, lemah.
Letnan Sardi, menenteng tas kecil, berjalan santai ke arah tempat
parkir mobilnya. Di dalam mobil, dua orang bocah tersenyum riang
menyambutnya. Bocah laki-laki yang duduk di depan, ini putranya. 7-8
tahun lagi ia akan merajalela dengan sepatu Kaisar. Bocah yang duduk
di belakang, anggota baru keluarganya, masih sering terselip lidah
memanggilnya dengan sebutan Oom, bukannya Ayah.
"Ini dari bapakmu." Putra angkatnya menerima tas itu dengan canggung,
tak berani membukanya.
"Apa isinya?" Sergah putranya sendiri, penasaran.
"Pernah dengar tangan Tuhan?"
Keduanya menggeleng.
Sepanjang jalan, Letnan Sardi bercerita tentang Piala Dunia 86. Satu
gol terkenal Maradona adalah gabungan dari sedikit kerja kepalanya dan
sedikit kerja tangan Tuhan, tapi itu belum seberapa. Di perempat
final, Asan, sahabatnya, melewati lima pemain sebelum menundukkan
Peter Shilton. Di semifinal mereka dikalahkan PS. Tunas Harapan 3-0.
Tak apa. Setiap cita-cita berhak mendapatkan kesempatan kedua,
sebagaimana Indonesia berhak juara dunia.
"Gol kedua itu, ini sepatunya." ***

Sepekan di Jakarta

23 Agustus 2009

AJAKAN Aris agar aku ikut dia ke Jakarta sulit kutolak. Sebab, dia
adalah teman mainku waktu kecil yang kini kuanggap sudah sukses. Lagi
pula sudah lama aku ingin melihat-lihat suasana Jakarta. Selama ini
aku hanya bisa membayangkan betapa indahnya suasana Jakarta, terutama
di malam hari. "Kamu bisa menikmati suasana Jakarta selama sepekan.
Jangan khawatir soal makan dan ongkos keluyuran selama di Jakarta,
juga ongkos untuk pulang. Semuanya menjadi tanggung jawabku," janji
Aris.

Aku dan Aris tiba di Jakarta ketika pagi masih berkabut. Perjalanan
sepanjang malam membuat kami kelelahan dan ingin segera istirahat,
tidur. Maka, Aris langsung menyuruhku masuk ke kamar tamu di rumahnya,
dan dia pun langsung masuk ke kamar tidur utama. Istrinya belum
bangun.

Meski aku lelah dan mengantuk, ternyata mataku sulit kupejamkan
setelah aku berbaring di atas ranjang di dalam kamar tamu itu.

Ternyata Aris memang sudah kaya. Ru-mahnya besar berlantai dua. Di
garasi ada dua buah mobil mewah. Pasti ke mana-mana istrinya selalu
membawa mobil sendiri.

Sampai menjelang siang, aku baru bisa memejamkan mata, karena rasa
kantukku tidak bisa kutahan lagi. Menjelang sore, aku baru bangun dan
langsung mandi, kemudian keluar kamar, duduk di beranda sambil membaca
koran. Mataku langsung terbelalak, karena koran yang kubaca ternyata
memuat cerpenku yang berjudul 'Koruptor'. Cerpenku itu mengisahkan
seorang pejabat tinggi yang sering melakukan korupsi sehingga hidupnya
sangat mewah, bahkan sopir pribadinya punya rumah megah dan mobil
mewah serta deposito berlimpah. Ya, kisah dalam cerpenku memang
diilhami oleh nasib Aris.

Baru saja aku asyik membaca cerpenku di koran itu, Aris dan istrinya
tiba-tiba mendekatiku. Dengan tersipu segera kuletakkan koran itu di
meja.

"Kata istriku, cerpenmu yang dimuat koran itu sangat realistis.
Kisahnya mirip dengan kisah hidup majikanku dan hidup kami," ujar Aris
sambil tersenyum melirik istrinya.

"Benar, Mas Amir. Cerpen Mas Amir sangat realistis," komentar
istrinya. "Pasti ide cerpen itu dari Mas Aris, kan?"

Aku hanya tersipu-sipu. Sebab, ide cerpen berjudul 'Koruptor' itu
memang dari kisah hidup Aris yang diceritakan setahun lalu ketika dia
mudik ke Jawa.

"Ayolah kita jalan-jalan berdua. Sekalian makan malam," ajak Aris,
setelah menikmati makan siang bersama.

"Pulangnya jangan terlalu malam, Mas," pesan istrinya, ketika Aris dan
aku sudah berada di dalam mobil.

"Aku pasti akan pulang sebelum jam satu! Tapi kalau Mas Amir,
terserah, mau nginap di hotel atau semalaman menikmati kopi di kafe,"
ujar Aris sambil mengemudikan mobilnya.

Pada malam itu, tempat yang dipilih Aris untuk kunikmati adalah
diskotek yang cukup ramai.

Beberapa gadis cantik dengan busana mini yang ada di diskotek itu
langsung memeluk Aris dan menatapku dengan tersenyum manis.

"Coba kamu temani sobatku ini minum kopi. Jangan terlalu agresif, ya?"
perintah Aris kepada seorang gadis cantik berbusana mini yang sedang
memeluknya.

Aku hanya tersenyum dengan menahan gugup ketika gadis cantik itu
menggandengku untuk duduk di kursi panjang yang terletak di pojok
ruangan yang temaram.

"Baru kali ini Mas kemari?" tanya gadis cantik itu sambil merapatkan
duduknya di sampingku.

"Ya," jawabku dengan menahan gugup yang terasa kian menggigilkan
tubuhku. Tangan gadis cantik yang lembut itu mulai melingkar di
leherku dan memanaskan darahku.

"Mas nanti tidur di mana? Di hotel? Kutemani, ya?" tanya gadis cantik
itu sambil meraba dadaku.

"Tadi Mas Aris sudah kirim SMS, agar aku menemanimu semalam suntuk,
Mas. Kata Mas Aris, Mas sudah terbiasa begadangan semalam suntuk,
kan?"

Napasku agak kacau. Aku berusaha untuk tetap santai. Kunikmati aroma
parfum gadis cantik itu yang begitu harum. Kunikmati rabaan lembut
jari-jari tangannya di dadaku. Lama-lama aku bisa mengatasi
kegugupanku. Bahkan, aku mulai digoda oleh keinginan-keinginan khas
bujangan.

"Sebaiknya kita segera mencari kamar hotel, Mas. Kata Mas Aris, semua
biayanya sudah dibereskan," ujar gadis cantik itu lagi sambil bangkit
dan menarik lenganku untuk segera meninggalkan diskotek itu.

Aku menurut saja diajak gadis cantik itu ke kamar hotel di dekat diskotek itu.

Kubayangkan Aris juga sudah bersenang-senang dengan gadis cantik di
sebuah kamar lain, atau sudah pulang ke rumah dan bercinta dengan
istrinya.

Sebagai bujangan tua, aku sangat mudah ditaklukkan oleh gadis cantik
itu di kamar hotel. Ini adalah pengalamanku yang pertama menikmati
lekuk-lekuk tubuh perempuan yang selama ini hanya bisa kubayangkan
dengan beronani. Aku benar-benar merasa tolol di depan gadis cantik
itu, yang begitu bergairah membimbingku mengenali tahap-tahap
romantisme.

***

PADA malam kedua, Aris mengajakku menikmati suasana kafe. Sama seperti
malam sebelumnya, aku langsung ditemani oleh gadis cantik, sementara
Aris tiba-tiba menghilang entah ke mana.

Pada malam ketiga, Aris mengajakku menemui seorang pejabat, rekan
majikannya, di sebuah restoran.

Dari pembicarannya dengan pejabat itu, aku mengerti betapa Aris
ternyata juga menjadi germo. Ya, aku sulit mengatakannya bukan sebagai
germo, setelah dengan jelas dia memperlihatkan selembar foto gadis
berjilbab yang bisa diajak tidur di hotel dengan imbalan lima juta
rupiah. Pejabat itu nampak gembira, dan langsung menyatakan bersedia
membayar lima juta rupiah. Lalu Aris segera mengirimkan SMS. Sebentar
kemudian, seorang gadis berjilbab muncul di restoran itu dengan
malu-malu.

"Tolong temani Bapak ini sampai pagi," perintah Aris kepada gadis
berjilbab itu, sebelum kemudian mengajakku pulang. Di tengah
perjalanan pulang, aku mencoba mempersoalkan gadis berjilbab itu.

"Jangan heran. Banyak gadis nakal yang berjilbab. Banyak pejabat yang
sangat bangga bisa melucuti jilbab, sebelum menikmati tubuh molek yang
sebelumnya terbungkus jilbab," ujar Aris.

Pada malam keempat, aku diajak Aris menemui seorang pengusaha di
sebuah apartemen megah. Dari pembicaraannya dengan pengusaha itu, aku
bisa mengerti betapa Aris ternyata juga pemasok kayu jati yang
diperolehnya dari kawasan hutan di Jawa Tengah. Kayu jati itu akan
diselundupkan ke luar negeri. Aku pun terbayang sekian ratus hektar
hutan di Jawa Tengah yang kini nyaris gundul akbat penebangan liar
yang merajalela.

Pada malam kelima, Aris mengajakku ke sebuah hotel berbintang lima,
untuk menemui seorang konglomerat.

Dari pembicaraannya dengan konglomerat itu, aku bisa mengerti betapa
Aris ternyata juga pengimpor gadis-gadis bule dengan kedok pariwisata.
Gadis-gadis bule itu masuk ke Indonesia sebagai turis, tapi selama di
Indonesia menjual tubuhnya kepada pria-pria kaya yang berani
membayarnya dengan mata uang dolar.

Setelah satu pekan di Jakarta, aku pulang untuk menulis lagi. Tapi
rasanya aku sangat sulit mengembangkan imajinasiku, setelah aku
menikmati berbagai hiburan di Jakarta.

Kini, aku benar-benar telah kehilangan daya khayalku, daya
kontemplasiku dan daya kreatifku sebagai seorang sastrawan. Mungkinkah
aku telah mengalami gegar mental? ***

*) Kota Wali, 2007

Kalung Tasbih dari Mekkah

20 Agustus 2009

Aku hanya bisa menangis menyesali kutukanku yang ternyata dikabulkan
Tuhan.... Suamiku mengalami gegar otak berat, kakinya patah, dan
tulang belakangnya remuk.
Sepulang naik haji, ayah memberiku kalung tasbih yang katanya
dibelinya di Makkah dan pernah dibawanya memasuki Masjid Nabawi dan di
depan Makam Rasulullah SAW ayah berdoa semoga aku menjadi perempuan
salehah yang bahagia di dunia dan akherat.
''Setiap habis shalat, gunakan kalung tasbih ini untuk berdzikir,''
pesan ayah ketika menyerahkan kalung tasbih yang kini selalu
menemaniku ke mana pun aku berada. Aku pun selalu menggunakan kalung
tasbih itu untuk menghitung kalimat-kalimat thoyibah yang kubaca
sehabis shalat.
Dan, setelah aku menikah, kalung tasbih itu tiba-tiba hilang.
Seingatku, sebelum hilang, kalung tasbih itu kuletakkan di dekat
bantal ketika aku hendak tidur dengan suamiku. Tapi, suamiku mengaku
tak tahu menahu ketika aku mencari-cari kalung tasbih yang raib itu.
''Mungkin kamu lupa menyimpannya. Suatu ketika pasti ketemu lagi,''
ujar suamiku ketika aku menunjukkan perasaan resah atas raibnya kalung
tasbih itu.
''Sebaiknya kamu membeli lagi kalung tasbih yang lebih besar, biar
tidak mudah hilang,'' lanjut suamiku.
Aku tetap saja merasa resah atas hilangnya kalung tasbih dari Makkah
itu. Setelah aku membeli kalung tasbih dan menggunakannya untuk
berdzikir, rasanya aku selalu teringat kalung tasbih yang telah hilang
itu, sehingga dzikirku tidak pernah bisa khusyuk. Aku merasa bersalah
kepada ayah yang kini telah almarhum. Aku merasa telah gagal
mempertahankan kalung tasbih dari Makkah itu sebagai milikku.
''Apa sih istimewanya kalung tasbih yang hilang itu, sehingga kamu
tampak selalu murung dan gelisah?'' tanya suamiku setelah satu pekan
aku selalu murung dan resah sejak kehilangan kalung tasbih dari Makkah
itu.
''Kalung tasbih itu bukan tasbih sembarangan, Mas. Almarhum ayah yang
dulu membelinya di Makkah, dan pernah dibawanya masuk ke Masjid Nabawi
dan digunakan untuk berdzikir di depan makam Rasulullah SAW,''
tuturku.
Suamiku tersenyum. ''Kalau begitu justru kamu harus bersyukur atas
hilangnya kalung tasbih itu.''
Aku terpana menatap tajam-tajam wajah suamiku. Tiba-tiba aku curiga,
suamiku mungkin sengaja membuang atau menyembunyikan kalung tasbih
itu.
''Mungkin jika kalung tasbih itu tidak hilang, suatu ketika bisa
menjadi berhala yang kamu puja-puja. Maka bersyukurlah karena kalung
tasbih itu hilang.'' Suamiku bicara dengan tersenyum-senyum.
''Maaf, Mas. Benarkah Mas mencuri kalung tasbih itu agar aku tidak
bisa menggunakannya lagi untuk berdzikir?'' tanyaku.
Rasanya aku pantas mencurigai suamiku karena justru tampak senang
dengan hilangnya kalung tasbih itu.
''Memangnya aku berbakat menjadi pencuri?'' Suamiku balik bertanya
dengan wajah tetap berhias senyuman.
''Kalau Mas tidak mencurinya, semoga yang mencurinya celaka!'' Aku
mengutuk dengan kesal.
Suamiku terperanjat. ''Kamu telah mengutuk seseorang yang telah
mengambil kalung tasbihmu. Waduh, kamu telah berbuat kejam. Bagaimana
jika kutukanmu dikabulkan Tuhan?''
''Ah, sudahlah, aku sudah terlanjur mengutuk, Mas. Yang penting bukan
kamu yang mencurinya.''
''Bagaimana jika seumpama aku yang mencurinya?''
''Jadi, benar bukan Mas yang mencuri kalung tasbih itu?''
Suamiku mengangguk dengan tersenyum.
Aku mendengus panjang, karena dadaku mendadak terasa sesak. Aku
khawatir jika kutukanku dikabulkan Tuhan. Dan, sejauh yang kuketahui,
kutukan tidak bisa dicabut jika sudah terlanjur diucapkan.
Lalu, aku berdoa semoga kutukanku tidak dikabulkan Tuhan. Aku tidak
ingin melihat suamiku celaka, meskipun telah mencuri kalung tasbih
dari Makkah yang kuanggap sangat istimewa itu.
Sepekan kemudian, sepulang kantor, suamiku mengalami tabrakan hebat.
Suamiku dirawat di ruang ICU. Mobilnya rusak berat. Dan aku hanya bisa
menangis menyesali kutukanku yang ternyata dikabulkan Tuhan meskipun
aku sudah berusaha untuk mencabutnya dengan doa-doa.
Ketika aku membesuk suamiku di rumah sakit, aku minta maaf. Tapi
suamiku diam saja.
Kini, suamiku mengalami gegar otak berat, kedua kakinya patah, dan
tulang belakangnya remuk. Menurut dokter, kecil kemungkinan suamiku
bisa pulih seperti sebelum mengalami kecelakaan.
Setelah tiga bulan dirawat di rumah sakit tapi suamiku belum juga
pulih, aku kemudian membawanya pulang. Aku ingin merawatnya di rumah.
Sungguh berat merawat suami yang lumpuh dan tidak bisa bicara lagi.
Sepanjang waktu suamiku terbaring lemas di tempat tidur. Semua hajat
hidupnya aku yang mengurus. Untungnya, suamiku segera dipensiun dan
mendapat uang pensiunan sebesar 60 gaji terakhirnya. Dengan uang
pensiunan itu kami berdua bisa hidup.
Suatu siang, aku membersihkan gudang. Semua barang rongsokan yang
menumpuk di gudang kukeluarkan untuk kubuang ke tempat sampah.
Ketika aku sedang menyapu lantai gudang, mataku menatap seuntai kalung
tasbih dari Makkah itu. Segera aku membersihkan kalung tasbih itu.
Lalu kuperlihatkan kepada suamiku.
Mata suamiku langsung berkaca-kaca ketika menatap kalung tasbih itu.
Bibirnya bergerak-gerak tapi tidak mengeluarkan suara apa pun.
Sepertinya suamiku menangis di dalam hati.
Iba aku melihat suamiku menangis. Pasti suamiku sangat menyesal telah
menyembunyikan kalung tasbih itu di gudang dan kemudian aku
mengutuknya dan ternyata kutukanku dikabulkan Tuhan.
Dan, meskipun kalung tasbih itu sudah kutemukan lagi, aku tidak mau
menggunakannya untuk berdzikir. Aku teringat ucapan suamiku. Betapa
kalung tasbih itu bisa menjadi berhala, dan karena itu sebaiknya
dibuang saja.
Lalu aku membuang kalung tasbih dari Makkah itu ke tong sampah, bukan
karena aku khawatir menjadikannya sebagai berhala, melainkan karena
aku memang sudah tidak membutuhkannya lagi. Aku telah terbiasa
berdzikir tanpa kalung tasbih.
Sekarang, bagiku, berdzikir tidak perlu dihitung lagi, karena aku
tidak menjualnya kepada Tuhan!***
Sastradipati, 2006

Sonnet 141

William Shakespeare

In faith I do not love thee with mine eyes,
For they in thee a thousand errors note;
But 'tis my heart that loves what they despise,
Who, in despite of view, is pleased to dote.
Nor are mine ears with thy tongue's tune delighted;
Nor tender feeling, to base touches prone,
Nor taste, nor smell, desire to be invited
To any sensual feast with thee alone:
But my five wits nor my five senses can
Dissuade one foolish heart from serving thee,
Who leaves unsway'd the likeness of a man,
Thy proud heart's slave and vassal wretch to be:
Only my plague thus far I count my gain,
That she that makes me sin awards me pain.