Kami Bongkar Rumah Kami

02 September 2009

KAMI turunkan genteng sepanjang siang yang terik setelah jendela,
pintu, beserta jeruji-jeruji kami lepaskan dari tembok rumah yang
dibangun kakek-nenek kami 90 tahun yang lalu. Kami memutuskan untuk
membongkar rumah warisan itu dan menggantinya dengan yang baru. Kami
akan mengubahnya dengan gaya "spanyol" yang lagi mewabah di daerah
kami. Rumah dengan satu pintu di bagian depan, kaca hitam tanpa kerai
kaca di sebelah kiri, dan dinding sebelah kanan akan dilekatkan
keramik mengilat dengan bagian atasnya terdapat angin-angin dari kaca
hitam. Di serambi akan kami pancangkan dua tiang dari beton berhias
ukiran khas Jepara dan lantainya tentu dengan keramik mengilat. Rumah
itu tidak membesar tetapi memanjang ke belakang dengan satu kamar
utama di samping ruang tamu dan dua kamar tidur bersebelahan dengan
ruang peristirahatan keluarga. Kami bayangkan tersedia satu televisi
berukuran 21 inci dan satu perangkat lengkap elektronik untuk
mendengarkan musik. Di bagian belakang akan dibangun sebuah dapur
model terbaru dengan lemari kayu terpasang menempel di tembok dan di
bagian bawah lemari itu dipasang plester tertutup keramik seukuran
telapak tangan berwarna putih. Sementara di samping dapur, tepat di
kanannya, akan dipisahkan oleh tembok sebagai sebuah ruangan garasi.
Di sebelahnya akan ada sebuah kamar mandi dengan lantai keramik
berukuran kecil berwarna biru dan satu bola lampu berkekuatan 70 watt.
Dan kami akan mengecat tembok bersemen tersebut dengan cat putih
buatan pabrik dan bukan dari kapur. Menutupinya dengan genteng bercat
merah yang kalau tertimpa cahaya matahari akan memantulkan
kilatan-kilatan yang menyilaukan. Mungkin rumah kami ini nantinya
menyerupai makhluk baru dan siapa pun yang pernah datang ke rumah kami
pasti akan tercengang dan apabila memasukinya akan merasakan seperti
berada di sebuah pesawat luar angkasa dengan antena televisi menjulang
ke atas seakan ingin menusuk langit.

Kami tiga bersaudara telah sepakat mengganti rumah itu bukan semata
mengikuti gaya terakhir bentuk rumah di daerah kami, tetapi kami
sengaja untuk menghilangkan segala peninggalan kakek-nenek kami.
Jauh-jauh hari telah kami undang penebang bergergaji mesin untuk
memangkas sepuluh batang pohon kelapa yang barangkali usianya lebih
tua dari kami. Popon-pohon itu tinggi sekitar 75 meter dan kala
tertiup angin akan meliuk-liuk seakan memanggil cerita-cerita yang
kami dengar dari bapak-ibu kami, saudara-saudara ibu kami, dan
tetangga-tetangga kami. Dan kami juga melihat album foto keluarga
tentang rumah itu kala tahun 1967. Kami selalu merasa tidak pernah
berada di tahun 2006 ketika mengingat dan membuka album keluarga itu.
Ada bayangan hitam yang selalu membuat kami ingin membakar rumah
beserta tanah sekitar satu hektar itu. Membakarnya dan menggantikannya
dengan sebuah gedung bertingkat 70 lantai. Tapi itu mustahil. Kami
hanya biasa menggantinya dengan rumah bergaya "spanyol" dan memangkas
semua pohon kelapa di halaman dan menggantikannya dengan sebuah taman
dan di situ berdiri sepuluh pohon cemara. Pohon dengan daun-daun
bergerigi dan lancip yang akan mengingatkan kami bahwa kami hidup pada
tahun 2006 dan bukan berada di tahun 1967.

Memang kakek-nenek kami tidak langsung membangun rumah yang sedang
kami bongkar ini dengan tembok seperti yang terlihat sekarang, tetapi
bertahap. Pertama kalinya dibangun dengan menjejakkan kayu yang
ditebang dari hutan entah di mana dan menutupinya dengan anyaman
bambu, memberinya daun pintu dari kayu jati dan jendela dengan terali
dari kayu yang dipasak dan diatapi genteng yang dibeli dari tetangga
desa. Setiap pasak dari kayu yang dijejakkan, diberi landasan batu
kali yang diambil dari Sungai Ewuh di sebelah timur rumah. Pertama
kali membangun rumah itu sekitar tahun 1930-an sebelum Jepang masuk
dengan senjata berbayonet dan merampok padi-padi dan memaksa
orang-orang makan dari ubi kayu dan sayur hati pohon pisang. Kami
tidak tahu bagaimana rasa makanan seperti itu. Tapi menurut bapak kala
itu makanan seperti itu nikmat sekali.

Tahap kedua rumah itu dibangun pada tahun 1957. Ibu pernah bercerita
pemugaran rumah tersebut atas usul kakek kami sebelum dua tahun
kemudian meninggal yang menurut ibu terserang sesak nafas. Rumah itu
dibedah bagian tengahnya dan menguatkan pondasi dari batu kali dengan
beton campuran pasir sungai, pasir batu merah, dan kapur putih. Lantas
di atasnya batu-bata disusun membujur dan bukan melintang sebagaimana
tembok sekarang. Tembok rumah kakek-nenek kami tersebut tebal dan
tampak sangat kuat. Daun pintu dan jendelanya terbuat dari kayu jati
yang sudah sangat tua dan ketebalannya 5 cm. Sementara bagian depan
dibiarkan tetap berdinding anyaman bambu dan bagian dinding depannya
tersusun dari bilahan-bilahan kayu jati. Rumah nenek kami tidak
membujur ke belakang melainkan berbentuk serupa huruf L dengan bagian
bangunan depan sebagai kakinya.

Rumah itu besar dan, sebagaimana terlihat sekarang, satu-satunya yang
terbesar di antara rumah-rumah yang ada. Rumah tembok dengan warna
putih dari batu kapur yang setiap tahunnya selalu dikapur, tepatnya
hari raya lebaran. Setiap dikapur mendadak rumah itu tampak bangun
dari tidur panjangnya, berganti dengan pakaian baru, dan siap
menyambut siapa saja. Seolah hanya pada hari raya rumah kami
bergembira dan menghadapi apa pun dengan kesukaan ria tersendiri yang
tidak akan ditemukan kecuali pada hari raya itu. Kadang di depannya
akan dipasang daun kelapa yang masih muda berjuntaian seolah tangan
yang melambai-lambai kepada setiap orang yang lewat. Mungkin berkata,
"Hei kemarilah. Aku bahagia kau datang. Aku sedang tidak ada masalah
hari ini."

Demikian juga penghuninya. Pada hari raya itu semuanya, kami beserta
bapak ibu kami, adalah manusia baru. Kami saling melihat di antara
kami seolah kami adalah orang baru dan tidak teringat apa yang terjadi
kemarin, kemarin, dan kemarinnya. Kami memakai baju baru meskipun
tidak yang terbagus yang dijual di daerah kami. Sandal baru. Celana
baru. Dan makanan-makanan baru berwarna-warni. Sering kami, ketika
tidak hari raya, selalu berharap setiap bangun dari tidur adalah
makanan yang baru tersedia, tersenyum-senyum, dan tidak bertemu
orang-orang terkutuk yang selalu datang dengan wajah muram dan seolah
hendak memakan kami seketika itu juga.

Ya, sewaktu kami berusia sekitar dua belas tahun rumah kami sering
didatangi orang-orang yang meneror kami sekalipun mereka adalah
keluarga dari ibu. Sebab mereka datang dengan begitu saja dan meminta
pada ibu apa saja dan harus tersedia pada hari itu. Jika tidak, ibu
kami akan dibentak-bentak dan jika tidak diberi juga apa yang diminta
ibu kami akan digampar seolah ibu kami bukan manusia. Kami tak tahu
apa yang dibenak orang itu. Orang itu biasa kami sebut Pak Min jika
kami dengan terpaksa bertemu dengannya di depan rumah atau di jalan
sebagai tanda hormat di mata orang-orang yang ada di sekitar kami:
bahwa kami masih menghormati saudara ibu. Atau, sebenarnya ketakutan
akan digampar juga?

Sebelum nenek kami meninggal, nenek kamilah yang menjadi sasaran.
Kerap kali nenek dibentak-bentak oleh Pak Min dan entah karena takut
terus-menerus dibentak anak laki-lakinya atau karena alasan lain nenek
biasanya mengambil uang simpanannya atau perhiasannya dan begitu saja
mengulurkannya pada si anak. Setelah itu, si anak, tanpa satu kata
pun, beranjak dari tempatnya duduk dan langsung berjalan menuju sepeda
di halaman dan mengayuhnya entah ke mana. Nenek kami lihat hanya
menghela nafas dan berusaha tersenyum pada kami seraya mengajak kami
ke luar rumah membersihkan rumput-rumput yang mulai tumbuh di seantero
halaman depan. Nenek selama membersihkan rumput-rumput tak satu kali
pun bersuara dan hanya tangannya yang cekatan dan kuat mencerabut
cengkeraman akar-akar rumput di tanah halaman rumah. Kemudian
mengumpulkannya di sebelah barat rumah dan membakarnya bersama-sama
dengan daun pisang dan rambutan yang sudah mengering. Di mata kami
selama pembakaran rumput nenek sangat khidmat seolah nenek sedang
membakar kemarahannya sendiri atas perilaku anak lelakinya.

Tapi di dalam hati kami tidak menyebutnya Pak Min tetapi sang
Pembelih. Sang Pembelih karena ia algojo orang-orang di daerah kami
ketika prahara 1965. Menurut saudara Ibu, pada suatu malam sang
Pembelih itu didatangi beberapa orang yang menggunakan penutup kepala
hitam dan hanya dua biji matanya yang tampak serta sekujur badannya
tertutup oleh pakaian hitam. Tak tahu bagaimana jalan pikirannya, sang
Pembelih itu dengan senang hati ikut mereka. Sang Pembelih itu turun
dari rumah dan berjalan di kegelapan malam dan menuju ke jalan menuju
ke utara. Ibunya, nenek kami, menangis sewaktu sang Pembelih itu ikut
sekalipun nenek kami telah berusaha mencegahnya. Ia tergulung-gulung
di lantai disaksikan keempat anak perempuannya yang masih kecil-kecil
menggigil di sudut rumah. Kakek kami saat itu telah mati dan nenek
kami menjadi bulan-bulanan anak-anak lelakinya, terutama sang
Pembelih.

Begitulah dalam bulan-bulan di paruh kedua tahun 1960-an sang Pembelih
merajalela. Banyak orang yang dibunuh oleh sang Pembelih. Nenek kami
mendengar kabar perilaku anaknya hanya tercenung dan sulit sekali
diajak bicara. Nenek kami menjadi jarang di rumah dan suka sekali ke
luar rumah malam-malam entah ke mana. Kadang dua hari tidak pulang dan
pulang dengan baju lusuh dan bau tak sedap menguap dari badannya.
Setiap ibu kami atau saudara perempuan lainnya mengatakan kebutuhan
dapur telah habis, nenek akan diam atau berteriak, "Kalau ingin makan
cari sendiri, kalau tidak mati saja sekalian!" Maka, ibu kami yang
masih kecil bersama ketiga saudara perempuannya mencari kebutuhan
dapur dengan cara pergi ke pinggiran Sungai Ewuh untuk mencari cabai
dan sayur-sayuran yang tumbuh dengan sendirinya sebab sawah telah
terbengkelai. Kalau tidak mencukupi sebab seharian tidak mendapatkan
apa yang mereka butuhkan, biasanya mereka meminta kepada
tetangga-tetangga sebelah. Sementara kedua saudaranya laki-laki
semakin jarang pulang dan jika pulang hanya sekejap dan itu pun akan
membawa barang-barang untuk digadai atau dijual semenjak nenek kami
sulit sekali diajak bicara dengan enak tanpa ledakan-ledakan amarah.
Ibu kami akhirnya putus dari sekolah menengah pertama karena sepeda
yang dipakainya untuk mencapai sekolah selama dua jam perjalanan
dibawa kabur dan tidak pernah kembali. Ibu kami hanya bisa menangis.

Ya, Ibu hanya bisa menangis. Menangis sebagaimana ia dipukul oleh sang
Pembelih itu. Kami hanya diam dan diam-diam semenjak kami masih kecil
hati kami mengeras kepada sang Pembelih itu. Sang Pembelih yang memang
tak lagi menyembelih tetapi sang Pembelih itu tidak tahan ketika
sangat lama tidak mendengarkan suara-saura sayatan sebagaimana ia
dengar terus-menerus pada prahara 1965-an. Suara sayatan akibat
parangnya itu telah meresap ke sanubarinya dan tertanam dalam dan
bahkan berumah di sana. Setiap kali suara sayatan yang setiap malam
terdengar di tahun-tahun paruh kedua tahun 1960-an itu berkelebat di
tahun 1980-an maka sang Pembelih itu kelimpungan. Ia akan membanting
apa pun sampai suara-suara itu meredam sayatan yang menggejolak dalam
sanubarinya. Kalau membanting tidak cukup meredam suara sayatan itu,
ia akan datang menemui istri atau anak-anaknya, dan kalau tidak ada
maka ia akan ke tempat saudaranya, terutama saudara perempuannya. Dan
sang Pembelih itu akan suka sekali mendengar suara saudaranya
mengerang kesakitan.

Ah, dada kami seperti hendak memecah. Tapi Ibu kami mengatakan pada
kami untuk tidak melakukan apa pun pada sang Pembelih itu atas semua
yang telah dilakukannya kepadanya. Ibu mengatakan bahwa kami harus
memberhentikan serangkaian dendam itu dan mengakhirinya, syukur kalau
bisa memotongnya. Kami tak tahu apa yang sesungguhnya berada di dalam
benak Ibu kami ketika Ibu kami mengatakan pada kami ketika ia membujur
di ruang tengah rumah dengan wajah memandang jauh ke atas. Senja baru
menyemburat ke langit. Burung-burung terbang di angkasa. Daun-daun
pohon kelapa tampak kekuningan di pucuk-pucuknya. Nafas Ibu tersengal
sebentar kemudian diam selamanya.

Pada saat itu Ibu adalah orang terakhir yang hidup di antara
saudara-saudaranya yang lain. Ibu tidak memberikan apa-apa kepada kami
kecuali harapannya kepada kami untuk hidup berdamai. Ya, kami bisa
memaafkan kepada keluarga sang Pembelih yang membuat Ibu kami tersiksa
sepanjang hidupnya. Kami hanya tak tahan apabila kenangan rumah itu
menguat dan mulai mengganggu mimpi-mimpi kami lalu merambat di antara
pikiran-pikiran kami seperti percikan api di musim kemarau. Kami bukan
takut pada bayangan-bayangan itu, tetapi kami takut kami tidak bisa
mengendalikan tindakan kami ketika dalam kami muncul bayangan sang
Pembelih. Mungkin kami diam atau mungkin kami mengambil apa pun dan
mengayunkannya kepada siapa pun yang berada di dekat kami.

Kami tak mau bayangan-bayangan itu muncul lagi dan kami telah sepakat
di antara saudara kami untuk membongkar rumah kami yang usianya hampir
seratus tahun itu dan menggantinya dengan rumah baru bergaya
"spanyol". Kami tak tahu apa yang terjadi pada pikiran-pikiran kami
setelah rumah baru tersebut selesai dibangun. Mungkin kami akan
kehilangan semua masa lampau kami sebab semua perangkat rumah baru
kami nanti tak satupun berasal dari warisan kakek-nenek kami dan
bapak-Ibu kami. Kami akan membeli semua peralatan rumah dan menatanya
dengan cara terbaru sehingga akan terbentuk suasana yang tak pernah
kami rasakan sebelumnya dan tak pernah orang pikirkan. Kami akan
berada di sebuah situs baru dan kami akan membuat masa lampau-masa
lampau yang baru lagi.***

2006

Sonnet 46

31 Agustus 2009

William Shakespeare

Mine eye and heart are at a mortal war,
How to divide the conquest of thy sight;
Mine eye my heart thy picture's sight would bar,
My heart mine eye the freedom of that right.
My heart doth plead that thou in him dost lie,
A closet never pierc'd with crystal eyes
But the defendant doth that plea deny,
And says in him thy fair appearance lies.
To side this title is impannelled
A quest of thoughts, all tenants to the heart;
And by their verdict is determined
The clear eye's moiety, and the dear heart's part:
As thus; mine eye's due is thy outward part,
And my heart's right, thy inward love of heart.

Tanah Merah

28 Agustus 2009

Ketika ia bersandar pada pagar kapal yang akan membawanya pergi dari
Tanah Merah, seluruh peristiwa yang telah dialaminya hampir setahun
sebelumnya bagai berputar kembali di pelupuk matanya. Hidupnya sendiri
adalah rangkaian petualangan demi petualangan yang tak berkesudahan.
Semula ia adalah seorang pahlawan untuk negerinya, negeri Belanda yang
telah menguasai bumi Hindia Belanda selama ratusan tahun. Semua orang
yang tahu atau pernah mendengar tentang peristiwa Banten yang
menggegerkan itu sudah barang tentu telah mendengar keharuman namanya.
Oleh tindakan kepahlawanan itu Pemerintah Hindia Belanda telah
menganugerahkan sebuah bintang kehormatan kepadanya. Orang-orang
mengelu-elukannya. Ia mendapatkan undangan pesta dari para pejabat
militer Batavia dan orang-orang yang ingin mendengarkan kisah
pertempuran yang telah ia alami, bunyi letusan senapan dan jerit
mengerikan ketika tubuh meregang nyawa. Sungguh, memabukkan.
Beberapa bulan setelah ia berhasil menumpas pemberontakan kaum merah
di Banten, Pemerintah Batavia menunjuknya sebagai komandan ekspedisi
yang pertama-tama untuk masuk ke Digul dan mempersiapkan kamp
pembuangan bagi kaum interniran yang telah memenuhi penjara-penjara di
Jawa dan Sumatera.
"Apakah Gubernur Jenderal sudah gila? Digul adalah daerah terpencil,
hutan-hutan lebat yang belum dijamah kecuali oleh penduduk rimba
setempat dan para petualang Tionghoa. Aku mendengar dari orang-orang
yang melakukan ekspedisi ke sana untuk mencari emas bahwa Digul adalah
belantara yang dipenuhi para pengayau. Bagaimana kaum interniran bisa
hidup di sana?" tanyanya kepada Letnan Drejer, opsir yang juga
mendapatkan perintah untuk menemaninya masuk belantara Digul.
"Tampaknya tuan Gubernur Jenderal de Graeff ingin meniru bangsa Rusia.
Bukankah di Rusia terdapat pembuangan yang terkenal di seluruh dunia?
Siapa tak mengenal Siberia, neraka bagi siapa pun warga Rusia yang
berontak atau menjadi bajingan!" ujar Letnan Drejer sambil tersenyum
kecut.
"Kita bukan bangsa Rusia dan Siberia lain dengan Digul, Letnan. Digul
hutan lebat. Apa yang bisa diharapkan dari daerah seterpencil itu?
Kalau kita membuka hutannya, masalah mengerikan lain telah menunggu:
malaria! Bukankah itu sama saja dengan mengirimkan kaum interniran itu
ke lembah kematian?"
"Saya tak takut dengan malaria, Kapten. Tapi tinggal di hutan lebat
semacam Digul sama saja dengan menyerahkan kepala kita kepada para
pengayau atau para kanibal hitam di sana. Itulah yang saya takutkan,"
ujar Letnan Drejer dengan kepala bergidik.
"Hehm, benar. Dan kita, kaum terhormat yang baru saja mendapatkan
bintang kehormatan dari tindakan militer, harus mengotorkan tangan
dengan tindakan memalukan. Sungguh keterlaluan orang-orang Batavia!"
"Yang lebih mengherankan, bukankah Gubernur Jenderal de Graeff itu
terkenal berbudi baik, Kapten? Bagaimana ia bisa membuat
keputusan-keputusan yang mengerikan seperti membuka kamp pembuangan?"
ujar Letnan Drejer tak mengerti.
"Apalah artinya seorang gubernur jenderal berbudi baik bila sistemnya
telah diracuni oleh para pejabat berhati kotor? Merekalah yang tak
ingin kedudukannya terancam dengan ulah para pemberontak yang ingin
menjatuhkan kekuasaan. Dan, untuk menangkal ancaman tersebut, tindakan
kotor pun buat mereka tak apa-apa dan tak ada salahnya dilakukan."
Letnan Drejer mengangkat bahu. Dipandangnya punggung Kapten Becking
yang jangkung itu. Rasa hormatnya yang tinggi tak pernah lenyap
terhadap lelaki ksatria yang beranjak tua ini. Di luar dinas
militernya, opsir berambut putih itu sungguh terpelajar. Satu minggu
sebelumnya Kapten Becking telah meminta bawahannya untuk mencari
segala pengetahuan yang ada hubungannya dengan Digul dan bumi hitam di
ujung timur Hindia itu. Sementara para prajurit dan opsir bawahannya
membual dan membayangkan petualangan di tanah mereka yang akan mereka
lakukan, ia justru tenggelam dengan buku-buku dan tumpukan laporan
tentang Digul dan wilayah New Guinea secara umum. Ia gemar sekali
membicarakan suku-suku pedalaman yang tinggal di hutan belantara itu
dan di sepanjang Sungai Digul, kebaikan-kebaikan mereka dan kesukaan
mereka dalam mengayau. Tak jarang ia mengingatkan Letnan Drejer akan
kebuasan alam tempat baru itu dan berujar ia akan menundukkannya
secepat mungkin.
Satu minggu sebelum bulan Januari 1927 berakhir kapalnya yang membawa
120 serdadu dan 60 kuli paksa dengan kaki dirantai memasuki Sungai
Digul dan membuang sauhnya pada jarak ratusan kilometer dari pantai.
Hujan tipis tak menghalanginya untuk keluar dari kapal, memandang ke
arah hutan lebat maha luas dan tampak buas dalam bayangannya. Dari
tabir tipis gerimis ia masih bisa menangkap keluasan hijau yang
terbentang di depan matanya, daerah sunyi yang oleh Gubernur Jenderal
de Graeff telah dipilih sebagai kamp pembuangan kaum interniran merah
yang memberontak itu. Tubuhnya yang jangkung dan rambutnya yang
memutih bergoyang-goyang oleh kapal dan angin yang bertiup cukup
keras. Ia menggelengkan kepala dan menarik napas dalam-dalam.
"Di sinikah tahanan politik itu disembunyikan dari masyarakatnya,
ataukah justru dikuburkan untuk selama-lamanya?"
Lama ia berdiri di pagar kapal, mengamati hutan belantara dan
buaya-buaya yang berjemur dengan moncong terkatup di pinggir sungai.
Ia membayangkan suku-suku pedalaman yang nanti akan terganggu oleh
pekerjaan barunya. Sayang ia tak bisa mundur lagi. Dengan seluruh
perasaan bersalah mengeram di dalam dadanya, ia menekan hasrat
kemanusiaannya yang terus menggemakan pertanyaan demi pertanyaan. Ia
menggenggam bintang kehormatan yang tersemat di dadanya dengan
perasaan terhina dan masuk kembali ke kapal menemui Letnan Drejer dan
segenap prajurit bawahannya.
Setelah berunding beberapa saat, mereka menurunkan seluruh keperluan
pembukaan hutan dan perbekalan hidup mereka untuk masa tiga bulan.
Kecuali pakaian dan perlengkapan anak buahnya, terdapat alat-alat
duduk dan tidur, barang pecah belah, alat pertanian dan persediaan
benih, lalu kaleng minyak tanah yang isinya tidak lain bahan-bahan
makanan. Para kuli paksa dan sebagian besar serdadu membuka hutan
dengan model setengah lingkaran terlebih dahulu sebagai tempat untuk
mendirikan kemah dan tenda mereka. Sementara sebagian kecil serdadu
menjaga bahan persediaan makanan dan segala barang perlengkapan yang
telah diturunkan dari kapal.
Ketika kegelapan menyelimuti mereka, di tengah-tengah tenda dan kemah
baru diletakkan lampu stormking. Kapten Backing dan seluruh
pengikutnya bersiap-siap dengan serbuan pertama-tama manusia hutan
Digul. Pada tengah malam, ketika keletihan telah merayapi tubuh
mereka, tiba-tiba terdengar jeritan panjang yang datang dari berbagai
jurusan sekalipun tak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan
dirinya di bawah penerangan lampu. Beberapa kuli paksa gemetaran dan
membaca doa keras-keras, mengira suara-suara jeritan dari balik hutan
sebagai kemarahan hantu-hantu hutan yang pepohonannya telah mereka
babat. Namun, Kapten Becking dan sebagian besar serdadu yang dibawanya
yakin itu adalah suara-suara para penghuni hutan yang telah
menyaksikan aktivitas mereka sejak pagi. Setelah ditunggu-tunggu dan
mereka tak juga muncul atau menyerang, seluruh serdadu dan kuli paksa
menarik napas lega.
"Aku yakin mereka tidak buas, sebab kalau mereka buas sudah sejak
semalam mereka akan menyerang kita," ujar Kapten Becking keesokan
harinya.
"Aku harap juga demikian. Kalau mereka buas, pekerjaan kita bakalan
lebih payah lagi," letnan Drejer menimpali dengan kecut.
"Benar. Bagaimanapun tugas berat ini harus cepat selesai, paling tidak
sebelum satu bulan. Di samping tenda-tenda, kita harus mempersiapkan
dua gudang untuk menyimpan seluruh barang-barang yang telah kita bawa,
sebuah rumah sakit, satu stasiun radio dan sebuah kantor pos. Itu
belum termasuk menyiapkan lahan-lahan permukiman bagi kaum interniran
dan lahan pertanian mereka kelak."
"Kantor pos? Sungguh aneh, di sebuah hutan belantara seperti Digul
bagaimana mungkin ada kantor pos? Sungguh konyol gagasan orang-orang
Batavia itu," ujar Letnan Drejer mengejek.
"Sekarang mungkin kita tak membutuhkannya. Namun, nanti, ketika
seluruh kaum interniran itu diangkut ke sini, mereka akan
membutuhkannya. Apakah mereka akan dibiarkan betul-betul merana tanpa
berkirim kabar pada saudaranya di tempat lain. Mereka orang beradab
dan harus tetap berhubungan dengan peradaban."
"Mereka dibuang di sini saja bukan tindakan beradab, Kapten. Jadi
sia-sia saja mereka mencari hubungan dengan orang-orang beradab."
"Itulah yang sebenarnya melukai kehormatanku, Letnan. Aku lebih
terhormat meregang nyawa dalam sebuah pertempuran daripada membuat
tempat penyiksaan semacam ini. Tapi kita mengabdi kepada Gubernur
Jenderal, bukan kepada nurani kita," ujar Kapten Becking sambil
menguap. Tak lama kemudian ia jatuh tertidur.
Begitu terang tanah telah sempurna, mereka kembali bekerja membabat
hutan dan mempersiapkan tanah lapang untuk keperluan tempat tinggal
dan segala bangunan yang akan diperlukan nanti. Serdadu yang berjaga
dan ingin melepas kejenuhan menyusuri sungai dan berburu buaya.
Pada hari kelima, ketika mereka tengah siap memulai pekerjaan setelah
istirahat tengah hari, mereka dikagetkan oleh suara jeritan seperti
empat malam sebelumnya. Dari berbagai arah, dengan hanya berpakaian
bulu burung cenderawasih dan membawa sebuah pepaya di tangan,
manusia-manusia hitam bertubuh atletis itu menampakkan diri di hadapan
para serdadu dan kuli paksa, mencoba menarik perhatian mereka lalu
mendekat selangkah demi selangkah dengan sangat hati-hati. Kapten
Becking, yang telah melakukan studi lama tentang daerah sekitar hutan
ini beserta kebiasaan para penduduknya mendekati mereka dengan dada
berdebar-debar. Busur, panah dan lembing mereka siap bergerak. Namun,
buah pepaya yang ada di tangan para manusia hitam itu yang membuat
Kapten Becking yakin mereka tak akan membuat keonaran.
Dengan tangan gemetar ia mengeluarkan tembakau dari saku celanya dan
dengan bahasa isyarat dari tangan dan wajahnya ia mengajak mereka
menukar tembakau terebut dengan pepaya yang mereka bawa. Begitu mereka
menerima tembakau dan Kapten Becking menerima pepaya, orang-orang
hitam itu bersorak melegakan seluruh pendatang baru itu. Kapten
Becking meminta kepada Letnan Drejer untuk mengambilkan sekantong
garam dan barang-barang perhiasan kecil yang ada di gudang. Ketika
benda-benda itu diberikan kepada pemimpin penghuni hutan, mereka
membalasnya dengan memberikan bulu burung cenderawasih, burung-burung
yang cantik, dan binatang-binatang buruan yang berhasil mereka tangkap
dengan sumpit. Namun, yang paling membuat geli para pendatang baru itu
adalah sikap para penghuni hutan itu kepada gramofon yang mereka bawa.
Benda yang piringan hitamnya sedang berputar itu diangkat, diselidiki,
dan dilihat-lihat dari segala sudut dengan penuh keheranan.
"Mungkin mereka heran bagaimana suara manusia bisa muncul dari
gramofon itu, Kapten," kata anak buahnya sambil tersenyum dan tertawa
terpingkal-pingkal.
"Tentu. Mereka mencari bagaimana benda sekecil itu menyembunyikan
manusia," kata Letnan Drejer sambil tersenyum lebar.
Setelah beberapa minggu segala persiapan awal penyambutan kedatangan
para internitan yang pertama-tama di bekas hutan Digul itu selesai,
secara bergelombang datanglah kaum merah yang telah gagal memberontak
itu, dipisahkan dari bangsanya sendiri dan dikubur di tengah belantara
untuk selamanya. Pada pendatang baru ia memperkenalkannya sebagai
Tanah Merah.
Siapa sangka jika pekerjaan meletihkan dan memalukan itu kemudian
memaksanya berhenti dari dinas militer? Semuanya berawal ketika ia
mengizinkan seorang wartawan berkebangsaan Denmark masuk ke kamp
interniran dan melihat dari dekat segala hasil kerjanya. Kabarnya,
wartawan itu mengambil gambar para interniran selama di dalam kapal
dari Surabaya hingga sampai di Digul. Komandan kapal yang tak ingin
dosa-dosa para pejabat Batavia diketahui secara luas oleh seluruh
dunia merampas kamera dan menghancurkan foto-foto yang telah dibuatnya
selama di kapal. Alangkah murkanya ia ketika Kapten Becking justru
mengizinkan wartawan itu masuk ke kamp pembuangan.
Ia juga tahu para pejabat Belanda di Merauke tak menyukai
keberhasilannya membangun kamp pembuangan itu. Mereka membuat rencana
busuk untuk menyingkirkanya. Suatu kali Letnan Drejer memberitahu
bahwa Opsir Mon Joulah yang mengatur semua itu. "Ia sangat gila
kekuasaan, Kapten," ujar Letnan Drejer muak.
Foto dari wartawan Denmark itu rupanya telah melukai kehormatan para
pejabat Batavia. Mereka makin menyudutkannya atas tindakan ceroboh
memasukkan wartawan ke kamp pembuangan sehingga kabar tentang kamp
pembuangan itu meluas ke seluruh dunia. Saat itulah ia memutuskan
untuk mengirimkan kawat ke Batavia dan mengundurkan diri dari dinas
militer!
Tak akan terlupakan hari keberangkatannya meninggalkan Digul. Ia
berdiri di pagar kapal api, bukan lagi memandang hutan yang hijau
sunyi, namun permukiman yang dibangunnya belum setahun yang lalu
sembari merenungkan nasibnya. Hujan tipis membasahi baju dan rambutnya
yang putih. ***

Sokawangi, Oktober 07

Sonnet 73

26 Agustus 2009

William Shakespeare

That time of year thou mayst in me behold
When yellow leaves, or none, or few, do hang
Upon those boughs which shake against the cold,
Bare ruin'd choirs, where late the sweet birds sang.
In me thou see'st the twilight of such day
As after sunset fadeth in the west;
Which by and by black night doth take away,
Death's second self, that seals up all in rest.
In me thou see'st the glowing of such fire,
That on the ashes of his youth doth lie,
As the death-bed, whereon it must expire,
Consum'd with that which it was nourish'd by.
This thou perceiv'st, which makes thy love more strong,
To love that well, which thou must leave ere long.