Augustin Sibarani: Seorang yang Melukis Potret

30 Mei 2009

Esai: Eka Kurniawan
Dipublikasikan di majalah Pantau edisi 4
Februari 2002.

Lukisan karya Augustin Sibarani

Ia melukis siapa saja, dari Soeharto sampai Osama bin Laden, dengan
pendekatan realis maupun karikatural. Dia seorang karikaturis yang disebut -
Benedict ROG Anderson, ahli Indonesia asal Universitas Cornell, Amerika,
sebagai yang terbesar di negeri ini. Beberapa bulan lalu, satu hari di bulan
April 2001, Augustin Sibarani tampak penuh semangat bicara kepada siapa saja
tentang rencana penerbitan buku karikaturnya yang pertama, setelah
bertahun-tahun tak mempublikasikan buku. Waktu itu dia bahkan membawa
beberapa lembar coretannya, dibuat dengan kombinasi *drawing pen* dan cat
air.

Satu di antaranya bergambar empat politisi kelas atas Indonesia: Megawati
Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid, Akbar Tanjung, dan Amin Rais tengah
mengelilingi meja bermain kartu. Ia mencorat-coret permukaan karikaturnya
dengan *tip-ex*, terutama menghapus bagian-bagian teks yang terasa terlampau
verbal, sebab media sekarang tak menyukai gaya semacam itu.

Karikatur tersebut naik cetak di majalah 'Pantau' dan
beredar, bagaikan kembalinya si anak hilang. Republika, sebuah harian
nasional, bahkan mereproduksi karikatur itu di halaman satu dan membuatnya
jengkel sebab merasa tak dimintai izin. Dia memutuskan menggugat koran
tersebut ke pengadilan.

Ketika buku karikaturnya terbit atas kerja sama Institut Studi Arus
Informasi, Garba Budaya, dan PT Media Lintas Inti Nusantara, ia sungguh
senang hati, dan pada pertemuan kedua kami, ia bahkan tak bisa
menyembunyikan bayangannya sendiri bahwa buku tersebut akan menembus cetakan
kedua. "Akan ada penambahan karikatur, mungkin yang baru atau karikatur lama
yang telah dikirim Ben dari Amerika namun tak jadi dimuat," katanya.

Saya sedikit membuyarkan impiannya dengan mengatakan bahwa bukunya sangat
tebal dan mahal, Rp 65 ribu, sehingga ia meralat ucapannya sendiri, "Ya,
mungkin diterbitkan dalam buku yang baru."
***

TAHUN 1965 seolah merupakan akhir baginya, ketika suratkabar 'Bintang
Timu' berhenti terbit menyusul tumbangnya Orde Lama, padahal di
sanalah ia
mempublikasikan karikaturnya secara rutin sejak 1957. Ia sempat ditahan
selama lima hari. Tak hanya bayang-bayang kemiskinan yang menghantuinya, ia
terutama kehilangan media untuk menyebarkan coretannya, tempat kemarahan dan
lelucon berbaur dengannya.

Ia mulai menggambar ilustrasi untuk brosur-brosur tak penting, yang akan
dibuang orang secepat mereka membacanya. Dengan cara itu ia menjalani
hidupnya, menghidupi keluarga, dan menyekolahkan anak-anaknya. Tentu ada
waktu-waktu ketika membuat ilustrasi brosur tak memadai untuk apa pun, tapi
ia punya cara ampuh mengatasi kesulitan semacam ini. Istrinya, Saribar L.
Tobing, penganut Kristen yang baik dan Sibarani tak hanya bisa membuat
karikatur namun juga lukisan potret di atas kanvas. Itu ada hubungannya.
Istrinya rajin pergi ke gereja dan Sibarani sering membuat lukisan potret
untuk para jemaat teman-teman istrinya.

Kebanyakan ia melukis potret keluarga-keluarga mereka yang sudah mati,
semacam menjual kenangan masa lalu, mengolahnya dari foto-foto usang.
Menggabungkan foto kakek dan nenek yang terpisah seolah mereka duduk
berdampingan begitu erat. Orang-orang pun suka dan membayarnya.

Namun, tak selamanya ada orang yang memintanya melukis potret, sementara
kehidupan terus berjalan dan kebutuhan finansial terus merongrong. Maka ia
akan melukis satu-satunya laki-laki yang memiliki hubungan dengan semua
jemaat gereja itu: Yesus.

Ia tahu dengan pasti, orang-orang saleh tak akan mengabaikannya begitu
melihat lukisan si laki-laki yang tampak menderita di atas kanvas tersebut.
Ia lupa berapa banyak potret Yesus yang pernah dilukisnya.

Sesungguhnya Sibarani memulai karier sebagai pelukis potret belaka, pada
umur delapan tahun ketika ia menggambar wajah guru-guru sekolahnya dengan
modal pas foto mereka.

Dari segala potret yang pernah dilukisnya, potret Sisingamangaraja XII
mungkin potret paling fantastis yang pernah ia buat. Ia menggambarnya
bertahun-tahun lalu, sebab orang-orang Batak ingin punya pahlawan nasional
mereka sendiri, sebagaimana orang Aceh punya Tjoet Njak Dhien dan Teuku
Umar, orang Jawa punya Diponegoro, atau orang Maluku punya Kapiten Patimura.
Orang Batak mengusulkan pada Presiden Soekarno agar mengesahkan
Sisingamangaraja sebagai pahlawan nasional.

Seorang pahlawan harus ada potretnya, paling tidak, untuk bisa dipandang
anak-anak sekolah dan dipajang di kantor-kantor pemerintah, serta membuatnya
tampak tak mengada-ada.

Masalahnya, Sisingamangaraja telah meninggal jauh di awal abad XX, dan tak
meninggalkan sehelai foto pun.

Sibarani mulai bekerja bagaikan artis di biro kriminal kantor polisi yang
tengah mereka-reka wajah buronan tak dikenal. Ia beruntung masih bisa
bertemu keturunan sang pahlawan, juga teman-temannya, seperti ayah penyair
Sitor Situmorang, yang mengenal baik laki-laki yang akan dilukisnya itu.
Sibarani tak hanya ingin mengenal Sisingamangaraja sebagai sosok laki-laki
yang bisa dilukis di atas kanvas, tapi juga ingin mengenalnya bagaikan
pernah hidup bersama dirinya.

Berdasarkan cerita-cerita keluarga dan para sahabat, ia mulai melukis potret
Sisingamangaraja dengan cat minyak di atas kanvas. Ia memperlihatkan lukisan
tersebut pada keluarga sang pahlawan, dan mereka berseru, "Ya, memang
demikian wajahnya, tapi matanya sedikit berbeda."

Kerja keras terakhirnya melukis bagian mata, mengubahnya di sana-sini
sehingga cat menebal di sekelilingnya. Ya, inilah pahlawan yang tak pernah
ia lihat, bahkan potretnya sekali pun, kini hidup kembali di atas kanvasnya.
Akhirnya lukisan tersebut diantar ke Istana Merdeka. Soekarno mengesahkan
Sisingamangaraja sebagai pahlawan nasional. Itu sebelum Orde Lama jatuh.

Ini cerita setelah Orde Baru muncul: lukisan Sisingamangaraja itu
dipergunakan pemerintah untuk uang kertas rupiah. Ia bangga, tapi jengkel,
sebab Bank Indonesia tak pernah menyebut namanya sebagai pelukis sang
pahlawan, atau paling tidak minta izin mempergunakan lukisan tersebut.
Kemarahannya tak terbendung, maka ia menuntut Bank Indonesia ke pengadilan.
Laki-laki itu tengah mencoba menghadapi kekuasaan pemerintah menghabiskan
semua urusan dengan pengadilan selama delapan tahun, dan seluruhnya sia-sia
kecuali menghasilkan setumpuk berkas berita acara.

Kisah paling mengharukan, atau konyol, mengenai lukisan tersebut terjadi
ketika ia mengetahui lukisan Sisingamangaraja tak ada lagi di Istana
Merdeka, sudah berpindah ke tangan pribadi. Ia memburu lukisan itu ke
mana-mana, hanya ingin mengetahui nasibnya, seperti ada pertalian batin di
antara mereka. Suatu hari ia mendengar cerita bahwa lukisan itu berhantu,
hidup jika malam datang. Ia penasaran dan berjuang keras menemukannya
kembali.

Ketika menemukannya, semuanya telah berubah dan menyedihkan. Debu tebal
menempel di permukaan kanvas, dengan pigura baru yang tak beres
pemasangannya. Ada bekas jalur-jalur air hujan di jejak debu, membuat
lukisan jadi berantakan. Hanya bagian mata yang bercat tebal itulah yang
terlindung dari debu dan air hujan. Jika malam datang, mata tersebut
memandang tajam dan benarlah, ia bagaikan hidup kembali. Sibarani tak tahu
apakah ia harus menangis karena sedih, atau menertawakan kekonyolan orang
yang tak mengerti lukisan.
***

LANTAS, kapan, dan bagaimanakah laki-laki ini kemudian menggambar karikatur?
Ini cerita ketika ia berumur 25 tahun. Pada suatu hari ia dikunjungi seorang
temannya, Anwar Isnudikarta, seorang aktivis Partai Sosialis Indonesia, yang
mampir sejenak dalam kunjungan untuk menghadiri sidang parlemen Indonesia.
Tamu itu mengajaknya ke pertemuan, dan semuanya terjadi di aula Hotel Des
Indes. Sementara pidato-pidato berlangsung membosankan, ia membunuh waktu
dengan mencorat-coret, menggambar sketsa sebagaimana sering ia lakukan di
bangku sekolah.

Seorang wartawan, bernama Del Bassa Pulungan dari koran 'Merdeka',
menantangnya membuat karikatur yang bagus. Ia pun membuat karikatur Mr.
Mohammad Yamin, salah seorang politisi di parlemen, yang tengah berpidato,
dan ketika pulang, ia membuat gambar orang yang sama tengah memukul Sultan
Abdul Hamid, seorang tokoh federal dari Republik Indonesia Serikat, dengan
gaya kocak. Itu tak hanya membuat karikaturnya muncul di halaman depan *
Merdeka*, namun juga membuatnya semakin lebur ke dunia karikatur.

Ketika itu ia juga bekerja sebagai pegawai pertanian di Departemen
Kemakmuran, sebab ia lulusan Sekolah Pertanian Bogor yang pada zaman Belanda
disebut Middelbare Landbouw School. Ia digaji Rp 300 per bulan, dengan
fasilitas antar jemput dan kemungkinan naik pangkat sebab ia veteran perang.
Namun, dunia karikatur sungguh-sungguh menggodanya dan ia memutuskan jadi
karikaturis lepas untuk banyak suratkabar seperti 'Kader', 'Gelanggang
Masyarakat', dan 'Pewarta Djakarta'. Penghasilannya jadi tak tentu, kadang
lebih banyak dari uang yang biasa diperolehnya, kadang harus ke sana-kemari
berjalan kaki dengan perut keroncongan.

Itu seolah menebus keinginan lamanya untuk menjadi pelukis. Keinginan lama
yang tak tergapai sebab ibunya yang bernama Martha Hasibuan, yang kawin
dengan Jozua Sibarani dan melahirkannya pada tanggal 25 Agustus 1925,
membesarkannya seorang diri sejak ayahnya meninggal kala ia berumur lima
tahun. Ibu ini tak menginginkannya masuk sekolah formal seni lukis. Padahal
ibunyalah yang telah mengalirkan darah seni itu, sebab selain seorang
penginjil untuk para ibu di kota Pematangsiantar, ia juga pandai menyanyi,
mendongeng, mahir menyulam, dan melukis motif ulos.
***

AWAL 1953, Sibarani menerbitkan tiga buku kartun untuk anak-anak, "Si Kasmin
Pergi ke Kota", "Musik si Beber", dan "Rumah si Bolang". Buku ini
diterbitkan oleh sepasang suami istri sahabatnya, Alex Sutantio dan Lily,
putri mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Ia membuat gambar-gambar
binatang ala Walt Disney, dicetak berwarna di
Belanda, dibayar putus seharga Rp 22 ribu. Cukup untuk membuatnya kaya
mendadak.

Tak lama setelah itu, ia berkenalan dengan seorang Belanda pemilik toko buku
dan sekaligus penerbitan yang kemudian ia biasa panggil sebagai "Tuan
Gotfried" saja. Tuan Gotfried mengagumi ketiga bukunya, sebab laku dibeli
anak-anak gedongan, dan menawarinya menerbitkan buku baru, dengan konsep
yang berbeda agar tak tampak mencaplok ide orang. Buku kumpulan gambar
lelucon berikutnya, yang ia kumpulkan dari majalah 'Aneka', terbit dengan
judul "Senyum, Kasih, Senyum".

Tapi sepanjang kekuasaan Orde Baru, betapa sulitnya menerbitkan kembali
karikatur, yang ringan sekalipun. Terutama karena ia dicurigai sebagai satu
dari orang-orang kiri. Dua puluh tahun berlalu sampai ia memperoleh
kesempatan tampil bersama karikaturnya. Ketika itu G.M. Sudarta dari harian
'Kompas' mengunjunginya bersama Arwah Setiawan dari Lembaga Humor Indonesia.
Ia memperoleh undangan untuk ikut serta dalam pameran besar karikatur di
Ancol, Jakarta, dan karikatur-karikatur pun segera disiapkan. Kesempatan itu
lenyap saat Harmoko, yang waktu itu menteri penerangan, mengetahui
keikutsertaannya. Harmoko, yang pernah jadi kartunis 'Merdeka', mengancam
tak akan membuka pameran jika Sibarani ikut.

Itu pula yang mendorongnya membuat pameran tunggal. G.M. Sudarta menyumbang
Rp 100 ribu. Tanpa acara pembukaan dan tanpa undangan. Sudarta menulis
ulasannya di 'Kompas', sedangkan Mochtar Lubis, editor legendaris harian
Indonesia Raya, datang memuji-mujinya sebagaimana dulu ia memuji buku "Senyum,
Kasih, Senyum", tak peduli betapa tak sukanya Sibarani terhadap garis
politiknya.

Sibarani harus menunggu tumbangnya kekuasaan Orde Baru untuk bermimpi
menerbitkan buku karikatur kembali. Ia menyelundupkan fotokopi
karikatur-karikaturnya ke tangan mahasiswa. Pada 1998 sejumlah media Prancis
menerbitkan karikatur-karikaturnya, seperti "Le Monde Diplomatique", "
Humanite", dan "La Lettrede". Karikaturnya kemudian berkeliaran di internet,
terbang ke Amerika Serikat, dan dimuat di jurnal Indonesia terbitan
Universitas Cornell.

Fenomenanya mungkin bisa disejajarkan dengan Pramoedya Ananta
Toer,
seorang sastrawan terkuat Indonesia, yang berhasil muncul kembali ke dunia
sastra Indonsia melalui novel-novel barunya. Sibarani berharap bisa berhasil
pula saat kembali ke dunia karikatur Indonesia. Tapi paling tidak satu
keinginannya sudah gagal. Semula ia ingin memberi judul kumpulan
karikaturnya dengan "Karikaturku", tapi si editor lebih suka menjualnya
dengan judul "Karikatur dan Politik".

Namun ia tetap orang yang dulu itu, penuh semangat dan teguh pada garisnya.
Ia menunjukkan potret Osama bin Laden dan George Bush Jr. dalam gaya
karikatural kepada saya beberapa bulan lalu, bagaikan memperlihatkan
kesetiaan seorang karikaturis tua yang menantang roda zaman.

1 komentar:

Fajrul mengatakan...

Kirimkan Resensimu kefajneos@gmail.com atau xelfajr@gmail.com untuk ditampilkan di sini.