Kami Bongkar Rumah Kami

02 September 2009

KAMI turunkan genteng sepanjang siang yang terik setelah jendela,
pintu, beserta jeruji-jeruji kami lepaskan dari tembok rumah yang
dibangun kakek-nenek kami 90 tahun yang lalu. Kami memutuskan untuk
membongkar rumah warisan itu dan menggantinya dengan yang baru. Kami
akan mengubahnya dengan gaya "spanyol" yang lagi mewabah di daerah
kami. Rumah dengan satu pintu di bagian depan, kaca hitam tanpa kerai
kaca di sebelah kiri, dan dinding sebelah kanan akan dilekatkan
keramik mengilat dengan bagian atasnya terdapat angin-angin dari kaca
hitam. Di serambi akan kami pancangkan dua tiang dari beton berhias
ukiran khas Jepara dan lantainya tentu dengan keramik mengilat. Rumah
itu tidak membesar tetapi memanjang ke belakang dengan satu kamar
utama di samping ruang tamu dan dua kamar tidur bersebelahan dengan
ruang peristirahatan keluarga. Kami bayangkan tersedia satu televisi
berukuran 21 inci dan satu perangkat lengkap elektronik untuk
mendengarkan musik. Di bagian belakang akan dibangun sebuah dapur
model terbaru dengan lemari kayu terpasang menempel di tembok dan di
bagian bawah lemari itu dipasang plester tertutup keramik seukuran
telapak tangan berwarna putih. Sementara di samping dapur, tepat di
kanannya, akan dipisahkan oleh tembok sebagai sebuah ruangan garasi.
Di sebelahnya akan ada sebuah kamar mandi dengan lantai keramik
berukuran kecil berwarna biru dan satu bola lampu berkekuatan 70 watt.
Dan kami akan mengecat tembok bersemen tersebut dengan cat putih
buatan pabrik dan bukan dari kapur. Menutupinya dengan genteng bercat
merah yang kalau tertimpa cahaya matahari akan memantulkan
kilatan-kilatan yang menyilaukan. Mungkin rumah kami ini nantinya
menyerupai makhluk baru dan siapa pun yang pernah datang ke rumah kami
pasti akan tercengang dan apabila memasukinya akan merasakan seperti
berada di sebuah pesawat luar angkasa dengan antena televisi menjulang
ke atas seakan ingin menusuk langit.

Kami tiga bersaudara telah sepakat mengganti rumah itu bukan semata
mengikuti gaya terakhir bentuk rumah di daerah kami, tetapi kami
sengaja untuk menghilangkan segala peninggalan kakek-nenek kami.
Jauh-jauh hari telah kami undang penebang bergergaji mesin untuk
memangkas sepuluh batang pohon kelapa yang barangkali usianya lebih
tua dari kami. Popon-pohon itu tinggi sekitar 75 meter dan kala
tertiup angin akan meliuk-liuk seakan memanggil cerita-cerita yang
kami dengar dari bapak-ibu kami, saudara-saudara ibu kami, dan
tetangga-tetangga kami. Dan kami juga melihat album foto keluarga
tentang rumah itu kala tahun 1967. Kami selalu merasa tidak pernah
berada di tahun 2006 ketika mengingat dan membuka album keluarga itu.
Ada bayangan hitam yang selalu membuat kami ingin membakar rumah
beserta tanah sekitar satu hektar itu. Membakarnya dan menggantikannya
dengan sebuah gedung bertingkat 70 lantai. Tapi itu mustahil. Kami
hanya biasa menggantinya dengan rumah bergaya "spanyol" dan memangkas
semua pohon kelapa di halaman dan menggantikannya dengan sebuah taman
dan di situ berdiri sepuluh pohon cemara. Pohon dengan daun-daun
bergerigi dan lancip yang akan mengingatkan kami bahwa kami hidup pada
tahun 2006 dan bukan berada di tahun 1967.

Memang kakek-nenek kami tidak langsung membangun rumah yang sedang
kami bongkar ini dengan tembok seperti yang terlihat sekarang, tetapi
bertahap. Pertama kalinya dibangun dengan menjejakkan kayu yang
ditebang dari hutan entah di mana dan menutupinya dengan anyaman
bambu, memberinya daun pintu dari kayu jati dan jendela dengan terali
dari kayu yang dipasak dan diatapi genteng yang dibeli dari tetangga
desa. Setiap pasak dari kayu yang dijejakkan, diberi landasan batu
kali yang diambil dari Sungai Ewuh di sebelah timur rumah. Pertama
kali membangun rumah itu sekitar tahun 1930-an sebelum Jepang masuk
dengan senjata berbayonet dan merampok padi-padi dan memaksa
orang-orang makan dari ubi kayu dan sayur hati pohon pisang. Kami
tidak tahu bagaimana rasa makanan seperti itu. Tapi menurut bapak kala
itu makanan seperti itu nikmat sekali.

Tahap kedua rumah itu dibangun pada tahun 1957. Ibu pernah bercerita
pemugaran rumah tersebut atas usul kakek kami sebelum dua tahun
kemudian meninggal yang menurut ibu terserang sesak nafas. Rumah itu
dibedah bagian tengahnya dan menguatkan pondasi dari batu kali dengan
beton campuran pasir sungai, pasir batu merah, dan kapur putih. Lantas
di atasnya batu-bata disusun membujur dan bukan melintang sebagaimana
tembok sekarang. Tembok rumah kakek-nenek kami tersebut tebal dan
tampak sangat kuat. Daun pintu dan jendelanya terbuat dari kayu jati
yang sudah sangat tua dan ketebalannya 5 cm. Sementara bagian depan
dibiarkan tetap berdinding anyaman bambu dan bagian dinding depannya
tersusun dari bilahan-bilahan kayu jati. Rumah nenek kami tidak
membujur ke belakang melainkan berbentuk serupa huruf L dengan bagian
bangunan depan sebagai kakinya.

Rumah itu besar dan, sebagaimana terlihat sekarang, satu-satunya yang
terbesar di antara rumah-rumah yang ada. Rumah tembok dengan warna
putih dari batu kapur yang setiap tahunnya selalu dikapur, tepatnya
hari raya lebaran. Setiap dikapur mendadak rumah itu tampak bangun
dari tidur panjangnya, berganti dengan pakaian baru, dan siap
menyambut siapa saja. Seolah hanya pada hari raya rumah kami
bergembira dan menghadapi apa pun dengan kesukaan ria tersendiri yang
tidak akan ditemukan kecuali pada hari raya itu. Kadang di depannya
akan dipasang daun kelapa yang masih muda berjuntaian seolah tangan
yang melambai-lambai kepada setiap orang yang lewat. Mungkin berkata,
"Hei kemarilah. Aku bahagia kau datang. Aku sedang tidak ada masalah
hari ini."

Demikian juga penghuninya. Pada hari raya itu semuanya, kami beserta
bapak ibu kami, adalah manusia baru. Kami saling melihat di antara
kami seolah kami adalah orang baru dan tidak teringat apa yang terjadi
kemarin, kemarin, dan kemarinnya. Kami memakai baju baru meskipun
tidak yang terbagus yang dijual di daerah kami. Sandal baru. Celana
baru. Dan makanan-makanan baru berwarna-warni. Sering kami, ketika
tidak hari raya, selalu berharap setiap bangun dari tidur adalah
makanan yang baru tersedia, tersenyum-senyum, dan tidak bertemu
orang-orang terkutuk yang selalu datang dengan wajah muram dan seolah
hendak memakan kami seketika itu juga.

Ya, sewaktu kami berusia sekitar dua belas tahun rumah kami sering
didatangi orang-orang yang meneror kami sekalipun mereka adalah
keluarga dari ibu. Sebab mereka datang dengan begitu saja dan meminta
pada ibu apa saja dan harus tersedia pada hari itu. Jika tidak, ibu
kami akan dibentak-bentak dan jika tidak diberi juga apa yang diminta
ibu kami akan digampar seolah ibu kami bukan manusia. Kami tak tahu
apa yang dibenak orang itu. Orang itu biasa kami sebut Pak Min jika
kami dengan terpaksa bertemu dengannya di depan rumah atau di jalan
sebagai tanda hormat di mata orang-orang yang ada di sekitar kami:
bahwa kami masih menghormati saudara ibu. Atau, sebenarnya ketakutan
akan digampar juga?

Sebelum nenek kami meninggal, nenek kamilah yang menjadi sasaran.
Kerap kali nenek dibentak-bentak oleh Pak Min dan entah karena takut
terus-menerus dibentak anak laki-lakinya atau karena alasan lain nenek
biasanya mengambil uang simpanannya atau perhiasannya dan begitu saja
mengulurkannya pada si anak. Setelah itu, si anak, tanpa satu kata
pun, beranjak dari tempatnya duduk dan langsung berjalan menuju sepeda
di halaman dan mengayuhnya entah ke mana. Nenek kami lihat hanya
menghela nafas dan berusaha tersenyum pada kami seraya mengajak kami
ke luar rumah membersihkan rumput-rumput yang mulai tumbuh di seantero
halaman depan. Nenek selama membersihkan rumput-rumput tak satu kali
pun bersuara dan hanya tangannya yang cekatan dan kuat mencerabut
cengkeraman akar-akar rumput di tanah halaman rumah. Kemudian
mengumpulkannya di sebelah barat rumah dan membakarnya bersama-sama
dengan daun pisang dan rambutan yang sudah mengering. Di mata kami
selama pembakaran rumput nenek sangat khidmat seolah nenek sedang
membakar kemarahannya sendiri atas perilaku anak lelakinya.

Tapi di dalam hati kami tidak menyebutnya Pak Min tetapi sang
Pembelih. Sang Pembelih karena ia algojo orang-orang di daerah kami
ketika prahara 1965. Menurut saudara Ibu, pada suatu malam sang
Pembelih itu didatangi beberapa orang yang menggunakan penutup kepala
hitam dan hanya dua biji matanya yang tampak serta sekujur badannya
tertutup oleh pakaian hitam. Tak tahu bagaimana jalan pikirannya, sang
Pembelih itu dengan senang hati ikut mereka. Sang Pembelih itu turun
dari rumah dan berjalan di kegelapan malam dan menuju ke jalan menuju
ke utara. Ibunya, nenek kami, menangis sewaktu sang Pembelih itu ikut
sekalipun nenek kami telah berusaha mencegahnya. Ia tergulung-gulung
di lantai disaksikan keempat anak perempuannya yang masih kecil-kecil
menggigil di sudut rumah. Kakek kami saat itu telah mati dan nenek
kami menjadi bulan-bulanan anak-anak lelakinya, terutama sang
Pembelih.

Begitulah dalam bulan-bulan di paruh kedua tahun 1960-an sang Pembelih
merajalela. Banyak orang yang dibunuh oleh sang Pembelih. Nenek kami
mendengar kabar perilaku anaknya hanya tercenung dan sulit sekali
diajak bicara. Nenek kami menjadi jarang di rumah dan suka sekali ke
luar rumah malam-malam entah ke mana. Kadang dua hari tidak pulang dan
pulang dengan baju lusuh dan bau tak sedap menguap dari badannya.
Setiap ibu kami atau saudara perempuan lainnya mengatakan kebutuhan
dapur telah habis, nenek akan diam atau berteriak, "Kalau ingin makan
cari sendiri, kalau tidak mati saja sekalian!" Maka, ibu kami yang
masih kecil bersama ketiga saudara perempuannya mencari kebutuhan
dapur dengan cara pergi ke pinggiran Sungai Ewuh untuk mencari cabai
dan sayur-sayuran yang tumbuh dengan sendirinya sebab sawah telah
terbengkelai. Kalau tidak mencukupi sebab seharian tidak mendapatkan
apa yang mereka butuhkan, biasanya mereka meminta kepada
tetangga-tetangga sebelah. Sementara kedua saudaranya laki-laki
semakin jarang pulang dan jika pulang hanya sekejap dan itu pun akan
membawa barang-barang untuk digadai atau dijual semenjak nenek kami
sulit sekali diajak bicara dengan enak tanpa ledakan-ledakan amarah.
Ibu kami akhirnya putus dari sekolah menengah pertama karena sepeda
yang dipakainya untuk mencapai sekolah selama dua jam perjalanan
dibawa kabur dan tidak pernah kembali. Ibu kami hanya bisa menangis.

Ya, Ibu hanya bisa menangis. Menangis sebagaimana ia dipukul oleh sang
Pembelih itu. Kami hanya diam dan diam-diam semenjak kami masih kecil
hati kami mengeras kepada sang Pembelih itu. Sang Pembelih yang memang
tak lagi menyembelih tetapi sang Pembelih itu tidak tahan ketika
sangat lama tidak mendengarkan suara-saura sayatan sebagaimana ia
dengar terus-menerus pada prahara 1965-an. Suara sayatan akibat
parangnya itu telah meresap ke sanubarinya dan tertanam dalam dan
bahkan berumah di sana. Setiap kali suara sayatan yang setiap malam
terdengar di tahun-tahun paruh kedua tahun 1960-an itu berkelebat di
tahun 1980-an maka sang Pembelih itu kelimpungan. Ia akan membanting
apa pun sampai suara-suara itu meredam sayatan yang menggejolak dalam
sanubarinya. Kalau membanting tidak cukup meredam suara sayatan itu,
ia akan datang menemui istri atau anak-anaknya, dan kalau tidak ada
maka ia akan ke tempat saudaranya, terutama saudara perempuannya. Dan
sang Pembelih itu akan suka sekali mendengar suara saudaranya
mengerang kesakitan.

Ah, dada kami seperti hendak memecah. Tapi Ibu kami mengatakan pada
kami untuk tidak melakukan apa pun pada sang Pembelih itu atas semua
yang telah dilakukannya kepadanya. Ibu mengatakan bahwa kami harus
memberhentikan serangkaian dendam itu dan mengakhirinya, syukur kalau
bisa memotongnya. Kami tak tahu apa yang sesungguhnya berada di dalam
benak Ibu kami ketika Ibu kami mengatakan pada kami ketika ia membujur
di ruang tengah rumah dengan wajah memandang jauh ke atas. Senja baru
menyemburat ke langit. Burung-burung terbang di angkasa. Daun-daun
pohon kelapa tampak kekuningan di pucuk-pucuknya. Nafas Ibu tersengal
sebentar kemudian diam selamanya.

Pada saat itu Ibu adalah orang terakhir yang hidup di antara
saudara-saudaranya yang lain. Ibu tidak memberikan apa-apa kepada kami
kecuali harapannya kepada kami untuk hidup berdamai. Ya, kami bisa
memaafkan kepada keluarga sang Pembelih yang membuat Ibu kami tersiksa
sepanjang hidupnya. Kami hanya tak tahan apabila kenangan rumah itu
menguat dan mulai mengganggu mimpi-mimpi kami lalu merambat di antara
pikiran-pikiran kami seperti percikan api di musim kemarau. Kami bukan
takut pada bayangan-bayangan itu, tetapi kami takut kami tidak bisa
mengendalikan tindakan kami ketika dalam kami muncul bayangan sang
Pembelih. Mungkin kami diam atau mungkin kami mengambil apa pun dan
mengayunkannya kepada siapa pun yang berada di dekat kami.

Kami tak mau bayangan-bayangan itu muncul lagi dan kami telah sepakat
di antara saudara kami untuk membongkar rumah kami yang usianya hampir
seratus tahun itu dan menggantinya dengan rumah baru bergaya
"spanyol". Kami tak tahu apa yang terjadi pada pikiran-pikiran kami
setelah rumah baru tersebut selesai dibangun. Mungkin kami akan
kehilangan semua masa lampau kami sebab semua perangkat rumah baru
kami nanti tak satupun berasal dari warisan kakek-nenek kami dan
bapak-Ibu kami. Kami akan membeli semua peralatan rumah dan menatanya
dengan cara terbaru sehingga akan terbentuk suasana yang tak pernah
kami rasakan sebelumnya dan tak pernah orang pikirkan. Kami akan
berada di sebuah situs baru dan kami akan membuat masa lampau-masa
lampau yang baru lagi.***

2006

0 komentar: