Air yang Menakutkan

10 Juli 2009

Cerpen Alimuddin Silakan
Dimuat di Suara Pembaruan 07/05/2009

Mengapa tak saja angin pantai yang membunuh? Mengapa tiada juga petir
kesepian yang menarik lembaran-lembaran nyawa?

Mengapa musti air yang menjadi makhluk Malaikat Maut Izrail?

Aku sukai air. Air seumpama bayi bidadari yang tengah mengikat mimpi
di jendela-jendela langit. Berkulit mengesankan. Miliki harum kasturi
menghanyutkan.

Aku sukai air. Kemudian air mencurah dari atap-atap langit. Melalui
atap-atap rumbia berenang-renang di tanah daratan. Bernyanyi-nyanyi di
tanah sawah bersama bocah-bocah petani.

***

Aku idam sekali rumah kayu yang punyai pilar-pilar gagah.
Dinding-dinding rumah penuh dengan tulisan kaligrafi mengesankan.
Rumah itu rumah idaman untuk orang-orang yang tergila-gila akan
kenangan pahlawan bangsa.

Memasak di rumah dapur1. dua jendela--hanya cukup untuk mengisi
setengah badan di sisi barat dan sisi timur. Jendela-jendela itu akan
beri sinar matahari untuk rumah. Menyimpan dan mengambil padi di
lumbung padi.

Anak-anak akan riuh bermain kelereng di bawah rumah. Sebagian
mempermainkan jingki penumbuk padi yang sebenarnya tidak boleh
dimain-mainkan. Sebagian berputar-putar di pilar-pilar kokoh rumah.
Sisanya mungkin akan bergelayut di cabang-cabang delima demi dapati
buah yang masak.

Rumoh Aceh. Rumah manyang (tinggi) Aceh. Begitulah namanya.

Tapi di mana kini?

Petang kemarin, Sakdiah datang ke rumah bantuan kami yang gersang.
Segersang wajah mukaku. Matahari masih merdeka--meski petang. Sinarnya
menyengat sebab tiada badan pohon menghalau cahaya itu agar kembali ke
awan langit.

Tangan kiri Sakdiah menjinjing rantang yang mengeluarkan harum.

Berbinar sakdiah berkata,"Kuah pliek2 ini aku bikin sendiri. Tidak
pedas biar kamu suka, Fauziah."

Ia amati garis mukaku yang tidak bersemengat.

Mengapa masih hidup dengan kenangan buruk Fauziah?

Sakdiah, baru empat tahun, mengapa telah lupakan kenangan?

Ia menggulung-gulungku Sakdiah--Kamu juga kan? Aku dibawa ke samudera
lepas. Ia mengkaramkan Mak, abi dan Dek Nong. Ia menyeret rumah
manyang idaman kita.

"Ah, Fauziah.."

Hingga kapanpun aku tak tahu harus menjawab apa. Mengapa masih hidup
dengan kenangan buruk, Fauziah?

Lupakan kenangan buruk fauziah. Empat tahun bukan waktu yang pelan
untuk melupakan.

Sakdiah. Sakdiah. Ini saja yang kau ulang-ulang.

"Laki-laki pendamping hidup akan buat kau lupakan kenangan buruk, fauziah!"

Sakdiah pulang.

Laki-laki pendamping hidup? Seperti Mala yang berbahagia?

Hujan. Air dari langit mencurah. Mengapa aku tak sadar? Melengking aku
memanggil masyik (nenek).

Masyik berjalan lahan-perlahan seolah tidak tengah mengalami hal parah
di luar. "Hujan adalah anugerah Fauziah. Air hujan akan menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan."

"Hujan ini raya masyik," aku berlari ke muka jendela. Aku menunjuk
biji-biji hujan yang seperti terpeleset dari badan langit.

Hujan akan semakin raya masyik. Hujan ini akan lahirkan samudera. Lalu
ombak besar akan datang. Menggulung-gulung kita.

Danau mataku telah banyak memenjarakan bintang.

Suara bahagia anak-anak lahir di jalanan. Anak-anak itu girang kejar-mengejar.

"Lihat mereka yang tergila-gila dengan hujan fauziah. Hujan-hujan ini
tidak akan menggulung kita. Hujan ini adalah rahmat."

"Suruh anak-anak itu pulang masyik! Sebentar lagi hujan ini akan
memanggil gelombang besar.."

"Oiii.. Pulang cepat!!"

"Po (Ya) Allah rabbi, kapan derita ini aka

Aku sukai hujan. Dulu. Aku sukai laut. Dulu. Aku jatuh cinta dengan
air sumur. Dulu. Aku tergila dengan jernihnya air sungai. Dulu.
Diam-diam aku juga masih simpan ingin untuk mencebur badan ke kali?
Dulu.

Dulu. Sebelum gelombang besar itu datang dan membuat karam.

***

Yang kau butuh cuma laki-laki pendamping hidup untuk lupakan kenangan
buruk, fauziah.

Terkenang-kenang aku dengan ucapan Sakdiah.

Aku bergumam, laki-laki? Siapa dia gerangan?

Suara masyik merdu mengaji. Hujan petang telah pergi. Tapi sepertinya
akan datang lagi--yang membuatku berjaga. Sebab angin begitu
hilir-mudik di sekitar rumah kami.

Aku tidak boleh lengah. Air tak boleh kalahkan aku lagi!

Tapi malam larut telah kalahkan kekuatan mataku. Dan malam itu hujan
kembali mencurah. Lebih deras dari hujan petang.

***

Dengan Manan, pria tampan itu, diam-diam aku simpan suka. Tak pernah
berani aku sebarkan. Bahkan untuk Manan yang kusukai itu. Dulu.
Sebelum gelombang besar itu datang dan membuat karam.

Ketika pagi ini, angin begitu sejuk menerpa badan, hati siapa yang
tidak terkejut ketika temukan yang mengetuk-ngetuk pintu adalah Manan.

Aku merasa mukaku telah merah padam seketika.

Masyik tergopoh menyuruh Manan masuk. Aku temani Manan duduk di ruang
depan sementara masyik akan membuat kopi. Diam begitu diam menguasai
setiap jarak kami.

"Saya baru pulang dari kota semalam masyik,"

Baru ketika masyik telah menghidangkan kopi untuk Manan, diam itu
telah pergi. Meski aku hanya menjadi pendengar yang budiman. Ketika
masyik kembali harus pergi, diam kembali menjadi pembicaraan kami.

Kata Sakdiah muka wajahku tak terlalu layu lagi.

"Manan memegang tanganku Sakdiah,"

Wajah Sakdiah diliputi kaget. Kemudian ujarnya pelan,"betulkan kataku,
laki-laki pendampiang akan buat kau lupakan kenangan buruk."

Telunjuk sakdiah mengarah ke jalanan. Manan tersenyum di atas sepeda motornya.

Ia membawaku jalan-jalan dengan sepeda motornya. Entahlah, atau ini
hanya sekedar perasaan sesaat, laki-laki pendamping akan buatku
lupakan segala kenangan buruk.

Di antara deru sepeda motor Manan berkata,"aku ingin menikahimu Fauziah…"

Terpaksa kupeluk pinggang Manan agar tubuhku tak terjerambab.

***

Petang ini aneh, Manan mengikat mataku dengan kain hitam berukuran
kecil. Katanya, ia akan bawa aku ke suatu tempat

Manan mengunjungiku setiap petang. Dengan kunjungan itu,
petang-petangku menjadi bunga yang jatuh cinta dengan sang kumbang.

Kurasa betul kini, manna telah buatku lupa akan segala kenangan buruk.
Kurasa kini, aku bisa lagi mencintai air hujan seperti dulu.

Tapi hujan sama sekali tak lagi tercurah.

Kemudian sepeda motor mulai menderu. Aku tidak tahu menahu ke mana
akan dibawa Manan. Sudah kucoba membuka mata, tapi hanya gelap saja
yang kudapati dibalik kain hitam itu.

Lama perjalanan gelap itu. Lama sekali sampai hatiku begitu tidak
sabar ingin tahu. sampai Manan menghentikan laju sepeda motornya.
Telingaku menangkap bunyi-bunyi yang menghempas-hempas. Di mana ini?
Angin pun begitu kuat menampar-nampar. Di mana ini?

Manan membuka kain hitam yang menyiksa penglihatanku.

Kurasa mata laut lepas itu akan menerkamku! Kurasa nyawaku tengah
ditarik si Malaikat Maut.

Ia menggulung-gulungku. Menghantam kepalaku. Menganyutkan aku hingga
timbul-tenggelam. Aku dibawa ke samudera lepas. Ia mengkaramkan Mak,
abi dan Dek Nong. Ia menyeret rumah manyang idaman.

"Fauziaahhh…." .***

0 komentar: