Sesal Ini Abadi

16 Juli 2009

Cerpen Ayu Febriasari
Mahasiswa FKIP Biologi Universitas Jambi 2008

Tepat hatiku ditikamnya,perkataan–perkataan itu sudah akrab denganku,namun tetap saja aku tak rela menerima semuanya. Rabbi,,,,,, sudah berapa kali luka ini kurasakan, sudah berapa banyak air mata kuhabiskan,sudah berapa lama aku menyesalkan. Sedikit pun aku tak pernah rela menjadi aku. Aku tak pernah ingin menjadi aku. Aku tak pernah bersedia menjadi aku. Aku Pilu….

* * *


Tetes embun pagi berhasil mengguyur tidurku,berhasil memisahkan aku dari mimpi indah… mimpi yang tak pernah berhasil menjadi kenyataan.

“Sudah bangun , Nak?”,Tanya Ibuku.tangannya aktif mengerjakan sulaman

“Ehm..”. Sahut ku acuh. Ibu menghentikan pekerjaannya,berjalan mendekati kursi tempat aku duduk,meletakan sulaman bunganya dan memegang pundakku.Hangat…

“Mina, aku ibumu,kesedihanmu adalah rapuhnya aliran darahku,keperihanmu ialah luluh lantahnya jiwaku,dan setetes air matamu ialah satu sungai dari mata air kasih ku padamu.
Kau Putriku,,,”, kata ibu lirih ,mata ibu seperti kacamata ,bukan ..bukan kacamata,tepatnya aku dapat melihat matanya berkaca-kaca.

“Ibu,Tuhan tidak adil padaku, tidak ada yang adil padaku,aku sudah lelah,menjalani perihnya hidup,kenapa kau melahirkan aku ke dunia, Ibu,kenapa kau bersedia meminjamkan rahimmu tempat bersemayamnya jiwaku,jika nantinya penderitaan yang kurasakan”. Tak sanggup lagi ku bendung air mataku ,ku ucapakan sumuanya

“Demi Tuhan Mina,jangan pernah berkata seperti itu,perkataanmu menambah sakitnya sesalku,”

“Kenapa???,Ibu ingin lari dari kenyataan, jikalau sumber penderitaanku adalah ibu,lihat aku Bu, tidakkah ibu melihat betapa menyedihkannya keadaanku,Lihat tanganku Bu,seharusnya aku memiliki dua tangan,tapi aku cuma punya satu,itupun tidak hanya sesuai ukuran,Lihat kakiku,bukankah seharusnya mereka berdua memliki bentuk dan ukuran yang sama,tapi salah satu diantaranya hanya berupa daging timbul yang menjijikan!!!,lihat mataku,kenapa dari pertama aku hanya dapat melihat sesuatu hanya dari satu mataku,dan kepalaku bukankah seharusnya dia di penuhi dengan berjuta-juta rambut.Kemana mereka semua Bu,Kemana perginya mereka semua???”Jeritku, aku sudah tidak sanggup lagi membendung perasaan dukaku, Aku tau Ibu terluka,pasti dia terluka

“Maafkan Ibu ,Mina,, maafkan Ibu,,, seandainya saja….”.


Seandainya saja dulu dia tidak mencoba menggugurkan kandungannya,seandainya saja sejak awal ia sudah ikhlas meminjamkan rahimnya untuk jiwaku,Seandainya saja dahulu ia sudah siap menerima kehadiranku,,,Rabbi
Dulu,Ibu adalah seorang wanita penjaja kehormatan,yang bersedia menukarkan mahkotanya dengan uang, seorang penjaja yang dimanapun dia memijakan kakinya akan selalu rendah dipandang semua mata,aku mengetahui semua itu dari nenekku sendiri. Ibu ku pun dulu seorang pendurhaka,prilakunya yang awut-awutan berhasil mempercepat proses kematian Ayahnya.Seluruh keluarganya menjahuinya, tidak sedikit dari keluarganya yang tidak mengakuinya lagi,menganggapnya sudah mati,bahkan Ibunya sendiri yang merupakan nenekku,belum mampu merestui hidupnya,sampai detik ini. Profesi Ibu,akhirnya menbuahkan hasil,yakni diriku,tapi Ibu tidak dapat menerima semuanya,dia melakukan berbagai cara untuk melenyapkan aku,tanpa mendengarkan terlebih dahulu tangisanku dan melihat tawaku. Tapi semua usahanya gagal,atas izin Tuhan aku dapat lahir ke dunia ini,tapi dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Aku ketahui semuanya dari sepupu Ibu,Tante Ira,yang kelihatannya juga sangat membeci Ibu. Walaupun Cuma Dia Satu-satunya Keluarga Ibu yang masih mau mengunjungi Ibu dan aku
Aku cacat… Mungkin Tuhan menghukum Ibu, tapi mengapa aku yang menanggung semua dosanya,aku lah yang menderita atas semua perbuatan Ibu.

“Ibu jahat,,kenapa ibu melimpahkan semua dosa ibu kepadaku,seharusnya ibulah yang menderita, bukan aku” aku berteriak-teriak menyudutkan Ibu,Ibuku sendiri

“Mina,andai Tuhan dapat mengganti posisi mu ke posisi Ibu,bukanlah suatu masalah memahami penderitaanmu bagiku Nak,senyummu jauh lebih berharga daripada nyawaku sendiri,lebih berharga dari hidupku,Mina,,,,” Ibu mengentikan sebentar perkataannya,aku tau dia menahan sesak nafasnya Aku tahunya ulu hatinya sakit,terluka


“Mina, satu-satunya yang membuat aku bertahan di dunia ini hanya dirimu, memang semuanya salahku,,,maafkan Ibu Mina,,Ibu Menyanyangimu” setelah berkata itu Ibu beranjak pergi keluar rumah,aku tak peduli Ia hendak kemana,yang aku rasakan hanya perasaan benci yang sangat dalam padanya. Aku membecinya..
Aku Punya sejuta alasan untuk membecinya.karena Ia ,aku tak bisa punya masa depan ,karena ia aku tak bisa menikmati Indahnya hidup layaknya gadis remaja lainnya,karena Ia pula semua teman-teman ku memandang ku hanya dengan sebelah mata.,Teman-temanku punya panggilan khusus untukku,”Manusia Alien”. Tentu saja mana ada manusia bumi yang keadaannya memilukan seperti keaadaanku.

Aku pantas Membencinya….


* * *





Lembayung sedang menatap senja,,
Langit kemerahan,,Suara adzan Maghrib berkumandang,,aku tau malam akan membius siang tadi, menjadi sangat pekat.Ibu belum pulang,aku tidak tau dia dimana,tepatnya lagi aku tidak mau tau,tanpa ibu aku masih bisa menggunakan kursi rodaku untuk merangkak,dan tanpa Ibu aku masih dapat mempergunakan sisa tubuhku untuk mengambil apa yang aku inginkan. Jelas saja ,aku sudah terbiasa melakukannya.

“Mina, Ibu membawakan sesuatu untukmu”… Lepas Ibu yang baru saja datang,lewat pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu,dengan senyum,senyum kepuasan

“Oh ya,apa yang Ibu bawa?? Apa Ibu membawa sepasang kaki untuk aku berjalan,atau apakah ibu membawa tangan untuk aku gunakan,atau kah Ibu membawa salah satu mataku untuk aku melihat,apa yang ibu bawa??” sahut ku ketus. Masih penuh dengan kebencian. Tapi Ibu tersenyum,

“Bukan,Ibu membawa sesuatu yang lebih penting daripada yang kau ucapkan tadi, Ini,,,” Ibu melambaikan dua lembar kain putih kepadaku,Aku Mengerti… Mukena.


“Ini Jauh Lebih penting dari apa yang kau sebutkan tadi,dengan kain ini kau dapat melihat seberapa berharganya dirimu ,kau tidak hanya dapat berjalan di muka bumi ini,tapi kau pasti bisa terbang di Syurga Allah,kau tidak hanya memiliki tangan ,tapi Rabbi akan memberikan sepasang sayap kepadamu,kau tidak hanya dapat melihat bahkan satu matamu itu akan menjadi pengganti sinar Matahari,nanti. Pakailah Nak,,, pakailah Jubah Suci ini untuk menghadap Rabb mu pakailah untuk meminta kebahagian mu ,kebahagian yang nyata,Nantinya,,,” Tegas Ibu.kata-kata Ibu sempat membuat pikiran ku terlena walaupun hanya sebentar.


“Tidak ada Jubah yang suci dari tangan yang kotor” Sahutku ,

“Mina,begitu banyakkah benci mu kepadaku???,Tanya Ibu, dadanya kelihatan sesak.

“Iya ,Begitu Bu’” ketus ku padanya

Kami tak berbicara apa lagi, suara mobil jelas seperti berpakir di depan halaman, Ibu menghentikan tangisnya dan berjalan membuka pintu. Tampak Olehku seorang wanita tua memakai kerudung hijau muda,Rautnya sangat jelas di mata satuku, aku mengenalnya, Dia Nenekku
Tentu saja aku tau .walaupun cacat tapi aku tidak gila. Aku masih ingat terakhir Nenek mengunjungi Aku dan Ibuku 2 tahun yang lalu

Nenek,lansung memelukku dan mengusap licin kepalaku,tanpa mengindahkan Ibu

“Apa kabar,Mina??,kata nenek ramah

“Baik , Nek” sahutku tanpa ekspresi,dalam hati aku senang juga Nenek masih perhatian padaku

“Isah,aku kan membawa putrimu kerumahku,aku ingin beberapa hari ini bersamanya,sebelum aku berangkat ke tanah suci” kata nenek tanpa sedikitpun memandang wajah Ibu,tapi suaranya lebih rendah seperti suara penuh keparauan
Ibu tidak dapat,berkata apa-apa. Dia seperti tidak punya hak untuk menolak permintaan nenek. Aku dapat meraba dengan jelas rona muka Ibu,dia pasti sedih,aku tau dia menyayangiku,tapi apa boleh buat.aku membencinya.

Sampai aku berada di dalam mobil Ibu,,masih diam seribu bahasa,apa karena Ia tidak sanggup menatap mata Nenek atau Karena Dia begitu menyayangi ku sehingga tak rela berpisah denganku walau hanya untuk beberapa hari.aku lekat-lekat menatap mata Ibu,entah kenapa hari Ini begitu berbeda kulihat, Lebih dalam…………
Entahlah,,,aku tak peduli



* * *

Rumah Nenek,sangat jauh dari Rumah Ibuku,kami sampai ke rumah nenek lewat tengah malam, Sopir nenek membantuku untuk turun dari mobil dan menggendongku duduk diatas sofa,aku memang merepotkan banyak orang.
Aku kira nenek akan menyuruh untuk segera Istirahat, tapi…


“Nenek tau kau pasti sangat lelah,Mina. Tapi nenek tidak sanggup lagi menahan semuanya,nenek ingin memohon padamu”.kata nenek melukiskan lipatan di dahi ku,kau tidak tau pa maksudnya,,, Aku Diam…,nenek melanjutkan perkataannya

“Mina,tidak ada satu pun Ibu,di dunia ini yang tidak mengasihi anaknya, seperti itupulalah rasa kasihku kepada Isah,Ibumu. Berapa pun besar dosanya,tidak ada yang dapat mengingkari bahwa nafas yang ada di dalam paru-paru Ibumu adalah darahku, aku mencintainya Mina,seberapa besarpun luka yang Dia goreskan di hatiku, aku tetap mencintainya, seperti aliran mata air syurga,sebegitulah putihnya sayangku padanya,”

Nenek Mengentikan bicaranya,melepaskan air matanya,dan berkata lagi sampai terisak.

“Jangan pernah kau mengukur,rasa cintamu kepada Ibumu sendiri,karena masa lalunya. Dia sangat mencintaimu seperti aku mencintainya,Aku tau sudah berapa banyak penderitaan yang dialami oleh Ibumu,dari waktu dia mengandungmu,hingga sekarang dan….” Aku memotong pembicaraan nenek

“Dan bagaiman cara dia untuk menngugurkan aku,??” sahutku emosi,

“Demi Tuhan Mina,Ibumu memang tidak menghendaki kehamilan itu,tapi sedikitpun dia tidak pernah mencoba untuk melenyapkan kau dari bumi ini,semua yang kau dengar tentang kejelekan Ibumu,dari Ira,tidak benar. Suamiku lah yang bersikeras untuk menggugurkan kandungan Ibumu,suamiku lah yang tidak menghendaki kelahiranmu,suamiku lah yang menyebabkan kecacatanmu,suamiku juga yang mengusir Ibumu ketika ia tetap mempertahankan nyawamu di dunia ini.Ibumu memang pernah berbuat salah,kesalahan terbesarnya yang membuat seluruh keluarga ini,membencinya adalah karena Ibumu tetap bersikeras mempertahankan kehidupanmu di dunia ini. Kesalahan itulah yang membuat suamiku meninggal.”

“Mina,Ibumu tidak pernah memberitahu siapa ayah dari janin yang Ia kandung kepada kami,tanpa alasan yang jelas,itu juga penyebab kenapa aku dulu begitu membencinya,bagiku dulu ia seperti pelacur jalanan,tapi itu dulu Mina ,sebelum aku mengetahui jika Ibumu,hamil bukan karena Ia menjajakan kehormatannya tapi karena kehormatannya telah dirampas ,Mina,Kehormatan Ibumu,dirampas oleh suami Diah,kakak Ibumu,aku pun,baru mengetahuinya beberapa minggu ini,Dian dan Suaminya telah kuusir dari rumahku beberapa hari yang lalu,karena mereka berdua telah menyembunyikan semua kenyataanya dariku.” Nenek terisak

Segenap hatiku luluh lantah,Rabbi,,, Ibuku…..

“Ibumu melawan semua getirnya dunia sendirian.dia dihina,dicaci,di jauhi,bahkan dikucilkan oleh semua orang ,dia membangun semua kehidupannya dengan air mata.Banyak sudah penderitaan nya ,Mina. Penderitaanya untuk memilikimu,Penderitaannya untuk menikmati senyumanmu, Penderitaannya untuk mendengarkan tawamu,penderitaan nya untuk mendekap tubuhmu, dia mencintaimu Mina ,Wanita Suci itu mencintaimu.Kau beruntung memilikinya..kau tau maksudnya tidak memberi tahu kami tentang siapa yang telah menanam benih di rahimnya,adalah untuk terus melindungi kebahagiaan Dian,kakaknya.
Kasihan dia,,,”


Aku merasakan sesak nafasku,dadaku tersiram sejuk dengan hujan perkataan nenek,aku ingin memeluk Ibu…..

“Nenek,Dosaku begitu banyak padanya,aku ingin memeluknya” kataku penuh permohonan


“Aku tau bagimana perasaanmu,Mina, dosaku pun begitu besar padanya,bahkan aku sendiri tidak sanggup menatap wajahnya,wajah putriku sendiri,karena terlampau banyak aku membuatnya menderita,” Nenek memelukku,perkataan nenek yang hanya 1 jam ini mampu merobokan Tembok kebencianku yang sudah terbangun beberapa tahun lamanya,entah sejak kapan aku ingin sekarang sedang berada si rumah dan memeluk Ibu,dengan sisa tangan ku,melihatnya dengan sisa mataku,aku ingin bersama Ibu…
Ibu,,,,



Malam itu juga aku meminta Nenek,mengantar kan aku kembali kerumah,aku ingin bersama Ibu,aku ingin bersama Ibu,aku ingin bersama Ibu,,, Sekarang dan selamanya


* * *


Aku sampai di rumah sudah ketika pagi hari,aku masuk kerumah dengan bantuan nenek,aku tak berkata apa-apa,aku hanya ingin melihat dan memeluknya dan untuk mengatakan betapa pula aku juga sangat mencintainya.
Nenek mendorong kursi rodaku menuju kekamar Ibu,aku melihat Ibu masih tertidur pulas,aku menatap nenek,meminta izin untuk membangunkan Ibu,nenek mengangguk,tanda setuju.

Tak sanggup Aku menahan air mataku,air mata durhakaku,air mata dosaku kepada seorang wanita yang mempertaruhkan seluruh hidupnya demi aku,seorang wanita tiap malam selalu mendo’akan kebahagiaanku, seorang wanita yang tiap harinya,selalu aku benci.yang selalu aku tikam tulang rusuknya,yang selalu kuludahi mukanya dengan perkataan –perkataan jahanam ku. Ku menyesal Ibu,,Aku tidak adil padamu,,, Aku minta maaf Ibu,,,,,

Maaf,,,,,

Tetapi,jantungku seperti terhenti menyaksikannya,Ibu ku terbaring kaku di atas tempat tidur, tidak kurasakan hawa hangat mengaliri tubuhnya,,aku menjerit….

Ibuku telah pergi,,,,
Membawa semuanya,,,
Ibuku pergi masih dengan pisau yang kutancapkan di hatinya tanpa aku sempat menarik kembali pisau itu.
Ibuku Pergi dan meninggalkan dosa di hidupku
Ibuku pergi tanpa merasakan dulu pelukanku..
Ibuku pergi tanpa mendengar kata maafku


Rabb,, mafkan aku,,

Di samping jasad Ibu,nenek mengambil sebuah kain sulaman bunga,hatiku semakin terenyuk membaca tulisan nya ada nama “MINA”,yang dilapisi oleh darah Ibu,,,

Ibu,,, pergi meninggalkan ku pada pagi ini,hari dimana aku ingin mengecup jantungnya,kata maafku terembus sia-sia bersama aliran nafasnya.
Sesalku dalam untuk dirasakan
Sesalku tajam untuk dihunuskan
Sesalku terlalu mati untuk dihidupkan
Terlalu hitam untuk diputihkan
Terlalu besar untuk ku kecilkan

Jantungku benar tepat di tikam
Dosaku besar,,


SESAL INI ABADI


Jambi,14 Desember 2007

0 komentar: