Kalung Tasbih dari Mekkah

20 Agustus 2009

Aku hanya bisa menangis menyesali kutukanku yang ternyata dikabulkan
Tuhan.... Suamiku mengalami gegar otak berat, kakinya patah, dan
tulang belakangnya remuk.
Sepulang naik haji, ayah memberiku kalung tasbih yang katanya
dibelinya di Makkah dan pernah dibawanya memasuki Masjid Nabawi dan di
depan Makam Rasulullah SAW ayah berdoa semoga aku menjadi perempuan
salehah yang bahagia di dunia dan akherat.
''Setiap habis shalat, gunakan kalung tasbih ini untuk berdzikir,''
pesan ayah ketika menyerahkan kalung tasbih yang kini selalu
menemaniku ke mana pun aku berada. Aku pun selalu menggunakan kalung
tasbih itu untuk menghitung kalimat-kalimat thoyibah yang kubaca
sehabis shalat.
Dan, setelah aku menikah, kalung tasbih itu tiba-tiba hilang.
Seingatku, sebelum hilang, kalung tasbih itu kuletakkan di dekat
bantal ketika aku hendak tidur dengan suamiku. Tapi, suamiku mengaku
tak tahu menahu ketika aku mencari-cari kalung tasbih yang raib itu.
''Mungkin kamu lupa menyimpannya. Suatu ketika pasti ketemu lagi,''
ujar suamiku ketika aku menunjukkan perasaan resah atas raibnya kalung
tasbih itu.
''Sebaiknya kamu membeli lagi kalung tasbih yang lebih besar, biar
tidak mudah hilang,'' lanjut suamiku.
Aku tetap saja merasa resah atas hilangnya kalung tasbih dari Makkah
itu. Setelah aku membeli kalung tasbih dan menggunakannya untuk
berdzikir, rasanya aku selalu teringat kalung tasbih yang telah hilang
itu, sehingga dzikirku tidak pernah bisa khusyuk. Aku merasa bersalah
kepada ayah yang kini telah almarhum. Aku merasa telah gagal
mempertahankan kalung tasbih dari Makkah itu sebagai milikku.
''Apa sih istimewanya kalung tasbih yang hilang itu, sehingga kamu
tampak selalu murung dan gelisah?'' tanya suamiku setelah satu pekan
aku selalu murung dan resah sejak kehilangan kalung tasbih dari Makkah
itu.
''Kalung tasbih itu bukan tasbih sembarangan, Mas. Almarhum ayah yang
dulu membelinya di Makkah, dan pernah dibawanya masuk ke Masjid Nabawi
dan digunakan untuk berdzikir di depan makam Rasulullah SAW,''
tuturku.
Suamiku tersenyum. ''Kalau begitu justru kamu harus bersyukur atas
hilangnya kalung tasbih itu.''
Aku terpana menatap tajam-tajam wajah suamiku. Tiba-tiba aku curiga,
suamiku mungkin sengaja membuang atau menyembunyikan kalung tasbih
itu.
''Mungkin jika kalung tasbih itu tidak hilang, suatu ketika bisa
menjadi berhala yang kamu puja-puja. Maka bersyukurlah karena kalung
tasbih itu hilang.'' Suamiku bicara dengan tersenyum-senyum.
''Maaf, Mas. Benarkah Mas mencuri kalung tasbih itu agar aku tidak
bisa menggunakannya lagi untuk berdzikir?'' tanyaku.
Rasanya aku pantas mencurigai suamiku karena justru tampak senang
dengan hilangnya kalung tasbih itu.
''Memangnya aku berbakat menjadi pencuri?'' Suamiku balik bertanya
dengan wajah tetap berhias senyuman.
''Kalau Mas tidak mencurinya, semoga yang mencurinya celaka!'' Aku
mengutuk dengan kesal.
Suamiku terperanjat. ''Kamu telah mengutuk seseorang yang telah
mengambil kalung tasbihmu. Waduh, kamu telah berbuat kejam. Bagaimana
jika kutukanmu dikabulkan Tuhan?''
''Ah, sudahlah, aku sudah terlanjur mengutuk, Mas. Yang penting bukan
kamu yang mencurinya.''
''Bagaimana jika seumpama aku yang mencurinya?''
''Jadi, benar bukan Mas yang mencuri kalung tasbih itu?''
Suamiku mengangguk dengan tersenyum.
Aku mendengus panjang, karena dadaku mendadak terasa sesak. Aku
khawatir jika kutukanku dikabulkan Tuhan. Dan, sejauh yang kuketahui,
kutukan tidak bisa dicabut jika sudah terlanjur diucapkan.
Lalu, aku berdoa semoga kutukanku tidak dikabulkan Tuhan. Aku tidak
ingin melihat suamiku celaka, meskipun telah mencuri kalung tasbih
dari Makkah yang kuanggap sangat istimewa itu.
Sepekan kemudian, sepulang kantor, suamiku mengalami tabrakan hebat.
Suamiku dirawat di ruang ICU. Mobilnya rusak berat. Dan aku hanya bisa
menangis menyesali kutukanku yang ternyata dikabulkan Tuhan meskipun
aku sudah berusaha untuk mencabutnya dengan doa-doa.
Ketika aku membesuk suamiku di rumah sakit, aku minta maaf. Tapi
suamiku diam saja.
Kini, suamiku mengalami gegar otak berat, kedua kakinya patah, dan
tulang belakangnya remuk. Menurut dokter, kecil kemungkinan suamiku
bisa pulih seperti sebelum mengalami kecelakaan.
Setelah tiga bulan dirawat di rumah sakit tapi suamiku belum juga
pulih, aku kemudian membawanya pulang. Aku ingin merawatnya di rumah.
Sungguh berat merawat suami yang lumpuh dan tidak bisa bicara lagi.
Sepanjang waktu suamiku terbaring lemas di tempat tidur. Semua hajat
hidupnya aku yang mengurus. Untungnya, suamiku segera dipensiun dan
mendapat uang pensiunan sebesar 60 gaji terakhirnya. Dengan uang
pensiunan itu kami berdua bisa hidup.
Suatu siang, aku membersihkan gudang. Semua barang rongsokan yang
menumpuk di gudang kukeluarkan untuk kubuang ke tempat sampah.
Ketika aku sedang menyapu lantai gudang, mataku menatap seuntai kalung
tasbih dari Makkah itu. Segera aku membersihkan kalung tasbih itu.
Lalu kuperlihatkan kepada suamiku.
Mata suamiku langsung berkaca-kaca ketika menatap kalung tasbih itu.
Bibirnya bergerak-gerak tapi tidak mengeluarkan suara apa pun.
Sepertinya suamiku menangis di dalam hati.
Iba aku melihat suamiku menangis. Pasti suamiku sangat menyesal telah
menyembunyikan kalung tasbih itu di gudang dan kemudian aku
mengutuknya dan ternyata kutukanku dikabulkan Tuhan.
Dan, meskipun kalung tasbih itu sudah kutemukan lagi, aku tidak mau
menggunakannya untuk berdzikir. Aku teringat ucapan suamiku. Betapa
kalung tasbih itu bisa menjadi berhala, dan karena itu sebaiknya
dibuang saja.
Lalu aku membuang kalung tasbih dari Makkah itu ke tong sampah, bukan
karena aku khawatir menjadikannya sebagai berhala, melainkan karena
aku memang sudah tidak membutuhkannya lagi. Aku telah terbiasa
berdzikir tanpa kalung tasbih.
Sekarang, bagiku, berdzikir tidak perlu dihitung lagi, karena aku
tidak menjualnya kepada Tuhan!***
Sastradipati, 2006

0 komentar: