Seorang sersan muda sedang mencegah tersangka merebut tas kecil dari
meja ketika Letnan Sardi masuk. Wibawa yang bergelantungan di pundak
Sang Letnan menghentikan keriuhan kecil di ruang interogasi tanpa
sedikit pun tenaga tersia-sia. Si Sersan melepaskan genggamannya,
membiarkan tersangka merebut dan memeluk tas itu erat-erat. Keadaan
terkendali.
Letnan Sardi duduk dengan tenang dan menatap tajam ke depan. Sepotong
masa lalunya kini menggumpal di seberang meja, duduk di kursi sebagai
tubuh rikuh si tersangka. Sardi ingat.
Tersangka itu sahabatnya. Dulu. Sahabat sekaligus, diam-diam, seteru.
Dalam setiap permainan, mereka biasa saling bahu-membahu. Orang-orang
mengenal keduanya sebagai ujung tombak kembar PS. Gunung Terang. Ujung
tombak kembar yang tajam.
Sersan itu melaporkan keadaan. Mengeluhkan, lebih tepatnya. Tersangka
tak mau bicara. Segala cara sepertinya percuma. Sardi menatap penuh
selidik pernyataan anak buahnya, mencari maksud di balik pernyataan
"segala cara".
Ditatap seperti itu, Si Sersan merasa jengah. Ia beranikan diri minta
pamit. Sardi hanya bertanya, "ke mana?" untuk menyatakan sikapnya.
Intonasi pertanyaan itu terang artinya bagi Si Sersan. Permohonannya
ditolak.
"Pelajari caraku menyelesaikan kasus ini."
Sersan mematung tak jauh dari pinggir meja, menyembunyikan sikap
meremehkan yang memenuhi lambungnya. Sersan itu percaya, perbedaan
keduanya sebagai polisi hanya soal di mana pangkat tersemat. Lengan
dan pundak bagaimanapun hanya dipisahkan ketiak, tak perlulah bersikap
congkak.
Letnan Sardi bukan tak dapat merasakan sikap meremehkan ini,
sebagaimana seluruh bawahannya menyimpan sikap serupa. Pagi itu, ia
tak peduli, memilih tenggelam di berkas catatan di depannya.
Asan. Laki-laki. Menikah. Wiraswasta. 29 tahun. 32, ralat Sardi
diam-diam. 3 tahun itu diambil untuk sebuah pertandingan tarkam
sekota, 13 tahun yang lalu. Waktu itu, setiap peserta harus berumur
kurang dari 18. Ia tahu, sebab 3 tahun itu juga diambil darinya.
Sardi melihat ke arah cermin di sisi ruangan, ke arah bayangannya
sendiri, sebelum kembali ke Asan. Mungkin usia bekerja dua kali lebih
kejam pada Asan, ia tampak ringkih dan kering.
Kebanyakan orang tentu heran bagaimana orang seringkih ini bisa
mempunyai kekuatan untuk melakukan kekejian. Asan diduga keras adalah
pelaku pembunuhan Raman Jereng, bandar judi besar kota ini. Tangan
kecilnya telah menghantamkan batu ke tengkuk Raman, menyiramkan
bensin, lalu membakar korbannya. Visum percaya bahwa korban belum
tewas ketika api menyala.
Sardi menoleh ke arah Sersan, bertanya apa isi tas tersangka.
"Sepatu bola, Pak."
Sardi menatap Sersan lekat-lekat. Sersan sempat mengira atasannya
terheran-heran, sebagaimana dirinya tadi. Tapi mengapa Letnan Sardi
tersenyum? Apakah akademi mengajarkan untuk menutupi perasaan heran
dengan tersenyum?
Sardi ingat sepatu itu.
13 tahun yang lalu, sebelum kenal tentara, Raman Jereng cuma bandar
kelas kampung. Ia masih mengotori tangannya untuk menggosok-gosok
pemilu kades atau pertandingan sepak bola.
Sore itu, seusai pertandingan pertama kompetisi tarkam sekota, Raman
datang membawa dua pasang sepatu. Sepatu pertama, yang kemudian
dipakai Sardi, sebenarnya cukup baik. Kulitnya nomor satu, jahitannya
kuat, tiga garis putih membuatnya tampak gagah. Sepatu Kaisar
Bekenbewer, kata Raman.
"Sepatu ini bikin Jerman juara 74," kata Raman. "Lu mau?" Sardi muda
mengangguk. Nantinya, keputusan ini ia sesali seumur hidup.
Raman Jereng selalu punya cerita untuk apa saja. Termasuk untuk
sepatu-sepatunya. Sepatu kedua, yang dihadiahkannya pada Asan, punya
cerita lebih seru.
"Pernah dengar tangan Tuhan?"
Raman menyodorkan sepatu kedua ke tangan Asan. Kulitnya sama nomor
satu, jahitannya sama kuat. Bedanya, sepatu itu bergambar macan
kumbang sedang menerkam. "Sedang terbang," ralat Raman. Ceritanya
belum selesai, masih akan lebih seru.
Raman mengulangi pertanyaan yang sebenarnya tak perlu. "Pernah dengar
tangan Tuhan?" Asan berbinar-binar, tak sadar mulutnya menganga. Sardi
mengangguk berkali-kali.
"Itu sepatunya."
Asan memandangi sepatu itu tak percaya. Sepatu yang biasa dipakainya
adalah sepatu sobek pinjaman Sardi. Salah satu sepatu terburuk dari
koleksi anak sulung juragan kopi itu. Kini ia punya sepatunya sendiri.
Tak tanggung-tanggung, sepatu Tuhan.
Sardi mengulangi kalimat yang ia dengar dari bapaknya. Komentar
mengenai betapa musyriknya julukan Tangan Tuhan. "Hensbol itu tangan
Setan." Sardi bicara sendiri. Asan sibuk menatapi sepatu, Raman sibuk
menatapi Asan.
Sepanjang kompetisi tarkam sekota, sepasang ujung tombak kembar Gunung
Terang mengamuk, demi membentang cita-cita tinggi-tinggi. 7 gol untuk
sepatu Kaisar, 13 untuk sepatu Tuhan. Begitu pun, Asan sebenarnya
cukup membuat satu gol saja. Satu yang mengatasi gabungan seluruh gol
di kompetisi ini.
Di perempat final, Gunung Terang tidak mengendurkan serangan sekalipun
sudah memimpin 1-0. Dalam satu skema serangan, posisi para pemain
tiba-tiba meniru skema gol kedua Argentina di gawang Inggris, sebulan
sebelumnya.
Dari tengah, Asan lepas sendirian. Dua rekan termasuk Sardi mengikuti
dari sayap. Asan terus menggempur. Satu pemain terlewati, lalu satunya
lagi. Pemain ketiga mengira cukup dengan bermain posisi, tapi malah
kalah lari. Pemain keempat memapasi, mengincar kaki, tapi Asan
meliukkan tubuhnya dengan ajaib. Pemain keempat ini bermaksud meniru
meliuk tapi malah kehilangan keseimbangan, terpelanting. Pemain kelima
menghadang dengan emosi tinggi, sudah terkalahkan jauh sebelum
berhadapan dengan Asan. Di depan kiper, Asan, dengan macan di
sepatunya yang entah menerkam atau terbang, menyontekkan bola ke sudut
kiri. Diego Asando Maradona, 2-0, legenda kampung kami.
Setahun setelah gol itu, Sardi mengutuk diri. 7 gol dan 5 umpan
matang, tak seorang pun akan ingat. Bagaimana mungkin? Orang-orang
cuma ingat bahwa di partai semifinal, Gunung Terang dihajar Tunas
Harapan 3-0. Kalau saja Asan main di partai semifinal, ceritanya pasti
lain. Kalau saja di malam sebelumnya tak ada pengendara motor krosboi
melintas, kalau saja bukan Asan yang tersuruk di kolam Haji Sanusi.
Sardi tak mungkin bisa memaafkan kekalahan ini. Pencari bakat dari dua
tim galatama, memasang wajah bosan di partai semifinal, mencoret
sepasang nama tombak kembar Gunung Terang dari catatan mereka. Suatu
keputusan buruk yang mengakibatkan Indonesia gagal juara dunia.
Mengubur cita-cita, Sardi mendaftar akademi polisi. Begitu pun, ini
gagal mengubur sepotong curiga. Curiga ini terlalu meyakinkan.
Di sore sehabis gol istimewa Asan diciptakan, Raman datang, khusus
mencari Asan. Keduanya bercakap di pojokan, sembunyi-sembunyi. Dalam
percakapan itu, wajah Asan cepat berubah dari senang menjadi tegang,
lalu cemas dan ketakutan.
Malam harinya, jendela kamar Sardi diketuk dari luar. Itu ketukan
Asan. Sebentar kemudian mereka mengendap melintasi malam menuju rumah
Raman Jereng. Di akhir perjalanan pulang, alasan Asan mengembalikan
sepatu Tuhan tak juga terang. Sepanjang jalan Asan tak bersuara.
Sekali-kalinya ia bicara, hanyalah ketika mereka berpisah. Itu pun
semakin tak menerangkan apa-apa.
"Aku tak punya sepatu lagi."
Sardi berjanji meminjamkan salah satu sepatunya.
"Yang biasanya saja."
Sardi mengangguk.
Sepatu itu tak jadi dipinjamkan, sebab besok malamnya Asan ditabrak
lari. Penanganan rumah sakit yang buruk menghentikan karier sepak
bolanya. Persahabatan kedua ujung tombak itu juga turut surut. Asan
selalu menghindar.
Tak lama sesudah sembuh dan menerima takdir kakinya pincang, Asan
bekerja untuk Raman. Lebih tepat, Raman datang menawarkan pekerjaan.
Setelah itu, 13 tahun jalan bergegas, tentara mengubah Raman menjadi
bandar kaya, tapi tentu tidak jongos-jongosnya.
Asan menikah, sebentar. Istrinya kabur dengan seorang penyanyi
dangdut, bukan dari Asan yang sudah mengecewakan sejak minggu pertama,
tapi dari seorang anak laki-laki hiperaktif hasil pernikahan mereka.
Anak laki-laki itu kini seusia putra Sardi. Keduanya kini sudah
tergila-gila bermain bola.
13 tahun, pikir Letnan Sardi. Kenapa terlalu lama?
Seperti 13 tahun terakhir, kini pun Asan menghindarinya. Ia menunduk.
Mereka berdua duduk berhadapan, namun tak akan ada seorang pun yang
mampu mengendus gelagat lembut bahwa keduanya saling mengenal. Apalagi
mengendus bahwa keduanya sempat berpapasan dalam kesempatan yang lain,
sebelum ini. Seminggu lalu, di pinggir suatu lapangan sepak bola,
menonton pertandingan dua kelompok bocah, keduanya duduk berdekatan.
Tidak, tidak seorang pun bisa menduga. Tak seorang pun akan
mengetahui, sebab bahkan Sardi dan Asan telah berjanji untuk melupakan
perjumpaan ini.
Kesempatan, cetus Sardi dalam hati, menjawab pertanyaannya sendiri.
Itulah alasannya. Setiap dendam butuh waktu. Tentu, tak salah lagi.
Sardi telah bergumul dengan para kriminal, ia paham watak dasar
mereka. Keliru jika memandang mereka sekadar mengandalkan urat nekat.
Kriminal tertangguh adalah mereka yang paling bisa menciptakan
kesempatan. Bukan, bukan sekadar kesempatan untuk melakukan kejahatan.
Paling penting adalah kesempatan untuk merancangnya. Raman Jereng
sadar benar tentang ini.
Bandar judi itu cukup licik untuk merawat Asan, terutama karena ia
tahu pada gilirannya kejahatannya akan terungkap. Raman bersiasat,
jika akhirnya Asan mendapati bahwa kecelakaan di kolam Haji Sanusi
terjadi atas perintahnya, pengawasan ketat akan mencegah Asan membalas
dendam. Berada dalam kendali berarti mempersempit kesempatan Asan
merancang apa pun bagi diri sendiri. Sempit kesempatan sempit pula
keberanian. Itulah resepnya.
Resep yang baik, pikir Letnan Sardi, tapi belum tentu manjur.
Bagaimana jika ada orang lain, peristiwa lain, yang memungkinkan suatu
kesempatan tercipta. Raman Jereng bisa saja terus mengawasi Asan, tapi
ia tidak bisa mengawasi semua hal. Ia tidak bisa memasukkan semua
orang ke dalam kantongnya. Ia bisa berusaha, tapi luas kantong ada
batasnya.
Sardi membayangkan wajah Raman ketika terkejut mendapati api menjalar
di atas kulitnya. Apakah ia mempunyai kesempatan berteriak?
Asan duduk dengan kepala terus menunduk. Apakah sahabat kecilnya itu
sempat ragu? Apa kini ia menyesal? Ia tampak resah. Ya, seharusnya ia
menyesal. Penyesalanlah yang membedakan antara dirinya dan kriminal
semacam Raman. Yang membedakan kita dengan dia, kata Sardi diam-diam.
Menjalankan kesempatan bisa berarti berkhianat pada hati kecil.
Hati kecil, ia tahu banyak tentang hal ini. Usaha kopi bapaknya tidak
begitu baik ketika ia didaftarkan ke akademi polisi. Padahal, harga
sogok menyogok begitu tinggi. Semenjak itu, hidupnya tergadai. Mungkin
bahkan sejak sebelumnya. Sejak sepatu Kaisar diterimanya. Raman Jereng
tak merasa cukup dengan bekingan tentara, ia ciptakan pula kesempatan
antara dirinya dan seorang calon polisi muda dari Gunung Terang.
Raman Jereng dan seluruh kesempatan-kesempatan yang diciptakannya,
semua pantas mati. Sardi tak bisa membayangkan berapa banyak orang
terselamatkan, berapa banyak kesempatan kejahatan terbungkam.
Sardi tersenyum, menyimpulkan. Tak ada akhir yang paling tepat bagi
seorang penjahat selain mati di tangan senjatanya sendiri. Dua buah
senjata yang memakan tuannya sendiri. Adapun jika orang lain menyangka
satu, itu tak lain karena kebanyakan orang cenderung lebih mengingat
siapa yang bikin gol. Sardi telah berdamai dengan dirinya sendiri. Tak
ada buruknya memberi umpan matang. Lagipula Kaisar memang dikalahkan
Tuhan di Meksiko 86.
Letnan Sardi bersiap mengenyahkan kasus ini dari hadapannya. Ia
menoleh ke arah sersan, bertanya "Sudah paham?"
Sersan menggeleng, terheran-heran. Apa yang bisa dipahaminya,
dipelajarinya? Sejak tadi Letnan Sardi hanya membaca.
"Itulah yang membuat kau sersan dan aku letnan. Motif, buruh yang
tertindas, majikan yang kejam, buruh balas dendam. Sederhana. Bukan
pembunuhan berencana. Laki-laki ini terlalu pengecut untuk itu."
"Bensinnya, Pak?"
"Baca lagi arsipnya."
"Sepatunya?"
"Ini bukan cerita detektif. Kecuali kalau kau menganggapnya begitu."
Sersan menggeleng, lemah.
Letnan Sardi, menenteng tas kecil, berjalan santai ke arah tempat
parkir mobilnya. Di dalam mobil, dua orang bocah tersenyum riang
menyambutnya. Bocah laki-laki yang duduk di depan, ini putranya. 7-8
tahun lagi ia akan merajalela dengan sepatu Kaisar. Bocah yang duduk
di belakang, anggota baru keluarganya, masih sering terselip lidah
memanggilnya dengan sebutan Oom, bukannya Ayah.
"Ini dari bapakmu." Putra angkatnya menerima tas itu dengan canggung,
tak berani membukanya.
"Apa isinya?" Sergah putranya sendiri, penasaran.
"Pernah dengar tangan Tuhan?"
Keduanya menggeleng.
Sepanjang jalan, Letnan Sardi bercerita tentang Piala Dunia 86. Satu
gol terkenal Maradona adalah gabungan dari sedikit kerja kepalanya dan
sedikit kerja tangan Tuhan, tapi itu belum seberapa. Di perempat
final, Asan, sahabatnya, melewati lima pemain sebelum menundukkan
Peter Shilton. Di semifinal mereka dikalahkan PS. Tunas Harapan 3-0.
Tak apa. Setiap cita-cita berhak mendapatkan kesempatan kedua,
sebagaimana Indonesia berhak juara dunia.
"Gol kedua itu, ini sepatunya." ***
Misteri Piramida
16 tahun yang lalu


0 komentar:
Posting Komentar