Sepekan di Jakarta

23 Agustus 2009

AJAKAN Aris agar aku ikut dia ke Jakarta sulit kutolak. Sebab, dia
adalah teman mainku waktu kecil yang kini kuanggap sudah sukses. Lagi
pula sudah lama aku ingin melihat-lihat suasana Jakarta. Selama ini
aku hanya bisa membayangkan betapa indahnya suasana Jakarta, terutama
di malam hari. "Kamu bisa menikmati suasana Jakarta selama sepekan.
Jangan khawatir soal makan dan ongkos keluyuran selama di Jakarta,
juga ongkos untuk pulang. Semuanya menjadi tanggung jawabku," janji
Aris.

Aku dan Aris tiba di Jakarta ketika pagi masih berkabut. Perjalanan
sepanjang malam membuat kami kelelahan dan ingin segera istirahat,
tidur. Maka, Aris langsung menyuruhku masuk ke kamar tamu di rumahnya,
dan dia pun langsung masuk ke kamar tidur utama. Istrinya belum
bangun.

Meski aku lelah dan mengantuk, ternyata mataku sulit kupejamkan
setelah aku berbaring di atas ranjang di dalam kamar tamu itu.

Ternyata Aris memang sudah kaya. Ru-mahnya besar berlantai dua. Di
garasi ada dua buah mobil mewah. Pasti ke mana-mana istrinya selalu
membawa mobil sendiri.

Sampai menjelang siang, aku baru bisa memejamkan mata, karena rasa
kantukku tidak bisa kutahan lagi. Menjelang sore, aku baru bangun dan
langsung mandi, kemudian keluar kamar, duduk di beranda sambil membaca
koran. Mataku langsung terbelalak, karena koran yang kubaca ternyata
memuat cerpenku yang berjudul 'Koruptor'. Cerpenku itu mengisahkan
seorang pejabat tinggi yang sering melakukan korupsi sehingga hidupnya
sangat mewah, bahkan sopir pribadinya punya rumah megah dan mobil
mewah serta deposito berlimpah. Ya, kisah dalam cerpenku memang
diilhami oleh nasib Aris.

Baru saja aku asyik membaca cerpenku di koran itu, Aris dan istrinya
tiba-tiba mendekatiku. Dengan tersipu segera kuletakkan koran itu di
meja.

"Kata istriku, cerpenmu yang dimuat koran itu sangat realistis.
Kisahnya mirip dengan kisah hidup majikanku dan hidup kami," ujar Aris
sambil tersenyum melirik istrinya.

"Benar, Mas Amir. Cerpen Mas Amir sangat realistis," komentar
istrinya. "Pasti ide cerpen itu dari Mas Aris, kan?"

Aku hanya tersipu-sipu. Sebab, ide cerpen berjudul 'Koruptor' itu
memang dari kisah hidup Aris yang diceritakan setahun lalu ketika dia
mudik ke Jawa.

"Ayolah kita jalan-jalan berdua. Sekalian makan malam," ajak Aris,
setelah menikmati makan siang bersama.

"Pulangnya jangan terlalu malam, Mas," pesan istrinya, ketika Aris dan
aku sudah berada di dalam mobil.

"Aku pasti akan pulang sebelum jam satu! Tapi kalau Mas Amir,
terserah, mau nginap di hotel atau semalaman menikmati kopi di kafe,"
ujar Aris sambil mengemudikan mobilnya.

Pada malam itu, tempat yang dipilih Aris untuk kunikmati adalah
diskotek yang cukup ramai.

Beberapa gadis cantik dengan busana mini yang ada di diskotek itu
langsung memeluk Aris dan menatapku dengan tersenyum manis.

"Coba kamu temani sobatku ini minum kopi. Jangan terlalu agresif, ya?"
perintah Aris kepada seorang gadis cantik berbusana mini yang sedang
memeluknya.

Aku hanya tersenyum dengan menahan gugup ketika gadis cantik itu
menggandengku untuk duduk di kursi panjang yang terletak di pojok
ruangan yang temaram.

"Baru kali ini Mas kemari?" tanya gadis cantik itu sambil merapatkan
duduknya di sampingku.

"Ya," jawabku dengan menahan gugup yang terasa kian menggigilkan
tubuhku. Tangan gadis cantik yang lembut itu mulai melingkar di
leherku dan memanaskan darahku.

"Mas nanti tidur di mana? Di hotel? Kutemani, ya?" tanya gadis cantik
itu sambil meraba dadaku.

"Tadi Mas Aris sudah kirim SMS, agar aku menemanimu semalam suntuk,
Mas. Kata Mas Aris, Mas sudah terbiasa begadangan semalam suntuk,
kan?"

Napasku agak kacau. Aku berusaha untuk tetap santai. Kunikmati aroma
parfum gadis cantik itu yang begitu harum. Kunikmati rabaan lembut
jari-jari tangannya di dadaku. Lama-lama aku bisa mengatasi
kegugupanku. Bahkan, aku mulai digoda oleh keinginan-keinginan khas
bujangan.

"Sebaiknya kita segera mencari kamar hotel, Mas. Kata Mas Aris, semua
biayanya sudah dibereskan," ujar gadis cantik itu lagi sambil bangkit
dan menarik lenganku untuk segera meninggalkan diskotek itu.

Aku menurut saja diajak gadis cantik itu ke kamar hotel di dekat diskotek itu.

Kubayangkan Aris juga sudah bersenang-senang dengan gadis cantik di
sebuah kamar lain, atau sudah pulang ke rumah dan bercinta dengan
istrinya.

Sebagai bujangan tua, aku sangat mudah ditaklukkan oleh gadis cantik
itu di kamar hotel. Ini adalah pengalamanku yang pertama menikmati
lekuk-lekuk tubuh perempuan yang selama ini hanya bisa kubayangkan
dengan beronani. Aku benar-benar merasa tolol di depan gadis cantik
itu, yang begitu bergairah membimbingku mengenali tahap-tahap
romantisme.

***

PADA malam kedua, Aris mengajakku menikmati suasana kafe. Sama seperti
malam sebelumnya, aku langsung ditemani oleh gadis cantik, sementara
Aris tiba-tiba menghilang entah ke mana.

Pada malam ketiga, Aris mengajakku menemui seorang pejabat, rekan
majikannya, di sebuah restoran.

Dari pembicarannya dengan pejabat itu, aku mengerti betapa Aris
ternyata juga menjadi germo. Ya, aku sulit mengatakannya bukan sebagai
germo, setelah dengan jelas dia memperlihatkan selembar foto gadis
berjilbab yang bisa diajak tidur di hotel dengan imbalan lima juta
rupiah. Pejabat itu nampak gembira, dan langsung menyatakan bersedia
membayar lima juta rupiah. Lalu Aris segera mengirimkan SMS. Sebentar
kemudian, seorang gadis berjilbab muncul di restoran itu dengan
malu-malu.

"Tolong temani Bapak ini sampai pagi," perintah Aris kepada gadis
berjilbab itu, sebelum kemudian mengajakku pulang. Di tengah
perjalanan pulang, aku mencoba mempersoalkan gadis berjilbab itu.

"Jangan heran. Banyak gadis nakal yang berjilbab. Banyak pejabat yang
sangat bangga bisa melucuti jilbab, sebelum menikmati tubuh molek yang
sebelumnya terbungkus jilbab," ujar Aris.

Pada malam keempat, aku diajak Aris menemui seorang pengusaha di
sebuah apartemen megah. Dari pembicaraannya dengan pengusaha itu, aku
bisa mengerti betapa Aris ternyata juga pemasok kayu jati yang
diperolehnya dari kawasan hutan di Jawa Tengah. Kayu jati itu akan
diselundupkan ke luar negeri. Aku pun terbayang sekian ratus hektar
hutan di Jawa Tengah yang kini nyaris gundul akbat penebangan liar
yang merajalela.

Pada malam kelima, Aris mengajakku ke sebuah hotel berbintang lima,
untuk menemui seorang konglomerat.

Dari pembicaraannya dengan konglomerat itu, aku bisa mengerti betapa
Aris ternyata juga pengimpor gadis-gadis bule dengan kedok pariwisata.
Gadis-gadis bule itu masuk ke Indonesia sebagai turis, tapi selama di
Indonesia menjual tubuhnya kepada pria-pria kaya yang berani
membayarnya dengan mata uang dolar.

Setelah satu pekan di Jakarta, aku pulang untuk menulis lagi. Tapi
rasanya aku sangat sulit mengembangkan imajinasiku, setelah aku
menikmati berbagai hiburan di Jakarta.

Kini, aku benar-benar telah kehilangan daya khayalku, daya
kontemplasiku dan daya kreatifku sebagai seorang sastrawan. Mungkinkah
aku telah mengalami gegar mental? ***

*) Kota Wali, 2007

0 komentar: