Tanah Merah

28 Agustus 2009

Ketika ia bersandar pada pagar kapal yang akan membawanya pergi dari
Tanah Merah, seluruh peristiwa yang telah dialaminya hampir setahun
sebelumnya bagai berputar kembali di pelupuk matanya. Hidupnya sendiri
adalah rangkaian petualangan demi petualangan yang tak berkesudahan.
Semula ia adalah seorang pahlawan untuk negerinya, negeri Belanda yang
telah menguasai bumi Hindia Belanda selama ratusan tahun. Semua orang
yang tahu atau pernah mendengar tentang peristiwa Banten yang
menggegerkan itu sudah barang tentu telah mendengar keharuman namanya.
Oleh tindakan kepahlawanan itu Pemerintah Hindia Belanda telah
menganugerahkan sebuah bintang kehormatan kepadanya. Orang-orang
mengelu-elukannya. Ia mendapatkan undangan pesta dari para pejabat
militer Batavia dan orang-orang yang ingin mendengarkan kisah
pertempuran yang telah ia alami, bunyi letusan senapan dan jerit
mengerikan ketika tubuh meregang nyawa. Sungguh, memabukkan.
Beberapa bulan setelah ia berhasil menumpas pemberontakan kaum merah
di Banten, Pemerintah Batavia menunjuknya sebagai komandan ekspedisi
yang pertama-tama untuk masuk ke Digul dan mempersiapkan kamp
pembuangan bagi kaum interniran yang telah memenuhi penjara-penjara di
Jawa dan Sumatera.
"Apakah Gubernur Jenderal sudah gila? Digul adalah daerah terpencil,
hutan-hutan lebat yang belum dijamah kecuali oleh penduduk rimba
setempat dan para petualang Tionghoa. Aku mendengar dari orang-orang
yang melakukan ekspedisi ke sana untuk mencari emas bahwa Digul adalah
belantara yang dipenuhi para pengayau. Bagaimana kaum interniran bisa
hidup di sana?" tanyanya kepada Letnan Drejer, opsir yang juga
mendapatkan perintah untuk menemaninya masuk belantara Digul.
"Tampaknya tuan Gubernur Jenderal de Graeff ingin meniru bangsa Rusia.
Bukankah di Rusia terdapat pembuangan yang terkenal di seluruh dunia?
Siapa tak mengenal Siberia, neraka bagi siapa pun warga Rusia yang
berontak atau menjadi bajingan!" ujar Letnan Drejer sambil tersenyum
kecut.
"Kita bukan bangsa Rusia dan Siberia lain dengan Digul, Letnan. Digul
hutan lebat. Apa yang bisa diharapkan dari daerah seterpencil itu?
Kalau kita membuka hutannya, masalah mengerikan lain telah menunggu:
malaria! Bukankah itu sama saja dengan mengirimkan kaum interniran itu
ke lembah kematian?"
"Saya tak takut dengan malaria, Kapten. Tapi tinggal di hutan lebat
semacam Digul sama saja dengan menyerahkan kepala kita kepada para
pengayau atau para kanibal hitam di sana. Itulah yang saya takutkan,"
ujar Letnan Drejer dengan kepala bergidik.
"Hehm, benar. Dan kita, kaum terhormat yang baru saja mendapatkan
bintang kehormatan dari tindakan militer, harus mengotorkan tangan
dengan tindakan memalukan. Sungguh keterlaluan orang-orang Batavia!"
"Yang lebih mengherankan, bukankah Gubernur Jenderal de Graeff itu
terkenal berbudi baik, Kapten? Bagaimana ia bisa membuat
keputusan-keputusan yang mengerikan seperti membuka kamp pembuangan?"
ujar Letnan Drejer tak mengerti.
"Apalah artinya seorang gubernur jenderal berbudi baik bila sistemnya
telah diracuni oleh para pejabat berhati kotor? Merekalah yang tak
ingin kedudukannya terancam dengan ulah para pemberontak yang ingin
menjatuhkan kekuasaan. Dan, untuk menangkal ancaman tersebut, tindakan
kotor pun buat mereka tak apa-apa dan tak ada salahnya dilakukan."
Letnan Drejer mengangkat bahu. Dipandangnya punggung Kapten Becking
yang jangkung itu. Rasa hormatnya yang tinggi tak pernah lenyap
terhadap lelaki ksatria yang beranjak tua ini. Di luar dinas
militernya, opsir berambut putih itu sungguh terpelajar. Satu minggu
sebelumnya Kapten Becking telah meminta bawahannya untuk mencari
segala pengetahuan yang ada hubungannya dengan Digul dan bumi hitam di
ujung timur Hindia itu. Sementara para prajurit dan opsir bawahannya
membual dan membayangkan petualangan di tanah mereka yang akan mereka
lakukan, ia justru tenggelam dengan buku-buku dan tumpukan laporan
tentang Digul dan wilayah New Guinea secara umum. Ia gemar sekali
membicarakan suku-suku pedalaman yang tinggal di hutan belantara itu
dan di sepanjang Sungai Digul, kebaikan-kebaikan mereka dan kesukaan
mereka dalam mengayau. Tak jarang ia mengingatkan Letnan Drejer akan
kebuasan alam tempat baru itu dan berujar ia akan menundukkannya
secepat mungkin.
Satu minggu sebelum bulan Januari 1927 berakhir kapalnya yang membawa
120 serdadu dan 60 kuli paksa dengan kaki dirantai memasuki Sungai
Digul dan membuang sauhnya pada jarak ratusan kilometer dari pantai.
Hujan tipis tak menghalanginya untuk keluar dari kapal, memandang ke
arah hutan lebat maha luas dan tampak buas dalam bayangannya. Dari
tabir tipis gerimis ia masih bisa menangkap keluasan hijau yang
terbentang di depan matanya, daerah sunyi yang oleh Gubernur Jenderal
de Graeff telah dipilih sebagai kamp pembuangan kaum interniran merah
yang memberontak itu. Tubuhnya yang jangkung dan rambutnya yang
memutih bergoyang-goyang oleh kapal dan angin yang bertiup cukup
keras. Ia menggelengkan kepala dan menarik napas dalam-dalam.
"Di sinikah tahanan politik itu disembunyikan dari masyarakatnya,
ataukah justru dikuburkan untuk selama-lamanya?"
Lama ia berdiri di pagar kapal, mengamati hutan belantara dan
buaya-buaya yang berjemur dengan moncong terkatup di pinggir sungai.
Ia membayangkan suku-suku pedalaman yang nanti akan terganggu oleh
pekerjaan barunya. Sayang ia tak bisa mundur lagi. Dengan seluruh
perasaan bersalah mengeram di dalam dadanya, ia menekan hasrat
kemanusiaannya yang terus menggemakan pertanyaan demi pertanyaan. Ia
menggenggam bintang kehormatan yang tersemat di dadanya dengan
perasaan terhina dan masuk kembali ke kapal menemui Letnan Drejer dan
segenap prajurit bawahannya.
Setelah berunding beberapa saat, mereka menurunkan seluruh keperluan
pembukaan hutan dan perbekalan hidup mereka untuk masa tiga bulan.
Kecuali pakaian dan perlengkapan anak buahnya, terdapat alat-alat
duduk dan tidur, barang pecah belah, alat pertanian dan persediaan
benih, lalu kaleng minyak tanah yang isinya tidak lain bahan-bahan
makanan. Para kuli paksa dan sebagian besar serdadu membuka hutan
dengan model setengah lingkaran terlebih dahulu sebagai tempat untuk
mendirikan kemah dan tenda mereka. Sementara sebagian kecil serdadu
menjaga bahan persediaan makanan dan segala barang perlengkapan yang
telah diturunkan dari kapal.
Ketika kegelapan menyelimuti mereka, di tengah-tengah tenda dan kemah
baru diletakkan lampu stormking. Kapten Backing dan seluruh
pengikutnya bersiap-siap dengan serbuan pertama-tama manusia hutan
Digul. Pada tengah malam, ketika keletihan telah merayapi tubuh
mereka, tiba-tiba terdengar jeritan panjang yang datang dari berbagai
jurusan sekalipun tak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan
dirinya di bawah penerangan lampu. Beberapa kuli paksa gemetaran dan
membaca doa keras-keras, mengira suara-suara jeritan dari balik hutan
sebagai kemarahan hantu-hantu hutan yang pepohonannya telah mereka
babat. Namun, Kapten Becking dan sebagian besar serdadu yang dibawanya
yakin itu adalah suara-suara para penghuni hutan yang telah
menyaksikan aktivitas mereka sejak pagi. Setelah ditunggu-tunggu dan
mereka tak juga muncul atau menyerang, seluruh serdadu dan kuli paksa
menarik napas lega.
"Aku yakin mereka tidak buas, sebab kalau mereka buas sudah sejak
semalam mereka akan menyerang kita," ujar Kapten Becking keesokan
harinya.
"Aku harap juga demikian. Kalau mereka buas, pekerjaan kita bakalan
lebih payah lagi," letnan Drejer menimpali dengan kecut.
"Benar. Bagaimanapun tugas berat ini harus cepat selesai, paling tidak
sebelum satu bulan. Di samping tenda-tenda, kita harus mempersiapkan
dua gudang untuk menyimpan seluruh barang-barang yang telah kita bawa,
sebuah rumah sakit, satu stasiun radio dan sebuah kantor pos. Itu
belum termasuk menyiapkan lahan-lahan permukiman bagi kaum interniran
dan lahan pertanian mereka kelak."
"Kantor pos? Sungguh aneh, di sebuah hutan belantara seperti Digul
bagaimana mungkin ada kantor pos? Sungguh konyol gagasan orang-orang
Batavia itu," ujar Letnan Drejer mengejek.
"Sekarang mungkin kita tak membutuhkannya. Namun, nanti, ketika
seluruh kaum interniran itu diangkut ke sini, mereka akan
membutuhkannya. Apakah mereka akan dibiarkan betul-betul merana tanpa
berkirim kabar pada saudaranya di tempat lain. Mereka orang beradab
dan harus tetap berhubungan dengan peradaban."
"Mereka dibuang di sini saja bukan tindakan beradab, Kapten. Jadi
sia-sia saja mereka mencari hubungan dengan orang-orang beradab."
"Itulah yang sebenarnya melukai kehormatanku, Letnan. Aku lebih
terhormat meregang nyawa dalam sebuah pertempuran daripada membuat
tempat penyiksaan semacam ini. Tapi kita mengabdi kepada Gubernur
Jenderal, bukan kepada nurani kita," ujar Kapten Becking sambil
menguap. Tak lama kemudian ia jatuh tertidur.
Begitu terang tanah telah sempurna, mereka kembali bekerja membabat
hutan dan mempersiapkan tanah lapang untuk keperluan tempat tinggal
dan segala bangunan yang akan diperlukan nanti. Serdadu yang berjaga
dan ingin melepas kejenuhan menyusuri sungai dan berburu buaya.
Pada hari kelima, ketika mereka tengah siap memulai pekerjaan setelah
istirahat tengah hari, mereka dikagetkan oleh suara jeritan seperti
empat malam sebelumnya. Dari berbagai arah, dengan hanya berpakaian
bulu burung cenderawasih dan membawa sebuah pepaya di tangan,
manusia-manusia hitam bertubuh atletis itu menampakkan diri di hadapan
para serdadu dan kuli paksa, mencoba menarik perhatian mereka lalu
mendekat selangkah demi selangkah dengan sangat hati-hati. Kapten
Becking, yang telah melakukan studi lama tentang daerah sekitar hutan
ini beserta kebiasaan para penduduknya mendekati mereka dengan dada
berdebar-debar. Busur, panah dan lembing mereka siap bergerak. Namun,
buah pepaya yang ada di tangan para manusia hitam itu yang membuat
Kapten Becking yakin mereka tak akan membuat keonaran.
Dengan tangan gemetar ia mengeluarkan tembakau dari saku celanya dan
dengan bahasa isyarat dari tangan dan wajahnya ia mengajak mereka
menukar tembakau terebut dengan pepaya yang mereka bawa. Begitu mereka
menerima tembakau dan Kapten Becking menerima pepaya, orang-orang
hitam itu bersorak melegakan seluruh pendatang baru itu. Kapten
Becking meminta kepada Letnan Drejer untuk mengambilkan sekantong
garam dan barang-barang perhiasan kecil yang ada di gudang. Ketika
benda-benda itu diberikan kepada pemimpin penghuni hutan, mereka
membalasnya dengan memberikan bulu burung cenderawasih, burung-burung
yang cantik, dan binatang-binatang buruan yang berhasil mereka tangkap
dengan sumpit. Namun, yang paling membuat geli para pendatang baru itu
adalah sikap para penghuni hutan itu kepada gramofon yang mereka bawa.
Benda yang piringan hitamnya sedang berputar itu diangkat, diselidiki,
dan dilihat-lihat dari segala sudut dengan penuh keheranan.
"Mungkin mereka heran bagaimana suara manusia bisa muncul dari
gramofon itu, Kapten," kata anak buahnya sambil tersenyum dan tertawa
terpingkal-pingkal.
"Tentu. Mereka mencari bagaimana benda sekecil itu menyembunyikan
manusia," kata Letnan Drejer sambil tersenyum lebar.
Setelah beberapa minggu segala persiapan awal penyambutan kedatangan
para internitan yang pertama-tama di bekas hutan Digul itu selesai,
secara bergelombang datanglah kaum merah yang telah gagal memberontak
itu, dipisahkan dari bangsanya sendiri dan dikubur di tengah belantara
untuk selamanya. Pada pendatang baru ia memperkenalkannya sebagai
Tanah Merah.
Siapa sangka jika pekerjaan meletihkan dan memalukan itu kemudian
memaksanya berhenti dari dinas militer? Semuanya berawal ketika ia
mengizinkan seorang wartawan berkebangsaan Denmark masuk ke kamp
interniran dan melihat dari dekat segala hasil kerjanya. Kabarnya,
wartawan itu mengambil gambar para interniran selama di dalam kapal
dari Surabaya hingga sampai di Digul. Komandan kapal yang tak ingin
dosa-dosa para pejabat Batavia diketahui secara luas oleh seluruh
dunia merampas kamera dan menghancurkan foto-foto yang telah dibuatnya
selama di kapal. Alangkah murkanya ia ketika Kapten Becking justru
mengizinkan wartawan itu masuk ke kamp pembuangan.
Ia juga tahu para pejabat Belanda di Merauke tak menyukai
keberhasilannya membangun kamp pembuangan itu. Mereka membuat rencana
busuk untuk menyingkirkanya. Suatu kali Letnan Drejer memberitahu
bahwa Opsir Mon Joulah yang mengatur semua itu. "Ia sangat gila
kekuasaan, Kapten," ujar Letnan Drejer muak.
Foto dari wartawan Denmark itu rupanya telah melukai kehormatan para
pejabat Batavia. Mereka makin menyudutkannya atas tindakan ceroboh
memasukkan wartawan ke kamp pembuangan sehingga kabar tentang kamp
pembuangan itu meluas ke seluruh dunia. Saat itulah ia memutuskan
untuk mengirimkan kawat ke Batavia dan mengundurkan diri dari dinas
militer!
Tak akan terlupakan hari keberangkatannya meninggalkan Digul. Ia
berdiri di pagar kapal api, bukan lagi memandang hutan yang hijau
sunyi, namun permukiman yang dibangunnya belum setahun yang lalu
sembari merenungkan nasibnya. Hujan tipis membasahi baju dan rambutnya
yang putih. ***

Sokawangi, Oktober 07

0 komentar: