Believe Me, If All These Endearing Young Charms

30 Juni 2009

Thomas Moore

Believe me, if all those endearing young charms
Which I gaze on so fondly today
Were to change by tomorrow and fleet in my arms
Like fairy gifts fading away,
Thou wouldst still be adored as this moment thou art
Let thy loveliness fade as it will
And around the dear ruin each wish of my heart
Would entwine itself verdantly still.

It is not while beauty and youth are thine own
And thy cheeks unprofaned by a tear
That the fervor and faith of a soul can be known
To which time will but make thee more dear.
No, the heart that has truly loved never forgets
But as truly loves on to the close
As the sunflower turns to her God when he sets
The same look which she turned when he rose.

Bright Star, Would I Were Steadfast as Thou Art

28 Juni 2009

John Keats

Bright star, would I were steadfast as thou art—
Not in lone splendour hung aloft the night,
And watching, with eternal lids apart,
Like nature's patient sleepless eremite,
The moving waters at their priestlike task
Of pure ablution round earth's human shores,
Or gazing on the new soft-fallen mask
Of snow upon the mountains and the moors;
No—yet still steadfast, still unchangeable,
Pillow'd upon my fair love's ripening breast,
To feel for ever its soft fall and swell,
Awake for ever in a sweet unrest,
Still, still to hear her tender-taken breath,
And so live ever—or else swoon to death.

One day I wrote her name upon the strand

Edmund Spenser

One day I wrote her name upon the strand,
But came the waves and washed it away:
Again I wrote it with a second hand,
But came the tide, and made my pains his prey.
Vain man, said she, that dost in vain assay
A mortal thing so to immortalize!
For I myself shall like to this decay,
And eek my name be wiped out likewise.
Not so (quoth I), let baser things devise
To die in dust, but you shall live by fame:
My verse your virtues rare shall eternize,
And in the heavens write your glorious name;
Where, whenas death shall all the world subdue,
Our love shall live, and later life renew.

Did Not

27 Juni 2009

Thomas Moore

'Twas a new feeling - something more
Than we had dared to own before,
Which then we hid not;
We saw it in each other's eye,
And wished, in every half-breathed sigh,
To speak, but did not.

She felt my lips' impassioned touch -
'Twas the first time I dared so much,
And yet she chid not;
But whispered o'er my burning brow,
'Oh, do you doubt I love you now?'
Sweet soul! I did not.

Warmly I felt her bosom thrill,
I pressed it closer, closer still,
Though gently bid not;
Till - oh! the world hath seldom heard
Of lovers, who so nearly erred,
And yet, who did not.

If Grief for Grief can Touch Thee

Emily Bronte

If grief for grief can touch thee,
If answering woe for woe,
If any truth can melt thee
Come to me now!

I cannot be more lonely,
More drear I cannot be!
My worn heart beats so wildly
'Twill break for thee--

And when the world despises--
When Heaven repels my prayer--
Will not mine angel comfort?
Mine idol hear?

Yes, by the tears I'm poured,
By all my hours of pain
O I shall surely win thee,
Beloved, again!

Ia, Entah Siapa

26 Juni 2009

Asmororini

Di ruang susun pekuburan umum para miskin-papa, ibu-bapanya
Dalam mori putih bertumpuk dengan entah siapa. rumah tinggal tersisa satu-
Satunya yang dikenal, teduh-pengap kolong-kolong beton, berdesakan dengan
Entah siapa. bersekolah menimba hidup dijalanan, berguru kepada
Dengan entah siapa

Kuku jari menceker-ceker di sisi buram metropolis kota, tempat menapak
Sambil berlunta. ada rumah mimpi menyodorkan hati jadi pelindung, ditolak
Resah, tidak mencocoki keinginan badan yang terlanjur bebas lepas hilang
Kendali. kunci gembok diri telah tercuri, tak tahu harus melapor kepada
Dengan entah siapa

Serak berteriak diperempatan jalan berlampu abang-ijo, lekat daki keringat
Mengais upah, dicukupkan memenuhi serba banyak urusan hidup. bila perut
Sudah terpenuhi , membayar penjaja tubuh mengumbar sanggama dalam belukar
Di tepian kali bersama pelacur tua, kelaminnya tak pernah tahu harus berserah
Dengan entah siapa

Ia....entah siapa
Jati dirinya Anak Lelaki, sepuluhan tahun umurnya

Surabaya, 8 maret 2009

Sepasang Mata yang Tak Lagi Bisa Berpejam

Cerpen Rama Dira J
Dimuat di Suara Pembaruan 06/14/2009

Perempuan yang berdiri di bibir pantai kala senja itu adalah ibuku. Ia
memaku di sana dalam posisi menanti dengan terus memendam perasaan
rawan. Angin laut mengembus tubuh keriputnya, mengelepakkan ujung kain
sarung batiknya, mengasinkan rambut-rambut tuanya yang menipis sudah.
Sisa-sisa semburat jingga matahari senja memantul pada sepasang
matanya yang tak lagi bisa berpejam semenjak Ayah tak kunjung pulang.

Malam itu, aku dan Ayah masih dalam sampan kami di tengah lautan. Tak
melintas sedikit pun pikiran dalam kepala kami jika malam itu adalah
malam petaka. Kami justru mengira, malam itu adalah malam
keberuntungan sebab ikan yang bisa kami jerat dengan pukat, melimpah
ruah banyaknya, setelah tak satu pun yang tertangkap sepanjang empat
hari sebelumnya.

Dalam kehadiran yang tak disangka-sangka, sebuah kapal cepat milik
segerombolan bajak laut bersenjata lengkap, muncul dari balik gelap
malam, berhenti di dekat sampan kami. Salah satu dari mereka dengan
tiba- tiba saja naik ke sampan, membuka peti, lantas mengambil semua
ikan hasil tangkapan.

"Jangan, Tuan." Ayah berusaha menghalangi, orang itu menembak Ayah.
Teman-temannya juga ikut memberondong Ayah. Mereka juga menembakku,
namun lesatan sebuah peluru hanya mengenai pundakku. Aku terjatuh ke
dalam air laut yang memerah karena darah Ayah, tak sadarkan diri dalam
gulungan ombak yang tiba-tiba datang, terbangun di tepi sebuah pantai
pada suatu pagi.

Peristiwa itu telah lama menjadi bagian dari masa lalu. Namun, ibu
selalu menunggu. Masa lalu dan masa kini, tak lagi bisa ia bedakan. Ia
hidup dalam masanya sendiri, masa yang dipenuhi dengan penantian demi
penantian.

Ia selalu menunggu kepulangan Ayah, setiap ketika matahari mulai
menyelimuti dirinya dalam cumbuan kelambu langit jingga. Tak seperti
dulu, ia tak lagi peduli dengan gema azan. Ia tak bergegas pulang
untuk kemudian berwudhu dan sembahyang. Ia tetap memaku menunggu di
sana sampai pagi, dengan terus menggumamkan nyanyian penantian,
sebentuk nyanyian yang katanya ia dapat pada suatu larut malam,
diajarkan oleh bintang-bintang padanya. Ia baru berhenti menunggu,
jika bias sinar matahari fajar muncul di kaki langit sebelah timur.

Sepasang mata miliknya tak lagi bisa berpejam. Mata itu terus terbuka,
demi menunggu kepulangan Ayah. Sesungguhnya, semua yang ada pada Ibu
menjadi bagian yang wajar sebagai milik seorang yang telah dimakan
usia, tapi tidak dengan matanya. Meski tak lagi bisa memejam, kedua
mata seperti buah badam itu masih muda, bening, penuh pancaran yang
mencerminkan keyakinan utuh. Yah, dari mata itu kau akan bisa membaca
bahwa pemiliknya tak akan pernah membuang kepercayaan akan kembalinya
sang suami tercinta.

Ia tak pernah percaya dengan berita yang kubawa bahwa Ayah telah mati.
Pertama kali mendengar kabar itu, ia langsung tak percaya. Ia bilang,
setahunya, aku tak ikut melaut, mustahil aku tahu jika Ayah telah mati
terbunuh. Padahal, ia pasti mengetahui aku ikut dengan Ayah sebab
waktu sampan kami mulai lepas meninggalkan pulau di malam
keberangkatan itu, ia tetap berdiri di bibir pantai, melepas kepergian
kami, seperti biasanya.

"Ia masih di laut. Belum cukup ikan yang bisa ia bawa pulang" Ia
selalu mengulang keyakinannya itu, setiap hari, setiap kali kubilang
Ayah tak akan pulang. Begitulah, sudah lima belas tahun ia
terperangkap dalam penantian dan keyakinan sia-sianya.

Sia-sia pula usahaku meyakinkannya. Aku pun menyerah. Kubiarkan ia
hidup dalam dunianya. Aku tak lagi pernah berupaya untuk
menyadarkannya agar mau hidup dalam dunia nyata, dunia dimana Ayah tak
lagi ada.

Dalam penantiannya itu, setiap kali melihat ada sampan yang segera
merapat, senyum tuanya akan mengembang. Ia lantas bergegas turun ke
tepi pantai, membiarkan ujung sarungnya basah, jauh sebelum sampan
yang dilihatnya itu mencapai tepi. Meski kemudian ia kecewa setelah
melihat pemilik sampannya yang ternyata bukanlah Ayah, ia tetap akan
bertanya.

"Bertemu Rahman tidak?"

"Oh, tidak Nek Asnah. Kami tak bertemu Rahman. Mungkin dia masih
mencari ikan di lain tempat." Begitulah jawaban seragam yang akan
diberikan oleh siapa saja orang kampung yang pulang melaut jika
ditanya Ibu. Sepertinya, jawaban itu sudah menjadi kesepakatan tidak
tertulis di antara semua orang kampung.

Pada kenyataannya, sepasang mata adalah organ yang begitu berharga
bagi manusia. Untuk menjalankan fungsinya, tentu tak selamanya mata
harus terjaga. Ia juga butuh istirahat, ia harus memejam meski hanya
sebentar. Namun, mata ibu tak membutuh- kannya.

Mata itu terus saja berjaga. Aku berani memastikan, bahwa sepasang
mata ibu itu tak akan berpejam lagi untuk selamanya. Ibu tak
membutuhkan tidur, bahkan hanya sekadar berpejam. Aku tak pernah tahu
jenis penyakit apa yang diderita matanya. Adakah orang di dunia ini
yang tak pernah memejamkan matanya seperti ibu?

Sebenarnya, peristiwa di malam itu tak hanya mempengaruhi Ibu. Ia
telah pula meninggalkan kenangan buruk yang lekat dalam ingatanku.
Sampai-sampai, acapkali aku bermimpi sama, sebuah rekaman dari
peristiwa sebenarnya itu. Aku tak bisa lepas dari pemandangan terakhir
kala Ayah yang sebelum jatuh ke laut, sempat melambai-lambai padaku
itu.

Mimpi-mimpi yang sama itulah yang kemudian membuatku tak lagi berani
ke laut. Laut telah kuanggap sebagai kutukan. Aku meyakini, jika aku
ke laut lagi, aku juga akan mati seperti Ayah. Untuk itu, aku memilih
menjual ikan asin ke kota dengan bersepeda atau bekerja serabutan
lainnya. Yang paling penting adalah aku tidak harus ke laut untuk
menjalankan pekerjaan-pekerjaan itu.

Meski Ibu terperangkap dalam penantiannya menjelang senja hingga fajar
sempurna, di luar waktu itu, ia tetap menjalankan kehidupan seperti
orang normal. Pagi-pagi sekali, sepulangnya dari bibir pantai, ia akan
membangunkanku. Ia kemudian bergegas ke perigi untuk mandi dan mencuci
pakaian kami.

Ketika matahari mulai terik, ia menjemur pakaian. Setelah itu, ia
kembali lagi menuju bibir pantai, menjemur ikan. Kami membeli
ikan-ikan setengah busuk itu dengan murah, langsung dari nelayan di
kampung. Setelah diberi garam, ikan itu dijemur selama beberapa hari.
Ikan-ikan asin itulah yang kemudian kujual ke kota.

Setelah menjemur ikan, ia akan kembali ke gubuk kami, duduk di tangga
kayu, menunggu aku pulang. Sorenya, jika ia melihatku sudah datang,
senyumannya akan mengembang.

"Kau tunggu di sini. Aku menunggu Ayahmu. Sebentar lagi ia akan datang."

Setengah berlari, ia bergegas, menurun melintasi jalan setapak yang di
kanan kirinya penuh dengan belukar. Ia terus menuruni bukit kecil itu,
melintasi dinding-dinding karang kemudian menuju ke hamparan pasir di
bibir pantai.

Sore itu, seperti biasanya, ia telah duduk di tangga kayu gubuk kami
dengan tampilan wajah yang penuh dengan ketaksabaran menunggu
kedatanganku untuk menggantikannya menjaga gubuk. Ia tak lagi berkata,
meski hanya sekadar menyapa kedatanganku. Ia langsung melangkah, lebih
gegas dari biasanya, menuju ke bibir pantai yang telah menjadi
peraduannya demi menjalankan ritual penantian abadi.

Setelah menyantap makan malam, yang biasanya telah ia siapkan dalam
tiga porsi -untuk aku, dia sendiri, dan Ayah- aku langsung tertidur
pulas karena sangat lelah hari itu. Aku terbangun pada malam yang
terasa berbeda, malam ketika bumi tiba-tiba guncang dan menghancurkan
gubuk kami dalam hitungan kedipan mata.

Aku berupaya keras keluar dari reruntuhan gubuk. Aku langsung berlari
menuju ke arah bibir pantai. Sebelum mencapai bibir pantai, aku
bertemu Somad. Laki-laki yang bekerja sebagai penjaga mercusuar itu
mengabarkanku bahwa air laut surut seketika. Mendengar itu aku semakin
panik, berlari lagi dalam kecepatan yang melebihi yang tadi.
Orang-orang kampung juga panik. Kudengar teriakan : "Air laut naik!".
Mereka berlari tak tentu arah, menabrak apa saja yang ada di depannya,
demi satu tujuan : mencari tempat yang lebih tinggi.

Aku tak langsung mencari tempat yang tinggi. Aku justru berlari menuju
pantai, karena aku tahu Ibu masih di sana. Sambil terus berlari, aku
menguatkan kemampuan pandangan mata untuk menangkap dimana Ibu di
tengah kegelapan yang sangat pekat. Baju putihnya-lah yang kemudian
membuatku bisa menemukan sosoknya yang masih berdiri menatap jauh,
dengan gumam penantiannya.

Tak membuang waktu, aku segera mencapainya, kugenggam tangannya.
Namun, air laut yang tumpah itu sudah tiba, menghempas tubuh kami
terpisah seketika itu juga. Tubuhku bergulung-gulung dalam air laut
yang tak lagi asin. Aku tak sadarkan diri, gulungan itu terus
membawaku ke daratan yang jauh.

Di suatu malam yang lain, aku bangun setelah bermimpi. Aku tak segera
bisa melupakan mimpi itu. Mimpi dimana aku melihat sepasang mata ibu
yang tak lagi bisa berpejam, mengapung di atas samudera luas tak
bertepi.***

Tarakan, 2 Mei 2009

Puisi di antara Dua Benua

Heri Latief

Di sini
Tanah seberang lautan ide
Demi langit merah menyala, api
Membakar pahitnya duka

Kami punya sejarah terluka
Luka dibawanya ke muara, cinta
Tanah air mata air kehidupan
Mengembara di dunia maya, terbang
Bersama debu dan mimpi-mimpinya

Nyanyian jejak puisinya?
Meminimalis ilusinya
Tanah air mata air cintanya!

Amsterdam, 2005

Seseorang di Halaman Tujuh

24 Juni 2009

Cerpen Widzar Al-Ghifary
Dimuat di Pikiran Rakyat 06/14/2009

Seperti biasa, seseorang terbangun di sebuah pagi, menyeduh kopi,
menyalakan rokok, lantas duduk di beranda. Menunggu tukang koran
datang. Dia, seseorang itu, seperti paham, tak ada lagi yang bisa
dirayakan dari sebuah pagi. Segalanya telah menjadi rutinitas yang
melulu itu-itu juga. Seseorang itu, dia hanya menjalani hari-harinya
dengan kesadaran seorang manusia pada umumnya. Dia tahu, sesungguhnya
pagi hanya mengantarkan seseorang pada wilayah yang lain, menuju
siang, menuju sesuatu yang asing.

Seseorang itu menyadari, hanya malam yang mampu membawa dia pada
sesuatu yang sesungguhnya, pada dunia yang sebenarnya, pada fase-fase
yang mungkin dianggap sesuatu yang aneh oleh orang yang memandangnya,
di luar sana, di luar pintu rumahnya.

Seseorang itu kini tengah membuka halaman koran, setelah tukang koran
datang, tanpa kata, memberikannya selembar koran dengan wajah yang
kemarin juga; tanpa ekspresi kebahagiaan atau kesedihan. Halaman
pertama, seseorang itu melewatkannya. Kedua, ketiga, keempat, kelima,
keenam, seseorang itu berhenti pada halaman tujuh. Sebuah berita
kematian. Seorang perempuan muda baru saja meninggal, dengan leher
tergorok, dengan wajah yang sudah tak dikenali lagi.

Seseorang yang tengah membuka halaman tujuh itu, menarik nafas
panjang, menghembuskannya beserta asap rokok, lepas ke udara.
Seseorang itu merasa, hidup kini tak lagi punya harga. Orang bisa
membunuh siapa saja, dengan alasan apa saja, dengan keyakinan yang
mungkin tak lagi diyakininya. Ah, sudahlah, seseorang itu tiba-tiba
melempar koran ke pojok beranda, seolah ingin melempar segala
persoalan, membuangnya jauh-jauh. Tapi tak ada yang bisa dibuang
selain rokok yang telah jadi puntung, bukan? Bisiknya dalam hati.

Seseorang itu beranjak dari beranda. Memasuki ruang depan, menyalakan
televisi, tapi lantas memasuki kamar, membiarkan televisi berbicara
sendirian. Di kamar, seseorang tersebut menjatuhkan dirinya ke tempat
tidur, memejamkan mata, tapi bukan tidur. Dalam kepalanya sebuah
cerita yang lain tengah bermain. Tanpa sutradara, tanpa penulis
skenario, tapi tokoh-tokohnya seolah paham betul apa yang
dilakukannya.

Sebuah cafe. Toni nama lelaki itu, rambutnya ikal tergerai, dengan
jeans biru, kaos hitam, sandal jepit, duduk di hadapan seorang
perempuan. Gina nama perempuan itu, rambutnya diikat, sandal dan
kemejanya warna coklat, celana jeansnya warna hitam. Mereka
berhadapan. Mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang tak mereka ucapkan
dari pertemuan itu, hanya diucapkan oleh sepasang mata milik mereka.

"Apa perempuan melulu harus begini? Menjadi kepanjangan tangan dari
kehendak orang tuanya?" Gina mengucapkan kata dengan mata menerawang.

"Kadang lelaki juga begitu. Tak ada beda apakah kita lelaki atau
perempuan," Toni menjawab dengan kalimat yang seolah ditujukan untuk
dirinya sendiri.

"Perempuan melulu harus mengalah!" Gina menekan kalimatnya.

"Kadang lelaki juga begitu. Tak ada beda apakah kita lelaki atau
perempuan. Semua diciptakan oleh kesempatan. Kesempatan yang membuat
kita ada. Kesempatan yang membuat kita merasa menjadi seorang pemenang
atau pecundang." Toni masih berbicara, seolah berbicara pada dirinya
sendiri.

"Aku akan kabur dari rumah!" Gina mengatakan itu dengan mata menatap
tajam ke arah Toni.

Toni terkejut. Matanya membalas tatapan Gina. Dadanya perih. Tatap
tajam Gina seolah pisau yang menggores dadanya pelan, tapi dalam.
Percakapan mereka membeku sesaat.

"Kabur bukan jalan keluar. Itu pelarian." Toni berkata lirih. Seolah
ingin meluluhkan kata-kata Gina yang sekeras batu.

"Itu jalan keluar satu-satunya sekarang. Aku akan pergi dari kota ini.
Meninggalkan semuanya. Juga kamu," kata-kata Gina melemah.

"Aku terbiasa ditinggalkan." Toni bergumam.

"Aku mencintaimu!" Gina menggenggam jemari Toni.

"Cinta tak bermakna apa-apa hari ini. Cinta tak mengubah kemarahan dan
dendam jadi sayang. Cinta utopia manusia modern yang kadung terjebak
dengan hidup yang monoton. Cinta itu ilusif."

"Baiklah, tak usah ucapkan cinta kalau begitu. Lupakan bahwa aku
pernah mengatakannya." Gina emosi.

Toni menatap Gina. Ada beban yang ingin dilepas, tapi tertahan. Toni
hanya tertegun. Toni menarik nafas panjang.

"Yang kadung dikatakan tak mungkin bisa dilupakan. Lebih baik alihkan
cintamu itu. Cintai dirimu sendiri. Dengan mencintai dirimu sendiri,
aku berharap kamu mengubah keinginanmu untuk melarikan diri. Kabur
bukan jalan keluar satu-satunya." Toni tahu kata-katanya mungkin hanya
menjelma angin yang singgah di telinga Gina, setelah itu pergi entah
ke mana.

Seseorang yang tengah merebahkan dirinya di kamar itu kini membuka
matanya pelan. Piringan hitam dalam kepalanya yang tengah berputar itu
berhenti seketika. Tapi kejadian yang baru saja diputar itu masih
melekat dalam kepalanya. Mata indah Gina, rambutnya, kemeja coklatnya,
seolah tak ingin dilenyapkan begitu saja.

**

SESEORANG itu keluar kamar. Televisi masih menyala. Menayangkan berita
seorang perempuan muda baru saja meninggal, dengan leher tergorok,
dengan wajah yang sudah tak dikenali lagi. Seseorang yang baru saja
keluar dari kamar itu mendesah panjang. Koran dan televisi sama saja,
beritanya itu-itu juga pikirnya.

Telepon berdering nyaring di samping televisi. Seseorang yang baru
saja keluar dari kamar itu melangkah menuju pesawat telepon.
Diangkatnya lantas dia mendengar seseorang di seberang sana
mengucapkan kalimat-kalimat panjang. Wajah seseorang yang sedang
mengangkat telepon itu berubah. Wajah yang tak bisa ditebak rautnya.
Ekspresi wajahnya asing. Seseorang yang tengah menerima telepon itu
menutup telepon dengan mata yang juga asing.

Seseorang itu memburu beranda, mengambil koran yang dilemparkannya
tadi pagi. Dia terburu-buru membuka halaman tujuh. Mencari berita
tentang seorang perempuan muda yang baru saja meninggal, dengan leher
tergorok, dengan wajah yang sudah tak dikenali lagi. Seseorang yang
kini sedang memegang koran itu seolah-olah ingin memastikan bahwa
berita yang tertulis di sana tidak memberitakan tentang orang yang
dikenalinya. Kenapa wajahnya tidak bisa dikenali? Apakah pembunuh itu
ingin menyembunyikan identitas yang dibunuhnya? Kenapa harus
disembunyikan?

Seseorang yang tengah memegang koran dengan tangan gemetar itu, masih
mengingat betul apa yang diucapkan seseorang di seberang telepon yang
diangkatnya tadi, "Gina terbunuh tadi malam. Seseorang menggorok
lehernya lantas menghancurkan wajahnya, tepat di malam saat dia telah
mengemas semua barang-barangnya ke dalam koper. Gina telah melarikan
diri, seperti keinginannya tempo hari, dan dia tak mungkin kembali!"

Seseorang yang kini tengah memegang koran itu kini bisa memastikan
bahwa televisi dan koran pagi ini telah memberitakan seorang perempuan
muda yang tak lain dan tak bukan adalah Gina. Perempuan yang tiga hari
sebelumnya berbicara tentang cinta dan berniat kabur dari rumahnya
karena berselisih keras dengan orang tuanya.

Seseorang itu kini melipat koran, menyimpannya di atas meja, lantas
masuk ke kamar mandi. Televisi masih menyala. Berita-berita tentang
kematian masih terus berlanjut. Ada bayi yang dibuang di selokan,
pemilik rumah yang mati di tangan perampok, pemuda yang mati karena
minuman oplosan yang tak jelas, semua bergantian diselingi iklan
sabun, sampo, pemutih baju, susu bayi, penyedap masakan, mobil mewah,
dan seterusnya.

Seseorang yang baru saja memasuki kamar mandi itu, wajahnya begitu
dingin. Di kamar mandi, seseorang itu tengah mencuci pisau dengan
darah yang masih menempel, di lantai kamar mandi, tampak sepasang baju
yang berlumuran darah.***

In Three Days

22 Juni 2009

Robert Browning

So, I shall see her in three days
And just one night, but nights are short,
Then two long hours, and that is morn.
See how I come, unchanged, unworn!
Feel, where my life broke off from thine,
How fresh the splinters keep and fine---
Only a touch and we combine!

Too long, this time of year, the days!
But nights, at least the nights are short.
As night shows where ger one moon is,
A hand's-breadth of pure light and bliss,
So life's night gives my lady birth
And my eyes hold her! What is worth
The rest of heaven, the rest of earth?

O loaded curls, release your store
Of warmth and scent, as once before
The tingling hair did, lights and darks
Outbreaking into fairy sparks,
When under curl and curl I pried
After the warmth and scent inside,
Thro' lights and darks how manifold---
The dark inspired, the light controlled
As early Art embrowns the gold.

What great fear, should one say, "Three days
"That change the world might change as well
"Your fortune; and if joy delays,
"Be happy that no worse befell!''
What small fear, if another says,
"Three days and one short night beside
"May throw no shadow on your ways;
"But years must teem with change untried,
"With chance not easily defied,
"With an end somewhere undescried.''
No fear!---or if a fear be born
This minute, it dies out in scorn.
Fear? I shall see her in three days
And one night, now the nights are short,
Then just two hours, and that is morn.

Jagad Pelik

Asmororini

Azab jaman kala bendu meratai

Bumi nusantara nusantara bumi
Gaduh riuh penduduk negeri
Berbalik kiblat memampat nurani

Penduduk negeri jagad cilik
Pelik bergoyang bergoyang pelik
Memainkan sirkus berakrobat taktik

Puji dan hujat terkemas kritik

Surabaya, 6 maret 2009

Anak Gadis yang Suka Bermain-main dengan Angin

21 Juni 2009

Cerpen Rama Dira J
Dimuat di Lampung post 06/14/2009


Menjelang tengah hari, kala merambang-rambang di sekitar belukar mawar
yang ada di kaki bukit itu, saya melihat lagi si anak gadis yang suka
bermain-main dengan angin.

Dulu, anak gadis ini pernah saya jumpai dalam sekali peristiwa.
Sebenarnya, waktu itu, bukan saya yang ingin menjumpainya. Saya tak
mengenalnya secara pribadi. Saya hanya menyertai seorang bocah lelaki.
Dialah yang mengenal si gadis dan memiliki keinginan tak tertahankan
untuk segera berjumpa dengannya.

Kini, saya lihat anak gadis itu hanya sendiri sebagaimana kemarin,
sebagaimana hari-hari sebelumnya lagi, dalam satu bulan ini. Ia duduk
bersenandung, sambil sesekali berbisik manja pada angin yang
menggoyang-goyangkan mawar dalam belukar warna warni di sampingnya.
Anak gadis ini tak pernah lagi mengenakan seragam putih birunya.
Sesiang ini, semestinya, ia masih berada dalam salah satu ruang kelas
pada sekolah yang ada di balik bukit.

Jelas terbaca, anak gadis ini sudah begitu akrab dengan angin.
Keakraban itu bisa terjelma dari senandung lirihnya dalam bahasa suara
yang menimbulkan rasa girang yang dibalas oleh angin dengan memberikan
embusan-embusan yang lembut menyejukkan menimpa tubuh si gadis dan
membuatnya tertawa riang seketika, sehingga tak salah jika ia kemudian
menjadi betah berlama-lama, memanjakan diri, sampai senja.

Memang, gadis ini sepenuhnya telah menjadi gila. Ia tak lagi
memedulikan siapa-siapa. Ia tak lagi mau berteman, juga tak mau lagi
menyapa kakek dan neneknya di rumah. Hanya anginlah yang kemudian
diperlakukannya sebagai kawan, yang menurutnya bisa mendengarkan
kisahnya, menyimak kesepiannya lewat dengung lirih menyedihkan yang
keluar dari bibirnya begitu saja, terdengar seolah-olah sebagai
isyarat keriangan.

Sebelum si gadis gila, ada seorang bocah lelaki yang mencintainya
dengan begitu tulus. Bocah inilah yang saya sertai kala ia berencana
mengutarakan perasaan cintanya kepada si gadis sebulan yang lalu.

Bocah ini, sudah lama putus sekolah. Umurnya sekitar tujuh belas
tahun. Namanya Ompong. Bisa dibilang, Ompong adalah preman
kecil-kecilan yang sering mangkal di warung pojok sekolah milik Bu
Jumpyang. Sehari-hari, tak ada lain, kerjanya adalah meminta uang atau
makanan pada murid-murid sekolah yang ada di sebalik bukit ini. Tak
ada yang berani melawannya tentu, sebab ia menang usia selain
tergabung dengan gerombolan Cangkul Hitam, perkumpulan preman yang
paling ditakuti.

Singkat kisah, si Ompong jatuh cinta pada pandangan pertama dengan si
gadis yang ada di hadapan saya ini. Waktu si gadis melintas di
depannya, dalam sekali pandang, si Ompong terperangkap sihir
kecantikan si gadis yang kabarnya adalah murid baru, pindah dari Ibu
Kota setelah ayah dan ibunya meninggal dunia dalam suatu kecelakaan
pesawat terbang. Sebagai anak tunggal, tentunya ia menjadi sendiri di
Ibu Kota. Demi mengakhiri kesendiriannya itulah, ia mengamini ajakan
nenek dan kakeknya untuk tinggal bersama di distrik ini, yang letaknya
sekitar seratus lima puluh kilometer dari Ibu Kota.

Semenjak pandangan pertama itulah si Ompong kemudian melakukan aksi
demi aksi dalam perjuangan untuk mendapatkan cinta si gadis. Dalam
hari-hari yang dipenuhi perasaan cinta, si Ompong tak pernah absen
mendatangi sekolah itu. Ia mengubah kebiasaannya dengan datang lebih
pagi sebelum penjaga sekolah datang, dengan mengenakan pakaian
terbaiknya, jenis kemeja lengan panjang yang ketat membungkus tubuh
kurusnya beserta celana panjang berujung lebar warisan dari ayahnya,
tak ketinggalan sepatu kulit buaya yang lancip pada bagian ujungnya.

Dalam keadaan demikian, tak diragukan lagi, ia berpenampilan seperti
seseorang yang berasal dari masa lalu. Meski demikian, tak akan ada
yang berani memberikan penilaian mengenai itu, apalagi sampai
mengejeknya sebab bagaimanapun, ia masih memiliki pesona seorang
preman.

Pada kenyataannya, si Ompong memang sudah bertekad untuk melakukan
perubahan yang revolusioner pada dirinya. Ini semua ia lakukan sebagai
bagian dari perjuangan untuk menundukkan hati si gadis. Berdasarkan
bisik-bisik gosip yang ia dengar, si gadis bukan berasal dari keluarga
yang sembarangan. Dia adalah cucu juragan tembakau paling kaya di
kawasan distrik itu. Berdasakan hal itulah si Ompong dengan sadar
berusaha menyihir dirinya berpenampilan seperti tadi, yang menurutnya
sudah pantas disetarakan dengan orang-orang yang berada di kelas
sosial dimana si gadis berada. Setelah itu, ia mulai mencoba untuk
memperbaiki perilaku dan sikapnya yang kemudian berujung pada
keputusan : ia berhenti menjadi preman. Ia ingin berubah menjadi bocah
baik-baik.

Pada kenyataannya, memang, si Ompong memiliki cinta yang benar-benar
tulus kepada si gadis. Semenjak si gadis dengan tangan terbuka mau
berkenalan dan sudi menerima dirinya sebagai teman baru, semenjak si
gadis selalu memberikan sekuntum senyum yang bisa mendebarkan hatinya
jika mereka berpapasan setelah perkenalan itu, semenjak itulah si
Ompong benar-benar menjadi lelaki yang berubah, sebagai lelaki yang
mau melakukan apa saja demi seorang gadis, tak seperti yang pernah
terjadi sebelum-sebelumnya dimana dia menjalin hubungan dengan
beberapa gadis yang hanya dilatarbelakangi oleh keinginan untuk
memanfaatkan mereka. Sungguh perasaan cinta tulus yang ada membuat si
Ompong tak memiliki niat buruk apa pun terhadap si gadis, kecuali
mencintainya.

Sampai pada suatu ketika, si Ompong tak lagi bisa terus menahan
perasaan cintanya itu. Ia ingin segera mengutarakannya kepada si
gadis. Dan siang itu juga, seusai bel bubaran, ia menanti si gadis di
gerbang sekolah, masih dengan penampilan zaman dulunya, mengadang si
gadis untuk ia beri mawar.

Karena rumah mereka searah, si gadis tak keberatan ketika si Ompong
mengajukan usul untuk berjalan pulang bersama. Dalam perjalanan pulang
itulah, si Ompong dengan laku kaku dan agak kesulitan dalam
mengutarakan kata, melontarkan pernyataan: "Aku mencintaimu gadis,
sudilah kiranya kau menjadi pendamping hidupku sampai mati sebab cinta
yang kumiliki untukmu begitu tulusnya."

Tak pelak lagi, si gadis sangat terkejut mendapatkan kenyataan yang
tak pernah ia sangka itu. Ia tak mengira semenjak awal, apa yang
dilakukan oleh si Ompong padanya selama ini adalah tanda-tanda rasa
cinta yang tak lagi terbendungkan.

Ia berpikir sebentar. Bagaimanapun, ia tak bisa menerima cinta si
Ompong atau cinta siapa pun juga dalam waktu ini, sebab ia masih
berduka setelah kehilangan ayah dan ibunya. Akhirnya, secara bijak, ia
mengutarakan pada si Ompong bahwa ia berterima kasih atas segenap
perhatian yang telah dicurahkan si Ompong kepadanya. Namun, sampai
seumuran itu, ia belum memikirkan masalah hubungan cinta. Mendengar
itu, si Ompong merasakan kekecewaan yang teramat. Pada titik ini, saya
belum memengaruhi si Ompong, meski sesungguhnya saya sudah bersamanya
semenjak ia berada di gerbang sekolah tadi. Sampai pada ketika mereka
mencapai tempat yang benar-benar sepi, yakni di sekitar belukar mawar
ini, barulah saya meniupkan serbuk amarah pada gumpalan hati si Ompong
hingga kemudian membuat hati itu buta, menghitam seluruhnya.

Dan, apa yang saya lakukan itu tak sia-sia. Segenap cinta bersih dan
tulus yang sempat lekat pada hati si Ompong, lenyap seketika itu juga.
Tak membuang peluang, si Ompong langsung menarik paksa tangan kurus
putih milik si gadis, yang langsung saja meronta-ronta menunjukkan
penolakan, setelah membaca adanya gelagat jahat si Ompong yang
seterusnya, dengan segenap kekuatannya memaksa si gadis masuk ke dalam
belukar mawar. Meski si gadis mengeluarkan semua kekuatan beserta
teriakan yang bercampur tangisan untuk meminta pertolongan, tetap saja
kekuatan si Ompong tak terkalahkan.

Di siang menjelang petang yang senyap itulah saya menjadi satu-satunya
saksi tindak pemerkosaan itu. Saya lihat kelopak-kelopak mawar di
sekitar mereka berguguran meski tak ada angin. Juga, duri-duri dari
batang mawar membuat banyak goresan luka pada sekujur badan si gadis.

Meski saya tak terlihat, saya justru bisa menyaksikan dengan sangat
jelas apa yang terjadi waktu itu hingga saya langsung merayakan
keberhasilan upaya saya dalam mengubah cinta menjadi benci, menggiring
kembali si Ompong sebagai dirinya, bocah jahat yang bisa menggoreskan
derita luka pada seorang gadis.

Sungguh, saya sangat menyukai si Ompong. Sebagaimana sebelumnya, ia
adalah bocah rapuh yang dengan mudah bisa disulap untuk berbuat tindak
kejahatan. Tak akan saya lepaskan ia, jika mencoba-coba untuk menjadi
baik, apalagi sampai mencoba menjayakan cinta. Tak akan pernah, sebab
inilah saya, si iblis yang suka menjerumuskan anak Adam yang lengah.

Kini, matahari tak lagi berada tepat di tengah langit. Sementara si
gadis semakin girang mendendangkan kesedihannya bersama angin, saya
justru memutuskan untuk segera meninggalkan kaki bukit ini. Biarlah ia
di sana, saya tak akan mengganggunya lagi. Sekali peristiwa sebulan
yang lalu itu sudah cukup bisa menghancurkan hidup dan masa depannya,
sudah cukup berhasil membuatnya menjadi gila. Tak perlu saya berbuat
yang lain.***

Pieter Akan Mati Hari Ini

20 Juni 2009

Cerpen Denny Prabowo
Dimuat di Kompas 06/14/2009

Sejak mercon itu meledak di benteng Zeelandia1, aku tahu, hidup Pieter
tak akan lama lagi. Derap langkah kuda serdadu kompeni yang melintasi
depan rumahku serupa dengus napas sang maut. Bau kematian. Merebak ke
tiap penjuru Jacatraweg.

De Malcontent2 memang menyimpan bara pada kompeni. Namun, siapa
percaya jika ia mampu menghimpun kekuatan untuk membantai seluruh
orang Belanda di Batavia? Bukankah Margaretha, istrinya, juga seorang
Belanda? Kuasa kompeni telah memilih Pieter dan kawan-kawan sebagai
tertuduh utama meski tak satu bukti—kecuali isu yang diembuskan oleh
seorang budak kepada istri Reijkert Heere.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Tiga pekan lalu, serdadu kompeni menyerbu kediaman Pieter.
Meringkusnya sebagai penjahat yang hendak melakukan makar. Bahkan,
usaha Aletta mencegah serdadu membawa ayahnya hanya kesia-siaan.
Margaretha mendekap tubuh anaknya ketika Pieter, Kartadriya, Layeek,
dan enam belas orang lainnya digiring ke Stadhuis3. Aku hanya bisa
memandang dari balik jendela. Menuliskannya dalam baris-baris soneta.
Apa boleh buat, aku hanya seorang pujangga. Apakah segerombolan
kata-kata akan mungkin menghadang bedil-bedil kompeni itu?

Sejarah memang harus dituliskan.

***

Wajah Pieter mengeras demi mendengar keputusan Dewan Heemraden.
Bagaimana mungkin, tanah di Pondok Bambu dan Sontar yang dahulu dibeli
ayahnya dihapus kepemilikannya. Ia bahkan harus membayar sewa karena
telah menggunakan tanah tersebut untuk usaha.

"Begitu besarkah kebencian mereka kepada seorang Indo sepertiku?" kata
Pieter memeram bara, "mamiku memang Siam. Tapi apa salahnya menjadi
orang Siam? Bukankah kita tak memilih dari rahim siapa dan di mana
kita dilahirkan?"

Margaretha dan Aletta tak tahu harus berkata apa. Mereka hanya bisa
bermain-main dengan sendok dan garpu di tangannya. Selera makan mereka
telah hilang sejak Pieter menggebrak meja setelah membaca surat
keputusan Dewan Heemraden mengenai kepemilikan tanah keluarga
Erberveld.

"Bukankah dahulu papi Tuan seorang Vertegenwordige4 di Het College van
Heemraden?" tanya Ateng Kartadriya, meneliti surat keputusan tersebut.

"Benar, Raden!" ujar Pieter, "mereka bahkan tak peduli pada jasa Papi."

"Hmm… tiga ribu tiga ratus ikat padi?" gumam Ateng Kartadriya,
"mungkinkah ini ada hubungannya dengan Reijkert Heere?"

Kedua alis Pieter saling bertaut ketika keningnya mengerut. Ia seperti
sedang mencari alasan paling mungkin bila dugaan Ateng itu benar. Ya…
untuk apa? Mengapa Reijkert harus melakukan itu?

Ateng Kartadriya dan Pieter saling berpandangan, seperti menemukan jawaban.

***

Sejak usaha leerlooierij5 Erbelveld senior tersohor, nama Jacatraweg
menjadi tenggelam. Orang lebih mengenal tempat itu sebagai kampung
Peca' Kulit. Mungkin karena kepiawaian Erberveld senior itu,
Pemerintah Belanda mengangkatnya sebagai wakil presiden di Het College
van Heemraden.

Sepeninggal Erbelveld senior, Pieter melanjutkan usaha itu.
Kedekatannya dengan bangsa pribumi membuat Pieter disegani. Ia bahkan
berkarib dengan seorang pribumi bernama Raden Ateng Kartadriya. Mereka
bahkan menyebutnya Toean Goesti setelah ia mengaku sebagai orang
Selam6.

Seandainya saja dahulu Pieter mau menerima tawaran Henricus
Zwaardecroon, mungkin Reijkert Heere tak perlu menjelma sebagai
penulis lakon sebuah sandiwara dan menjadikan Pieter pemeran utamanya.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Siapa pun yang dijebloskan ke ruang hukuman di Stadhuis akan mengakui
kesalahannya. Landdrost7 selalu memiliki cara untuk membuat orang
mengakui kesalahannya meski sesungguhnya ia tiada bersalah.

Ruang bawah tanah itu adalah saksi bagi keputusasaan.

Dan sejarah memang harus dituliskan.

***

Sejak mercon itu meledak di benteng Zeelandia, Gubernur Jenderal
Zwaardecroon kian meradang. Hanya tinggal selangkah lagi ia akan
menjadi pemilik seluruh tanah di Batavia. Namun, dukun yang
diundangnya mengatakan kepadanya tentang langit Batavia yang telah
dipenuhi segala macam ilmu hitam. Seorang stafnya meninggal tiba-tiba
karena penyebab yang entah apa. Apalagi, tersiar kabar tentang
jimat-jimat yang beredar di tengah masyarakat.

"Selamat siang, Tuan!" sapa seseorang. Zwaardecroon bergeming menatap
keluar jendela kantornya.

"Apakah kau datang membawa kabar, Tuan Reijkert?" tanya Henricus
Zwaardecroon tanpa menoleh.

"Saya ada membawa kabar, Tuan!"

"Kabar baik?"

"Tentu, Tuan!" kata Reikert, "kami sudah menemukan biang keladi
kekacauan selama ini."

Zwaardecroon langsung memutar tubuhnya, "Betul yang kaukatakan itu, Reijkert?"

"Benar, Tuan," ujarnya, "Tuan tentu mengenal Raden Ateng Kartadriya?"

"Mandor di leerlooierij milik Pieter?"

"Kami menggeledah rumahnya dan menemukan jimat-jimat yang selama ini
beredar di masyarakat."

"Jadi, dia pelakunya?"

Reijkert tersenyum, "Tuan tahu siapa yang berada di belakangnya?"

"Pieter?"

"Benar, Tuan!"

Zwaardecroon memandang keluar jendela ruang kerjanya, "Kau tentu sudah
tahu apa yang harus dilakukan, Reijkart?"

Reijkart memberi hormat, melangkah meninggalkan ruang kerja Gubernur
Jenderal Henricus Zwaardecroon. Suara langkahnya seperti irama
kematian.

***

Sejak suaminya menjadi penghuni ruang hukuman di Stadhuis, Margaretha
telah kehabisan air mata. Ia tak lagi bisa menangis. Leerlooierij
milik suaminya tak lagi beroperasi. Hari-harinya hanya ditemani sepi.
Sudah beberapa kali dia mengunjungi Stadhuis, mencari tahu nasib
suaminya. Sia-sia. Gubernur Jenderal tak mengizinkan siapa pun
mengunjungi pelaku pemberontakan. Seperti juga aku, Margaretha tahu,
hidup suaminya tak akan lama lagi.

Pagi tadi, berkas perkara Pieter dan teman-temannya tidak diserahkan
ke Raad van Justitie, tetapi ke Collage van Heemraden. Tanpa seorang
pengacara pun mendampingi mereka.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Bukankah sudah kukatan, tak ada yang tidak akan mengaku bersalah
setelah masuk ruang hukuman di Stadhuis? Begitulah hukum kompeni.
Mereka selalu punya cara untuk membuat orang mengakui kesalahan yang
tidak dilakukannya.

Aku memang tidak berada di ruang hukuman, tapi aku tahu apa yang telah
mereka lakukan terhadap Pieter dan teman-temannya.

Sejarah memang harus dituliskan, bukan?

***

Tiap jengkal tubuh Raden Kartadriya telah menerima pukulan serta
tendangan. Kedua tangannya dirantai. Lehernya dikalungi timbangan
besi. Kepalanya tertunduk ke lantai menahan nyeri setiap kali serdadu
kompeni menambah pemberat pada timbangan. Namun, ia masih bungkam, tak
mau membuka suara.

"Potong habis rambutnya!" perintah Reijkert, "kita lihat, apakah ia
masih sanggup tutup mulut!"

"Baik, Meneer!"

Helai demi helai rambut Raden Kartadriya berjatuhan di lantai hingga
tak sehelai pun tersisa di kepalanya.

Reijkert mencengkeram leher Raden Kartadriya, lalu mendongakkannya.
Lelaki itu malah tersenyum sinis, sorot matanya menyimpan api. Sebuah
hantaman ditengkuknya membuat kesadarannya hilang.

"Masukan dia ke dalam sel!" perintah Reijkert, "seret yang lainnya!"

Serdadu kompeni menyeret Layeek, seorang budak dari Sumbawa, orang
kepercayaan Pieter setelah Raden Kartadriya.

"Kamu orang tak perlu menderita seperti Kartadriya jika mau
menceritakan tentang rencana pemberontakan kalian!" bujuk Reijkert.

"Fuih!" Layeek meludahi wajah Reijkert.

"Kurang ajar!" Tangan Reijkert menghantam dagu Layeek. Pemuda itu
langsung tumbang, "Angkat dia!"

Serdadu kompeni merebahkan tubuh Layeek di atas de pijnbank8. Kedua
tangannya dibentangkan, lalu telapaknya disekrup. Layeek
menjerit-jerit kesakitan. Darah. Reijkert tertawa menikmati setiap
tetes darah yang retas dari tubuh legam Layeek.

"Baik… baik, Tuan… saya akan ceritakan!"

***

Sejak Pieter dan teman-temannya membuat pengakuan, Collage van
Heemraden telah mengetukkan palunya. Konon dan memang hanya konon,
Pieter menyimpan semua rencana pemberontakannya di sebuah peti di
dalam lemari tua di rumahnya. Pieter mengatakan akan melakukan
pemberontakan pada malam tahun baru dengan dukungan pasukan dari
Banten, Cirebon, dan Kartasura. Pieter bahkan mengaku telah berkirim
surat kepada putra Surapati.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Meski kompeni tak berhasil menemukan surat-surat yang konon
disembunyikan dalam peti di lemari tua miliknya, Raad van Indie telah
menyetujui hukuman mati dengan penggal kepala kepada Pieter dan
delapan belas orang inlander pengikutnya. Mereka akan mengeksekusinya
di lapangan sebelah selatan kasteel.

Begitulah, sejarah akan dituliskan, kataku mengakhiri cerita.

Kedai minum itu hening. Tak ada yang tahu apa yang sedang bermain di
dalam kepala orang-orang yang mendengar ceritaku itu. Pieter Erbelveld
memang dikenal luas di Batavia.

"Kita harus meninggalkan tempat ini, Tuan!" ujar seorang lelaki dengan
destar merah melilit kepalanya, "sebelum kompeni menyadari pelarian
Tuan. Raden Pengantin beserta pasukannya telah menanti di bekas tanah
milik Tuan di Sontar."

"Kartadriya…."

"Kita tak mungkin membawanya serta."

"Apakah kau akan ikut dengan kami, Jan?"

"Pergilah!" jawabku, "aku akan menyusul kalian. Biar kuselesaikan dulu
soneta ini."

Sepeninggal kedua orang itu, pemilik kedai yang ikut mendengarkan
ceritaku menghampiri, "Tuan, bukankah Meneer yang wajahnya penuh luka
itu Pieter Erbeveld?"

"Bukan!" kataku sambil berlalu meninggalkan pemilik kedai itu, "Pieter
akan mati hari ini!"

Pemilik kedai itu hanya tersenyum, memandangi kepergianku. ***

Depok, 09/11/2008

Catatan:

1. Gudang mesiu di Kota
2. Orang yang Kuciwa, lihat Saidi, Ridwan (hlm 184). 1987. Profil
Orang Betawi–Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadat, Jakarta: PT
Gunara Kata
3. Sekarang Museum Fatahilah
4. Wakil Presiden
5. Penyamakan kulit
6. Orang Islam
7. Semacam jaksa
8. Bangku penyiksa

Tarot

19 Juni 2009

Cerpen Sunlie Thomas Alexander
Dimuat di Koran Tempo 06/14/2009

Five of Cups

Kau tahu, setiap orang pasti menginginkan nasibnya selalu bagus.

Tetapi bukankah tidak setiap kartu yang kau buka bakal menunjukkan hal
yang baik? Karena itu, agak tersendat kau menjelaskan makna
kartu-kartu itu kepadanya, juga hubungan antara kartu yang satu dengan
yang lain. Kau berusaha menekan suaramu agar terdengar lebih lembut,
tentu dengan kalimat-kalimat yang sebijak mungkin. Tak mudah memang
mencari kata-kata yang tepat. Kau melihat wajahnya sedikit tegang
memperhatikan gambar-gambar pada deretan kartu yang terpampang di
hadapannya, kedua matanya agak melotot.

"Bukan apa-apa, ya bukan apa-apa," gumammu seakan menenangkan diri
sendiri. Tentu kau membenci kartu-kartu buruk itu, terlebih karena
dicomot oleh tangan seorang sahabat dekat. Ya, sahabat dekat. Tempatmu
selama ini mengeluarkan berbagai keluh kesah, memuntahkan segala
sampah. Pun sebaliknya.

Posisimu jadi tak mengenakkan, berkali-kali kau memperbaiki dudukmu di
sofa. Apalagi ketika kau melihat keringat mulai memercik di keningnya.
Ah, kau tak ingin menyakitinya. Kau tahu betul, Cipta mudah
tersinggung. Lebih mudah tersinggung lagi akhir-akhir ini karena
masalah keluarga yang menderanya. Dan kau pun mafhum jika hubungannya
dengan kekasihnya sedang menghambar. Pacarnya di Bengkulu tak jadi
datang dalam waktu dekat ini karena tak bisa meninggalkan pekerjaan.

Seharusnya kartunya bisa lebih baik, pikirmu cemas. Tapi kenapa harus
kartu bergambar lima buah cawan itu yang keluar setelah gambar pendeta
perempuan yang bermakna pengharapan? Padahal kartu High Priestess
telah mengisyaratkan pintu masa depan yang lebar terbentang.

Kau tak bisa menemukan makna lain selain sebuah kehilangan. Meskipun
makna kehilangan itu bisa begitu luas, bermacam-macam, tak selalu
persis dengan yang sering dibayangkan. Misalnya hilangnya hubungan
yang menghambar. Atau, kartu kematian bisa berarti berakhirnya
kesedihan. Bukankah kartu ini juga memiliki sisi baik yang
tersembunyi, sebab adanya kehilangan menunjukkan adanya perubahan atau
pergantian? Mungkin kehilangannya akan tergantikan oleh sesuatu yang
lebih baik, batinmu menghibur diri. Meskipun dari pengalamanmu, kau
tahu kemungkinan itu agak dicari-cari.

Kini keringatmulah yang meleleh deras di dahi dan lehermu. Soal asmara
sudah kau ungkapkan dengan susah payah. Sekarang kau menghadapi soal
pekerjaannya yang tak kalah pelik. Dua buah kartu yang sama bergambar
batang-batang pohon menjulang tinggi berwarna putih mengapit seseorang
yang terkapar dengan sepuluh bilah pedang menancap di punggung
bukanlah deretan kartu yang mudah untuk kau jelaskan padanya. Ah!

Kau memang baru belajar tarot beberapa bulan yang lalu. Tapi kata Mbak
In, kau lumayan berbakat. Sejumlah teman dekat dan tetangga jadi
kelinci percobaan, juga ibu mertua dan adik iparmu yang baru
menyelesaikan kuliah di Semarang. Dan hasilnya cukup mencenggangkan
untuk seorang pemula seperti kau. Semestinya kau senang, tapi apa
pantas bersuka cita untuk kejadian-kejadian yang tak mengenakkan? Adik
iparmu memang lulus wawancara kerja, tapi seorang tetangga yang kau
ramal seminggu sebelumnya tiba-tiba mengalami kecelakaan. Mbak S jatuh
dari motor, kakinya patah dan harus digips. Belum lagi suami Mbak Erna
yang kecopetan di pasar, dompetnya lenyap, juga surat-surat berharga.
Apakah semua itu memang berhubungan dengan ramalanmu? Kau merasa tak
nyaman. Kadangkala, seperti saat ini misalnya, kau merasa menyesal
sudah belajar membaca tarot pada Mbak In, setelah suatu hari rekan
kerjamu itu membawa kartu-kartunya ke studio dan meramal hampir semua
orang saat istirahat siang. Tentu, termasuk dirimu.

Queen of Wands

Ya, semua orang pasti menginginkan nasibnya selalu bagus.

Ah, apakah kau merasa nasibmu cukup bagus? Entahlah. Ramalan
kartu-kartu itu atas dirimu sendiri tidaklah terlampau mencemaskan.
Semua kartu menunjukkan rentetan hal-hal yang normal, cenderung
tenang. Paling tidak untuk saat ini, pikirmu sambil memandang
kartu-kartu yang berserakan di lantai kamar Lala. Di kaki tempat tidur
mungil.

Ah, barangkali memang sudah seharusnya kau cukup bersyukur atas
hidupmu saat ini. Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau
inginkan? Ya, walau harus mengorbankan banyak hal. Dan kau sudah
berusaha keras. Barangkali memang tak semuanya dapat kita raih secara
bersamaan, kau mencoba menjadi arif.

Kau bertemu dengan Bagas pada pesta ulang tahun teman kuliahmu. Aneh?
Tak ada yang aneh, meskipun sebelumnya kau selalu menganggap cinta
hanyalah sebuah permainan yang menyenangkan. Kau tak pernah
bersungguh-sungguh. Ada banyak lelaki yang berlalu lalang dalam
hidupmu. Tapi sampai saat itu, hanya Bagas yang mampu membuat
jantungmu berdebar lebih kencang.

Semuanya berjalan begitu wajar. Sehingga rasanya memang tak ada yang
perlu dikuatirkan. Sampai suatu hari kau mendengar kata "menikah" dari
mulutnya. Ia baru menamatkan kuliah. Kau sendiri telah setengah tahun
bekerja di sebuah kantor periklanan.

Mungkin bukan masalah pekerjaan yang menjadi soal. Mungkin bukan
lantaran latar belakang ekonomi dan status sosial keluarga. Tapi
masalah lain, yang terdengar bodoh tetapi begitu menyesatkan di negeri
ini. Agama (mungkin bukan iman) yang selama ini sekadar ritual
keseharian dalam keluarga besarmu, tiba-tiba mengombak di permukaan.
Memanas di meja makan, seolah-olah akan terjadi perang suci. Shit!

"Kau tidak akan menikah dengan dia!" Papa menuding tepat di depan
hidungmu. Terasa menyakitkan. Mama menyeretmu ke kamar, membujukmu
dengan sejumlah nasihat. Mengemukakan sejumlah masalah yang terdengar
masuk-akal.

Tak ada yang perlu didengar lagi. Kau tahu, intinya pasti sama. Kau
harus menjauhi Bagas. Tidak ada pernikahan dengan kekasihmu. Hanya
lewat ponsel kau bisa berhubungan dengan dunia luar. Dengan Bagas,
dengan teman-teman yang lain.

"Jangan sampai ponselmu diambil mereka," teman-temanmu memperingatkan.
Mereka terus mengirimi pulsa. Bagas nekad hendak bertandang, tapi
dicegah teman-temanmu. Rumah dijaga ketat oleh paman-pamanmu. Tak
mungkin kau melarikan diri melalui jendela kamar, seperti yang terjadi
pada cerita sinetron.

Dua hari kemudian, seorang penghulu datang. Bersama lelaki yang selalu
kau sebut kunyuk itu. Pengusaha muda yang tampak meyakinkan. Sudah
beberapa kali datang ke rumah dengan niat yang tak pernah berubah:
melamarmu!

Ah, kenangan itu masih menyakitkan. Dan kau tak ingin mengenang lebih
panjang: bagaimana kau memperdaya lelaki kunyuk itu hingga memperoleh
kesempatan kabur, bagaimana kau dipertemukan dengan Bagas oleh
teman-teman, bagaimana kalian kemudian dinikahkan dengan wali seorang
saudara jauh yang bersimpati.

Oh, sungguh kau tak ingin mengingat lebih banyak lagi! Karena jika
diingat benar-benar, kisahmu bakal serupa kisah sinetron. Pengalaman
hidup yang bagimu begitu memalukan.

Adakah kau bahagia? Tentu, katamu sendiri. Aku bisa menikah dengan
laki-laki yang kucintai, aku memiliki seorang anak yang begitu manis.
Kau menatap lekat-lekat wajah Lala yang tertidur pulas di tempat tidur
mungilnya. Begitu cantik, polos, dan lucu. Selepas akad nikah, Bagas
membawamu ke mari. Ke rumah orangtuanya. Namun setahun kemudian
setelah Lala lahir, ia kembali ke Jakarta. Diterima kerja di sebuah
perusahaan ekspor-impor. Awalnya kau begitu kesepian bersama Lala.
Hanya ditemani seorang ibu mertua yang begitu penuh perhatian. Tapi
Taman Budaya yang berada tak jauh dari rumah selalu menghiburmu.
Kadang sendirian, kadang membawa Lala, kau kerap menghadiri berbagai
pentas musik, teater dan tari, pameran seni rupa, dan sesekali
pembacaan puisi atau diskusi sastra.

Bagas memang kian jarang pulang. Mula-mula ia masih pulang sebulan
sekali. Kemudian menjadi dua bulan sekali, tiga bulan, empat bulan.
Sekarang sudah nyaris enam bulan semenjak kepulangannya yang terakhir.

"Maaf, Nis. Aku juga kangen padamu dan Lala. Tapi kau tahu, dengan
posisiku sekarang terlalu banyak yang harus aku tangani," kau menutup
telepon dengan kesal.

Ah, kadangkala kau merasa begitu merindukan rumah, adik-adikmu,
teman-teman, ibukota yang bising (juga sinting!). Empat kali kau
sempat pulang ke rumahmu, dua kali saat lebaran. Sekali Bagas berhasil
kau paksa ikut. Ia disambut juga dengan pahit. Setelah sekian lama,
belum juga ada penerimaan. Hampir kau tak percaya, kalau mereka yang
melahirkan dan membesarkanmu itu begitu congkak. Ternyata kita tak
pernah benar-benar utuh mengenal orang-orang terdekat kita, pikirmu
sedih. Demikianlah, kau kehilangan banyak hal.

Ya, barangkali kita memang tak dapat meraih semuanya secara bersamaan,
kau mencoba belajar arif. Si kunyuk, menurut adikmu, sesekali masih
suka bertandang. Menanyakan kabarmu.

"Aku tahu kau hanya berpura-pura bahagia dengan pernikahanmu.
Ketahuilah, aku masih menunggumu," begitulah bunyi surat menjijikkan
yang datang seminggu lalu itu. Dari mana ia dapat alamatmu, kau tak
peduli. Surat itu kau sobek-sobek dengan kemarahan yang sempurna.

Hmm. Kau kembali memperhatikan kartu tarot terakhir di tanganmu. Kartu
itu tampak nyalang: Kepribadian yang diwakili oleh Queen of Wands
adalah sosok ratu digabung dengan elemen api. Ia adalah orang yang
diinginkan semua orang. Cantik, menarik perhatian, hangat,
bersemangat, mudah bergaul, selalu siap dengan segala macam situasi
yang ada. Meskipun sosok ini tidak tampak angkuh namun mereka
menyimpan keyakinan yang dalam dengan kemampuan dirinya sendiri.

Kau terbahak!

Ten of Swords

Ia datang lagi. Dengan wajah yang demikian muram. Nyaris sempurna
sebagai seorang lelaki yang punggungnya tertikam sepuluh bilah pedang.
Sekilas ia benar-benar tampak sebagai seseorang yang menjadi korban
secara mental sebagaimana diisyaratkan kartu itu, ketika semuanya
tampak mengerikan, tak ada harapan dan tampak tidak adil.

Kau menyuguhkan padanya secangkir kopi. Kental dengan gula secukupnya,
entah sejak kapan kau begitu hafal pada takaran kesukaannya.

"Aku berhenti dari pekerjaan," ia menatapmu ragu-ragu. Kau agak
tercekat, "Kenapa?" tanyamu dengan air ludah terasa hambar. Ia
menunduk, menghirup kopinya. Kau tak tahu apa yang harus kau perbuat
sekarang.

Adakah ini bermula dari sebuah ramalan? Kau merasa tangan dan kakimu dingin.

"Rangka jembatan yang kurancang patah," gumamnya, seperti pada diri
sendiri. Kau tidak mengerti dunia bangunan. Meski kadang-kadang ia
suka bercerita tentang pekerjaannya. Tapi kau paham gawatnya situasi
itu dari kedua matanya yang sayu. Berhenti atau diberhentikan, itu tak
penting. Jantungmu serasa diremas.

Kau memang lebih mengenalnya sebagai seorang penyair gagal yang mampu
membaca puisi dengan bagus di pentas. Kalian bertemu pada sebuah
pameran sekelompok pelukis muda di galeri Taman Budaya kurang lebih
dua tahun silam. Dengan tampang dan penampilan yang tak menyakinkan,
ia tampak begitu pamer diri menjelaskan banyak hal padamu. Tapi kau
suka pada kehangatan yang terpantul dari kedua matanya. Entah kenapa.
Basa-basi, perkenalan, lalu suatu hari tiba-tiba ia muncul di rumah.

Tentu kau kaget ketika ibu mertuamu menyambutnya gembira. Tak terduga,
ia teman lama Bagas. Teman sejak kecil, katanya. Setelah itu ia sering
bertandang berulang. Ibu mertuamu tak pernah keberatan untuk
kedatangan seorang kawan lama anaknya, dan tahu kau butuh teman. Ia
juga selalu muncul setiapkali Bagas pulang. Dari ia pulalah kau kenal
dengan Mas Edi, pemilik studio desain tempat kau bekerja sekarang.
Tentu kau harus bekerja lagi, pikirmu waktu itu, kalau tidak kau pasti
mati dalam kebosanan. Lagipula kau bisa membawa Lala jika ibu mertuamu
sedang ada kesibukan. Ada sebuah kamar yang bisa dipakai beristirahat
di belakang studio.

Kini ia merunduk, mempermainkan sendok di cangkir kopinya. Lalu
menyulut sebatang rokok dan menawarkan padamu. Kau hanya menggeleng,
ingin memegang teguh janji mengurangi rokok. Nafasmu sering
tersengal-sengal mengejar Lala yang kian lincah. Sesaat kalian kembali
bertatapan. Ah, biji matanya begitu kelam seperti cairan kopi di
cangkir. Di luar jendela yang gordinnya tersibak separoh, demikian
gelap. Lampu teras belum sempat diganti. Tanganmu terasa kesemutan.

Kau mafhum, Ten of Swords adalah suatu akhir yang sulit dihindari.
Terbayang lagi olehmu, kartu bergambar seseorang yang terkapar dengan
sepuluh bilah pedang menancap di punggungnya di antara deretan
pohon-pohon putih menjulang itu.

Seandainya ia tak bersikeras minta diramal! Kau berpaling ke arah lain
menghindari matanya, beralih pada foto pernikahanmu yang tergantung di
dinding ruang tamu. Seekor cecak tampak merayap di atas kaca pigura.
Adakah semua ini cuma kebetulan? Seperti seseorang yang tiba-tiba
disambar laju mobil ketika sedang menyeberang jalan? Atau hari esok
memang sudah ditentukan? Sebagaimana sekian banyak kejadian lain yang
terbaca olehmu di atas kartu-kartu sialan itu. Masa depan, barangkali
memang lebih baik terlipat dalam laci terkunci.

Bertahun-tahun kau percaya, hidup akan menemukan jalannya sendiri.

"Ia mengajak menikah akhir tahun, atau kami akan berpisah untuk
selamanya," suaranya seolah menggantung di udara. Kau paham betul
siapa "ia" yang dimaksudnya. Sekali lagi jantungmu diremas.

Tentu, sekiranya kau dapat berbuat sesuatu untuk membantu seorang sahabat.

Dalam pembacaan, Queen of Wands meminta Anda untuk bertindak dan
menjadi seperti dia. Apakah Anda sudah merasa menarik perhatian orang?
Apakah Anda sudah yakin dengan kemampuan Anda sendiri? Apakah Anda
selalu bersemangat? Queen of Wands juga mewakili situasi yang penuh
dengan keceriaan, kepercayaan diri dan semangat yang tinggi.

Tanpa sadar kau meraih kartu-kartu itu dari bawah meja.

The Fool

Oh, sungguh kau tak pernah menyukai kartu bergambar seorang dungu yang
berpakaian seperti badut sirkus itu! Mungkin sama kadarnya dengan
kebencianmu pada kartu Five of Cups dan Ten of Swords. Begitu
menjengkelkan, setiapkali kartu jahanam itu terbuka:
berjingkrak-jingkrak dengan tampangnya yang tolol.

Ya, seperti juga halnya kau tak pernah suka pada badut. Selalu saja
mengingatkanmu pada suatu kejadian belasan tahun silam.

Pada ulang tahunmu ke sepuluh, Tante Lin menghadiahkan seorang badut.
Meskipun saudara dan teman-temanmu tampak begitu gembira, bagimu badut
itu sama sekali tak lucu. Kau tidak mengerti, kenapa banyolan-banyolan
konyol yang disuguhkannya bisa membuat teman-temanmu
terpingkal-pingkal. Ia membuat sulap-sulap yang membosankan dan
menghabiskan terlalu banyak kuemu.

Dan puncak kebencian itu adalah tatkala ia membagi-bagikan balon
kepada semua anak yang hadir. Kau belum sempat menyentuh balon yang
diulurkan padamu, ketika tiba-tiba saja balon merah itu meledak tepat
di depan wajahmu. Tangismu juga meledak, dan serta merta kau
menghambur lari ke kamar. Langsung mengunci pintu dan membenamkan
kepalamu di bantal, tak peduli orang-orang terus mengedor pintu.

Ah, kenapa juga harus ada gambar badut jahanam itu dalam deretan kartu
tarot? Tanpa sadar, kau mengeluh tertahan. Tentu, kau cukup hafal pada
deskripsi kartu brengsek itu: Permulaan, spontanitas, kepercayaan,
memasuki tahap baru; jalan baru, melebarkan sayap, memulai
petualangan, memulai ketidakpastian, mengejutkan seseorang, perlu
diperhatikan, menjalani hidup apa adanya, berpikir terbuka, menikmati
hidup, bertindak konyol, mempercayai diri sendiri. Oh, apakah nasib
buruk mulai menyapamu? Atau sebaliknya?

Ya, ia terbuka lagi malam ini. Dalam kemuakan yang sempurna di
tanganmu sebagai kartu penghabisan. Mengangkat wajah, kau lihat Cipta
masih sibuk dengan batang rokoknya yang entah keberapa belas. Kau
tahu, ia takkan berkenan diramal lagi setelah kartu-kartu menyakitkan
tiga hari yang lalu itu. Kau ingin memulai sebuah percakapan, tapi
rasanya begitu sulit.

Di ruang tamu ini kesepian merayap seperti cecak, dan memuncak bersama
bunyi decaknya. Malam semakin larut. Kau merasa begitu capek, ingin
beristirahat. Besok memang hari Sabtu, tapi sekitar jam sepuluh pagi
kau harus menjemput mertuamu di pelabuhan udara. Cipta kini menatap
keluar jendela dari kain gordin yang tersibak.

The Fool adalah gambaran dari sosok diri kita tatkala kita memulai
perjalanan hidup, terlahir sebagai manusia di dunia ini, seseorang
yang masih murni, dan bertindak spontan tanpa banyak berpikir.

Kau terbangun oleh suara tangis Lala. Sekujur tubuhmu terasa linu.
Buru-buru kau menyingkapkan selimut. Dan cukup kaget ketika menyadari
kau tidaklah sendirian: tangan lelaki itu masih melingkar di
pinggangmu yang ramping.

Untuk beberapa saat lamanya, jantungmu berdegup kencang. Seperti
seorang yang habis berlari jauh. Perlu waktu sekitar tiga menit
sebelum kau bisa menguasai diri kembali. Pelan-pelan kau berusaha
menyingkirkan tangan itu, tak ingin mengusik tidurnya yang pulas.
Ketika beranjak dari tempat tidur dengan perasaan berkecamuk, sekilas
masih sempat kau tangkap pantulan tubuhmu yang putih di cermin lemari
pakaian. Begitu sempurna dalam ketelanjangannya.

Tangis Lala di kamar sebelah semakin keras, menjerit-jerit
memanggilmu. Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul tujuh lewat.
Mendesah kecil, kau bergegas membuka pintu kamar. Setengah berlari
untuk mendapatkan anakmu.

Tiba-tiba saja kau merasa harus membakar kartu-kartu tarot itu! ***

Gaten, Yogyakarta, 2008-2009

Beautiful Dreamer

Stephen Foster

Beautiful dreamer, wake unto me,
Starlight and dewdrops are waiting for thee;
Sounds of the rude world heard in the day,
Lull'd by the moonlight have all pass'd away!

Beautiful dreamer, queen of my song,
List while I woo thee with soft melody;
Gone are the cares of life's busy throng.

Beautiful dreamer, awake unto me!
Beautiful dreamer, awake unto me!

Beautiful dreamer, out on the sea,
Mermaids are chaunting the wild lorelie;
Over the streamlet vapors are borne,
Waiting to fade at the bright coming morn.

Beautiful dreamer, beam on my heart,
E'en as the morn on the streamlet and sea;
Then will all clouds of sorrow depart,

Beautiful dreamer, awake unto me!

Badar Besi

18 Juni 2009

Cerpen Damhuri Muhammad Silakan Simak!
Dimuat di Jawa Pos Silakan Kunjungi Situsnya! 06/14/2009

(1)

Centeng los daging yang ditakuti para pemalak di pasar ini di masa lalu hanya seorang tukang cukur. Meski begitu, menjadi tukang cukur, baginya, adalah sebuah kuasa yang belum tentu dimiliki oleh pembunuh bertangan dingin sekalipun. Betapa tidak? Tanpa gamang dan was-was, leluasa tangannya menekan, menekuk, dan bila perlu memelintir tempurung kepala siapa saja yang sedang dicukurnya. Di tangannya, semua kepala sama harganya, atau barangkali tak berharga. Tak peduli orang terpandang, tetua adat yang pantang disentuh bahkan ujung rambutnya sekalipun, atau jawara kampung yang kerap menagih jatah begitu gilirannya duduk di kursi cukur, bila bertingkah macam-macam, tukang cukur itu tentu sangat berpeluang menggunting daun kupingnya.

Di suatu senja yang sepi pelanggan, ia kedatangan bocah sembilan tahun yang memohon-mohon, merengek-rengek, agar rambutnya lekas dipangkas. Rona mukanya ketakutan, matanya merah-sembab. Ia mengaku rusuk dan pinggangnya memar setelah dicambuki bapaknya dengan ikat pinggang ukuran sedang. Bapaknya naik darah, sebab sudah kerap ia disuruh pangkas rambut, tapi suruhan itu bagai masuk di telinga kanan, tapi keluar lagi di telinga kiri.

''Upah pangkas dari bapak sudah habis untuk beli gundu. Begitu ada uang jajan lagi, akan saya bayar.''

Tukang cukur tak berpikir panjang. Dililitkannya kain belacu buram di leher anak itu hingga tertutup sekujur tubuhnya, agar bekas-bekas potongan rambut tidak lengket di bajunya. Gunting di kanan, sisir di kiri. Tak berselang lama, ia merasa ada yang janggal. Rambut anak itu tak seperti rambut pelanggan biasanya --yang begitu dimakan gunting langsung jatuh berserak di atas kain belacu. Ia mengira mungkin guntingnya sudah majal lantaran lama tak diasah, karena itu digantinya dengan yang lebih tajam. Tapi rambut itu tetap tak mempan digunting. Begitu keras, begitu kesat, bagai menggunting kawat.

''Ini rambut atau kawat baja? Semua gunting dan pisauku pepat dibuatnya,'' gerutu tukang cukur yang mulai berkeringat.

Anak itu diam, sementara ia mulai menduga-duga. Jangan-jangan bukan rambutnya saja yang tak mempan dimakan mata gunting. Mungkin kulitnya juga tak bisa dilukai. Diam-diam digoreskannya pisau cukur paling tajam di kuduk anak itu. Diulangnya sekali lagi. Ditikamnya lebih dalam, lebih mencukam. Lagi-lagi pisau itu bagai tumpul. Jangankan luka, tergores pun tidak. Rupanya ia benar-benar sedang berhadapan dengan bocah kebal.

''Apa yang kau simpan dalam saku celanamu?'' tanya tukang cukur.

''Cuma batu. Saya menukarnya dengan batu milik bapak. Cukup licin dan bulat untuk main gundu-gunduan,'' jawabnya sambil menunjukkan batu seukuran gundu yang baru saja dirogohnya dari saku. ''Bila suka, ambil saja. Lumayan buat batu cincin, daripada dibuang.''

''Ayolah, kau harus segera dicukur.''

''Bagaimana dengan upahnya?''

''Tak usah pikirkan soal itu!''

Sejak itu, tak tampak lagi batang hidung si tukang cukur. Orang-orang bilang, ia hengkang sebab upah cukur tidak lagi memadai. Diterimanya tawaran seorang sejawat untuk membuka usaha pangkas rambut di rantau orang. Diboyongnya anak-bini ke tanah seberang, hingga orang-orang kampungnya harus merelakan kepala mereka di tangan tukang pangkas keliling yang kadang datang, kadang tidak, lantaran ia menyambi sebagai kusir bendi. Ada pula yang bercukur di kampung sebelah, meski mutu cukuran itu tidak ada apa-apanya dibanding kerapian cukuran tukang pangkas cekatan yang sudah terbang-hambur itu.

(2)

Tanbasa nyaris dihabisi oleh tiga sejawatnya karena ia sembarangan menyimpan barang berharga hasil penggalian mereka selama berbulan-bulan. Satu di antara tiga sejawat itu, Sitorus, mantan anggota polisi yang meminta pensiun dini setelah menemukan selembar peta usang dalam sebuah penggeledahan di rumah yang ditengarai sebagai markas pengedar ganja. Bukan sembarang peta, tapi peta yang menandai tempat-tempat rahasia penyimpanan barang-barang berharga peninggalan orang-orang di masa dahulu. Peta harta karun, barangkali. Menurut perkiraan Sitorus, bila satu titik saja berhasil digali, nilainya setara dengan kekayaan tujuh turunan. Dari sekian banyak tempat yang tertandai, terpilih satu titik di lereng sebelah selatan Bukit Tui yang menurut mereka paling aman. Tanbasa, petani kentang yang begitu tekun, terbujuk iming-iming Sitorus. Kentang yang mulai matang tidak lagi diurusnya. Istrinya kerap marah-marah karena Tanbasa sibuk bolak-balik ke lereng Bukit Tui. Selalu pulang larut malam, karena harus memperlihatkan setiap hasil penggalian pada Nisar, dukun pilih tanding yang dipercaya Sitorus mengawal penggalian itu. Selepas dua minggu penggalian, Nisar menyampaikan kabar baik. Menurut penglihatan mata batinnya, di lubang yang telah mereka gali itu tersimpan sebuah peti besi berisi bongkahan-bongkahan emas, batu-batu permata, dan barang-barang pecah-belah berusia ratusan tahun. Namun, makhluk penunggu lubang itu baru bisa memberikan sebuah batu seukuran gundu. Barang siapa memegang dan menyimpan batu itu, niscaya semua anggota tubuhnya kebal dari semua senjata yang berasal dari unsur besi. Orang-orang dulu menyebutnya Badar Besi. Maka, pada malam yang telah ditentukan, Nisar turun ke lokasi penggalian. Dikerahkannya segenap kesaktian guna membangkitkan Badar Besi dari lubang itu. Tanah di sekeliling lubang retak-rengkah, nyaris terbelah dua, lalu serpihan-serpihannya membesut ke permukaan. Nisar menyediakan kain seukuran sapu tangan yang katanya dirajut dari benang tujuh rupa, guna menampungnya saat jatuh kembali ke permukaan. Badar Besi ada dalam salah satu serpihan itu.

''Bagaimana cara kami membaginya, sementara hanya ada satu batu?''

''Barang itu hanya bisa menjadi milik bersama.''

''Bagaimana kalau dijual? Hasilnya dibagi rata.''

''Begitu lebih baik. Tapi, tak boleh ada keculasan. Bisa celaka.''

Mereka memercayai Tanbasa sebagai orang yang paling layak menyimpan Badar Besi sebelum tiba saatnya dijemput oleh seseorang, tentu setelah mereka sepakat perihal imbalan yang setimpal dengan kehebatan Badar Besi. Calon pembeli yang duitnya konon tak berseri itu bahkan berkenan menanggung berapa pun biaya yang diperlukan untuk penggalian selanjutnya, tentu setelah terbukti bahwa Badar Besi yang berada di tangan Tanbasa benar-benar asli. Celakanya, Badar Besi itu ternyata omong kosong belaka. Orang suruhan pembeli membelitkan Badar Besi yang masih terbungkus sapu tangan dari rajutan benang tujuh rupa itu di leher seekor kucing. Ia menyembelihnya, dan kucing itu menggelepar-gelepar sebelum tumbang berlumur darah, sebagaimana penyembelihan biasa. Badar Besi yang semula bakal mengubah peruntungan Sitorus, Tanbasa, Tuninjun, dan Jukamba telah ditukar seseorang dengan batu lain. Meski warna, kebulatan dan kelicinannya hampir sama, tapi itu palsu, tak lebih bernilai dari batu akik yang biasa dijajakan di kaki lima.

''Bila Badar Besi tidak kembali, kusembelih kau seperti kucing kurap itu!'' gertak Sitorus yang mulai naik pitam.

''Gara-gara penggalian itu, anakku sering kerasukan setan. Dan, kau lalai menjaga barang itu. Setan!'' tambah Tuninjun.

''Kau sia-siakan kepercayaan kami. Keparat busuk!''

(3)

Bertahun-tahun mereka menunggu. Badar Besi tiada kunjung kembali. Sia-sia belaka kerja keras mereka. Sialnya lagi, mereka tak henti-henti dirundung petaka. Para penggali itu tak setangguh dulu. Kini, Sitorus lumpuh. Separo badannya mati-rasa, terkulai tak berdaya di atas kursi roda. Orang-orang bilang ia terserang stroke, sementara Sitorus yakin bahwa penyakit itu akibat dari penggalian harta karun yang ia pimpin puluhan tahun silam. Anak laki-laki Tuninjun tak kunjung sembuh. Saat kerasukan, ia mengunyah-ngunyah pisau silet seperti mengunyah keripik talas. Belum ada dukun yang sanggup mengobatinya, termasuk Nisar, yang semakin menurun saja kesaktiannya. Begitu pun Jukamba, ia sering mengeluh lantaran hidupnya tak pernah tenteram sejak malam penemuan Badar Besi itu. Kerap ia dihantui mimpi buruk. Dalam mimpi itu ia didatangi sosok berwajah iblis yang selalu mengingatkan bahwa tidak lama lagi ia akan mati, dan celakanya, kematian itu bakal berdarah-darah.

Hanya Tanbasa yang masih segar-bugar. Meski tubuhnya mulai ringkih, lelaki tua itu sehat walafiat, tak kurang satu apa pun. Tidak pula mengalami keganjilan-keganjilan sebagaimana sejawat-sejawatnya. Bila Sitorus, Tuninjun, dan Jukamba sudah membuang semua angan-angan muluk tentang Badar Besi, Tanbasa justru kian bergairah untuk kembali menemukan barang keramat itu.

''Dulu, bapak pernah menyambukimu dengan ikat pinggang hingga rusukmu memar. Masih ingat?'' tanya Tanbasa pada Juangkat, anak laki-lakinya yang mulai beranjak dewasa.

''Tentu. Hingga kini aku tidak pernah telat pangkas rambut.''

''Waktu itu bapak ingin menguji kekuatan Badar Besi di dalam saku celanamu. Kau menukarnya dengan batu gundu bukan? Tapi bapak biarkan saja.''

''Bapak juga tahu kalau batu itu kuberikan pada tukang cukur sebagai ganti upah cukur?'' tanya Juangkat.

''Untuk sementara Badar Besi lebih aman di tangan cukur itu.''

''Bapak lakukan itu agar kelak kau memilikinya. Kini saatnya kau merebutnya kembali.''

(4)

Lama sekali aku mengabdi sebagai kaki-tangan centeng los daging di pasar ini. Tapi ia tak pernah tahu asal-usulku. Lagi pula, itu tidak penting baginya, ia hanya perlu anak semang yang siap mati demi ketersohorannya. Tapi aku sangat mengenalnya, seperti aku mengenal puncak hidungku sendiri. Kutandai segala tindak-tanduknya, kuhapal segala pantangannya, kumata-matai di tubuh bagian mana ia menyembunyikan Badar Besi yang konon menjadi sumber kesaktiannya. Ia makin menua, tak sebengis dulu. Ia memang tak mempan ditikam, tapi mustahil ia kebal dari ajal. Akan tiba saatnya aku merenggut Badar Besi dari tangannya. Aku bukan Marpaung --kacung yang dipercayainya rela hilang nyawa demi nama besarnya. Tidak! Nama asliku Juangkat. Saat umurku sembilan tahun, aku pernah membuat ia berkeringat dingin lantaran rambutku tak mempan dimakan mata gunting dan mata pisau cukurnya.***

Jakarta, 2009

Dunya (Atau Cerita Berjudul: Hello Stranger!)


Cerpen Ucu Agustin Silakan Simak!
Dimuat di Jurnal Nasional Silakan Kunjungi Situsnya! 06/14/2009

Sekarang aku mengerti mengapa bila mengingatmu, rasanya sedih.

Semua orang memang akan sedikit merasa sedih saat mengingat masa lalu. Mengenang masa lalu seakan memandang dari sebuah jendela kamar yang tertutup debu; Kita bisa menatap sesuatu, tapi tidak dengan jelas kita memandangnya; Kita bisa menatap sesuatu, tapi tidak dengan jelas kita melihatnya …

Eter, kini aku mengerti kenapa aku mengingatmu dengan cara itu: bayanganmu kabur dan sosokmu blur di memoriku. Ia begitu tak fokus dan bila pun aku berhasil mengingatnya, ia terlalu samar untuk bisa kurengkuh dan kuajak kembali pulang ke sosok utuhnya. Aku hanya mampu mengingat bagian-bagian tertentu saja; kadang wajahmu yang bagian sisi kanan; kadang senyummu yang kacau berantakan; kadang rambutmu yang sedikit memutih di bagian belakang; kadang matamu yang seperti savana luas dengan semak warna emas yang mengayun tertiup angin, di belakangnya.

Lantas saat aku kesepian dan menangis karena tak berhasil mengingatmu lagi, diam-diam aku cuma mampu membisikan kata ini dengan lirih, “Dunya, bila kita kesepian, itu bukan salah siapa-siapa..”

Dan ya, tentu saja aku tahu, bila aku kesepian, itu pasti bukan salah siapa-siapa.

***

Ini siapakah?

Hai…

Iya?

Kau hapus nomorku lagi, rupanya?

Aku ingat suara itu kini.

Kenapa menelpon?

Pulsaku masih subur, memangnya kenapa sih kalau aku telpon?

Ada tawa dengan nada agak menggoda seperti biasa, yang tertebar di seberang. Nada tebar pesona yang dulu terasa bagai tawa anak nakal yang membuatku amat girang.

Aku selalu suka pada gayanya yang konyol dan ugal-ugalan. Aku selalu tergila-gila pada caranya yang matang namun urakan. Bikin penasaran, bikin aku rela menendang matahari dan mencari dia di antara gemerlap cahaya yang terlampau panas dan menyilaukan. Tentu saja, itu terjadi bila aku lagi dalam kegelapan. Bila aku, lama dia tinggalkan.

Tapi saat ini dia pergi terlalu lama. Sangat lama. Tak ada pesan pendek yang terbalas, tak ada update berita dalam blog yang menjadi kotak tulis dunia maya-nya, tak ada kabar apa-apa, tak ada informasi di facebooknya, tak ada namanya ter-display dalam screen telepon genggamku, telah lama suaranya tak mampir di lubang telingaku. Dia pergi terlalu lama, dan dengarlah alasannya…

Dunya, aku pergi ke utara Norwegia. Aku pergi ke Kosta Rika. Aku pergi memburu para Balaenoptera physalus—si paus sirip, mengangkat daging ikan raksasa itu dan menyayat lemaknya, membagikan bongkahan dagingnya ke para penduduk di pesisir dekat bandar.

Di perairan saat perompak mengambil kapal kami dan membuat aku dan beberapa kelasi terapung di atas sekoci, sekelompok pemburu paus yang lain, kembali merekrut kami. Dan kau jangan heran bila kuberitahu hal ajaib yang kutahu dari para pemburu paus biru.

Saat dilahirkan, rata-rata seekor bayi paus hanya memiliki panjang 7,5 meter saja Dunya, namun hanya dengan minum susu induknya yang mengandung 40 persen lemak, si bayi paus akan memiliki tambahan berat 4 kilogram setiap jam-nya.

Bayangkan! 4 kilogram setiap jam, Dunya! Kau pasti akan berteriak panik bila itu terjadi padamu (masih kuruskah badanmu?). Dan asal kau tahu, setelah dewasa, seekor paus yang beratnya 200 ton bisa menyamai panjang dua bus kota yang berbaris dijajarkan berdekatan[i]. Bus kota yang waktu kita kecil, rasanya begitu besar. Bus kota yang waktu kita remaja, selalu membawa kita pergi sama-sama di pagi hari. Mengangkut kita untuk menemui kembali bangku sekolahan yang sama-sama kita benci tapi juga kita rindukan.

Tentu saja dia bohong. Sudah pasti Kami tak pernah satu sekolah. Kami tak berteman sejak dari kecil. Kami tak pernah saling kenal sebelum waktu itu. Dan tentu saja dengan begitu dia bohong total dengan kalimat: Bus kota yang waktu kita remaja, selalu membawa kita pergi sama-sama di pagi hari. Mengangkut kita untuk menemui kembali bangku sekolahan yang sama-sama kita benci tapi juga kita rindukan. Bagaimana mungkin kami mengalami masa remaja yang sama? Usia kami terpaut cukup jauh. Aku tiga puluh dan dia empat puluh saja.

“Tapi lihat sendiri kan? Aku cukup muda buatmu,” ucapnya sambil memamerkan senyum cengengesan di antara butir salju tipis yang terhembus angin, di depan Haus der Kulturen der Welt, Berlin. Winter sialan! Aku mengenakan syal tebal yang kubeli dari pertokoan sekitar daerah Mitte saat itu, dan lelaki yang baru kukenal tersebut, Eter, dengan enaknya cuma mengenakan jaket musim dingin tanpa selembar syal atau sarung pun dia kenakan. Lighter yang dia nyalakan saat aku kebingungan bertanya ‘punya korek?’ ke seorang teman perempuan, itulah yang menjadi awal perkenalan.

Di Haus der Kulturen der Welt Berlin yang tercekam rasa dingin, disanalah kami pertama bertemu. Pertemuan sekilas yang kupikir tak berbekas dan hanya akan cukup sampai di sana saja. Aku turis sedang numpang liburan, dia sedang dalam kunjungan kerja sekaligus menemani seorang teman. Pada selasa melankolis di Haus der Kulturen der Welt atau rumah kebudayaan orang Jerman tersebut, sebuah pameran digelar. Indonesia menjadi salah satu negara peserta. Cukup klise dan tak ada yang menakjubkan dari pertemuan yang demikian.

Namun kamu benar Eter, pertemuan kita adalah cuma masalah waktu saja. Dari awal, dengan menggoda kamu sudah bilang, “Aku kok merasa sepertinya kita ini kertas dan pencil, ya?” Aku yang waktu itu cukup senang karena bertemu orang Indonesia di negeri orang, tentu saja bilang, “Ah masa? Oh ya?” lalu tertawa. Sudah.

Dan tentang peristiwa pertemuan kedua…

Dunya, jangan pernah jatuh cinta. Jangan pernah jatuh cinta dengan tak total, maksudku. Karena itu tak baik. Tapi sungguh, jangan jatuh cinta padaku. Begitu ucapmu, waktu itu.

Bukan apa-apa, ini sungguh cuma saran saja. Aku tahu bagi perempuan muda, lelaki sepertiku ini memesona, dan tentu itu tak ada kaitannya dengan status pernikahanku atau anak-anak dari hasil pernikahan kami. Bocah-bocah yang amat kucintai. Bila kau baik-baik mau mendengarkan nasehatku ini, Dunya, antara larangan jatuh cinta dengan anak-anak yang tidak lahir dari perkawinan rumputan, itu tak ada hubungan. Sama sekali tak ada, Dunya. Ini hanya tentang aku yang terbang-terbang. Tentang aku yang tak mungkin tinggal dan menetap di satu tempat saja.

Tidak melalui pesan pendek, tidak melalui tatap muka, kau kirimkan kata-kata itu melalui surat elektronik yang kupikir pasti jarang kau gunakan. Di suratmu selanjutnya, kau bilang…

Maafkan aku, bila tak bisa membalas cintamu.

Dan kau tahu apa yang aku lakukan setelah membaca emailmu itu? Aku tertawa keras dan terbahak, Eter. Sok tahu sekali, dirimu! Bagaimana kau bisa tahu aku jatuh cinta? Padahal aku pun tak bisa tahu bagaimana persisnya perasaanku padamu.

Kita pernah berciuman, itu harus kubilang iya. Kau amat menyenangkan, ternyata. Itu baru kusadari saat tatap muka ke-empat di pertemuan kita yang kedua. Ya, ya, maksudku, pertemuan di Jakarta, setelah pertemuan pertama di Berlin yang tak kupikir akan membawa kita kembali bersama di negeri kita.

Berapa kali? Tujuh ya kalau tak salah kita sempat bersama meluangkan waktu di pertemuan kita yang di Jakarta?

Seperti anak kecil, kita dengan gegabah jalan-jalan ke Ragunan sambil nyemil sabut lembut manisan gula yang sesekali kita angsurkan juga ke mulut jerapah. Kita sempat putar-putar Kinokuniya di Plaza Senayan dan kau membelikanku buku Why Men Marry Bitches?[ii] Dan selanjutnya hanyalah keberduaan. Waktu-waktu dimana aku cuma memandangmu dan kau sibuk dengan laptop kecil serta gelembung-gelembung Heineken dalam gelas bir.

Tujuh kali saja. Ya, tujuh kali pertemuan yang tanpa permainan cinta itu amat membekas di dadaku, Eter. Lantas kau raib. Kau menghilang lagi. Membuatku merasakan perasaan asing yang ganjil. Membuatku berkarat oleh ingatan yang datang tidak dari pikiran. Aku kehilangan.

Lalu setelah berbulan-bulan hilang, kau tiba-tiba datang. Katamu kau habis pergi dari negeri Liliput. Bertemu Guiliver dan membawakanku keju-keju berwarna merah dan hijau yang empuk. Aku sih sangat kaget tapi juga cepat menjadi senang. Cerita-ceritamu, yang tak kutahu persis apakah itu fiksi atau betulan, amat membuatku penasaran. Kau semakin memukau.

Lalu angin kembali membawamu. Datang dan pergi kau selalu. Hilang dan kemunculan adalah gelombang yang kau hembuskan. Suatu saat kau tiba-tiba berdiri di depan pintu rumahku, suatu saat kau tiba-tiba lenyap sebelum aku sempat menutup tirai jendela kamar tempat kau menemuiku, dan suatu malam dengan wajah yang agak misterius, begitu saja kau datang kembali setelah lama pergi. Katamu kau baru pulang. Temuanmu kali ini agak mendebarkan.

Kau bercerita tentang Nigthlore[iii]. “Ia bukan mahluk”, ucapmu, “Tapi sebuah fanzine yang dibuat dan di-dedikasikan untuk penjelajahan dan penelitian semua aspek yang berhubungan dengan legenda vampir.”

Apanya yang mengerikan? Aku tertawa.

Eter, fanzine itu cuma majalah saja bukan?

Serta merta kau mengangguk, dan dengan semangat yang meluap kau bicara begitu fasih tentang Nosferatu, yang katamu diambil dari bahasa Slavonic kuno, nosufuratu, dipinjam dari kata Yunani nosophoros yang artinya adalah pembawa wabah.

Nosferatu, begitu terangmu, adalah sebuah kata yang berabad digunakan di Rumania. Namun dalam penyelidikan yang kemudian dilakukan para ahli bahasa, ternyata kalimat itu—Nosferatu, tak pernah tertulis dalam satu pun kamus bahasa Rumania.

“Bram Stroker lah yang menggunakan kata Nosferatu ini secara keliru. Ia kembangkan dalam novelnya sebagai kata yang berarti ‘tak bisa mati atau manusia abadi’. Di tempat lain, kata itu juga digunakan sebagai acuan untuk apapun yang ditujukan pada setan”, ucapmu agak sebal. Aku dengan antusias mendengarkan.

***

Eter, berapa lama kita tak bertemu?

Tahukah kau, aku rindu?

Dan rindu adalah seperti sihir yang bisa membawakanmu apa saja asal kau tahu mantra-nya.

Begitulah Eter, rindu membawakanku banyak imajinasi. Ular, rusa, bunga-bunga dan udara yang semuanya berubah wujud menjadi dirimu. Rindu ini mengantarku menemui kembali tempat-tempat yang dulu pernah kita lalui, membuatku lihai membuat puisi, namun yang paling parah yang pernah dilakukannya, rindu memperkenalkanku pada sesosok mahluk pendiam yang bernama kesepian. Dari luar ia tampak anggun dan memukau, namun begitu kau mengenalnya, ia begitu kerap meradang dan sesekali melakukan hal anarki, membuatmu berpikir kalau ia adalah mahluk yang ‘sakit’ dan harusnya meninggal sajalah. Namun karena ia begitu murni dan memukau, bila kau bertemu dengannya, kau pasti dengan mudah akan cepat paham mengapa begitu banyak orang yang seakan rela mati dengan dan karena dia: si kesepian yang merana.

Dan itulah yang terjadi padaku saat aku turut membuat pesan ini. Aku sedang kesepian, sementara ingatanku tak bisa dibelokkan. Selalu tertuju padamu. Dan di pertemuan kita yang terakhir, saat kau bicara tentang vampir, aku ingat kalau kau berkali bilang, setelah ini aku akan pergi ke bulan. Ya, Dunya, setelah ini aku akan melanglang Angkasa. Dan adakah yang tak mungkin denganmu? Aku pikir: tidak.

Eter, SETI kembali melakukan misi itu. Mengajak penduduk bumi untuk merangkai pesan yang akan dikirim ke bintang[iv]. Ku tahu, kau paham benar tentang fakta itu: hampir 50 tahun lembaga yang kita kenal sebagai pencari kebudayaan mahluk luar angkasa tersebut telah menelusuri angkasa dengan teleskop radio untuk mencari tanda keberadaan mahluk cerdas di angkasa luar sana. Secara bersamaan, para ilmuwan di tempat kerja mereka yang rahasia, juga berusaha keras memecahkan pesan yang kemungkinan dikirim oleh para alien tersebut dari planet-planet antar bintang.

Dan tentangmu…

Ah Eter, bila memang benar kini kau berkelana di antara mereka, para mahluk asing yang mengintip-intip manusia di antara kluster-kluster bintang, aku cuma mau kau mendengar pesanku. Pesan dengan getaran suara yang semoga masih kau kenali juga.

HELLO STRANGER!

Itu saja. ya, cuma itu yang mau kusampaikan padamu sebagai isi pesanku.

Karena meski kita pernah beberapa kali bertemu dan kau berhasil menjejakkan kesepian yang berkarat di dadaku, tapi tetap saja, kau mahluk asing bagiku.

Eter, aku tidak mengenalmu.***

Utan Kayu, 27 Mei 2009

[i] Keterangan dan data tentang Paus Biru dalam dua paragraph ini, didapat dari National Geographic Indonesia, edisi Maret 2009 ‘Alam Pikiran Satwa’. Dalam artikel tentang PAUS BIRU yang ditulis oleh Kenneth Brower.

[ii] Sebuah buku yang menjadi New York Times Best Seller, ditulis oleh Sherry Argov. Berkisah tentang tips-tips menjadi ‘bitch’ sejati, yaitu para perempuan yang memenangkan hati lelaki bukan dengan menjadi ‘si manis – keset kaki’ tapi dengan cara menjadi dirinya sendiri.

[iii] Nightlore adalah majalah tiga bulanan yang dibuat oleh para fan atau penggemar segala sesuatu yang berhubungan dengan Vampir. Di dalamnya menampilkan cerita pendek, puisi dan karya seni lainnya seperti lukisan dll. Diterbitkan pertamakali pada awal 1994. Disiapkan oleh editor Trevor Elmore dan art director, Mary Delmore (informasi ini diambil dari buku: Segala Sesuatu Tentang Vampir, yang ditulis oleh Rijanto Tosin. Diterbitkan oleh Penerbit Abdi Tandur)

[iv] Project teranyar yang dilakukan SETI (Search for Extra Terestrial) institut untuk mengumpulkan pesan dari seluruh dunia, dimulai pada 15 Mei 2009. Sebelumnya, setidaknya telah tiga kali pengiriman pesan ke mahluk angkasa luar ini, dilakukan, yaitu pada awal 1970 dimana NASA membawa plakat matematika dasar dan gambar laki-laki dan perempuan ke ruang angkasa. Pesan pada plakat ini banyak dikritik karena menggambarkan manusia secara salah, yang bisa juga disalah-artikan oleh alien. Pesan selanjutnya lolos dari kritikan, yaitu pesan yang dikirim dari Arecibo Observatory di Puerto Rico. Tapi pesan itu tidak memasukkan perang, kemiskinan dan penyakit. Yang terakhir adalah pada saat NASA melucurkan misi Voyager pada 1977. Pesawat ruang angkasa itu membawa rekaman audio yang berisi aneka perbedaan kehidupan dan budaya yang ada di bumi. Proyek ‘perekaman pesan’ terkini yang dilakukan Institut SETI sendiri lebih bermaksud untuk menghindari kontroversi dan memperkuat diskusi global tentang perlunya mengirim lebih banyak pesan lagi ke bintang.***

Refleksi Sejarahmu

17 Juni 2009

Heri Latief

Puluhan tahun yang lalu
Di radio pemimpin besar berpidato
Tolak bantuan asing yang menjajah!

Begitu kenyataan jaman dulu
Sipatnya tegas dan tekadnya keras
Anti nekolim dan makelarnya

Di masa itu rakyat memuja kemandirian
Gotongroyong membangun kekuatan
Mana lagi sekarang sisa kesadaran?

Keberhasilan minjam hutang dibanggakan
Upah buruh dan jaminan sosial diminimalkan
Yang kaya makin genit memamerkan harta
Yang miskin boleh sirik tapi jangan ngamuk?

Oya?!

Puluhan tahun tertindas sepatu lars
Sepanjang jalan kenangan berdarah
Siapa mampu nolak refleksi sejarah?

Amsterdam, 06/05/2009

----------------------------------------

Sajak Kowloon Park

baca sajak di kowloon park
syair buruh migran teriak
ayo bela persamaan hak

merantau jauh derita kaum buruh
primadona devisa indonesia
di kampungnya diperas calo ganas

negara bisanya nikmati uang pajak
buruh migran tetap termajinalkan
dicari pemimpin rakyat yang peduli

berani bela bangsanya dan mandiri
demi keadilan buat buruh migran
solidaritas atas nama kemanusiaan

Amsterdam, 23 Mei 2009

Love Me

Sara Teasdale

Brown-thrush singing all day long
In the leaves above me,
Take my love this April song,
"Love me, love me, love me!"

When he harkens what you say,
Bid him, lest he miss me,
Leave his work or leave his play,
And kiss me, kiss me, kiss me!

Dalam Gerimis Zikir

Eddy Pranata PNP

Dalam sunyi dalam diam malam
Tubuh rentaku melayang
Mencari kemilau cahaya yang jauh
Cahaya yang bersemayam di puncang jurang
Tempat segala kebaikan segala keagungan
Menyepuh diri; menjelma sungai yang bening
Tempat aku membasuh luka
Tempat aku melepas dahaga
Biar musnah rintih ini, perih ini
Dalam zikir, zikir…
Laillahailallah laillahailallah
Laillahailallah laillahailallah
Laillahailallah

Tubuh rentaku luruh di atas sajadah
Telingaku mendenging: seruling siapakah melengking
Mengiris-iris jiwa ini
Jiwa yang rapuh bergeronggang onak duri
Terkapar di bukit debu. o
Aku memang hanya debu
Aku memang hanya onak dan duri
Ampun Ya Allah!
Lihatlah debu, onak dan duri tersungkur merangkak menggapai
AmpunMu
Berhari-hari, bertahun-tahun rintih perih ini menderu
Kenikmatan ketenangan dalam bening air
Mengalir sepanjang diamMu
Aku ingin bermandikan cahaya
Sampai di balik kubur
Tapi tapak kaki ini mengapa gemetar?
Adakah daki yang belum tersingkirkan
Ataukah maut memang enggan berbagi dengan sunyi
Sunyi yang mencekam sepanjang malam
Di bawah rentang tangan gaibMu

Lalu, lihatlah dinding jiwa ini pun menganga
Memuntahkan doa-doa
Melesat tak sampai-sampai ke puncak cahaya
Aku memang hanya debu
Aku memang hanya onak dan duri
Ampun ya Allah!

Jiwa yang kosong
Runtuh dalam rintih…

O! tubuh rentaku terkapar di bawah kubah:
Gemerincing langkah siapakah menderu-dering
Mendebarkan; makhluk asing bermahkota cahaya
Menerabas semak-belukar dada manusia
Mengunyah serat kitab yang tercecer
Dari kemilau surau tak berpintu tak berjendela
Zikir yang gerimis
Memelihara keharmonisan sunyi dengan ratap
Dingin berpendar dalam gelap
Dalam tatapan nanar merindu ruh rahmat
Keheningan rumah di bawahnya mengalir sungai bening
Maha Suci Allah!
Di bawah kubah ada keramik diri yang pecah
Di lereng bukit yang jauh mahkota cahaya memercik
Menerpa ceruk kampung dengan gema yang pedih
O! tasbihku berderai di atas sajadah
Berderai lalu bergulir menjelma mahkota bercahaya
Tak ada kata-kata
Hanya lengang yang pedih
Merangsek dalam ruang dan waktu yang maya
Kelahiran sesudah kematian
O! siapakah berjalan terhuyung bermahkotakan cahaya?
Tiba-tiba aku menjelma burung tersunyi
Mengepakkan sayap dengan jantung terbelah
Melayang tinggi, tinggi, lalu menukik
Berputar-putar di atas runcing kubah!
Tak ada kata-kata
Tak ada puisi
Yang ada hanya suara: maha suci Allah...
Maha Suci Allah, Maha Suci Allah, Maha Suci Allah
Maha Suci Allah, Maha Suci Allah, Maha Suci Allah
Allah!

Cilacap, Oktober 2005.

*) Dibacakan pada acara "Pentas Puisi buat Amal" –rehab sebuah
mushalla, dibacakan di aula Dinas Pendidikan Gumelar, BMS, Desember
2005.

Antara dia dengan Dia

16 Juni 2009

Eddy Pranata PNP

: Pergulatan nasib meregang jiwa seorang kembara
Di persimpangan waktu melihat wajah debu penasaran
Tersungkur-sungkur tiada arti

Begitukah sebuah perjuangan?
Sangatlah mendebarkan!
Penuh harap dan kepasrahan
Menangisi bumi, menyesali diri
Lalu sadar dia salah jauhi Dia

"Ampunilah…," desisnya; "kuyakin rezeki, jodoh dan maut di tanganMu"

Sebuah pembaruan yang bagus
Dia bangkit memoles sekujur tubuh dengan kejujuran dan kerendahan hati

: Yang bengal biarkan bengal, yang culas biarkan culas, yang dendam
biarkan dendam, Yang busuk hati biarkan busuk, yang iri dengki juga
biarkan, yang kejam biarkan kejam, Yang serakah biarkan serakah, yang
miskin-papa juga biarkan, yang kaya biarkan kaya, Yang lapar biarkan
lapar, yang pesta biarkan pesta, yang zina biarkan zina, yang sehat
Biarkan sehat, yang sakit biarkan sakit, yang ngoceh juga biarkan,
yang diam juga biar, Yang ngedumal juga biar, mabuk dan muntah biar,
Apa saja kek biar!

Dan lihatlah, dia terus mendekati Dia….

Di bibirnya doa-doa
Di tangannya doa-doa
Di matanya doa-doa
Di hatinya doa-doa
Di jiwanya doa-doa
Di nafasnya doa-doa
Di tidurnya doa-doa
Di mimpinya doa-doa
Di mautnya doa-doa
Di surgaNya di berada?
Ah….
Wallahualam!

Jakarta, Padang, 1991/1996.

*) Dibacakan pada acara "Mimbar Penyair Abad 21" di Taman Ismail
Marzuki Jakarta, Maret 1996.

Secret Love

15 Juni 2009

John Clare

I hid my love when young till I
Couldn't bear the buzzing of a fly;
I hid my love to my despite
Till I could not bear to look at light:
I dare not gaze upon her face
But left her memory in each place;
Where eer I saw a wild flower lie
I kissed and bade my love good bye.
I met her in the greenest dells
Where dewdrops pearl the wood blue bells
The lost breeze kissed her bright blue eye,
The bee kissed and went singing by,
A sunbeam found a passage there,
A gold chain round her neck so fair;
As secret as the wild bee's song
She lay there all the summer long.
I hid my love in field and town
Till een the breeze would knock me down,
The bees seemed singing ballads oer,
The fly's bass turned a lion's roar;
And even silence found a tongue,
To haunt me all the summer long;
The riddle nature could not prove
Was nothing else but secret love.

Kapan Kau Tahu

Hidayatul Fajrul


Kau tak tahu aku kini berada di satu sisi
Tujuh meter tepat di arah jam empat-mu
Mengawasimu
Menangkap tiap senyummu

Aku mematung di sini
Perhatian penuh padamu
Mengintaimu
Mengumpulkan lantunan suaramu

Kapankah kau tahu aku mengagumiku
Aku ingin kau tahu
Aku terhanyut dalam arusmu
Cukup itu, jangan tenggelamkan aku

Kapankah aku mampu
Beranjak dan berpindah ke sisi lain
Tujuh jari tepat di jam tiga-mu

Aku menunggu saat itu
Semoga kau tahu

If I Were Her Lover

14 Juni 2009

Madison Julius Cawein
*
*

I

If I were her lover,
I'd wade through the clover
Over the fields before
The gate that leads to her door;
Over the meadows,
To wait, 'mid the shadows,
The shadows that circle her door,
For the heart of my heart and more.
And there in the clover
Close by her,
Over and over
I'd sigh her:
"Your eyes are as brown
As the Night's, looking down
On waters that sleep
With the moon in their deep" . . .
If I were her lover to sigh her.

II

If I were her lover,
I'd wade through the clover
Over the fields before
The lane that leads to her door;
I'd wait, 'mid the thickets,
Or there by the pickets,
White pickets that fence in her door,
For the life of my life and more.
I'd lean in the clover—
The crisper
For the dews that are over—
And whisper:
"Your lips are as rare
As the dewberries there,
As ripe and as red,
On the honey-dew fed" . . .
If I were her lover to whisper.

III

If I were her lover,
I'd wade through the clover
Over the field before
The pathway that leads to her door;
And watch, in the twinkle
Of stars that sprinkle
The paradise over her door,
For the soul of my soul and more.
And there in the clover
I'd reach her;
And over and over
I'd teach her—
A love without sighs,
Of laughterful eyes,
That reckoned each second
The pause of a kiss,
A kiss and . . . that is
If I were her lover to teach her.