Cerpen Sunlie Thomas Alexander
Dimuat di Koran Tempo 06/14/2009
Five of Cups
Kau tahu, setiap orang pasti menginginkan nasibnya selalu bagus.
Tetapi bukankah tidak setiap kartu yang kau buka bakal menunjukkan hal
yang baik? Karena itu, agak tersendat kau menjelaskan makna
kartu-kartu itu kepadanya, juga hubungan antara kartu yang satu dengan
yang lain. Kau berusaha menekan suaramu agar terdengar lebih lembut,
tentu dengan kalimat-kalimat yang sebijak mungkin. Tak mudah memang
mencari kata-kata yang tepat. Kau melihat wajahnya sedikit tegang
memperhatikan gambar-gambar pada deretan kartu yang terpampang di
hadapannya, kedua matanya agak melotot.
"Bukan apa-apa, ya bukan apa-apa," gumammu seakan menenangkan diri
sendiri. Tentu kau membenci kartu-kartu buruk itu, terlebih karena
dicomot oleh tangan seorang sahabat dekat. Ya, sahabat dekat. Tempatmu
selama ini mengeluarkan berbagai keluh kesah, memuntahkan segala
sampah. Pun sebaliknya.
Posisimu jadi tak mengenakkan, berkali-kali kau memperbaiki dudukmu di
sofa. Apalagi ketika kau melihat keringat mulai memercik di keningnya.
Ah, kau tak ingin menyakitinya. Kau tahu betul, Cipta mudah
tersinggung. Lebih mudah tersinggung lagi akhir-akhir ini karena
masalah keluarga yang menderanya. Dan kau pun mafhum jika hubungannya
dengan kekasihnya sedang menghambar. Pacarnya di Bengkulu tak jadi
datang dalam waktu dekat ini karena tak bisa meninggalkan pekerjaan.
Seharusnya kartunya bisa lebih baik, pikirmu cemas. Tapi kenapa harus
kartu bergambar lima buah cawan itu yang keluar setelah gambar pendeta
perempuan yang bermakna pengharapan? Padahal kartu High Priestess
telah mengisyaratkan pintu masa depan yang lebar terbentang.
Kau tak bisa menemukan makna lain selain sebuah kehilangan. Meskipun
makna kehilangan itu bisa begitu luas, bermacam-macam, tak selalu
persis dengan yang sering dibayangkan. Misalnya hilangnya hubungan
yang menghambar. Atau, kartu kematian bisa berarti berakhirnya
kesedihan. Bukankah kartu ini juga memiliki sisi baik yang
tersembunyi, sebab adanya kehilangan menunjukkan adanya perubahan atau
pergantian? Mungkin kehilangannya akan tergantikan oleh sesuatu yang
lebih baik, batinmu menghibur diri. Meskipun dari pengalamanmu, kau
tahu kemungkinan itu agak dicari-cari.
Kini keringatmulah yang meleleh deras di dahi dan lehermu. Soal asmara
sudah kau ungkapkan dengan susah payah. Sekarang kau menghadapi soal
pekerjaannya yang tak kalah pelik. Dua buah kartu yang sama bergambar
batang-batang pohon menjulang tinggi berwarna putih mengapit seseorang
yang terkapar dengan sepuluh bilah pedang menancap di punggung
bukanlah deretan kartu yang mudah untuk kau jelaskan padanya. Ah!
Kau memang baru belajar tarot beberapa bulan yang lalu. Tapi kata Mbak
In, kau lumayan berbakat. Sejumlah teman dekat dan tetangga jadi
kelinci percobaan, juga ibu mertua dan adik iparmu yang baru
menyelesaikan kuliah di Semarang. Dan hasilnya cukup mencenggangkan
untuk seorang pemula seperti kau. Semestinya kau senang, tapi apa
pantas bersuka cita untuk kejadian-kejadian yang tak mengenakkan? Adik
iparmu memang lulus wawancara kerja, tapi seorang tetangga yang kau
ramal seminggu sebelumnya tiba-tiba mengalami kecelakaan. Mbak S jatuh
dari motor, kakinya patah dan harus digips. Belum lagi suami Mbak Erna
yang kecopetan di pasar, dompetnya lenyap, juga surat-surat berharga.
Apakah semua itu memang berhubungan dengan ramalanmu? Kau merasa tak
nyaman. Kadangkala, seperti saat ini misalnya, kau merasa menyesal
sudah belajar membaca tarot pada Mbak In, setelah suatu hari rekan
kerjamu itu membawa kartu-kartunya ke studio dan meramal hampir semua
orang saat istirahat siang. Tentu, termasuk dirimu.
Queen of Wands
Ya, semua orang pasti menginginkan nasibnya selalu bagus.
Ah, apakah kau merasa nasibmu cukup bagus? Entahlah. Ramalan
kartu-kartu itu atas dirimu sendiri tidaklah terlampau mencemaskan.
Semua kartu menunjukkan rentetan hal-hal yang normal, cenderung
tenang. Paling tidak untuk saat ini, pikirmu sambil memandang
kartu-kartu yang berserakan di lantai kamar Lala. Di kaki tempat tidur
mungil.
Ah, barangkali memang sudah seharusnya kau cukup bersyukur atas
hidupmu saat ini. Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau
inginkan? Ya, walau harus mengorbankan banyak hal. Dan kau sudah
berusaha keras. Barangkali memang tak semuanya dapat kita raih secara
bersamaan, kau mencoba menjadi arif.
Kau bertemu dengan Bagas pada pesta ulang tahun teman kuliahmu. Aneh?
Tak ada yang aneh, meskipun sebelumnya kau selalu menganggap cinta
hanyalah sebuah permainan yang menyenangkan. Kau tak pernah
bersungguh-sungguh. Ada banyak lelaki yang berlalu lalang dalam
hidupmu. Tapi sampai saat itu, hanya Bagas yang mampu membuat
jantungmu berdebar lebih kencang.
Semuanya berjalan begitu wajar. Sehingga rasanya memang tak ada yang
perlu dikuatirkan. Sampai suatu hari kau mendengar kata "menikah" dari
mulutnya. Ia baru menamatkan kuliah. Kau sendiri telah setengah tahun
bekerja di sebuah kantor periklanan.
Mungkin bukan masalah pekerjaan yang menjadi soal. Mungkin bukan
lantaran latar belakang ekonomi dan status sosial keluarga. Tapi
masalah lain, yang terdengar bodoh tetapi begitu menyesatkan di negeri
ini. Agama (mungkin bukan iman) yang selama ini sekadar ritual
keseharian dalam keluarga besarmu, tiba-tiba mengombak di permukaan.
Memanas di meja makan, seolah-olah akan terjadi perang suci. Shit!
"Kau tidak akan menikah dengan dia!" Papa menuding tepat di depan
hidungmu. Terasa menyakitkan. Mama menyeretmu ke kamar, membujukmu
dengan sejumlah nasihat. Mengemukakan sejumlah masalah yang terdengar
masuk-akal.
Tak ada yang perlu didengar lagi. Kau tahu, intinya pasti sama. Kau
harus menjauhi Bagas. Tidak ada pernikahan dengan kekasihmu. Hanya
lewat ponsel kau bisa berhubungan dengan dunia luar. Dengan Bagas,
dengan teman-teman yang lain.
"Jangan sampai ponselmu diambil mereka," teman-temanmu memperingatkan.
Mereka terus mengirimi pulsa. Bagas nekad hendak bertandang, tapi
dicegah teman-temanmu. Rumah dijaga ketat oleh paman-pamanmu. Tak
mungkin kau melarikan diri melalui jendela kamar, seperti yang terjadi
pada cerita sinetron.
Dua hari kemudian, seorang penghulu datang. Bersama lelaki yang selalu
kau sebut kunyuk itu. Pengusaha muda yang tampak meyakinkan. Sudah
beberapa kali datang ke rumah dengan niat yang tak pernah berubah:
melamarmu!
Ah, kenangan itu masih menyakitkan. Dan kau tak ingin mengenang lebih
panjang: bagaimana kau memperdaya lelaki kunyuk itu hingga memperoleh
kesempatan kabur, bagaimana kau dipertemukan dengan Bagas oleh
teman-teman, bagaimana kalian kemudian dinikahkan dengan wali seorang
saudara jauh yang bersimpati.
Oh, sungguh kau tak ingin mengingat lebih banyak lagi! Karena jika
diingat benar-benar, kisahmu bakal serupa kisah sinetron. Pengalaman
hidup yang bagimu begitu memalukan.
Adakah kau bahagia? Tentu, katamu sendiri. Aku bisa menikah dengan
laki-laki yang kucintai, aku memiliki seorang anak yang begitu manis.
Kau menatap lekat-lekat wajah Lala yang tertidur pulas di tempat tidur
mungilnya. Begitu cantik, polos, dan lucu. Selepas akad nikah, Bagas
membawamu ke mari. Ke rumah orangtuanya. Namun setahun kemudian
setelah Lala lahir, ia kembali ke Jakarta. Diterima kerja di sebuah
perusahaan ekspor-impor. Awalnya kau begitu kesepian bersama Lala.
Hanya ditemani seorang ibu mertua yang begitu penuh perhatian. Tapi
Taman Budaya yang berada tak jauh dari rumah selalu menghiburmu.
Kadang sendirian, kadang membawa Lala, kau kerap menghadiri berbagai
pentas musik, teater dan tari, pameran seni rupa, dan sesekali
pembacaan puisi atau diskusi sastra.
Bagas memang kian jarang pulang. Mula-mula ia masih pulang sebulan
sekali. Kemudian menjadi dua bulan sekali, tiga bulan, empat bulan.
Sekarang sudah nyaris enam bulan semenjak kepulangannya yang terakhir.
"Maaf, Nis. Aku juga kangen padamu dan Lala. Tapi kau tahu, dengan
posisiku sekarang terlalu banyak yang harus aku tangani," kau menutup
telepon dengan kesal.
Ah, kadangkala kau merasa begitu merindukan rumah, adik-adikmu,
teman-teman, ibukota yang bising (juga sinting!). Empat kali kau
sempat pulang ke rumahmu, dua kali saat lebaran. Sekali Bagas berhasil
kau paksa ikut. Ia disambut juga dengan pahit. Setelah sekian lama,
belum juga ada penerimaan. Hampir kau tak percaya, kalau mereka yang
melahirkan dan membesarkanmu itu begitu congkak. Ternyata kita tak
pernah benar-benar utuh mengenal orang-orang terdekat kita, pikirmu
sedih. Demikianlah, kau kehilangan banyak hal.
Ya, barangkali kita memang tak dapat meraih semuanya secara bersamaan,
kau mencoba belajar arif. Si kunyuk, menurut adikmu, sesekali masih
suka bertandang. Menanyakan kabarmu.
"Aku tahu kau hanya berpura-pura bahagia dengan pernikahanmu.
Ketahuilah, aku masih menunggumu," begitulah bunyi surat menjijikkan
yang datang seminggu lalu itu. Dari mana ia dapat alamatmu, kau tak
peduli. Surat itu kau sobek-sobek dengan kemarahan yang sempurna.
Hmm. Kau kembali memperhatikan kartu tarot terakhir di tanganmu. Kartu
itu tampak nyalang: Kepribadian yang diwakili oleh Queen of Wands
adalah sosok ratu digabung dengan elemen api. Ia adalah orang yang
diinginkan semua orang. Cantik, menarik perhatian, hangat,
bersemangat, mudah bergaul, selalu siap dengan segala macam situasi
yang ada. Meskipun sosok ini tidak tampak angkuh namun mereka
menyimpan keyakinan yang dalam dengan kemampuan dirinya sendiri.
Kau terbahak!
Ten of Swords
Ia datang lagi. Dengan wajah yang demikian muram. Nyaris sempurna
sebagai seorang lelaki yang punggungnya tertikam sepuluh bilah pedang.
Sekilas ia benar-benar tampak sebagai seseorang yang menjadi korban
secara mental sebagaimana diisyaratkan kartu itu, ketika semuanya
tampak mengerikan, tak ada harapan dan tampak tidak adil.
Kau menyuguhkan padanya secangkir kopi. Kental dengan gula secukupnya,
entah sejak kapan kau begitu hafal pada takaran kesukaannya.
"Aku berhenti dari pekerjaan," ia menatapmu ragu-ragu. Kau agak
tercekat, "Kenapa?" tanyamu dengan air ludah terasa hambar. Ia
menunduk, menghirup kopinya. Kau tak tahu apa yang harus kau perbuat
sekarang.
Adakah ini bermula dari sebuah ramalan? Kau merasa tangan dan kakimu dingin.
"Rangka jembatan yang kurancang patah," gumamnya, seperti pada diri
sendiri. Kau tidak mengerti dunia bangunan. Meski kadang-kadang ia
suka bercerita tentang pekerjaannya. Tapi kau paham gawatnya situasi
itu dari kedua matanya yang sayu. Berhenti atau diberhentikan, itu tak
penting. Jantungmu serasa diremas.
Kau memang lebih mengenalnya sebagai seorang penyair gagal yang mampu
membaca puisi dengan bagus di pentas. Kalian bertemu pada sebuah
pameran sekelompok pelukis muda di galeri Taman Budaya kurang lebih
dua tahun silam. Dengan tampang dan penampilan yang tak menyakinkan,
ia tampak begitu pamer diri menjelaskan banyak hal padamu. Tapi kau
suka pada kehangatan yang terpantul dari kedua matanya. Entah kenapa.
Basa-basi, perkenalan, lalu suatu hari tiba-tiba ia muncul di rumah.
Tentu kau kaget ketika ibu mertuamu menyambutnya gembira. Tak terduga,
ia teman lama Bagas. Teman sejak kecil, katanya. Setelah itu ia sering
bertandang berulang. Ibu mertuamu tak pernah keberatan untuk
kedatangan seorang kawan lama anaknya, dan tahu kau butuh teman. Ia
juga selalu muncul setiapkali Bagas pulang. Dari ia pulalah kau kenal
dengan Mas Edi, pemilik studio desain tempat kau bekerja sekarang.
Tentu kau harus bekerja lagi, pikirmu waktu itu, kalau tidak kau pasti
mati dalam kebosanan. Lagipula kau bisa membawa Lala jika ibu mertuamu
sedang ada kesibukan. Ada sebuah kamar yang bisa dipakai beristirahat
di belakang studio.
Kini ia merunduk, mempermainkan sendok di cangkir kopinya. Lalu
menyulut sebatang rokok dan menawarkan padamu. Kau hanya menggeleng,
ingin memegang teguh janji mengurangi rokok. Nafasmu sering
tersengal-sengal mengejar Lala yang kian lincah. Sesaat kalian kembali
bertatapan. Ah, biji matanya begitu kelam seperti cairan kopi di
cangkir. Di luar jendela yang gordinnya tersibak separoh, demikian
gelap. Lampu teras belum sempat diganti. Tanganmu terasa kesemutan.
Kau mafhum, Ten of Swords adalah suatu akhir yang sulit dihindari.
Terbayang lagi olehmu, kartu bergambar seseorang yang terkapar dengan
sepuluh bilah pedang menancap di punggungnya di antara deretan
pohon-pohon putih menjulang itu.
Seandainya ia tak bersikeras minta diramal! Kau berpaling ke arah lain
menghindari matanya, beralih pada foto pernikahanmu yang tergantung di
dinding ruang tamu. Seekor cecak tampak merayap di atas kaca pigura.
Adakah semua ini cuma kebetulan? Seperti seseorang yang tiba-tiba
disambar laju mobil ketika sedang menyeberang jalan? Atau hari esok
memang sudah ditentukan? Sebagaimana sekian banyak kejadian lain yang
terbaca olehmu di atas kartu-kartu sialan itu. Masa depan, barangkali
memang lebih baik terlipat dalam laci terkunci.
Bertahun-tahun kau percaya, hidup akan menemukan jalannya sendiri.
"Ia mengajak menikah akhir tahun, atau kami akan berpisah untuk
selamanya," suaranya seolah menggantung di udara. Kau paham betul
siapa "ia" yang dimaksudnya. Sekali lagi jantungmu diremas.
Tentu, sekiranya kau dapat berbuat sesuatu untuk membantu seorang sahabat.
Dalam pembacaan, Queen of Wands meminta Anda untuk bertindak dan
menjadi seperti dia. Apakah Anda sudah merasa menarik perhatian orang?
Apakah Anda sudah yakin dengan kemampuan Anda sendiri? Apakah Anda
selalu bersemangat? Queen of Wands juga mewakili situasi yang penuh
dengan keceriaan, kepercayaan diri dan semangat yang tinggi.
Tanpa sadar kau meraih kartu-kartu itu dari bawah meja.
The Fool
Oh, sungguh kau tak pernah menyukai kartu bergambar seorang dungu yang
berpakaian seperti badut sirkus itu! Mungkin sama kadarnya dengan
kebencianmu pada kartu Five of Cups dan Ten of Swords. Begitu
menjengkelkan, setiapkali kartu jahanam itu terbuka:
berjingkrak-jingkrak dengan tampangnya yang tolol.
Ya, seperti juga halnya kau tak pernah suka pada badut. Selalu saja
mengingatkanmu pada suatu kejadian belasan tahun silam.
Pada ulang tahunmu ke sepuluh, Tante Lin menghadiahkan seorang badut.
Meskipun saudara dan teman-temanmu tampak begitu gembira, bagimu badut
itu sama sekali tak lucu. Kau tidak mengerti, kenapa banyolan-banyolan
konyol yang disuguhkannya bisa membuat teman-temanmu
terpingkal-pingkal. Ia membuat sulap-sulap yang membosankan dan
menghabiskan terlalu banyak kuemu.
Dan puncak kebencian itu adalah tatkala ia membagi-bagikan balon
kepada semua anak yang hadir. Kau belum sempat menyentuh balon yang
diulurkan padamu, ketika tiba-tiba saja balon merah itu meledak tepat
di depan wajahmu. Tangismu juga meledak, dan serta merta kau
menghambur lari ke kamar. Langsung mengunci pintu dan membenamkan
kepalamu di bantal, tak peduli orang-orang terus mengedor pintu.
Ah, kenapa juga harus ada gambar badut jahanam itu dalam deretan kartu
tarot? Tanpa sadar, kau mengeluh tertahan. Tentu, kau cukup hafal pada
deskripsi kartu brengsek itu: Permulaan, spontanitas, kepercayaan,
memasuki tahap baru; jalan baru, melebarkan sayap, memulai
petualangan, memulai ketidakpastian, mengejutkan seseorang, perlu
diperhatikan, menjalani hidup apa adanya, berpikir terbuka, menikmati
hidup, bertindak konyol, mempercayai diri sendiri. Oh, apakah nasib
buruk mulai menyapamu? Atau sebaliknya?
Ya, ia terbuka lagi malam ini. Dalam kemuakan yang sempurna di
tanganmu sebagai kartu penghabisan. Mengangkat wajah, kau lihat Cipta
masih sibuk dengan batang rokoknya yang entah keberapa belas. Kau
tahu, ia takkan berkenan diramal lagi setelah kartu-kartu menyakitkan
tiga hari yang lalu itu. Kau ingin memulai sebuah percakapan, tapi
rasanya begitu sulit.
Di ruang tamu ini kesepian merayap seperti cecak, dan memuncak bersama
bunyi decaknya. Malam semakin larut. Kau merasa begitu capek, ingin
beristirahat. Besok memang hari Sabtu, tapi sekitar jam sepuluh pagi
kau harus menjemput mertuamu di pelabuhan udara. Cipta kini menatap
keluar jendela dari kain gordin yang tersibak.
The Fool adalah gambaran dari sosok diri kita tatkala kita memulai
perjalanan hidup, terlahir sebagai manusia di dunia ini, seseorang
yang masih murni, dan bertindak spontan tanpa banyak berpikir.
Kau terbangun oleh suara tangis Lala. Sekujur tubuhmu terasa linu.
Buru-buru kau menyingkapkan selimut. Dan cukup kaget ketika menyadari
kau tidaklah sendirian: tangan lelaki itu masih melingkar di
pinggangmu yang ramping.
Untuk beberapa saat lamanya, jantungmu berdegup kencang. Seperti
seorang yang habis berlari jauh. Perlu waktu sekitar tiga menit
sebelum kau bisa menguasai diri kembali. Pelan-pelan kau berusaha
menyingkirkan tangan itu, tak ingin mengusik tidurnya yang pulas.
Ketika beranjak dari tempat tidur dengan perasaan berkecamuk, sekilas
masih sempat kau tangkap pantulan tubuhmu yang putih di cermin lemari
pakaian. Begitu sempurna dalam ketelanjangannya.
Tangis Lala di kamar sebelah semakin keras, menjerit-jerit
memanggilmu. Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul tujuh lewat.
Mendesah kecil, kau bergegas membuka pintu kamar. Setengah berlari
untuk mendapatkan anakmu.
Tiba-tiba saja kau merasa harus membakar kartu-kartu tarot itu! ***
Gaten, Yogyakarta, 2008-2009