Narasi Suatu Jumat

07 Juni 2009

Asmororini

I.
Girisnya gerimis pada Jumat setengah siang, anakku-indraratriku, gesekan
biolamu bagai serenade lautan sembilu, meningkah ratap nelangsa lautan
lumpur lumpur lautan yang berteater di panggung kota porong. Saut menyaut
dalam paduan suara, ihkwal dirinya terayu bujukan memakan buah pengetahuan
apel bor baja para terdidik-terpelajar yang mengenakan toga jubah tanda
lulus kepremanan begitulah, serta merta malu menyergap merasa tubuh
bertelanjang. Kesalahan dibeban badan, terusir dari perut bumi- peraduan
surga harus ditinggal berlunta lunta ke bukit-padang sawah-ladang, ke
rel-kereta api jalan-jalan rumah-rumah. Jangan dikira kagetnya telah
mematikan segala gala, gugatnya :

"sudahkah aku berperikelumpuran?"


Menontoni teater permainan lautan lumpur dari atas putusan jembatan tol
Gempol, bibir dan hati tidak mampu saling bertegur sapa. Ibumu hanya sendiri
diam diam hanya sendiri ibumu.Bagaimana akan mendongeng pada anak-anakmu
suatu kelak, bila kata kata hilang tenggelam di dasar endapan lumpur sungai
porong yang makin mengeras ?


II.


Butir hujan gerimis masih juga, anakku-permata hatiku, gesekan biolamu makin
masih juga melengking menyayat teriak tentang keadilan bagi jiwa-jiwa yang
tercuri anyirnya lumpur Di bantaran sungai kesengsaraan keluarga tenda,
wajah wajah kuyu para bapak para ibu para anak para dada yang telah sarat
akan ketabahan yang menggelosoh dalam kepenatan yang wanita - lelaki - anak
anak gemetar menampung perasan air matanya yang........yang........yang
titik koma dan dan yang macam lain seperti dalam media yang macam macam.
Jangan dikira kagetnya telah meragukan segala gala, gugatnya :

"sudahkah ketentuan ilahi berubah menjadi ketentuan manusia penduduk?"


Menontoni lakonan manusia penduduk dalam sisa rumah yang hanya menunggu saat
tumpas, pikir dan nurani sudah lagi saling beramah tamah. Ibumu tidak lagi
bisu bisu tidak lagi ibumu. Ibumu tak kan berhenti mendongeng pada
anak-anakmu suatu kelak, karena kata huruf kalimat cerita makna tergali
sudah dari endapan lumpur di dasar sungai porong r.

Ketetentuan Ilahi akan susah sedih dalam rasa setiap mahluk bernapas dan
berpikir sudah tertulis demikian adil adanya tidak kurang dan tidak lebih.

Hujan gerimis sedang lagi berlalu dihadang matahari diam diam,
anakku-belahan jiwaku, memantul menggema di ruang jiwa ibumu , gesekan
biolamu tetap mengiring suasana jumatku

Surabaya, 28 februari 2009

0 komentar: