Cerpen Rama Dira J
Dimuat di Suara Pembaruan 06/14/2009
Perempuan yang berdiri di bibir pantai kala senja itu adalah ibuku. Ia
memaku di sana dalam posisi menanti dengan terus memendam perasaan
rawan. Angin laut mengembus tubuh keriputnya, mengelepakkan ujung kain
sarung batiknya, mengasinkan rambut-rambut tuanya yang menipis sudah.
Sisa-sisa semburat jingga matahari senja memantul pada sepasang
matanya yang tak lagi bisa berpejam semenjak Ayah tak kunjung pulang.
Malam itu, aku dan Ayah masih dalam sampan kami di tengah lautan. Tak
melintas sedikit pun pikiran dalam kepala kami jika malam itu adalah
malam petaka. Kami justru mengira, malam itu adalah malam
keberuntungan sebab ikan yang bisa kami jerat dengan pukat, melimpah
ruah banyaknya, setelah tak satu pun yang tertangkap sepanjang empat
hari sebelumnya.
Dalam kehadiran yang tak disangka-sangka, sebuah kapal cepat milik
segerombolan bajak laut bersenjata lengkap, muncul dari balik gelap
malam, berhenti di dekat sampan kami. Salah satu dari mereka dengan
tiba- tiba saja naik ke sampan, membuka peti, lantas mengambil semua
ikan hasil tangkapan.
"Jangan, Tuan." Ayah berusaha menghalangi, orang itu menembak Ayah.
Teman-temannya juga ikut memberondong Ayah. Mereka juga menembakku,
namun lesatan sebuah peluru hanya mengenai pundakku. Aku terjatuh ke
dalam air laut yang memerah karena darah Ayah, tak sadarkan diri dalam
gulungan ombak yang tiba-tiba datang, terbangun di tepi sebuah pantai
pada suatu pagi.
Peristiwa itu telah lama menjadi bagian dari masa lalu. Namun, ibu
selalu menunggu. Masa lalu dan masa kini, tak lagi bisa ia bedakan. Ia
hidup dalam masanya sendiri, masa yang dipenuhi dengan penantian demi
penantian.
Ia selalu menunggu kepulangan Ayah, setiap ketika matahari mulai
menyelimuti dirinya dalam cumbuan kelambu langit jingga. Tak seperti
dulu, ia tak lagi peduli dengan gema azan. Ia tak bergegas pulang
untuk kemudian berwudhu dan sembahyang. Ia tetap memaku menunggu di
sana sampai pagi, dengan terus menggumamkan nyanyian penantian,
sebentuk nyanyian yang katanya ia dapat pada suatu larut malam,
diajarkan oleh bintang-bintang padanya. Ia baru berhenti menunggu,
jika bias sinar matahari fajar muncul di kaki langit sebelah timur.
Sepasang mata miliknya tak lagi bisa berpejam. Mata itu terus terbuka,
demi menunggu kepulangan Ayah. Sesungguhnya, semua yang ada pada Ibu
menjadi bagian yang wajar sebagai milik seorang yang telah dimakan
usia, tapi tidak dengan matanya. Meski tak lagi bisa memejam, kedua
mata seperti buah badam itu masih muda, bening, penuh pancaran yang
mencerminkan keyakinan utuh. Yah, dari mata itu kau akan bisa membaca
bahwa pemiliknya tak akan pernah membuang kepercayaan akan kembalinya
sang suami tercinta.
Ia tak pernah percaya dengan berita yang kubawa bahwa Ayah telah mati.
Pertama kali mendengar kabar itu, ia langsung tak percaya. Ia bilang,
setahunya, aku tak ikut melaut, mustahil aku tahu jika Ayah telah mati
terbunuh. Padahal, ia pasti mengetahui aku ikut dengan Ayah sebab
waktu sampan kami mulai lepas meninggalkan pulau di malam
keberangkatan itu, ia tetap berdiri di bibir pantai, melepas kepergian
kami, seperti biasanya.
"Ia masih di laut. Belum cukup ikan yang bisa ia bawa pulang" Ia
selalu mengulang keyakinannya itu, setiap hari, setiap kali kubilang
Ayah tak akan pulang. Begitulah, sudah lima belas tahun ia
terperangkap dalam penantian dan keyakinan sia-sianya.
Sia-sia pula usahaku meyakinkannya. Aku pun menyerah. Kubiarkan ia
hidup dalam dunianya. Aku tak lagi pernah berupaya untuk
menyadarkannya agar mau hidup dalam dunia nyata, dunia dimana Ayah tak
lagi ada.
Dalam penantiannya itu, setiap kali melihat ada sampan yang segera
merapat, senyum tuanya akan mengembang. Ia lantas bergegas turun ke
tepi pantai, membiarkan ujung sarungnya basah, jauh sebelum sampan
yang dilihatnya itu mencapai tepi. Meski kemudian ia kecewa setelah
melihat pemilik sampannya yang ternyata bukanlah Ayah, ia tetap akan
bertanya.
"Bertemu Rahman tidak?"
"Oh, tidak Nek Asnah. Kami tak bertemu Rahman. Mungkin dia masih
mencari ikan di lain tempat." Begitulah jawaban seragam yang akan
diberikan oleh siapa saja orang kampung yang pulang melaut jika
ditanya Ibu. Sepertinya, jawaban itu sudah menjadi kesepakatan tidak
tertulis di antara semua orang kampung.
Pada kenyataannya, sepasang mata adalah organ yang begitu berharga
bagi manusia. Untuk menjalankan fungsinya, tentu tak selamanya mata
harus terjaga. Ia juga butuh istirahat, ia harus memejam meski hanya
sebentar. Namun, mata ibu tak membutuh- kannya.
Mata itu terus saja berjaga. Aku berani memastikan, bahwa sepasang
mata ibu itu tak akan berpejam lagi untuk selamanya. Ibu tak
membutuhkan tidur, bahkan hanya sekadar berpejam. Aku tak pernah tahu
jenis penyakit apa yang diderita matanya. Adakah orang di dunia ini
yang tak pernah memejamkan matanya seperti ibu?
Sebenarnya, peristiwa di malam itu tak hanya mempengaruhi Ibu. Ia
telah pula meninggalkan kenangan buruk yang lekat dalam ingatanku.
Sampai-sampai, acapkali aku bermimpi sama, sebuah rekaman dari
peristiwa sebenarnya itu. Aku tak bisa lepas dari pemandangan terakhir
kala Ayah yang sebelum jatuh ke laut, sempat melambai-lambai padaku
itu.
Mimpi-mimpi yang sama itulah yang kemudian membuatku tak lagi berani
ke laut. Laut telah kuanggap sebagai kutukan. Aku meyakini, jika aku
ke laut lagi, aku juga akan mati seperti Ayah. Untuk itu, aku memilih
menjual ikan asin ke kota dengan bersepeda atau bekerja serabutan
lainnya. Yang paling penting adalah aku tidak harus ke laut untuk
menjalankan pekerjaan-pekerjaan itu.
Meski Ibu terperangkap dalam penantiannya menjelang senja hingga fajar
sempurna, di luar waktu itu, ia tetap menjalankan kehidupan seperti
orang normal. Pagi-pagi sekali, sepulangnya dari bibir pantai, ia akan
membangunkanku. Ia kemudian bergegas ke perigi untuk mandi dan mencuci
pakaian kami.
Ketika matahari mulai terik, ia menjemur pakaian. Setelah itu, ia
kembali lagi menuju bibir pantai, menjemur ikan. Kami membeli
ikan-ikan setengah busuk itu dengan murah, langsung dari nelayan di
kampung. Setelah diberi garam, ikan itu dijemur selama beberapa hari.
Ikan-ikan asin itulah yang kemudian kujual ke kota.
Setelah menjemur ikan, ia akan kembali ke gubuk kami, duduk di tangga
kayu, menunggu aku pulang. Sorenya, jika ia melihatku sudah datang,
senyumannya akan mengembang.
"Kau tunggu di sini. Aku menunggu Ayahmu. Sebentar lagi ia akan datang."
Setengah berlari, ia bergegas, menurun melintasi jalan setapak yang di
kanan kirinya penuh dengan belukar. Ia terus menuruni bukit kecil itu,
melintasi dinding-dinding karang kemudian menuju ke hamparan pasir di
bibir pantai.
Sore itu, seperti biasanya, ia telah duduk di tangga kayu gubuk kami
dengan tampilan wajah yang penuh dengan ketaksabaran menunggu
kedatanganku untuk menggantikannya menjaga gubuk. Ia tak lagi berkata,
meski hanya sekadar menyapa kedatanganku. Ia langsung melangkah, lebih
gegas dari biasanya, menuju ke bibir pantai yang telah menjadi
peraduannya demi menjalankan ritual penantian abadi.
Setelah menyantap makan malam, yang biasanya telah ia siapkan dalam
tiga porsi -untuk aku, dia sendiri, dan Ayah- aku langsung tertidur
pulas karena sangat lelah hari itu. Aku terbangun pada malam yang
terasa berbeda, malam ketika bumi tiba-tiba guncang dan menghancurkan
gubuk kami dalam hitungan kedipan mata.
Aku berupaya keras keluar dari reruntuhan gubuk. Aku langsung berlari
menuju ke arah bibir pantai. Sebelum mencapai bibir pantai, aku
bertemu Somad. Laki-laki yang bekerja sebagai penjaga mercusuar itu
mengabarkanku bahwa air laut surut seketika. Mendengar itu aku semakin
panik, berlari lagi dalam kecepatan yang melebihi yang tadi.
Orang-orang kampung juga panik. Kudengar teriakan : "Air laut naik!".
Mereka berlari tak tentu arah, menabrak apa saja yang ada di depannya,
demi satu tujuan : mencari tempat yang lebih tinggi.
Aku tak langsung mencari tempat yang tinggi. Aku justru berlari menuju
pantai, karena aku tahu Ibu masih di sana. Sambil terus berlari, aku
menguatkan kemampuan pandangan mata untuk menangkap dimana Ibu di
tengah kegelapan yang sangat pekat. Baju putihnya-lah yang kemudian
membuatku bisa menemukan sosoknya yang masih berdiri menatap jauh,
dengan gumam penantiannya.
Tak membuang waktu, aku segera mencapainya, kugenggam tangannya.
Namun, air laut yang tumpah itu sudah tiba, menghempas tubuh kami
terpisah seketika itu juga. Tubuhku bergulung-gulung dalam air laut
yang tak lagi asin. Aku tak sadarkan diri, gulungan itu terus
membawaku ke daratan yang jauh.
Di suatu malam yang lain, aku bangun setelah bermimpi. Aku tak segera
bisa melupakan mimpi itu. Mimpi dimana aku melihat sepasang mata ibu
yang tak lagi bisa berpejam, mengapung di atas samudera luas tak
bertepi.***
Tarakan, 2 Mei 2009


0 komentar:
Posting Komentar