Pieter Akan Mati Hari Ini

20 Juni 2009

Cerpen Denny Prabowo
Dimuat di Kompas 06/14/2009

Sejak mercon itu meledak di benteng Zeelandia1, aku tahu, hidup Pieter
tak akan lama lagi. Derap langkah kuda serdadu kompeni yang melintasi
depan rumahku serupa dengus napas sang maut. Bau kematian. Merebak ke
tiap penjuru Jacatraweg.

De Malcontent2 memang menyimpan bara pada kompeni. Namun, siapa
percaya jika ia mampu menghimpun kekuatan untuk membantai seluruh
orang Belanda di Batavia? Bukankah Margaretha, istrinya, juga seorang
Belanda? Kuasa kompeni telah memilih Pieter dan kawan-kawan sebagai
tertuduh utama meski tak satu bukti—kecuali isu yang diembuskan oleh
seorang budak kepada istri Reijkert Heere.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Tiga pekan lalu, serdadu kompeni menyerbu kediaman Pieter.
Meringkusnya sebagai penjahat yang hendak melakukan makar. Bahkan,
usaha Aletta mencegah serdadu membawa ayahnya hanya kesia-siaan.
Margaretha mendekap tubuh anaknya ketika Pieter, Kartadriya, Layeek,
dan enam belas orang lainnya digiring ke Stadhuis3. Aku hanya bisa
memandang dari balik jendela. Menuliskannya dalam baris-baris soneta.
Apa boleh buat, aku hanya seorang pujangga. Apakah segerombolan
kata-kata akan mungkin menghadang bedil-bedil kompeni itu?

Sejarah memang harus dituliskan.

***

Wajah Pieter mengeras demi mendengar keputusan Dewan Heemraden.
Bagaimana mungkin, tanah di Pondok Bambu dan Sontar yang dahulu dibeli
ayahnya dihapus kepemilikannya. Ia bahkan harus membayar sewa karena
telah menggunakan tanah tersebut untuk usaha.

"Begitu besarkah kebencian mereka kepada seorang Indo sepertiku?" kata
Pieter memeram bara, "mamiku memang Siam. Tapi apa salahnya menjadi
orang Siam? Bukankah kita tak memilih dari rahim siapa dan di mana
kita dilahirkan?"

Margaretha dan Aletta tak tahu harus berkata apa. Mereka hanya bisa
bermain-main dengan sendok dan garpu di tangannya. Selera makan mereka
telah hilang sejak Pieter menggebrak meja setelah membaca surat
keputusan Dewan Heemraden mengenai kepemilikan tanah keluarga
Erberveld.

"Bukankah dahulu papi Tuan seorang Vertegenwordige4 di Het College van
Heemraden?" tanya Ateng Kartadriya, meneliti surat keputusan tersebut.

"Benar, Raden!" ujar Pieter, "mereka bahkan tak peduli pada jasa Papi."

"Hmm… tiga ribu tiga ratus ikat padi?" gumam Ateng Kartadriya,
"mungkinkah ini ada hubungannya dengan Reijkert Heere?"

Kedua alis Pieter saling bertaut ketika keningnya mengerut. Ia seperti
sedang mencari alasan paling mungkin bila dugaan Ateng itu benar. Ya…
untuk apa? Mengapa Reijkert harus melakukan itu?

Ateng Kartadriya dan Pieter saling berpandangan, seperti menemukan jawaban.

***

Sejak usaha leerlooierij5 Erbelveld senior tersohor, nama Jacatraweg
menjadi tenggelam. Orang lebih mengenal tempat itu sebagai kampung
Peca' Kulit. Mungkin karena kepiawaian Erberveld senior itu,
Pemerintah Belanda mengangkatnya sebagai wakil presiden di Het College
van Heemraden.

Sepeninggal Erbelveld senior, Pieter melanjutkan usaha itu.
Kedekatannya dengan bangsa pribumi membuat Pieter disegani. Ia bahkan
berkarib dengan seorang pribumi bernama Raden Ateng Kartadriya. Mereka
bahkan menyebutnya Toean Goesti setelah ia mengaku sebagai orang
Selam6.

Seandainya saja dahulu Pieter mau menerima tawaran Henricus
Zwaardecroon, mungkin Reijkert Heere tak perlu menjelma sebagai
penulis lakon sebuah sandiwara dan menjadikan Pieter pemeran utamanya.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Siapa pun yang dijebloskan ke ruang hukuman di Stadhuis akan mengakui
kesalahannya. Landdrost7 selalu memiliki cara untuk membuat orang
mengakui kesalahannya meski sesungguhnya ia tiada bersalah.

Ruang bawah tanah itu adalah saksi bagi keputusasaan.

Dan sejarah memang harus dituliskan.

***

Sejak mercon itu meledak di benteng Zeelandia, Gubernur Jenderal
Zwaardecroon kian meradang. Hanya tinggal selangkah lagi ia akan
menjadi pemilik seluruh tanah di Batavia. Namun, dukun yang
diundangnya mengatakan kepadanya tentang langit Batavia yang telah
dipenuhi segala macam ilmu hitam. Seorang stafnya meninggal tiba-tiba
karena penyebab yang entah apa. Apalagi, tersiar kabar tentang
jimat-jimat yang beredar di tengah masyarakat.

"Selamat siang, Tuan!" sapa seseorang. Zwaardecroon bergeming menatap
keluar jendela kantornya.

"Apakah kau datang membawa kabar, Tuan Reijkert?" tanya Henricus
Zwaardecroon tanpa menoleh.

"Saya ada membawa kabar, Tuan!"

"Kabar baik?"

"Tentu, Tuan!" kata Reikert, "kami sudah menemukan biang keladi
kekacauan selama ini."

Zwaardecroon langsung memutar tubuhnya, "Betul yang kaukatakan itu, Reijkert?"

"Benar, Tuan," ujarnya, "Tuan tentu mengenal Raden Ateng Kartadriya?"

"Mandor di leerlooierij milik Pieter?"

"Kami menggeledah rumahnya dan menemukan jimat-jimat yang selama ini
beredar di masyarakat."

"Jadi, dia pelakunya?"

Reijkert tersenyum, "Tuan tahu siapa yang berada di belakangnya?"

"Pieter?"

"Benar, Tuan!"

Zwaardecroon memandang keluar jendela ruang kerjanya, "Kau tentu sudah
tahu apa yang harus dilakukan, Reijkart?"

Reijkart memberi hormat, melangkah meninggalkan ruang kerja Gubernur
Jenderal Henricus Zwaardecroon. Suara langkahnya seperti irama
kematian.

***

Sejak suaminya menjadi penghuni ruang hukuman di Stadhuis, Margaretha
telah kehabisan air mata. Ia tak lagi bisa menangis. Leerlooierij
milik suaminya tak lagi beroperasi. Hari-harinya hanya ditemani sepi.
Sudah beberapa kali dia mengunjungi Stadhuis, mencari tahu nasib
suaminya. Sia-sia. Gubernur Jenderal tak mengizinkan siapa pun
mengunjungi pelaku pemberontakan. Seperti juga aku, Margaretha tahu,
hidup suaminya tak akan lama lagi.

Pagi tadi, berkas perkara Pieter dan teman-temannya tidak diserahkan
ke Raad van Justitie, tetapi ke Collage van Heemraden. Tanpa seorang
pengacara pun mendampingi mereka.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Bukankah sudah kukatan, tak ada yang tidak akan mengaku bersalah
setelah masuk ruang hukuman di Stadhuis? Begitulah hukum kompeni.
Mereka selalu punya cara untuk membuat orang mengakui kesalahan yang
tidak dilakukannya.

Aku memang tidak berada di ruang hukuman, tapi aku tahu apa yang telah
mereka lakukan terhadap Pieter dan teman-temannya.

Sejarah memang harus dituliskan, bukan?

***

Tiap jengkal tubuh Raden Kartadriya telah menerima pukulan serta
tendangan. Kedua tangannya dirantai. Lehernya dikalungi timbangan
besi. Kepalanya tertunduk ke lantai menahan nyeri setiap kali serdadu
kompeni menambah pemberat pada timbangan. Namun, ia masih bungkam, tak
mau membuka suara.

"Potong habis rambutnya!" perintah Reijkert, "kita lihat, apakah ia
masih sanggup tutup mulut!"

"Baik, Meneer!"

Helai demi helai rambut Raden Kartadriya berjatuhan di lantai hingga
tak sehelai pun tersisa di kepalanya.

Reijkert mencengkeram leher Raden Kartadriya, lalu mendongakkannya.
Lelaki itu malah tersenyum sinis, sorot matanya menyimpan api. Sebuah
hantaman ditengkuknya membuat kesadarannya hilang.

"Masukan dia ke dalam sel!" perintah Reijkert, "seret yang lainnya!"

Serdadu kompeni menyeret Layeek, seorang budak dari Sumbawa, orang
kepercayaan Pieter setelah Raden Kartadriya.

"Kamu orang tak perlu menderita seperti Kartadriya jika mau
menceritakan tentang rencana pemberontakan kalian!" bujuk Reijkert.

"Fuih!" Layeek meludahi wajah Reijkert.

"Kurang ajar!" Tangan Reijkert menghantam dagu Layeek. Pemuda itu
langsung tumbang, "Angkat dia!"

Serdadu kompeni merebahkan tubuh Layeek di atas de pijnbank8. Kedua
tangannya dibentangkan, lalu telapaknya disekrup. Layeek
menjerit-jerit kesakitan. Darah. Reijkert tertawa menikmati setiap
tetes darah yang retas dari tubuh legam Layeek.

"Baik… baik, Tuan… saya akan ceritakan!"

***

Sejak Pieter dan teman-temannya membuat pengakuan, Collage van
Heemraden telah mengetukkan palunya. Konon dan memang hanya konon,
Pieter menyimpan semua rencana pemberontakannya di sebuah peti di
dalam lemari tua di rumahnya. Pieter mengatakan akan melakukan
pemberontakan pada malam tahun baru dengan dukungan pasukan dari
Banten, Cirebon, dan Kartasura. Pieter bahkan mengaku telah berkirim
surat kepada putra Surapati.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Meski kompeni tak berhasil menemukan surat-surat yang konon
disembunyikan dalam peti di lemari tua miliknya, Raad van Indie telah
menyetujui hukuman mati dengan penggal kepala kepada Pieter dan
delapan belas orang inlander pengikutnya. Mereka akan mengeksekusinya
di lapangan sebelah selatan kasteel.

Begitulah, sejarah akan dituliskan, kataku mengakhiri cerita.

Kedai minum itu hening. Tak ada yang tahu apa yang sedang bermain di
dalam kepala orang-orang yang mendengar ceritaku itu. Pieter Erbelveld
memang dikenal luas di Batavia.

"Kita harus meninggalkan tempat ini, Tuan!" ujar seorang lelaki dengan
destar merah melilit kepalanya, "sebelum kompeni menyadari pelarian
Tuan. Raden Pengantin beserta pasukannya telah menanti di bekas tanah
milik Tuan di Sontar."

"Kartadriya…."

"Kita tak mungkin membawanya serta."

"Apakah kau akan ikut dengan kami, Jan?"

"Pergilah!" jawabku, "aku akan menyusul kalian. Biar kuselesaikan dulu
soneta ini."

Sepeninggal kedua orang itu, pemilik kedai yang ikut mendengarkan
ceritaku menghampiri, "Tuan, bukankah Meneer yang wajahnya penuh luka
itu Pieter Erbeveld?"

"Bukan!" kataku sambil berlalu meninggalkan pemilik kedai itu, "Pieter
akan mati hari ini!"

Pemilik kedai itu hanya tersenyum, memandangi kepergianku. ***

Depok, 09/11/2008

Catatan:

1. Gudang mesiu di Kota
2. Orang yang Kuciwa, lihat Saidi, Ridwan (hlm 184). 1987. Profil
Orang Betawi–Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadat, Jakarta: PT
Gunara Kata
3. Sekarang Museum Fatahilah
4. Wakil Presiden
5. Penyamakan kulit
6. Orang Islam
7. Semacam jaksa
8. Bangku penyiksa

0 komentar: