Kepundan Ayah

14 Juni 2009

Cerpen Pinto Anugrah
Dimuat di Jurnal Nasional 05/24/2009

Hujan telah teduh dan ia menyibak sisa embun di kaca jendela dengan telapak
tangannya. Dingin memagut, lenguh napasnya membias di kaca, membuat kaca itu
kabus kembali. Ia sapu dengan telapak tangan. Terasa dingin merasuk,
menusuk-nusuk, masuk ke tubuhnya. Dan ia segera menggosok-gosokan kedua
telapak tangannya.

"Belum juga datang?"

Dari luar, tampak wajah tua yang pucat menahan dingin memandang dari balik
kaca. Matanya memandang jauh, lurus, seolah ia dapat menembus setiap benda
yang menghalangi pandangannya. Sedang kabut mulai turun menyelimuti. Seperti
menghamparkan sebuah layar putih di hadapannya, yang kemudian mata itu
seperti berubah menjadi sebuah proyektor yang menembakkan potongan-potongan
kehidupannya.

"Menuju ke mana jalan itu, Yah?"

"Ke kota."

"Tapi kenapa jalan itu ditelan kabut, Yah? Aku ingin ke sana, Yah, antarkan
aku."

"Nanti, setelah kau libur sekolah."

Tiba-tiba layar itu terhapus, sebuah bus antar kota menyibaknya, membuat
kerumunan kabut terserak ke mana-mana. Ia perhatikan laju bus itu, berharap
akan berhenti di perempatan jalan dan seseorang akan turun di sana. Tidak.
Bus itu tetap melaju kencang membelah kabut. Dan kini ia kembali merasa
sangat kedinginan.

Ia tak lagi mencium bau embun atau dingin kabut. Ada sesuatu yang menjalar
ke dalam hidungnya. Bau yang sangat harum, wangi yang sangat ia kenal—yang
bisa membuat tubuhnya untuk sesaat menjadi ringan. Namun ia sadar wangi itu
telah lama tak menyatu dalam dirinya. Wangi itu seperti diserakkan ke setiap
sudut kampung, harum rendang kopi, membuat tubuhnya melayang-layang—melayang
ke masanya.

Pagi buta. Ia mengendap di antara rerimbunan daun yang masih basah karena
embun semalam. Sedang dari jauh, sesayup, suara orang mengaji sesudah salat
di surau seberang sungai jatuh di telinganya. Namun tak begitu diacuhkannya,
ia terus saja melangkah, memijak daun lembab, menyibak reranting yang
menghalangi langkahnya. Langkah yang sangat hati-hati, sehingga tak begitu
terdengar.

Hanya beberapa langkah lagi maka ia akan sampai di kebun kopi milik
juragannya, yang ia nilai selama ini sangatlah baik padanya. Sabit yang
terselip di pinggangnya mulai ia genggam. Ia merunduk memasuki rerimbunan
daun kopi dan mengayunkan sabitnya, merambah rerumputan liar yang tingginya
hampir menjangkau dahan-dahan kopi.

Rengek anaknya minta dibelikan sepatu baru kembali melintas di kepalanya.
Beberapa hari yang lewat ia sudah ke pasar pekan melihat sepatu baru yang
dijual di kakilima sambil menjual kopi ke toke langganannya. Harga sepatu
itu sungguh di luar kepalanya, padahal ia sudah bertekad benar akan membawa
sepatu itu pulang untuk Tongga, anak tunggalnya.

Hujan telah menjadi temannya dan ia telah berbagi cerita dengan kabut. Ingin
ia membuka pintu dan melangkahkan kakinya yang renta di jalan depan rumah
itu. Seakan ia melangkah, memasuki kabut yang akan menelannya.

Seperti dimensi lain membentang di hadapannya, kabut itu menyibak ke atas
dan jalan yang terbentang itu bersih terlihat tanpa berujung. Kemudian
bata-bata turun dari balik kabut yang menggantung, begitu banyak, mencecah
di pinggir jalan, hanya sesaat dan bata-bata itu telah membentuk trotoar di
sepanjang jalan. Entah kenapa, rimbun pepohonan yang menghutan itu kemudian
bergerak, mengubah pandangannya, batangnya terlihat seperti beton-beton dan
daunnya menjelma jadi kaca-kaca yang menyilaukan. Ia terperangah, tak hanya
karena perubahan yang tiba-tiba, namun ia terperangah seseorang telah
berdiri di trotoar itu.

Seorang lelaki muda dengan badannya yang tegap, berdiri kaku, lurus
memandangnya. Ia terkesiap, tersentak dan ia segera ingin menghampiri lelaki
muda itu. Namun, kaca jendela menghalanginya. Ia panik seperti orang hilang
akal.

"Tongga, Tongga!"

Lelaki muda itu tetap berdiri, diam, memandang lurus padanya.

"Sudah pulang kau. Sudah pulang kau, Tongga."

"Masuklah, masuklah! Ini masih rumahmu."

"Masuklah, Anakku!"

Ia menggapai-gapai kaca, tangannya yang tadi merasa dingin berubah kebas.
Tetap saja ia tak bisa menggapainya, kaca itu hanya memberikan kesempatan
untuk melihat. Dengan kakinya yang terpincang-pincang, ia berusaha berjalan
tergegas mencari pintu untuk keluar.

Saat pintu itu terbuka, udara dingin langsung menyerbunya. Ia serasa beku,
berdiri mematung, ditambah ia tak lagi mendapati kabut yang menyibak, jalan
dengan trotoarnya, dan gedung-gedung yang menjulang tinggi, semua telah
kembali seperti semula. Dan lelaki muda itu, ke mana lelaki muda itu? Ia
segera berlari terpincang-pincang menyibak kabut. Lelaki muda itu telah
ditelan kabut petang.

Kabut petang, kini ia merasa letih. Kakinya beku, tak mampu digerakkan. Ia
tersungkur di tengah kabut, di jalan yang lengang.
* * *

Matahari itu—dari balik kabut—lebur, membaur dengan kabut. Petang kian
dingin, seperti tatapannya yang sangat dingin. Ia harus menambah selapis
lagi baju dinginnya. Angin lembah mulai turun dari lereng pegunungan.
Menyerbunya. Ia tak juga ingin beranjak dari balik kaca jendela, walau di
luar kelam sudah mulai merambat.

Kelam. Ia menampik kelam. Saat ia berusaha keras membuka matanya, semua
telah tampak lain. Cahaya neon menimpa kornea matanya. Begitu terang,
menyilaukan. Dan ia telah terbaring begitu saja di ruangan yang serba
putih, dengan selimut yang menutupi separuh tubuhnya, juga dengan warna
putih. Kemudian di balik cahaya yang menyilaukan bayangan-bayangan hitam
mulai bermunculan. Bayangan hitam yang berbentuk orang mengikutinya dari
belakang. Ia dapat melihat orang-orang itu dari pantulan bayangan sabit yang
di genggamannya. Ada dua orang, keduanya berselimutkan sarung berusaha
menyembunyikan mukanya. Ia terus berjalan menyibak semak dengan sabitnya
seolah tak menyadari ia tengah diikuti. Namun orang-orang itu masih terus
mengikutinya, maka ia pun berniat untuk berbalik badan ke belakang. Baru
saja ia membalikkan separuh badannya sebuah linggis telah menghantam bagian
belakang kepalanya.

Dicobanya untuk mengangkat kepala, masih terasa berat. Ia terhuyung,
kepalanya jatuh kembali ke bantal. Dirabanya kepala, tak berasa kulit yang
tersentuh. Kepala itu penuh dibalut perban. Ia mengiris, bukan karena
kepalanya yang memar.

Tapi sejak itu ia tak pernah lagi bertemu dengan Tongga. Di kemudian hari
baru ia tahu, pemukulan itu usaha dari pihak keluarga ibu anaknya untuk
menculik Tongga. Sejak istrinya meninggal, saat melahirkan Tongga, sejak itu
pula keluarga istrinya meminta anaknya itu untuk diasuh oleh keluarga
istrinya. Mereka tak rela Tongga dibawa pergi keluar dari rumah itu.
Dibesarkannya Tongga sendiri, jauh dari keluarga ibunya. Dan tak
dipedulikannya hujatan yang menimpanya.

"Kau boleh pergi dari rumah ini, tapi jangan kaubawa Tongga!"

"Tanggung jawabmu memang tidak ada lagi di atas rumah ini. Tapi kau juga
tidak bertanggung jawab atas Tongga, itu tanggung jawab kami dari pihak
ibunya!"

"Tak kasihan dengan anakmu, kaubiarkan anakmu tak bersuku!"

"Nanti ia akan terlunta!"

"Lebih baik ia dengan keluarga ibunya, ia akan menjadi seorang anak yang
bermartabat, mempunyai kedudukan di masyarakat."

"Tak bisa kau seperti itu, karena adat di sini anak berada di pihak ibu!"

"Akan kaujadikan apa anakmu."

"Kau malah membunuh anakmu sendiri!"

Dan sekarang rasanya kepalanya berdenyut keras. Berputar, terus berputar.
Mendenging. Ia berusaha menutup kedua lubang telinganya, namun suara itu
terus menyesak. Membuatnya sesak. Akhirnya kepala itu kembali rebah di
bantal. Ia tak menyadari waktu terus melaju seperti hembusan angin yang
silih berganti, yang membuat matanya berat dan terpejam.

Ia rebahkan kepalanya di sandaran kursi. Entah pagi yang ke berapa,
tiba-tiba ia merindui pagi yang bersih tanpa kabut. Tapi tetap saja matahari
pagi yang semu kemerahan, malu-malu dari balik kabut—cahayanya merambat,
mencari celah menimpa kulitnya. Hangat terasa datang, walau dingin masih
menyelimuti. Kembali ia pandangi jalan depan rumah itu. Jalan yang masih
lengang. Namun lengang itu membawa ingatannya kembali, ingatan yang manis,
senyumnya mengembang.

"Ke mana kita, Yah?"

"Lihatlah arah timur sana! Kaulihat gunung yang separuh puncaknya tertutup
awan?"

"Ya."

"Kita akan tinggal di sana."

"Di balik awan itu, Yah?"

"Ya, tapi itu sebenarnya bukan awan, Tongga. Itu kabut yang turun karena
udara di sana dingin."

"Apakah ada kota di balik kabut itu, Yah?"

"Tidak ada kota di sana, hanya ladang-ladang yang luas. Dan Ayah akan
berladang di sana, kaunanti boleh bermain di ladang Ayah, bermainlah
sesukamu."

"Tante dan Om kenapa tidak ikut, Yah?"

"Tante dan Om hanya ada di kota, Anakku."

"Tapi Tongga takut, Yah."

"Kau tak perlu takut, nanti juga kau akan dapat teman di sana."

"Bukan itu, kata bu guru, gunung itu bisa meletus dan mengeluarkan api yang
panas seperti mulut naga. Tongga takut gunung itu nanti meletus."

"Kau tak perlu takut, Tongga!"

Dan bus itu terus melaju, mendaki, memasuki kabut.

Kabut itu terkuak diiringi bunyi rem yang mendecit dan raung bus dengan
kopling kosong. Tak lama bus itu muncul dan berhenti tepat di depan
rumahnya. Pagi tetap saja lengang. Sehingga kabut itu kembali menggumpal
setelah bus itu benar-benar tak bergerak lagi. Hanya bunyi deru mesin bus
yang terdengar memecah pagi.

Dan jauh di belakang bus itu, di balik kabut, samar-samar sebuah titik
percikan berwarna merah muncul dari puncak gunung yang menjulang di
hadapannya. Percikan itu tambah lama tambah terang. Terangnya menelan kabut.
Kemudian hilang. Kabut kembali bergumul. Tak lama, hujan debu turun, mencari
celah untuk lewat dari selimut kabut.

Kepundan itu jatuh ke dalam cangkir kopi paginya. Di antara sayup-sayup
hujan kepundan itu ia masih dapat melihat bus itu berdiri di ujung jalan
depan rumahnya. Samar-samar, seseorang turun dari bus itu.***

*Sungaitarok - Padang, 07 – 0801*

0 komentar: