Pada Satu Ibu

10 Juni 2009

Cerpen Dhe A. Sujana
Dimuat di Lampung Post 05/17/2009

AKHIRNYA, kamu menemukan bahwa ibu serupa dengan mama, bunda, umi dan, kamu
juga tahu setelah bermain ke rumah Joko, bahwa ibu bisa disebut mbok. Tapi,
ibu tak pernah bisa diganti dengan bapak, papa, papi, ayah. Bahkan, seusai
kamu berkunjung ke rumah Tante Susan, istri seorang lelaki yang selalu
tertawa kalau kamu panggil Om Barat, kamu paham kalau sebutan
*daddy*(sebagaimana kamu dengar ketika Shilla, sepupumu, memanggil Om
Barat) pun
tak bisa kau pakai untuk memanggil ibumu.

Jalan untuk memahami hal itu pertama kali terbuka di *teka* nol besar ketika
pelajaran bercerita sedang berlangsung.

"Hayo, siapa yang bisa jawab pertanyaan Ibu?" kata gurumu.

"Siapakah yang mengutuk Malin Kundang menjadi batu?" lanjutnya.

Ari cepat sekali mengacungkan jari. "Ibunya, Bu guru," ucap Ari lantang.

"Betul."

"Tapi Bu, yang mengutuk Malin Kundang itu bukan ibunya," sergahmu cepat.

"Lalu siapa?" ibu guru yang cantik itu mengeluarkan suara dengan lembut
sambil sedikit membungkukkan badannya.

"Mama Malin Kundang, Bu."

Aduh, kamu polos sekali saat itu.

Dan itulah kamu, kanak yang berdiri sambil berpegangan pada pinggiran meja
makan. Ibumu yang duduk, sibuk memotong bayam, itu lama-kelamaan merasa
jengah terus diperhatikan olehmu. "Ada apa? Kok diam saja?" katanya
perlahan. "Mending bantu mama *beresin* ini," lanjutnya sambil menunjuk ke
arah meja makan yang jadi semerawut karena sisa potongan bayam ada di
sana-sini.

Kamu, walau terlihat malas, segera mengambil batang-batang bayam itu dan
memasukkannya ke kantung plastik. "Kamu tidur siang saja," ibumu berkata
sambil tersenyum (dia seolah sangat paham perasaanmu yang malas membantunya
itu). "*Gak ngantuk*, Ma."

Kamu memang sedang tak mengantuk karena pikiranmu tengah mengelana. Kamu
sedang bingung karena tak mengerti satu jalan yang bisa dipakai untuk
memampatkan pikiranmu agar bisa mengeluarkannya dengan mudah.

"Kamu kenapa sih?" kali kedua ibumu bertanya. Kamu ingin menjawab. Tapi kamu
tetap memilih diam karena masih belum menemukan jalan yang bisa mengeluarkan
semua pikiran yang karut-marut di otakmu secara teratur. Padahal, seorang
bijak yang melihat adegan ini akan berkata; "Tumpahkan segala hal yang kau
pikirkan, biarkan tercecer ke mana-mana. Orang yang kau ajak bicara pasti
akan berusaha merapikannya."

"Kamu lagi kepikiran apa? *Ngomong* saja. Jangan kolokan dong," ibumu
tampaknya kian penasaran. Kini ia sampai berhenti mengulek bumbu untuk
memasak bayam itu.

Lihatlah, kamu mulai berani bicara. "Ma, ehmm...tapi jangan marah ya kalau
ditanya."

"Ya," kata ibumu sambil menyeka keningnya. Kemudian kembali mengulek.

"Ehmm...kenapa sih, kok saya memanggil mama dengan sebutan mama?"

"Heee...maksudnya?" ibumu berhenti mengulek lagi. Ia mengernyitkan dahi.

"Iya, kok enggak dipanggil ibu atau mami saja. Tadinya, saya pikir ibu itu
beda dengan mama. Ibu untuk panggil bu guru saja dan Ibu Kartini, kayak
diajarin di sekolah. Tapi, kemaren ibu guru bilang kalau ibu dan mama sama
saja. Mana yang betul, Ma?"

"Hehe...Bu guru betul," jawab ibumu sambil mengelapkan kedua telapak tangan
ke celemek merah yang terikat di pinggangnya. Ia kemudian melangkah
mendekatimu yang duduk di bangku plastik kecil berukiran Donal Bebek.

"Kalau *gitu*, kenapa saya enggak pakai ibu saja buat memanggil mama."

"Yaaa...karena...," ibumu membelai kepalamu dengan perlahan. "Kamu anak
Mama..." Kemudian ia berjongkok untuk memelukmu.

Jawaban itu begitu singkat (dan kamu tentu tak menduga akan mendapatkan
jawaban seperti itu). Namun, pelukan ibumu yang erat dan hangat itu membuat
jawaban itu terasa padat. Bahkan menancap di hatimu dengan tepat.

"Kenapa? Kamu malu ya kalau panggil mama pakai kata mama?"

Kini ibumu menempelkan kedua telapak tangannya ke pipimu dengan lembut.

"Enggak kok, Ma. Cuma *pengen* tahu saja," jawabmu sambil mengarahkan
pandangan ke bawah.

Ada perasaan malu, namun kelegaan justru menguasaimu.

"Ma," ucapmu sambil menengadahkan kepala dengan cepat agar bisa melihat mata
ibumu. "Kita makan bayam, biar kayak Popeye, ya?"

Nama tokoh kartun itu kamu ucapkan sesuai dengan tulisan yang tertera di
televisi.

"Hehe...bukan, Sayang," ibumu berdiri untuk kembali mengulek bumbu. "Bayam
itu bikin sehat."

"Tapi, Ma, Popeye enggak makan bayam. Dia itu minum bayam."

Ibumu mengambil wadah plastik warna hijau yang sudah berisi potongan daun
bayam, kemudian meletakkannya di bawah kran air di tempat mencuci piring.

"Itu kan kalau di *tivi*," kata ibumu sambil mencuci dedaunan bayam. "Bayam
itu lebih baik dimakan. Habis makan, baru minum air. Begitu yang benar."

Tak ada gambaran bosan di wajah ibumu, padahal pertanyaan-pertanyaanmu
sangat menjemukan, bukan?

***

Hey, lihatlah, ada kanak memakai seragam dengan atasan putih dan berbawahan
merah. Badannya kian tinggi pula. Kamulah kanak itu.

Ibu yang kamu kenal makin banyak pula. Pemilik warung tempatmu membeli es
krim, kamu sebut dengan panggilan ibu. Demikian jua para guru perempuan yang
ada di sekolahmu.

Tapi, kamu pasti tak mengetahui kalau Amin, temanmu ketika berada di kelas
empat *es-de*, kerap mendapatkan jawaban berupa tamparan di pipi setiap
bertanya kepada ibunya. Konon, menurut kabar yang berkembang di kalangan
tetangga, ibu itu stres karena suaminya lari untuk bisa kawin dengan gadis.

O, coba perhatikan baik-baik, kanak itu sudah duduk di bangku kelas tiga *
es-em-pe*.

"Bu, kenapa hitungan harus dimulai pada angka satu?" katamu usai
mengacungkan jari. Perasaanmu lega bukan kepalang; pertanyaan itu sudah kau
pendam sejak *es-de*, entah di kelas berapa tepatnya.

"Pertanyaan macam apa itu?" kata guru yang ada di kelas itu. Padahal
sebelumnya, guru itu memberi kesempatan kepada para murid untuk mengajukan
pertanyaan.

"Sudah, yang lain saja. Saya malas menjawabnya. Cobalah, bertanya itu yang
cerdas sedikit," lanjutnya sinis.

Demikiankah cara guru itu saat menjawab pertanyaan serupa yang diajukan oleh
anak kandungnya?

Tentu saja, kamu tak tahu. Sebab semenjak itu, kamu hanya tahu bahwa belajar
di sekolah berarti duduk, diam-mendengarkan, dan menanyakan sesuatu yang
sebenarnya sudah dijelaskan oleh guru.

***

"Tapi kamu masih mending karena hanya beroleh dampratan dari guru itu," kata
Santi, temanmu satu *es-em-a*, usai kamu ceritakan kejadian di masa *
es-em-pe* itu.

"Di *es-em-peku*, banyak yang dipukul kakinya dengan rotan hanya karena
tidak pakai sepatu warna hitam."

"Ah masa sih," ucap Husen tak percaya.

"Ya. Malah si Romi sampai bengkak kakinya. Ngeri banget deh pokoknya. Untung
aku dibelikan sepatu Warior oleh ibu."

"Kok bisa, cuma Romi yang dipukul sampai bengkak?" akhirnya keluar juga
suaramu.

"Waktu itu, sehabis diadakan razia sepatu, murid yang tak pakai sepatu hitam
dijejerkan di tengah lapangan untuk disabet rotan oleh wakil kepala sekolah,
Romi bilang, "Apa salah pakai sepatu ini, Pak? Kan yang penting pakai sepatu
kalau ke sekolah." Eh, wakil kepala sekolah malah makin marah. Romi
diteriakin kurang ajar sambil dipukul berkali-kali."

"Kasihan, ya," ucapan itu hampir serempak berbunyi.

Husen, Santi, Iwan, dan kamu lantas mengisahkan peristiwa-peristiwa sejenis
yang pernah terjadi di sekolah masing-masing sambil terus melangkahkan kaki
menuju Texas College, tempat kursus bahasa Inggris. Iwan bercerita bahwa ia
pernah mendapat nilai lima untuk pelajaran Matematika. Dan guru yang
mengampu mata pelajaran itu malah berkata begini kepada Iwan: "Makanya Wan,
ikut les di rumah Bapak biar kau dapat nilai bagus."

Kamu hanya perlahan tapi pasti, menyadari bahwa hidupmu kian teratur. Bangun
pagi, mandi, membersihkan rumah, lantas ke sekolah. Kemudian pulang,
membantu ibu, bermain dengan teman-temanmu, belajar di malam hari dan tidur.
Itu rutinitasmu sampai seragam *es-em-a* yang kamu pakai dicorat-coret;
tanda kamu selesai sekolah (yang berarti kamu dihadapkan pada pilihan: kerja
atau kuliah).

Hidup yang teratur itu membuatmu paham satu hal saja. Keteraturan hanya akan
menabukan keluarnya pertanyaan-pertanyaan yang remeh.

***

Wow, perhatikanlah orang dewasa yang melangkah tergesa di jalanan itu.
Bahagiakah orang yang ketika berjalan tak sempat melihat keadaan sekitar?
Kamu tentu tak tahu. Namun, kamulah orang dewasa itu.

Duniamu penat, tak lagi hangat. Tapi hidup terus berjalan; jentera tak bisa
dicegah untuk terus berpindah. Keteraturan membuatmu seringkali hilang
kesabaran. Kini, kamu tak segan membentak orang-orang yang kamu anggap tak
sejalan denganmu.

Bagimu, sekarang, hidup yang berarti ialah menjalani hal-hal besar dan
meninggalkan segala sesuatu yang kecil, yang remeh.

O, lihatlah dirimu yang sudah tak polos lagi. Kamu memang telah berwarna,
dan hanya ada satu warna pada dirimu. Maka wajar saja kalau Sandra, temanmu
satu organisasi kemahasiswaan, menjulukimu "manusia paling tega". Kamu punya
alasan: "Hidup itu gampang saja, San. Mereka ikut kita atau sebaliknya.
Tapi, sekarang kan kita punya kuasa. Sah dong kalau kita memaksa mereka
untuk manut ke kita."

Kamu memang bukan Malin Kundang. Tapi kamu telah serupa batu walau ibu tak
mengutukmu. Semua ini terjadi, karena kamu mungkin sudah sangat lupa pada
satu kesabaran yang maha sabar, ketangguhan yang paling tangguh, dan
kelembutan yang mengalahkan sutra. Pikiranmu tak pernah lagi mengelana pada
satu ibu yang kamu kenal di masa kecilmu. ***

Seputaran Gumuk Kerang, 2008

0 komentar: