Eddy Pranata PNP
Dalam sunyi dalam diam malam
Tubuh rentaku melayang
Mencari kemilau cahaya yang jauh
Cahaya yang bersemayam di puncang jurang
Tempat segala kebaikan segala keagungan
Menyepuh diri; menjelma sungai yang bening
Tempat aku membasuh luka
Tempat aku melepas dahaga
Biar musnah rintih ini, perih ini
Dalam zikir, zikir…
Laillahailallah laillahailallah
Laillahailallah laillahailallah
Laillahailallah
Tubuh rentaku luruh di atas sajadah
Telingaku mendenging: seruling siapakah melengking
Mengiris-iris jiwa ini
Jiwa yang rapuh bergeronggang onak duri
Terkapar di bukit debu. o
Aku memang hanya debu
Aku memang hanya onak dan duri
Ampun Ya Allah!
Lihatlah debu, onak dan duri tersungkur merangkak menggapai
AmpunMu
Berhari-hari, bertahun-tahun rintih perih ini menderu
Kenikmatan ketenangan dalam bening air
Mengalir sepanjang diamMu
Aku ingin bermandikan cahaya
Sampai di balik kubur
Tapi tapak kaki ini mengapa gemetar?
Adakah daki yang belum tersingkirkan
Ataukah maut memang enggan berbagi dengan sunyi
Sunyi yang mencekam sepanjang malam
Di bawah rentang tangan gaibMu
Lalu, lihatlah dinding jiwa ini pun menganga
Memuntahkan doa-doa
Melesat tak sampai-sampai ke puncak cahaya
Aku memang hanya debu
Aku memang hanya onak dan duri
Ampun ya Allah!
Jiwa yang kosong
Runtuh dalam rintih…
O! tubuh rentaku terkapar di bawah kubah:
Gemerincing langkah siapakah menderu-dering
Mendebarkan; makhluk asing bermahkota cahaya
Menerabas semak-belukar dada manusia
Mengunyah serat kitab yang tercecer
Dari kemilau surau tak berpintu tak berjendela
Zikir yang gerimis
Memelihara keharmonisan sunyi dengan ratap
Dingin berpendar dalam gelap
Dalam tatapan nanar merindu ruh rahmat
Keheningan rumah di bawahnya mengalir sungai bening
Maha Suci Allah!
Di bawah kubah ada keramik diri yang pecah
Di lereng bukit yang jauh mahkota cahaya memercik
Menerpa ceruk kampung dengan gema yang pedih
O! tasbihku berderai di atas sajadah
Berderai lalu bergulir menjelma mahkota bercahaya
Tak ada kata-kata
Hanya lengang yang pedih
Merangsek dalam ruang dan waktu yang maya
Kelahiran sesudah kematian
O! siapakah berjalan terhuyung bermahkotakan cahaya?
Tiba-tiba aku menjelma burung tersunyi
Mengepakkan sayap dengan jantung terbelah
Melayang tinggi, tinggi, lalu menukik
Berputar-putar di atas runcing kubah!
Tak ada kata-kata
Tak ada puisi
Yang ada hanya suara: maha suci Allah...
Maha Suci Allah, Maha Suci Allah, Maha Suci Allah
Maha Suci Allah, Maha Suci Allah, Maha Suci Allah
Allah!
Cilacap, Oktober 2005.
*) Dibacakan pada acara "Pentas Puisi buat Amal" –rehab sebuah
mushalla, dibacakan di aula Dinas Pendidikan Gumelar, BMS, Desember
2005.


0 komentar:
Posting Komentar