Sepasang Mata yang Indah

03 Juni 2009

Cerpen Sunaryono Basuki Ks
Dimuat di Suara Karya 05/23/2009


Merasa prihatin atas ditutupnya sebuah lembar sastra koran Jakarta menyusul
penutupan lembar yang sama oleh koran lain setahun sebelumnya, lelaki itu
mengirim sms kepada Mas Yanto yang juga redaktur sebuah lembar sastra. Dia
katakan, kalau semua lembar sastra harus menyingkir ke internet maka akan
lebih banyak orang yang memenuhi ruang praktek dokter mata. Dengan puitis
Mas Yanto menjawab; "karenanya banyak orang yang menyembunyikan sepasang
mata indahnya."

Sepasang mata yang indah merujuk pada mata seorang gadis, seorang perempuan,
padahal yang berada di benaknya, para pembaca sastra di internet adalah
lelaki, dan alangkah janggalnya kalau seorang lelaki mempunyai sepasang mata
yang indah. Itu menurutnya, tetapi ketika dia bertemu Kikin, seorang gadis
lembut dan mengatakan mengenai hal itu, dia bercerita bahwa dia telah jatuh
cinta pada seorang lelaki lantaran lelaki itu punya sepasang mata yang
indah. Dia tersadar bahwa sepasang mata yang indah bebas seks, bisa dipunyai
perempuan dan lelaki. Kikin bisa punya mata yang indah, tetapi Wira bisa
juga punya sepasang mata yang indah, demikian pula Rey, Madi dan
kawan-kawannya semua. Ternyata kepemilikan sepasang mata yang indah dapat
diperluas menjadi mata binatang: seekor kijang kencana dengan sepasang mata
yang indah, sepasang monyet dengan mata yang indah, atau bahkan capung bisa
mempunyai sepasang mata yang indah?

Dia merasa mengada-ada soal sepasang mata yang indah gara-gara digulungnya
dua buah lembar sastra koran. Koran pertama tak lagi diikutkan dalam seleksi
karya untuk Anugerah Pena Kencana, namun ya tentu saja tak bisa masuk sebab
tak ada karya yang ditampilkan untuk diseleksi dalam kompetisi Anugerah Pena
Kencana. Tahun lalu mereka memilih 20 cerpen dan 100 puisi untuk dipilih
oleh pembaca dengan cara mengirimkan sms dengan mencantumkan kode yang
tertera dalam buku. Dia sendiri sudah mencoba mengirim pilihannya tiga kali
tetapi semua gagal dan untuk itu dia kena potong pulsa tiga kali dua ribu
karenanya dia tak mau lagi mencoba ikut memilih dan melepaskan kesempatan
untuk ikut mendapat hadiah puluhan juta. Rugi juga.

Sepasang mata yang indah, demikian pentingkah? Pacarnya dulu mengatakan
bahwa lelaki dapat dinilai dari matanya, bisa dipercaya atau tidak. Lalu dia
menilai seorang dosen lelaki mereka yang menurutnya tidak dapat dipercaya
hanya dari sorot matanya. Lelaki itu kenal baik dengan dosen tersebut sebab
dia pernah menjadi asistennya, kenal keluarganya, istri dan kedua anaknya.
Bahkan puterinya yang belum lagi duduk di bangku TK sering dia ajak
berjalan-jalan.

Setahunya, dia lelaki yang baik, setia pada istrinya, dan dengan dia atau di
depannya tak pernah membicarakan perempuan lain. Tapi entahlah,
pengetahuannya tentang mata seseorang kurang mendalam walau dia pernah
menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi UI sekelas dengan Hok Djin serta
Indriati yang bintang film cantik, dan adik kelas Gunawan. Dia malahan belum
pernah mendapat kuliah soal mata atau membaca buku referensi tentang mata,
yang mungkin ada dan mungkin juga tidak ada. Jadi dia juga tak tahu apakah
seorang perempuan dengan sepasang mata yang indah juga mempunyai hati yang
indah dan kesetiaan yang indah.

***

Lalu aku teringat seorang perempuan yang untuk menjaga kehormatannya maka
namanya harus kurahasiakan. Gadis itu tinggi jenjang, rambutnya ikal,
mulutnya mekar bibirnya selalu merah merekah dan dia mempunyai sepasang mata
yang indah. Kulit tangan dan kakinya halus lembut walau aku belum pernah
mengelusnya, dan gerak geriknya juga lemah gemulai. Beberapa kali dia
memenangkan lomba Puteri Kampus, Puteri Bunga, Puteri Salju dan
puteri-puteri yang lain. Dari sederet gelar itu kami tak boleh meragukan
lagi bahwa dia memang gadis cantik. Semua lelaki menginginkan dia sebagai
pacarnya, sebagai calon istrinya, bahkan beberapa om-om yang menjadi
anggauta juri lomba-lomba itu menginginkan dia sebagai istri simpanan atau
istri kedua.

Teman-temanku dosen sesama dosen muda mengatakan bahwa aku sering menjadi
incaran para mahasiswi, dan bahkan bekas dosenku yang perempuan juga
memujiku sebagai dosen muda yang cakep sementara aku sendiri tak pernah
menyadari bahwa aku punya tampang yang dapat diandalkan untuk ikut main
sinetron laris. Dan sebagai lelaki normal aku juga melirik Puteri Salju ini
yang selalu mengumbar senyum di depanku.

Pada suatu hari aku memanggilnya ke kantor, mengajaknya ngobrol
kesana-kemari untuk menjajaki rahasia percintaannya. Menurut pengakuannya
dia tidak punya pacar, padahal dari teman-temannya aku dengar dia punya
beberapa orang pacar, entah siapa yang benar. Saat pada suatu kali aku tanya
langsung apakah dia pacar Ari Wijaya, dia membantah. Kali lain, saat aku
tanya apakah dia pacar Arya Lawa, dia malahan membantah keras padahal Arya
dikenal sebagai mahasiswa berprestasi, IP kumulatifnya nyaris 4 dan dia
dikenal punya sebagai kutu buku sampai dia mengenakan kaca mata tebal.

Lalu dengan nekad aku tanya, apakah dia mau pacaran denganku, dia dengan
senyum mekarnya menyembunyikan sepasang mata indahnya. Ketika dia kupeluk di
belakang pintu tertutup dia menyerah saja, dan ketika kucium pipinya dia
juga diam saja, sedangkan sepasang mata indahnya berbinar-binar bagai
sepasang kunang-kunang. Lalu aku lebih nekad dan mencoba mencium bibirnya
namun dia mengelak dengan desah 'ah bapak'. Sebagai lelaki muda yang cukup
berpengalaman aku tak menyerah. Aku sudah menaklukkan Ayu, sudah menaklukkan
Lisa, sudah menaklukkan Maria saat aku menjadi mahasiswa dan sekarang aku
sudah menjadi dosen selama lima tahun dan masih belum menemukan jodohku.

Barangkali gadis ini yang akan menjadi istriku, pendampingku, dan akan
memberiku anak-anak dan juga cucu. Cucu? Jauh sekali. Mungkin kalau aku
sudah pensiun aku akan punya cucu. Tetapi, kutengok dosen seniorku. Pak Prof
Dr.Ketut Seken, MA sudah punya beberapa orang cucu dan beliau belum pensiun.
Prof Drs. I Dewa Komang Tantra, MSc, Phd yang kelihatan masih muda juga
sudah punya beberapa orang cucu. Kukira dia belum lagi berusia enam puluh
tahun dan kata dosenku, dulu beliau menjadi mahasiswa Pak Seken.

Boleh juga aku memikirkan cucu sebelum aku pensiun. Mungkin kelak aku mampu
memperoleh gelar doktor dan karenanya boleh menjadi guru besar. Tetapi,
siapakah nenek cucuku? Apakah gadis dengan sepasang mata indah yang sekarang
berada dalam pelukanku? Yang kemudian menyerahkan sepasang bibirnya yang
merekah padaku? Satu detik, lima detik, sampai satu menit?

Ketika dia mengusap bibirnya yang basah dengan tissue, aku mengucapkan
terimakasih dan dia hanya tersenyum menggoda sekali disertai sepasang mata
yang indah yang berbinar-binar sekarang seperti air sungai yang ditimpa
cahaya matahari.

Celakanya dekapan dan ciuman di balik pintu itu terjadi berkali-kali,
terutama saat-saat menjelang tentamen mata kuliahku. Dan saat pemberian
nilai akhir, dengan sepasang mata indahnya dia menggelar senyum mekar dan
akhirnya mengusap bibirya dengan tissue dan mendapat ucapan terimakasih.

Aku bingung menghadapi kertas tentamennya: tes tengah semester, tes akhir
semester dan juga paper akhir semester. Papernya memang tebal tetapi aku
curiga paper itu hanya modifikasi dari paper yang dibuat Arya Lawa yang
bahasa Inggrisnya bagus tetapi disana-sini diubah kata-katanya. Celakanya
lagi, ternyata kertas pekerjaan tes tengah semester dan akhir semester hanya
berisi potongan-potongan ide yang tak lengkap, dan mengejutkan, di halaman
terakhir yang tersembunyi, terdapat sebuah cap bibir. Ketika dia kupanggil
untuk mempertanggung jawabkannya, dia hanya menggelar senyum mekar dan
sepasang mata indahnya.

"Bagaimana aku harus memberimu nilai?" tanyaku.
Bukan kata-kata yang kudapat tetapi tangannya yang merengkuh kepalaku dan
bibirnya yang mencari punyaku. Aku tergagap tak bisa berkutik.

"Terimakasih," bisiknya setelah melap bibirnya dengan tissue.
Dan itulah yang terakhir, dia tak lagi pernah muncul di ruang kerjaku,
membawa tissue dan mengumbar senyum dan sepasang mata indahnya. Setelah
wisuda, dia langsung mengirim undangan pernikahannya dengan dokter Gede
Sutamaya yang sudah punya ruang praktek di ujung Jalan A Yani. Ah, aku baru
ingat bahwa dia pernah sakit dan mengatakan pergi ke dokter Gede.

***

Lelaki itu bingung di depan komputernya, membaca ulang apa yang dia telah
tulis, dan memperbaiki kalimatnya di sana-sini.

"Aku benar-benar tak tahu rahasia sepasang mata yang indah," bisiknya.***

@ Singaraja 13-14 Januari 2009

0 komentar: