Cerpen Rama Dira J
Dimuat di Lampung post 06/14/2009
Menjelang tengah hari, kala merambang-rambang di sekitar belukar mawar
yang ada di kaki bukit itu, saya melihat lagi si anak gadis yang suka
bermain-main dengan angin.
Dulu, anak gadis ini pernah saya jumpai dalam sekali peristiwa.
Sebenarnya, waktu itu, bukan saya yang ingin menjumpainya. Saya tak
mengenalnya secara pribadi. Saya hanya menyertai seorang bocah lelaki.
Dialah yang mengenal si gadis dan memiliki keinginan tak tertahankan
untuk segera berjumpa dengannya.
Kini, saya lihat anak gadis itu hanya sendiri sebagaimana kemarin,
sebagaimana hari-hari sebelumnya lagi, dalam satu bulan ini. Ia duduk
bersenandung, sambil sesekali berbisik manja pada angin yang
menggoyang-goyangkan mawar dalam belukar warna warni di sampingnya.
Anak gadis ini tak pernah lagi mengenakan seragam putih birunya.
Sesiang ini, semestinya, ia masih berada dalam salah satu ruang kelas
pada sekolah yang ada di balik bukit.
Jelas terbaca, anak gadis ini sudah begitu akrab dengan angin.
Keakraban itu bisa terjelma dari senandung lirihnya dalam bahasa suara
yang menimbulkan rasa girang yang dibalas oleh angin dengan memberikan
embusan-embusan yang lembut menyejukkan menimpa tubuh si gadis dan
membuatnya tertawa riang seketika, sehingga tak salah jika ia kemudian
menjadi betah berlama-lama, memanjakan diri, sampai senja.
Memang, gadis ini sepenuhnya telah menjadi gila. Ia tak lagi
memedulikan siapa-siapa. Ia tak lagi mau berteman, juga tak mau lagi
menyapa kakek dan neneknya di rumah. Hanya anginlah yang kemudian
diperlakukannya sebagai kawan, yang menurutnya bisa mendengarkan
kisahnya, menyimak kesepiannya lewat dengung lirih menyedihkan yang
keluar dari bibirnya begitu saja, terdengar seolah-olah sebagai
isyarat keriangan.
Sebelum si gadis gila, ada seorang bocah lelaki yang mencintainya
dengan begitu tulus. Bocah inilah yang saya sertai kala ia berencana
mengutarakan perasaan cintanya kepada si gadis sebulan yang lalu.
Bocah ini, sudah lama putus sekolah. Umurnya sekitar tujuh belas
tahun. Namanya Ompong. Bisa dibilang, Ompong adalah preman
kecil-kecilan yang sering mangkal di warung pojok sekolah milik Bu
Jumpyang. Sehari-hari, tak ada lain, kerjanya adalah meminta uang atau
makanan pada murid-murid sekolah yang ada di sebalik bukit ini. Tak
ada yang berani melawannya tentu, sebab ia menang usia selain
tergabung dengan gerombolan Cangkul Hitam, perkumpulan preman yang
paling ditakuti.
Singkat kisah, si Ompong jatuh cinta pada pandangan pertama dengan si
gadis yang ada di hadapan saya ini. Waktu si gadis melintas di
depannya, dalam sekali pandang, si Ompong terperangkap sihir
kecantikan si gadis yang kabarnya adalah murid baru, pindah dari Ibu
Kota setelah ayah dan ibunya meninggal dunia dalam suatu kecelakaan
pesawat terbang. Sebagai anak tunggal, tentunya ia menjadi sendiri di
Ibu Kota. Demi mengakhiri kesendiriannya itulah, ia mengamini ajakan
nenek dan kakeknya untuk tinggal bersama di distrik ini, yang letaknya
sekitar seratus lima puluh kilometer dari Ibu Kota.
Semenjak pandangan pertama itulah si Ompong kemudian melakukan aksi
demi aksi dalam perjuangan untuk mendapatkan cinta si gadis. Dalam
hari-hari yang dipenuhi perasaan cinta, si Ompong tak pernah absen
mendatangi sekolah itu. Ia mengubah kebiasaannya dengan datang lebih
pagi sebelum penjaga sekolah datang, dengan mengenakan pakaian
terbaiknya, jenis kemeja lengan panjang yang ketat membungkus tubuh
kurusnya beserta celana panjang berujung lebar warisan dari ayahnya,
tak ketinggalan sepatu kulit buaya yang lancip pada bagian ujungnya.
Dalam keadaan demikian, tak diragukan lagi, ia berpenampilan seperti
seseorang yang berasal dari masa lalu. Meski demikian, tak akan ada
yang berani memberikan penilaian mengenai itu, apalagi sampai
mengejeknya sebab bagaimanapun, ia masih memiliki pesona seorang
preman.
Pada kenyataannya, si Ompong memang sudah bertekad untuk melakukan
perubahan yang revolusioner pada dirinya. Ini semua ia lakukan sebagai
bagian dari perjuangan untuk menundukkan hati si gadis. Berdasarkan
bisik-bisik gosip yang ia dengar, si gadis bukan berasal dari keluarga
yang sembarangan. Dia adalah cucu juragan tembakau paling kaya di
kawasan distrik itu. Berdasakan hal itulah si Ompong dengan sadar
berusaha menyihir dirinya berpenampilan seperti tadi, yang menurutnya
sudah pantas disetarakan dengan orang-orang yang berada di kelas
sosial dimana si gadis berada. Setelah itu, ia mulai mencoba untuk
memperbaiki perilaku dan sikapnya yang kemudian berujung pada
keputusan : ia berhenti menjadi preman. Ia ingin berubah menjadi bocah
baik-baik.
Pada kenyataannya, memang, si Ompong memiliki cinta yang benar-benar
tulus kepada si gadis. Semenjak si gadis dengan tangan terbuka mau
berkenalan dan sudi menerima dirinya sebagai teman baru, semenjak si
gadis selalu memberikan sekuntum senyum yang bisa mendebarkan hatinya
jika mereka berpapasan setelah perkenalan itu, semenjak itulah si
Ompong benar-benar menjadi lelaki yang berubah, sebagai lelaki yang
mau melakukan apa saja demi seorang gadis, tak seperti yang pernah
terjadi sebelum-sebelumnya dimana dia menjalin hubungan dengan
beberapa gadis yang hanya dilatarbelakangi oleh keinginan untuk
memanfaatkan mereka. Sungguh perasaan cinta tulus yang ada membuat si
Ompong tak memiliki niat buruk apa pun terhadap si gadis, kecuali
mencintainya.
Sampai pada suatu ketika, si Ompong tak lagi bisa terus menahan
perasaan cintanya itu. Ia ingin segera mengutarakannya kepada si
gadis. Dan siang itu juga, seusai bel bubaran, ia menanti si gadis di
gerbang sekolah, masih dengan penampilan zaman dulunya, mengadang si
gadis untuk ia beri mawar.
Karena rumah mereka searah, si gadis tak keberatan ketika si Ompong
mengajukan usul untuk berjalan pulang bersama. Dalam perjalanan pulang
itulah, si Ompong dengan laku kaku dan agak kesulitan dalam
mengutarakan kata, melontarkan pernyataan: "Aku mencintaimu gadis,
sudilah kiranya kau menjadi pendamping hidupku sampai mati sebab cinta
yang kumiliki untukmu begitu tulusnya."
Tak pelak lagi, si gadis sangat terkejut mendapatkan kenyataan yang
tak pernah ia sangka itu. Ia tak mengira semenjak awal, apa yang
dilakukan oleh si Ompong padanya selama ini adalah tanda-tanda rasa
cinta yang tak lagi terbendungkan.
Ia berpikir sebentar. Bagaimanapun, ia tak bisa menerima cinta si
Ompong atau cinta siapa pun juga dalam waktu ini, sebab ia masih
berduka setelah kehilangan ayah dan ibunya. Akhirnya, secara bijak, ia
mengutarakan pada si Ompong bahwa ia berterima kasih atas segenap
perhatian yang telah dicurahkan si Ompong kepadanya. Namun, sampai
seumuran itu, ia belum memikirkan masalah hubungan cinta. Mendengar
itu, si Ompong merasakan kekecewaan yang teramat. Pada titik ini, saya
belum memengaruhi si Ompong, meski sesungguhnya saya sudah bersamanya
semenjak ia berada di gerbang sekolah tadi. Sampai pada ketika mereka
mencapai tempat yang benar-benar sepi, yakni di sekitar belukar mawar
ini, barulah saya meniupkan serbuk amarah pada gumpalan hati si Ompong
hingga kemudian membuat hati itu buta, menghitam seluruhnya.
Dan, apa yang saya lakukan itu tak sia-sia. Segenap cinta bersih dan
tulus yang sempat lekat pada hati si Ompong, lenyap seketika itu juga.
Tak membuang peluang, si Ompong langsung menarik paksa tangan kurus
putih milik si gadis, yang langsung saja meronta-ronta menunjukkan
penolakan, setelah membaca adanya gelagat jahat si Ompong yang
seterusnya, dengan segenap kekuatannya memaksa si gadis masuk ke dalam
belukar mawar. Meski si gadis mengeluarkan semua kekuatan beserta
teriakan yang bercampur tangisan untuk meminta pertolongan, tetap saja
kekuatan si Ompong tak terkalahkan.
Di siang menjelang petang yang senyap itulah saya menjadi satu-satunya
saksi tindak pemerkosaan itu. Saya lihat kelopak-kelopak mawar di
sekitar mereka berguguran meski tak ada angin. Juga, duri-duri dari
batang mawar membuat banyak goresan luka pada sekujur badan si gadis.
Meski saya tak terlihat, saya justru bisa menyaksikan dengan sangat
jelas apa yang terjadi waktu itu hingga saya langsung merayakan
keberhasilan upaya saya dalam mengubah cinta menjadi benci, menggiring
kembali si Ompong sebagai dirinya, bocah jahat yang bisa menggoreskan
derita luka pada seorang gadis.
Sungguh, saya sangat menyukai si Ompong. Sebagaimana sebelumnya, ia
adalah bocah rapuh yang dengan mudah bisa disulap untuk berbuat tindak
kejahatan. Tak akan saya lepaskan ia, jika mencoba-coba untuk menjadi
baik, apalagi sampai mencoba menjayakan cinta. Tak akan pernah, sebab
inilah saya, si iblis yang suka menjerumuskan anak Adam yang lengah.
Kini, matahari tak lagi berada tepat di tengah langit. Sementara si
gadis semakin girang mendendangkan kesedihannya bersama angin, saya
justru memutuskan untuk segera meninggalkan kaki bukit ini. Biarlah ia
di sana, saya tak akan mengganggunya lagi. Sekali peristiwa sebulan
yang lalu itu sudah cukup bisa menghancurkan hidup dan masa depannya,
sudah cukup berhasil membuatnya menjadi gila. Tak perlu saya berbuat
yang lain.***


0 komentar:
Posting Komentar