Cerpen Widzar Al-Ghifary
Dimuat di Pikiran Rakyat 06/14/2009
Seperti biasa, seseorang terbangun di sebuah pagi, menyeduh kopi,
menyalakan rokok, lantas duduk di beranda. Menunggu tukang koran
datang. Dia, seseorang itu, seperti paham, tak ada lagi yang bisa
dirayakan dari sebuah pagi. Segalanya telah menjadi rutinitas yang
melulu itu-itu juga. Seseorang itu, dia hanya menjalani hari-harinya
dengan kesadaran seorang manusia pada umumnya. Dia tahu, sesungguhnya
pagi hanya mengantarkan seseorang pada wilayah yang lain, menuju
siang, menuju sesuatu yang asing.
Seseorang itu menyadari, hanya malam yang mampu membawa dia pada
sesuatu yang sesungguhnya, pada dunia yang sebenarnya, pada fase-fase
yang mungkin dianggap sesuatu yang aneh oleh orang yang memandangnya,
di luar sana, di luar pintu rumahnya.
Seseorang itu kini tengah membuka halaman koran, setelah tukang koran
datang, tanpa kata, memberikannya selembar koran dengan wajah yang
kemarin juga; tanpa ekspresi kebahagiaan atau kesedihan. Halaman
pertama, seseorang itu melewatkannya. Kedua, ketiga, keempat, kelima,
keenam, seseorang itu berhenti pada halaman tujuh. Sebuah berita
kematian. Seorang perempuan muda baru saja meninggal, dengan leher
tergorok, dengan wajah yang sudah tak dikenali lagi.
Seseorang yang tengah membuka halaman tujuh itu, menarik nafas
panjang, menghembuskannya beserta asap rokok, lepas ke udara.
Seseorang itu merasa, hidup kini tak lagi punya harga. Orang bisa
membunuh siapa saja, dengan alasan apa saja, dengan keyakinan yang
mungkin tak lagi diyakininya. Ah, sudahlah, seseorang itu tiba-tiba
melempar koran ke pojok beranda, seolah ingin melempar segala
persoalan, membuangnya jauh-jauh. Tapi tak ada yang bisa dibuang
selain rokok yang telah jadi puntung, bukan? Bisiknya dalam hati.
Seseorang itu beranjak dari beranda. Memasuki ruang depan, menyalakan
televisi, tapi lantas memasuki kamar, membiarkan televisi berbicara
sendirian. Di kamar, seseorang tersebut menjatuhkan dirinya ke tempat
tidur, memejamkan mata, tapi bukan tidur. Dalam kepalanya sebuah
cerita yang lain tengah bermain. Tanpa sutradara, tanpa penulis
skenario, tapi tokoh-tokohnya seolah paham betul apa yang
dilakukannya.
Sebuah cafe. Toni nama lelaki itu, rambutnya ikal tergerai, dengan
jeans biru, kaos hitam, sandal jepit, duduk di hadapan seorang
perempuan. Gina nama perempuan itu, rambutnya diikat, sandal dan
kemejanya warna coklat, celana jeansnya warna hitam. Mereka
berhadapan. Mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang tak mereka ucapkan
dari pertemuan itu, hanya diucapkan oleh sepasang mata milik mereka.
"Apa perempuan melulu harus begini? Menjadi kepanjangan tangan dari
kehendak orang tuanya?" Gina mengucapkan kata dengan mata menerawang.
"Kadang lelaki juga begitu. Tak ada beda apakah kita lelaki atau
perempuan," Toni menjawab dengan kalimat yang seolah ditujukan untuk
dirinya sendiri.
"Perempuan melulu harus mengalah!" Gina menekan kalimatnya.
"Kadang lelaki juga begitu. Tak ada beda apakah kita lelaki atau
perempuan. Semua diciptakan oleh kesempatan. Kesempatan yang membuat
kita ada. Kesempatan yang membuat kita merasa menjadi seorang pemenang
atau pecundang." Toni masih berbicara, seolah berbicara pada dirinya
sendiri.
"Aku akan kabur dari rumah!" Gina mengatakan itu dengan mata menatap
tajam ke arah Toni.
Toni terkejut. Matanya membalas tatapan Gina. Dadanya perih. Tatap
tajam Gina seolah pisau yang menggores dadanya pelan, tapi dalam.
Percakapan mereka membeku sesaat.
"Kabur bukan jalan keluar. Itu pelarian." Toni berkata lirih. Seolah
ingin meluluhkan kata-kata Gina yang sekeras batu.
"Itu jalan keluar satu-satunya sekarang. Aku akan pergi dari kota ini.
Meninggalkan semuanya. Juga kamu," kata-kata Gina melemah.
"Aku terbiasa ditinggalkan." Toni bergumam.
"Aku mencintaimu!" Gina menggenggam jemari Toni.
"Cinta tak bermakna apa-apa hari ini. Cinta tak mengubah kemarahan dan
dendam jadi sayang. Cinta utopia manusia modern yang kadung terjebak
dengan hidup yang monoton. Cinta itu ilusif."
"Baiklah, tak usah ucapkan cinta kalau begitu. Lupakan bahwa aku
pernah mengatakannya." Gina emosi.
Toni menatap Gina. Ada beban yang ingin dilepas, tapi tertahan. Toni
hanya tertegun. Toni menarik nafas panjang.
"Yang kadung dikatakan tak mungkin bisa dilupakan. Lebih baik alihkan
cintamu itu. Cintai dirimu sendiri. Dengan mencintai dirimu sendiri,
aku berharap kamu mengubah keinginanmu untuk melarikan diri. Kabur
bukan jalan keluar satu-satunya." Toni tahu kata-katanya mungkin hanya
menjelma angin yang singgah di telinga Gina, setelah itu pergi entah
ke mana.
Seseorang yang tengah merebahkan dirinya di kamar itu kini membuka
matanya pelan. Piringan hitam dalam kepalanya yang tengah berputar itu
berhenti seketika. Tapi kejadian yang baru saja diputar itu masih
melekat dalam kepalanya. Mata indah Gina, rambutnya, kemeja coklatnya,
seolah tak ingin dilenyapkan begitu saja.
**
SESEORANG itu keluar kamar. Televisi masih menyala. Menayangkan berita
seorang perempuan muda baru saja meninggal, dengan leher tergorok,
dengan wajah yang sudah tak dikenali lagi. Seseorang yang baru saja
keluar dari kamar itu mendesah panjang. Koran dan televisi sama saja,
beritanya itu-itu juga pikirnya.
Telepon berdering nyaring di samping televisi. Seseorang yang baru
saja keluar dari kamar itu melangkah menuju pesawat telepon.
Diangkatnya lantas dia mendengar seseorang di seberang sana
mengucapkan kalimat-kalimat panjang. Wajah seseorang yang sedang
mengangkat telepon itu berubah. Wajah yang tak bisa ditebak rautnya.
Ekspresi wajahnya asing. Seseorang yang tengah menerima telepon itu
menutup telepon dengan mata yang juga asing.
Seseorang itu memburu beranda, mengambil koran yang dilemparkannya
tadi pagi. Dia terburu-buru membuka halaman tujuh. Mencari berita
tentang seorang perempuan muda yang baru saja meninggal, dengan leher
tergorok, dengan wajah yang sudah tak dikenali lagi. Seseorang yang
kini sedang memegang koran itu seolah-olah ingin memastikan bahwa
berita yang tertulis di sana tidak memberitakan tentang orang yang
dikenalinya. Kenapa wajahnya tidak bisa dikenali? Apakah pembunuh itu
ingin menyembunyikan identitas yang dibunuhnya? Kenapa harus
disembunyikan?
Seseorang yang tengah memegang koran dengan tangan gemetar itu, masih
mengingat betul apa yang diucapkan seseorang di seberang telepon yang
diangkatnya tadi, "Gina terbunuh tadi malam. Seseorang menggorok
lehernya lantas menghancurkan wajahnya, tepat di malam saat dia telah
mengemas semua barang-barangnya ke dalam koper. Gina telah melarikan
diri, seperti keinginannya tempo hari, dan dia tak mungkin kembali!"
Seseorang yang kini tengah memegang koran itu kini bisa memastikan
bahwa televisi dan koran pagi ini telah memberitakan seorang perempuan
muda yang tak lain dan tak bukan adalah Gina. Perempuan yang tiga hari
sebelumnya berbicara tentang cinta dan berniat kabur dari rumahnya
karena berselisih keras dengan orang tuanya.
Seseorang itu kini melipat koran, menyimpannya di atas meja, lantas
masuk ke kamar mandi. Televisi masih menyala. Berita-berita tentang
kematian masih terus berlanjut. Ada bayi yang dibuang di selokan,
pemilik rumah yang mati di tangan perampok, pemuda yang mati karena
minuman oplosan yang tak jelas, semua bergantian diselingi iklan
sabun, sampo, pemutih baju, susu bayi, penyedap masakan, mobil mewah,
dan seterusnya.
Seseorang yang baru saja memasuki kamar mandi itu, wajahnya begitu
dingin. Di kamar mandi, seseorang itu tengah mencuci pisau dengan
darah yang masih menempel, di lantai kamar mandi, tampak sepasang baju
yang berlumuran darah.***


0 komentar:
Posting Komentar