Hidup yang Terbakar

13 Juni 2009

Eddy Pranata PNP

Ya, Tuhan…
Tangan manusia macam apakah yang telah mencetuskan api
Di telapak kakiku
Tuhan…, api itu menjalar… o, api itu membakar tumitku
Membakar betisku
Membakar lututku
Membakar pahaku
Membakar kemaluanku, o!
Api itu menjalar, membakar perutku
Membakar dadaku
Membakar jantungku
Membakar hatiku
Api itu terus menjalar, membakar leherku
Membakar mulutku
Membakar hidungku
Membakar mataku
Membakar telingaku
Membakar batok kepalaku
Aaa! membakar seluruh tubuhku, api itu menjalar
Membakar telapak kaki kalian
Membakar tumit kalian
Membakar betis kalian
Membakar lutut kalian
Membakar paha kalian
Membakar kemaluan kalian semua!
Api itu menjalar, membakar perut kalian
Membakar dada kalian
Membakar jantung kalian
Membakar hati kalian
Api itu terus menjalar, membakar leher kalian
Membakar mulut kalian
Membakar hidung kalian
Membakar mata kalian
Membakar telinga kalian
Membakar batok kepala kalian semua!
Api itu menjalar membakar seluruh tubuh kalian, o asap tebal mengurung
Aku-kalian tak punya lagi airmata, tak punya lagi kekuatan apa-apa
Jerit aku-kalian hanya dinding kabut yang mendengarkan
Kabut yang senantiasa mengharapkan
: Kembalinya keperawanan yang hilang
Kembalinya ketenangan hidup yang terbakar
Aaa!

Padang, 1998.

*) Dibacakan pada acara "Hari Bumi" tahun 1998 di Taman Budaya Sumatera Barat.

0 komentar: