Cerpen F. Moses
Dimuat di Batam Pos 05/24/2009
Bertemu kawan hari ini membuatku bingung lantas canggung: disuruh
menunggunya di apartemen. Karena menunggu, selain membuatku jenuh, kadang
membuat perasaan bingung sendiri. Ujungnya malah menjadi penguping tanpa
bermaksud menguping di tengah kesibukan orang berlalu-lalang. Maksudnya,
seolah jadi mendengar percakapan banyak orang. Itu pun bila terdengar.
Akhirnya kejadian juga. Entah siapa mereka, beginilah ceritanya. Beginilah
semuanya sekilas pintas singkat saja selama waktuku menunggu. Dari sebuah
apartemen.
Ya, dari sebuah apartemen paling bergengsi, tepatnya di sebuah lobi, bagiku
segalanya dapat saja terjadi. Segalanya terencana oleh siapa saja. Namun
pernahkah terketahui? Sementara sekarang tanpa tersengaja aku mengetahuinya.
Aku mendengar mereka saling bercakap. Ya, bolehlah, sekadar berkira-kira.
Barangkali percakapan serius, setengah serius, atau omong kosong maupun
bahasa basi belaka.
Sekali lagi, semua itu ketidaksengajaan. Aku seperti mendengar segalanya.
Segalanya terjadi begitu tiba-tiba. Mendadak begitu adanya.
Terdengar percakapan mereka.
"Jadi, gimana proyek kita?"
"Beres."
"Terus."
"Ya. pokoknya, kata si kepala kantor itu, kita tetap ikut saja tender yang
diadakannya bersama empat puluh rekanannya."
"Gila."
"Apanya yang gila?"
" Ya, gila. Masa kita harus bersaing bersama empat puluh rekanannya. Mana
mungkin kita bisa menang!
" Kau goblok amat. Saya orang paling dekat dengan si kepala kantor itu.
Semalam sudah dikatakan saat bertandang ke rumahnya. Pokoknya kita tenang
aja, kita bakal dimenangkannya, kok. Wong nanti uangnya dibagi rata.
Bayangkan saja, lima miliar bagi dua. Dan asal kamu tahu, acara tender nanti
diadakan di kantornya, ya..cuma formalitas. Cuma basa-basi. Istilahnya."
Aku melihat keduanya tertawa lepas sambil berjalan ke arah luar. Entah ke
mana berlanjut. Sambil terus saja berbicara dan sesekali temannya yang satu
memencet-mencet tombol hp. Entah apa lagi mereka lakukan selanjutnya.
Betapa percakapan berlangsung begitu cepat dan padat. Ya, mungkin segalanya
memang telah jauh terencana. Dugaanku.
***
Tidak terasa hari mulai menggelap, aku masih menunggu. Tertampak dari dalam
lobi: pemandangan kota ini semakin memperlihatkan permainan cahaya sederetan
gedung-gedungnya menjulang.
Tiba saja, kembali tanpa tersengaja, tertangkap percakapan tak jauh dari
arah sebelahku. Perempuan setengah tua berbicara tegas dengan seorang
perempuan muda. "Sekarang Tante tunggu di sini. Pokoknya ingat, ya, seperti
pernah Tante jelaskan ciri orangnya, di Kafe kemarin, waktu itu."
"Aduh, kok tiba-tiba badan saya gemetar, ya, Tante?"
"Gemetar apa lagi! Seperti kayak baru kemarin sore aja kerja begini. Udah
cepat, segera ke kamar 407 di lantai lima."
"Iya. Terus, memangnya dia mau bayar saya berapa? Terus orangnya kayak apa
sih, Tante? Saya takut ia ganas."
"Kamu kok cantik tapi bego amat, sih! Seperti kayak di kafe kemarin saat
Tante jelasin ke kamu. Pokoknya dia berani bayar kamu empat juta selama tiga
jam."
"Oh, ya, ya."
"Sudah jangan banyak omomg. Segera ke sana. Tante tunggu di lobi. Pokoknya
bikin dia cepat ke luar. Paling, sebelum satu jam juga sudah minta selesai.
Dia hanya besar hasrat saja."
Sambil membaca buku, kepalaku menoleh ke arah perempuan muda itu. Dengan
langkah agak terburu-buru ia menuju lift, sambil membelai-belai rambutnya
seperti ingin dibiarkannya tergerai, dan sesekali memencet tombol pintu itu
supaya lekas terbuka. Sementara tante itu, duduk berjauhan dari ku membakar
rokoknya sibuk ber-hp.
Aku masih menunggu kawanku. Kembali tertampak dari dalam lobi: pemandangan
dari kota ini semakin memperlihatkan keriuhan arus lalu-lintasnya.
Kemacetan. Pedagang asongan menjajakannya ke mobil berkelas.
Aku masih menunggu kawanku. Lama sekali. Menjadikanku mulai agak sedikit
risau. Aku kembali melanjutkan membaca buku. Setidaknya risau tak semakin
menjadi. Ya, hanya membaca buku. Bukankah waktu menunggu efektif sambil
membaca buku? Membaca apa saja. Intinya membaca buku supaya waktu dapat
terbunuh. Membunuh waktu. Hah, memangnya waktu dapat terbunuh? Ada-ada saja
ungkapan membunuh waktu. Tapi sudah sejak dulu ungkapan itu ada. Ya,
barangkali, itulah hebatnya kata. Mempunyai penalaran makna tersendiri bila
bersanding.
***
Sekali lagi, aku masih menunggu. Sembari membaca buku, tiba saja pandanganku
tertoleh karena ada suara cempreng dua perempuan yang baru saja menyadari
pintu lift mengantarkannya di lobi menyisakan suara dari obrolan seru mereka
sejak di dalam.
Tersadar sampai lobi, mereka kembali melanjutkan obrolannya. Kali ini
hati-hati. Sambil menunggu taksi yang dicarikan petugas lobi apartemen. Tiba
saja terdengar percakapan mereka.
"Terus dia marah-marah, dong, May?"
"Ya, gitu deh. Marah-marah sendiri sambil meminta saya untuk terus saja
membangunkannya."
"Hah…kualat kali dia sama istrinya."
"Iya, kali. Masak udah dua jam gak bisa bangun sedikit pun."
"Emang gak berlanjut?"
"Ngapain, kesepakatannya aja cuma dua jam aja, kok. Lagi pula jijik saya
dengan orang itu. Udah jelek, gak bisa bangun, terus selingkuh. Kasihan
istrinya."
"Huss…tapi sama duitnya mau, kan?"
"Idih!"
Suara mereka sayup kudengar. Rupanya mereka melangkah ke arah taksi yang
sudah tiba. Tampak mereka masih asyik masyuk berbicara. Hingga taksi membawa
mereka pergi. Entah ke mana lagi mereka berlanjut. Entah pembicaraan apalagi
mereka bicarakan.
Sekali lagi, aku masih menunggu kawan sambil membaca buku. Masih di lobi.
Sambil bertanya-tanya apakah ia pasti datang menemuiku. Hatiku lambat laun
mulai ketar-ketir juga.Tiada lain adalah bersabar. Hanya itu aku berpegang.
***
Aku masih membaca buku sembari menunggu kawan, kembali tiba saja ada seorang
lelaki dan perempuan muda tengah menuruni anak tangga dari arah aku duduk
dengan langkah sebentar pelan sebentar cepat. Seolah ada sesuatu tengah
mereka perdebatkan, inginkan, keluh-kesahkan atau pun gelisahkan. Menurutku.
Kelamaan suara mereka terdengar olehku. Bermulai dari lelaki itu.
"Lebih baik segera kita pergi dari tempat ini."
"Iya tapi ke mana? Sejak di kamar kamu ngomong begitu terus. Bikin bingung."
"Ke mana aja. Kemana aku mau membawamu."
"Terus?"
"Pokoknya aku mau membawamu keluar dari tempat ini. Tempat ini membuat kasih
setiamu pada saya menjadi luntur. Aku sudah nggak nyaman di tempat ini.
Ah..pokoknya gak nyaman"
"Huh! Iya.. tapi ke mana?"
"Ke laut. Saya merindukan air bergaram, riak serta ombak sesekali mampu
memecah batu karang, bulan di malam hari, senja sore hari, gemerlap bintang
seolah berjuntai di hamparan cakrawala. Terlebih embusan anginnya selalu
rindu kesetiaannya membelai rambutmu. Seperti saya setia padamu."
"Gila. Kamu gila!"
"Tidak gila. Karena aku bersekaligus mau membuatkanmu puisi di laut itu,
nanti. Supaya kamu semakin mencintai aku. Supaya lebih tahu perasaanku
sesungguhnya."
***
Aku masih menunggu. Mencerna keanehan-keanehan percakapan-percakapan hari
ini. Mengunyah percakapan-percakapan dari kota ini. Tiba saja kembali aku
kaget. Kali ini oleh bunyi pesan masuk di hp-ku—ternyata dari kawan yang aku
tunggu sejak tadi, katanya: tolong kamu tetap saja di situ. Sabar. Aku masih
di laut. Menemani istri. Sebentar lagi aku susul kamu. Terima kasih. Salam.
Aku hanya mengernyitkan dahi sambil membatin. Betapa laut, terkadang mampu
memberi cita rasa tersendiri bagi manusia yang bergundah. Rasanya perlu juga
menyusul ke sana. Hmm. ***
Jakarta-Bandarlampung, September 2008


0 komentar:
Posting Komentar