Dunya (Atau Cerita Berjudul: Hello Stranger!)

18 Juni 2009


Cerpen Ucu Agustin Silakan Simak!
Dimuat di Jurnal Nasional Silakan Kunjungi Situsnya! 06/14/2009

Sekarang aku mengerti mengapa bila mengingatmu, rasanya sedih.

Semua orang memang akan sedikit merasa sedih saat mengingat masa lalu. Mengenang masa lalu seakan memandang dari sebuah jendela kamar yang tertutup debu; Kita bisa menatap sesuatu, tapi tidak dengan jelas kita memandangnya; Kita bisa menatap sesuatu, tapi tidak dengan jelas kita melihatnya …

Eter, kini aku mengerti kenapa aku mengingatmu dengan cara itu: bayanganmu kabur dan sosokmu blur di memoriku. Ia begitu tak fokus dan bila pun aku berhasil mengingatnya, ia terlalu samar untuk bisa kurengkuh dan kuajak kembali pulang ke sosok utuhnya. Aku hanya mampu mengingat bagian-bagian tertentu saja; kadang wajahmu yang bagian sisi kanan; kadang senyummu yang kacau berantakan; kadang rambutmu yang sedikit memutih di bagian belakang; kadang matamu yang seperti savana luas dengan semak warna emas yang mengayun tertiup angin, di belakangnya.

Lantas saat aku kesepian dan menangis karena tak berhasil mengingatmu lagi, diam-diam aku cuma mampu membisikan kata ini dengan lirih, “Dunya, bila kita kesepian, itu bukan salah siapa-siapa..”

Dan ya, tentu saja aku tahu, bila aku kesepian, itu pasti bukan salah siapa-siapa.

***

Ini siapakah?

Hai…

Iya?

Kau hapus nomorku lagi, rupanya?

Aku ingat suara itu kini.

Kenapa menelpon?

Pulsaku masih subur, memangnya kenapa sih kalau aku telpon?

Ada tawa dengan nada agak menggoda seperti biasa, yang tertebar di seberang. Nada tebar pesona yang dulu terasa bagai tawa anak nakal yang membuatku amat girang.

Aku selalu suka pada gayanya yang konyol dan ugal-ugalan. Aku selalu tergila-gila pada caranya yang matang namun urakan. Bikin penasaran, bikin aku rela menendang matahari dan mencari dia di antara gemerlap cahaya yang terlampau panas dan menyilaukan. Tentu saja, itu terjadi bila aku lagi dalam kegelapan. Bila aku, lama dia tinggalkan.

Tapi saat ini dia pergi terlalu lama. Sangat lama. Tak ada pesan pendek yang terbalas, tak ada update berita dalam blog yang menjadi kotak tulis dunia maya-nya, tak ada kabar apa-apa, tak ada informasi di facebooknya, tak ada namanya ter-display dalam screen telepon genggamku, telah lama suaranya tak mampir di lubang telingaku. Dia pergi terlalu lama, dan dengarlah alasannya…

Dunya, aku pergi ke utara Norwegia. Aku pergi ke Kosta Rika. Aku pergi memburu para Balaenoptera physalus—si paus sirip, mengangkat daging ikan raksasa itu dan menyayat lemaknya, membagikan bongkahan dagingnya ke para penduduk di pesisir dekat bandar.

Di perairan saat perompak mengambil kapal kami dan membuat aku dan beberapa kelasi terapung di atas sekoci, sekelompok pemburu paus yang lain, kembali merekrut kami. Dan kau jangan heran bila kuberitahu hal ajaib yang kutahu dari para pemburu paus biru.

Saat dilahirkan, rata-rata seekor bayi paus hanya memiliki panjang 7,5 meter saja Dunya, namun hanya dengan minum susu induknya yang mengandung 40 persen lemak, si bayi paus akan memiliki tambahan berat 4 kilogram setiap jam-nya.

Bayangkan! 4 kilogram setiap jam, Dunya! Kau pasti akan berteriak panik bila itu terjadi padamu (masih kuruskah badanmu?). Dan asal kau tahu, setelah dewasa, seekor paus yang beratnya 200 ton bisa menyamai panjang dua bus kota yang berbaris dijajarkan berdekatan[i]. Bus kota yang waktu kita kecil, rasanya begitu besar. Bus kota yang waktu kita remaja, selalu membawa kita pergi sama-sama di pagi hari. Mengangkut kita untuk menemui kembali bangku sekolahan yang sama-sama kita benci tapi juga kita rindukan.

Tentu saja dia bohong. Sudah pasti Kami tak pernah satu sekolah. Kami tak berteman sejak dari kecil. Kami tak pernah saling kenal sebelum waktu itu. Dan tentu saja dengan begitu dia bohong total dengan kalimat: Bus kota yang waktu kita remaja, selalu membawa kita pergi sama-sama di pagi hari. Mengangkut kita untuk menemui kembali bangku sekolahan yang sama-sama kita benci tapi juga kita rindukan. Bagaimana mungkin kami mengalami masa remaja yang sama? Usia kami terpaut cukup jauh. Aku tiga puluh dan dia empat puluh saja.

“Tapi lihat sendiri kan? Aku cukup muda buatmu,” ucapnya sambil memamerkan senyum cengengesan di antara butir salju tipis yang terhembus angin, di depan Haus der Kulturen der Welt, Berlin. Winter sialan! Aku mengenakan syal tebal yang kubeli dari pertokoan sekitar daerah Mitte saat itu, dan lelaki yang baru kukenal tersebut, Eter, dengan enaknya cuma mengenakan jaket musim dingin tanpa selembar syal atau sarung pun dia kenakan. Lighter yang dia nyalakan saat aku kebingungan bertanya ‘punya korek?’ ke seorang teman perempuan, itulah yang menjadi awal perkenalan.

Di Haus der Kulturen der Welt Berlin yang tercekam rasa dingin, disanalah kami pertama bertemu. Pertemuan sekilas yang kupikir tak berbekas dan hanya akan cukup sampai di sana saja. Aku turis sedang numpang liburan, dia sedang dalam kunjungan kerja sekaligus menemani seorang teman. Pada selasa melankolis di Haus der Kulturen der Welt atau rumah kebudayaan orang Jerman tersebut, sebuah pameran digelar. Indonesia menjadi salah satu negara peserta. Cukup klise dan tak ada yang menakjubkan dari pertemuan yang demikian.

Namun kamu benar Eter, pertemuan kita adalah cuma masalah waktu saja. Dari awal, dengan menggoda kamu sudah bilang, “Aku kok merasa sepertinya kita ini kertas dan pencil, ya?” Aku yang waktu itu cukup senang karena bertemu orang Indonesia di negeri orang, tentu saja bilang, “Ah masa? Oh ya?” lalu tertawa. Sudah.

Dan tentang peristiwa pertemuan kedua…

Dunya, jangan pernah jatuh cinta. Jangan pernah jatuh cinta dengan tak total, maksudku. Karena itu tak baik. Tapi sungguh, jangan jatuh cinta padaku. Begitu ucapmu, waktu itu.

Bukan apa-apa, ini sungguh cuma saran saja. Aku tahu bagi perempuan muda, lelaki sepertiku ini memesona, dan tentu itu tak ada kaitannya dengan status pernikahanku atau anak-anak dari hasil pernikahan kami. Bocah-bocah yang amat kucintai. Bila kau baik-baik mau mendengarkan nasehatku ini, Dunya, antara larangan jatuh cinta dengan anak-anak yang tidak lahir dari perkawinan rumputan, itu tak ada hubungan. Sama sekali tak ada, Dunya. Ini hanya tentang aku yang terbang-terbang. Tentang aku yang tak mungkin tinggal dan menetap di satu tempat saja.

Tidak melalui pesan pendek, tidak melalui tatap muka, kau kirimkan kata-kata itu melalui surat elektronik yang kupikir pasti jarang kau gunakan. Di suratmu selanjutnya, kau bilang…

Maafkan aku, bila tak bisa membalas cintamu.

Dan kau tahu apa yang aku lakukan setelah membaca emailmu itu? Aku tertawa keras dan terbahak, Eter. Sok tahu sekali, dirimu! Bagaimana kau bisa tahu aku jatuh cinta? Padahal aku pun tak bisa tahu bagaimana persisnya perasaanku padamu.

Kita pernah berciuman, itu harus kubilang iya. Kau amat menyenangkan, ternyata. Itu baru kusadari saat tatap muka ke-empat di pertemuan kita yang kedua. Ya, ya, maksudku, pertemuan di Jakarta, setelah pertemuan pertama di Berlin yang tak kupikir akan membawa kita kembali bersama di negeri kita.

Berapa kali? Tujuh ya kalau tak salah kita sempat bersama meluangkan waktu di pertemuan kita yang di Jakarta?

Seperti anak kecil, kita dengan gegabah jalan-jalan ke Ragunan sambil nyemil sabut lembut manisan gula yang sesekali kita angsurkan juga ke mulut jerapah. Kita sempat putar-putar Kinokuniya di Plaza Senayan dan kau membelikanku buku Why Men Marry Bitches?[ii] Dan selanjutnya hanyalah keberduaan. Waktu-waktu dimana aku cuma memandangmu dan kau sibuk dengan laptop kecil serta gelembung-gelembung Heineken dalam gelas bir.

Tujuh kali saja. Ya, tujuh kali pertemuan yang tanpa permainan cinta itu amat membekas di dadaku, Eter. Lantas kau raib. Kau menghilang lagi. Membuatku merasakan perasaan asing yang ganjil. Membuatku berkarat oleh ingatan yang datang tidak dari pikiran. Aku kehilangan.

Lalu setelah berbulan-bulan hilang, kau tiba-tiba datang. Katamu kau habis pergi dari negeri Liliput. Bertemu Guiliver dan membawakanku keju-keju berwarna merah dan hijau yang empuk. Aku sih sangat kaget tapi juga cepat menjadi senang. Cerita-ceritamu, yang tak kutahu persis apakah itu fiksi atau betulan, amat membuatku penasaran. Kau semakin memukau.

Lalu angin kembali membawamu. Datang dan pergi kau selalu. Hilang dan kemunculan adalah gelombang yang kau hembuskan. Suatu saat kau tiba-tiba berdiri di depan pintu rumahku, suatu saat kau tiba-tiba lenyap sebelum aku sempat menutup tirai jendela kamar tempat kau menemuiku, dan suatu malam dengan wajah yang agak misterius, begitu saja kau datang kembali setelah lama pergi. Katamu kau baru pulang. Temuanmu kali ini agak mendebarkan.

Kau bercerita tentang Nigthlore[iii]. “Ia bukan mahluk”, ucapmu, “Tapi sebuah fanzine yang dibuat dan di-dedikasikan untuk penjelajahan dan penelitian semua aspek yang berhubungan dengan legenda vampir.”

Apanya yang mengerikan? Aku tertawa.

Eter, fanzine itu cuma majalah saja bukan?

Serta merta kau mengangguk, dan dengan semangat yang meluap kau bicara begitu fasih tentang Nosferatu, yang katamu diambil dari bahasa Slavonic kuno, nosufuratu, dipinjam dari kata Yunani nosophoros yang artinya adalah pembawa wabah.

Nosferatu, begitu terangmu, adalah sebuah kata yang berabad digunakan di Rumania. Namun dalam penyelidikan yang kemudian dilakukan para ahli bahasa, ternyata kalimat itu—Nosferatu, tak pernah tertulis dalam satu pun kamus bahasa Rumania.

“Bram Stroker lah yang menggunakan kata Nosferatu ini secara keliru. Ia kembangkan dalam novelnya sebagai kata yang berarti ‘tak bisa mati atau manusia abadi’. Di tempat lain, kata itu juga digunakan sebagai acuan untuk apapun yang ditujukan pada setan”, ucapmu agak sebal. Aku dengan antusias mendengarkan.

***

Eter, berapa lama kita tak bertemu?

Tahukah kau, aku rindu?

Dan rindu adalah seperti sihir yang bisa membawakanmu apa saja asal kau tahu mantra-nya.

Begitulah Eter, rindu membawakanku banyak imajinasi. Ular, rusa, bunga-bunga dan udara yang semuanya berubah wujud menjadi dirimu. Rindu ini mengantarku menemui kembali tempat-tempat yang dulu pernah kita lalui, membuatku lihai membuat puisi, namun yang paling parah yang pernah dilakukannya, rindu memperkenalkanku pada sesosok mahluk pendiam yang bernama kesepian. Dari luar ia tampak anggun dan memukau, namun begitu kau mengenalnya, ia begitu kerap meradang dan sesekali melakukan hal anarki, membuatmu berpikir kalau ia adalah mahluk yang ‘sakit’ dan harusnya meninggal sajalah. Namun karena ia begitu murni dan memukau, bila kau bertemu dengannya, kau pasti dengan mudah akan cepat paham mengapa begitu banyak orang yang seakan rela mati dengan dan karena dia: si kesepian yang merana.

Dan itulah yang terjadi padaku saat aku turut membuat pesan ini. Aku sedang kesepian, sementara ingatanku tak bisa dibelokkan. Selalu tertuju padamu. Dan di pertemuan kita yang terakhir, saat kau bicara tentang vampir, aku ingat kalau kau berkali bilang, setelah ini aku akan pergi ke bulan. Ya, Dunya, setelah ini aku akan melanglang Angkasa. Dan adakah yang tak mungkin denganmu? Aku pikir: tidak.

Eter, SETI kembali melakukan misi itu. Mengajak penduduk bumi untuk merangkai pesan yang akan dikirim ke bintang[iv]. Ku tahu, kau paham benar tentang fakta itu: hampir 50 tahun lembaga yang kita kenal sebagai pencari kebudayaan mahluk luar angkasa tersebut telah menelusuri angkasa dengan teleskop radio untuk mencari tanda keberadaan mahluk cerdas di angkasa luar sana. Secara bersamaan, para ilmuwan di tempat kerja mereka yang rahasia, juga berusaha keras memecahkan pesan yang kemungkinan dikirim oleh para alien tersebut dari planet-planet antar bintang.

Dan tentangmu…

Ah Eter, bila memang benar kini kau berkelana di antara mereka, para mahluk asing yang mengintip-intip manusia di antara kluster-kluster bintang, aku cuma mau kau mendengar pesanku. Pesan dengan getaran suara yang semoga masih kau kenali juga.

HELLO STRANGER!

Itu saja. ya, cuma itu yang mau kusampaikan padamu sebagai isi pesanku.

Karena meski kita pernah beberapa kali bertemu dan kau berhasil menjejakkan kesepian yang berkarat di dadaku, tapi tetap saja, kau mahluk asing bagiku.

Eter, aku tidak mengenalmu.***

Utan Kayu, 27 Mei 2009

[i] Keterangan dan data tentang Paus Biru dalam dua paragraph ini, didapat dari National Geographic Indonesia, edisi Maret 2009 ‘Alam Pikiran Satwa’. Dalam artikel tentang PAUS BIRU yang ditulis oleh Kenneth Brower.

[ii] Sebuah buku yang menjadi New York Times Best Seller, ditulis oleh Sherry Argov. Berkisah tentang tips-tips menjadi ‘bitch’ sejati, yaitu para perempuan yang memenangkan hati lelaki bukan dengan menjadi ‘si manis – keset kaki’ tapi dengan cara menjadi dirinya sendiri.

[iii] Nightlore adalah majalah tiga bulanan yang dibuat oleh para fan atau penggemar segala sesuatu yang berhubungan dengan Vampir. Di dalamnya menampilkan cerita pendek, puisi dan karya seni lainnya seperti lukisan dll. Diterbitkan pertamakali pada awal 1994. Disiapkan oleh editor Trevor Elmore dan art director, Mary Delmore (informasi ini diambil dari buku: Segala Sesuatu Tentang Vampir, yang ditulis oleh Rijanto Tosin. Diterbitkan oleh Penerbit Abdi Tandur)

[iv] Project teranyar yang dilakukan SETI (Search for Extra Terestrial) institut untuk mengumpulkan pesan dari seluruh dunia, dimulai pada 15 Mei 2009. Sebelumnya, setidaknya telah tiga kali pengiriman pesan ke mahluk angkasa luar ini, dilakukan, yaitu pada awal 1970 dimana NASA membawa plakat matematika dasar dan gambar laki-laki dan perempuan ke ruang angkasa. Pesan pada plakat ini banyak dikritik karena menggambarkan manusia secara salah, yang bisa juga disalah-artikan oleh alien. Pesan selanjutnya lolos dari kritikan, yaitu pesan yang dikirim dari Arecibo Observatory di Puerto Rico. Tapi pesan itu tidak memasukkan perang, kemiskinan dan penyakit. Yang terakhir adalah pada saat NASA melucurkan misi Voyager pada 1977. Pesawat ruang angkasa itu membawa rekaman audio yang berisi aneka perbedaan kehidupan dan budaya yang ada di bumi. Proyek ‘perekaman pesan’ terkini yang dilakukan Institut SETI sendiri lebih bermaksud untuk menghindari kontroversi dan memperkuat diskusi global tentang perlunya mengirim lebih banyak pesan lagi ke bintang.***

0 komentar: