Antara dia dengan Dia

16 Juni 2009

Eddy Pranata PNP

: Pergulatan nasib meregang jiwa seorang kembara
Di persimpangan waktu melihat wajah debu penasaran
Tersungkur-sungkur tiada arti

Begitukah sebuah perjuangan?
Sangatlah mendebarkan!
Penuh harap dan kepasrahan
Menangisi bumi, menyesali diri
Lalu sadar dia salah jauhi Dia

"Ampunilah…," desisnya; "kuyakin rezeki, jodoh dan maut di tanganMu"

Sebuah pembaruan yang bagus
Dia bangkit memoles sekujur tubuh dengan kejujuran dan kerendahan hati

: Yang bengal biarkan bengal, yang culas biarkan culas, yang dendam
biarkan dendam, Yang busuk hati biarkan busuk, yang iri dengki juga
biarkan, yang kejam biarkan kejam, Yang serakah biarkan serakah, yang
miskin-papa juga biarkan, yang kaya biarkan kaya, Yang lapar biarkan
lapar, yang pesta biarkan pesta, yang zina biarkan zina, yang sehat
Biarkan sehat, yang sakit biarkan sakit, yang ngoceh juga biarkan,
yang diam juga biar, Yang ngedumal juga biar, mabuk dan muntah biar,
Apa saja kek biar!

Dan lihatlah, dia terus mendekati Dia….

Di bibirnya doa-doa
Di tangannya doa-doa
Di matanya doa-doa
Di hatinya doa-doa
Di jiwanya doa-doa
Di nafasnya doa-doa
Di tidurnya doa-doa
Di mimpinya doa-doa
Di mautnya doa-doa
Di surgaNya di berada?
Ah….
Wallahualam!

Jakarta, Padang, 1991/1996.

*) Dibacakan pada acara "Mimbar Penyair Abad 21" di Taman Ismail
Marzuki Jakarta, Maret 1996.

0 komentar: