Cerpen Sunaryono Basuki Ks
Dimuat di Riau Pos 05/24/2009
Sudah tak ada lagi barang yang bisa dijual untuk biaya sekolah. Beras
perolehan dari bekerja sebagai petani penggarap tak mampu mengidupi keluarga
dengan lima anak, sedangkan Husni anak sulung. Pesta pora semprot baju saat
pengumuman lulus ujian tidak diikutinya. Dilipatnya baju dari dua baju
seragam sekolah yang dipunyainya untuk diwariskan kepada Zaini adiknya,
siapa tahu nanti akan sampai juga dia ke sekolah kejuruan yang dia tempuh
selama tiga tahun. Sekolah Kejuruan Teknik memberinya selembar ijazah namun
ijazah itu tidak memberinya pekerjaan. Husni sudah berkeliling dari satu
perusahaan otomotif ke perusahaan yang lain dan semuanya memberinya jawaban
klasik:
"Ekonomi sedang sulit. Tidak ada lowongan."
Sudah pula dua puluh satu benmgkel servis sepeda motor didatanginya
menawarkan tenaganya untuk menjadi pembantu, dan harapannya kosong tak
bersambut.
"Kita hanya bisa berikhtiar, Husni," kata ayahnya. Tangannya sudah
berkeriput namun tenaganya bekerja di sawah masih luar biasa. Husni tahu
diri. Selama bersekolah dia juga membantu ayahnya di sawah, dan juga menanam
sayuran di sepetak kebun kosong di tanah tempat mereka menumpang mendirikan
rumah. Tanah itu mereka pinjam atas kebaikan pemilik sawah yang mereka garap
yang kebetulan juga memmpunyai beberapa petak kebun kosong di kota itu.
Katanya, tanah-tanah itu untuk tabungan anak-anak mereka kalau mereka sudah
dewasa. Sekarang biaya hidup mereka ditopang hasil sawah dan juga hasil Pak
Juslan yang bekerja sebagai pegawai negeri di Pemda, sedangkan istrinya
sangat mahir berdagang dan punya toko di pasar kota.
"Coba minta tolong Pak Juslan," kata ayahnya. "Ada penerimaan pegawai baru
mungkin beliau dapat menolong."
Dan Husni memang sudah menghadap Pak Juslan, tetapi lelaki itu hanya
mengangkat kepalanya dan berkata: "Wah, maaf, Bapak tak punya jaringan di
sini."
Husni bisa memahani kata-kata lelaki itu. Teman-temannya mengatakan, kalau
tak ada koneksi mana mungkin bisa diterima. Jadi dia mahfum.
Dalam keadaan kalut itulah dia menerima ajakan Saleh.
"Kenapa tidak kita coba? Ini juga kerja. Kerja keras, tetapi harus percaya
diri dan mau berlatih."
Saleh mengajaknya menghadap seorang lelaki yang dianggap sebagai guru,
tetapi bukan Tuan Guru, sebab Tuan Guru adalah sebutan guru mengaji yang
mengajarkan kebaikan kepada umat manusia. Guru yang ini lain. Husin harus
mengikutinya bergadang sampai menjelang pagi, sering di hutan atau ditepi
sungai. Sering gurunya mengajaknya berendam di air sungai semalam suntuk
tanpa boleh mengantuk dengan merapalkan bacaan-bacaan yang harus dihafalnya.
Entah berapa pekan berapa bulan hal itu dilakukannya, dan selama itu dia
meninggalkan rumah dengan pesan:
"Husni belajar hidup. Bapak jangan cari sebab saya baik-baik saja. Kalau
sudah berhasil pasti saya pulang."
Berhasil. Itu harapan dan keyakinan Husni. Dia juga bertani membantu guru
itu, mencuci pakaiannya, berpuasa, berlatih sepanjang malam. Dan sampailah
hari ujian itu. Mereka duduk berdua di bawah gemintang di langit, di
hamparan padang yang luas. Tak terdengar bunyi apa selain suara jengkerik.
Setelah berdiam diri berdua lebih dari tiga jam lamanya, gurunya berkata:
"Kamu lulus tahap satu. Kamu harus mempratekkan ilmumu sendiri, dan semuanya
tergantung padamu apa kamu akan berhasil atau tidak. Seberangilah laut dan
ujilah dirimu dalam praktek di kota besar di sana. Sebulan lagi kembalilah
ke sini untuk belajar lebih lanjut."
Dengan bekal seadanya dia berangkat menyeberangi selat yang lebar,
terombang-ambing di atas ferry penyeberangan selama lebih dari empat jam.
Mendarat di pelabuhan dia masih harus menumpang kendaraan ke kota, ke arah
barat masih beberapa puluh kilometer, tetapi dia tidak punya banyak uang.
Lalu, dia membujuk sopir truk yang sama-sama menyeberang untuk bisa
menumpang di atas truknya. Dengan berbekal bahasa daerahnya dia berhasil
mendapatkan tumpangan karena sopir itu memang berasal dari pulaunya.
"Mau apa ke sana?"
"Cari kerja."
"Punya keluarga di sana?"
"Tidak."
"Teman?"
"Tidak."
"Lalu, mau tinggal di mana."
Husni diam saja. Sopir itu maklum.
"Pasti kamu tak punya siapa-siapa ya? Tapi maaf, saya tak bisa mengajakmu
tinggal. Rumah kontrakanku kecil dan anakku tiga orang. Tapi kamu bisa tidur
di atas truk kalau aku sedang di rumah. Tetapi kalau aku kerja, aku tak
tahu. Kamu mau kerja apa?"
Husni juga diam. Tak mungkin dia ceritakan rencananya.
***
Malam pertama dia sudah mulai bekerja, berjalan berkeliling kota dengan
perut kosong. Diperhatikannya rumah-rumah yang dilaluinya satu persatu; di
jalan orang masih lalu-lalang. Lewat tengah malam kota ini sepertinya tak
penah tidur namun Husni tak putus asa. Dia berjalan terus ke daerah sepi.
Rumah-rumah megah berderet. Husni merasa pasti mereka orang kaya. Di bawah
pohon di seberang jalan dia duduk beristirahat lalu menutup matanya.
Kemudian setelah mengucap rapal dia bangkit dari duduknya, dengan tenang
menyeberang jalan dan masuk ke pekarangan rumah itu dengan memanjat pagar
depannya. Tak ada salak anjing hanya suara jengkerik yang tiba-tiba
berhenti. Husni memanjat tembok samping lalu naik ke atas atap dan menunggu
lagi beberapa saat. Di langit hanya gemintang, bulan tak nampak. Mulailah
dia menggeser beberapa genting, memotong dua bilah kayu reng dan masuk ke
langit-langit rumah dari lubang menganga itu. Didengarnya dengkur dari salah
satu kamar dan Husni memperkirakan dimana ruang tengah. Tak ada bunyi tv.
Kemudian pelahan dia menemukan penutup langit-langit dan menggesernya
sedikit. Dari tempatnya dia bisa mengintip ruang yang ditujunya: kamar
makan. Dia turun dengan cekatan dan dengan keyakinan penuh duduk di kursi
meja makan. Pesan gurunya, dia tak boleh ragu dalam bekerja.
Ternyata di atas meja makan, di bawah tutup saji, dia menemukan lauk: ayam
goreng, sayur terong, tempe goreng, dan sambal. Nasi rupanya harus diambil
dari penanak nasi listrik di dekat dinding. Dia mengisi piring penuh dengan
nasi panas dan kembali ke meja makan, dan menyambar ayam goreng, sayur
terong dan tempe goreng. Dimakannya dengan lahap sampai perutnya terasa
penuh. Dia merasa puas.
Sesudah itu dia ingat pesan gurunya, maka tanpa basa-basi di ruang yang
sama dia melorotkan celananya dan berhajad besar. Bau menyengat disambutnya
dengan senyum. Setelah itu dia berhasil memasuki salah satu kamar. Seorang
perempuan tidur di situ. Lelap. Dengan mudah dia membuka almari pakaian dan
menemukan sejumlah kotak perhiasan berisi gelang dan kalung yang segera
berpindah ke dalam saku celananya.
Walau dia dengan mudah dapat keluar melalui pintu depan, dia harus kembali
memanjat ke langit-langit dan dengan bebas meluncur kembali ke bawah ke
udara bebas.
***
Sepekan lewat dan Husni kembali mengarungi malam. Kali ini bulan nampak di
timur merekah penuh gairah. Lewat tengah malam, bulan sudah berada di
ubun-ubun. Tak terdengar gonggong anjing pada deretan rumah-rumah dengan
halaman asri. Jam berapa sekarang? Mungkin sudah lewat jam dua, saat orang
paling lelap tidur. Husni tergoda pada satu rumah yang pagar halamannya tak
terkunci ketika dia mencoba mendorongnya. Terbuka. Dan Husni juga tergoda
pintu depan. Di halaman diparkir sebuah kendaraan bak terbuka sedangkan
pintu garasi tertutup. Pasti keluarga kaya yang punya lebih dari satu mobil.
Didekatinya pintu depan. Lampu di kamar depan itu padam. Ketika pegangan
pintu diputar dan pintu didorong, ternyata terbuka dengan mudah. Ah, untuk
apa aku harus memanjat dinding dan turun lagi sementara aku bisa masuk
dengan mudah lewat pintu depan? Apa kunci pintunya rusak atau mereka lupa
mengunci pintu? Dia masuk, ruang gelap gulita, demikian juga lampu di ruang
tengah juga tak menyala. Hanya sebuah bohlam kecil berwarna hijau di sudut
ruangan yang menyala cukup menerangi seluruh ruangan. Husni tak melihat
siapa-siapa, juga tak mendengar suara dengkur. Mereka pasti tidur dengan
nyenyak. Maka dilakukannya upacara seperti sebelumnya. Makan. Buang air
besar dan masuk ke salah satu kamar dan mencari barang berharga. Ternyata di
almari tak tersimpan perhiasan emas. Yang ada hanya pakaian, jilbab yang
terlipat, dan di atas kursi juga setumpuk sajadah. Mungkin mereka menyimpan
perhiasan emas berlian di bank? Atau menyimpannya berupa uang juga di bank?
Tak menemukan benda yang berarti Husni sangat kecewa. Dia tak mau
mengangkut tv ukuran 21 inci yang ada di sudut ruangan. Pasti repot dan
membuatnya dikejar sebagai maling. Akhirnya dia putuskan untuk pergi melalui
pintu depan lagi, melewati ruang depan yang gelap gulita. Tetapi di kamar
depan itu tak ada meja kursi. Yang ada hanya permadani. Waktu dia masuk dia
tak melihat siapa-siapa, tetapi dalam perjalanan keluar Husni tiba-tiba
melihat seorang lelaki yang tubuhnya seolah bersinar, duduk di atas sajadah.
"Selamat pagi, Nak. Mau ikut salat tahajud?" sapanya.
Husni berdiri terpaku. Teringat petunjuk gurunya yang baru saja dia langgar.
Dan malam sudah menjelang pagi. Dia tak tahu kapan bisa memenuhi janjinya
untuk pulang.***
Singaraja, 16 Desember 2008


0 komentar:
Posting Komentar